Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Belajar Mengaji


Malam hari, di Mansion Wizza Van Hallen.


“Hei, Papa kedua, lama tidak berjumpa! Apa kabarnya?” ucap Arhen saat mengangkat hpnya yang tadi berdering. Di sana tertulis Papa kedua kesayanganku.


“Tidak disangka, kamu bertambah tampan dan keren, Sayang.” balasnya dibalik telepon sambil tersenyum.


“Papa baik-baik saja, bagaimana kabar Abang dan Adikmu?” sambung Dedrick bertanya.


“Abang dan Adik, baik-baik juga, Pa!” sambung Ardhen yang memunculkan kepalanya dibelakang Arhen. Anak itu baru saja mendekat.


Ia menatap wajah tampan Dedrick yang berada dilayar ponsel Arhen, dia berkata sambil tersenyum, “Papa juga bertambah tampan dan keren!”


“Hei, dasar tukang goda! Sana kamu! Sama papa pertama saja! 'Kan aku yang ditelfon Papa kedua!” Arhen langsung menggeser layar hpnya, menyembunyikan hp dan beranjak dari tempatnya semula.


Andrean langsung menarik hp Arhen sebelum hp itu tersimpan sempurna. “Dasar anak-anak, hobinya berebut. Dia itu Kakakku tahu!” ucapnya sambil nyengir, menggoyang-goyangkan hp yang baru saja berhasil ia dapatkan.


“Hai, Kak!” sapanya. Ia melambaikan tangannya ke layar hp. Di sana, Dedrick masih setia dengan senyumnya.


“Kalian semakin dekat ya sekarang?” tanya Dedrick dengan tersenyum.


“Tidak juga! Mereka terlalu kecil, tidak bisa diajak main. Aku rindu sama Kakak, pergi main bareng.” Andrean berkata dengan tersenyum usil, matanya sedikit melirik kearah Arhen dan Ardhen yang berdiri disamping kiri dan kanannya.


Ia beranjak dan memilih duduk di sofa, Arhen dan Ardhen juga mengikutinya, duduk disampingnya.


“Ah, iya juga sih! Anak kecil memang tidak asik diajak main, apalagi kalau diajak mancing, iya 'kan?” jawab Dedrick.


“Enak saja, kami bisa diajak mancing kok!” sungut mereka berdua. Dua kepala anak laki-laki itu muncul dan berebut agar masuk ke dalam layar hp Arhen itu dengan penuh.


“Papa! Itu hpku! Pakai saja hp Papa, kenapa harus pakai hp milikku!”


“Kembalikan hpku!” teriak Arhen, ia mencoba meraih hpnya, namun Andrean mengelak.


“Tidak bisa, aku sedang menelfon dengan Kakakku!” balasnya usil pada Arhen.


“Dasar, kekanak-kanakan!” sinis Arsen yang baru datang dari kamar.


“Abang! Lihat, Papa mengambil hpku!” adu Arhen pada Arsen.


Arsen hanya melihat sekilas, lalu membawa setoples permen yang terletak diatas meja. “Bukan urusanku, urus saja sendiri!” jawabnya, lalu berlalu pergi.


“Abang! Kau keterlaluan!” Arhen menghentak-hentakkan kakinya.


Arsen menghentikan langkahnya sebentar. “Jika fansmu melihat kelakuanmu, mereka pasti ilfeel.” Berbalik dan berlalu pergi.


Ardhen hanya tersenyum kecil menatap kepergian Arsen, ia juga sudah yakin jika Abangnya memang dingin seperti itu. Sedangkan Andrean malah semakin tertawa terbahak-bahak.


“Baiklah, aku sudah selesai menelfon dengan Kakak. Ini hpmu!” Ia memberikan hp Arhen setelah ia memencet tombol merah, pertanda panggilan diakhiri.


Arhen mengambil hpnya dengan tersenyum. “Hallo, Pa. Ma-” Ia hentikan ucapannya karena layar sudah gelap.


“Papaaaaaa!!!” teriak Arhen kesal, Andrean malah tertawa terbahak-bahak. Pria itu sudah duluan pergi menuju kamar.


Ardhen juga tersenyum dan memilih pergi melihat Arhen kesal.


“Menyebalkan!!!” teriaknya dengan berkacak pinggang.


**


Andrean berjalan masuk ke dalam kamar dengan suasana hati yang begitu senang, saat ini dirinya masih setengah percaya, anak-anak bisa dekat dengannya, walaupun Arsen masih menunjukkan sifat kurang bersahabat padanya, namun nyatanya anak itu sangat perhatian padanya! Bukankah anak itu juga menyukainya?


Ia bersiul-siul, membuka pintu kamar. Di dalam kamar, sudah ada Sakinah yang sedang membaca Alqur'an. Andrean berjalan pelan, duduk ditepi ranjang mendengar suara merdu istrinya. Suara yang ia sebut dengan nyanyian pengantar tidur.


Ia memilih memainkan hp nya, membalas apa yang bisa dibalas dan mengabaikan hal yang ia anggap tidak penting.


Tak lama, Sakinah pun selesai mengaji, Andrean melihat setiap gerak gerik Sakinah dengan seksama. Ia lihat Sakinah mencium kitab suci itu, lalu meletakkan diatas kepalanya sebelum meletakkannya ditempat yang tinggi, kemudian melipat mukenanya.


Setelahnya ia langsung memegang tangan Andrean, mencium punggung tangan suaminya.


“Kenapa kamu selalu mencium dan meletakkannya dikepalamu?”


“Apa?” tanya Sakinah tak paham.


“Surat yang sering kamu nyanyikan itu.” jawabnya.


“Oh, maksudnya Alqur'an? Itu adalah adap, karena aku mencintai dan meyakininya. Kenapa? Apa kamu ingin belajar membacanya?”


“Sebenarnya tidak sulit, kamu dan anak-anak memiliki kepintaran yang tinggi, anak-anak biasanya cepat menguasai bahasa, belajar sesuatu juga cepat. Jika kamu ingin belajar, aku yakin kamu bisa dan itu tidak akan terlalu sulit.” tutur Sakinah dengan tersenyum.


“Aku tidak memaksa, tetapi ada bagusnya kamu bisa membaca Alqur'an dan sholat. Kamu sudah masuk Islam sejak kita menikah, loh.”


Andrean tak menjawab, suasana menjadi hening.


Masalah agama, keyakinan hati memang tidak bisa dipaksa. Bisa dikatakan, Andrean pindah agama hanya karena ingin menikahi Sakinah kala itu. Jadi, Sakinah tak ingin memaksa.


“Apa tidak memalukan jika orang sebesarku belajar? Aku lihat di yutb hanya anak kecil yang belajar.”


“Mungkin kamu melihat perlombaan mengaji diytub, padahal tua ataupun muda tidak ada salahnya belajar. Jika seseorang yang baru pindah agama pasti akan mulai belajar dari awal, setiap orang pasti begitu. Kita tidak akan langsung bisa, jika tidak belajar dulu 'kan?” Sakinah mengelus rahang dan pipi Andrean.


“Baiklah, kalau begitu ... kamu mau mengajarkanku?”


“Tentu saja. Ayo, berwudhu dulu!” ajak Sakinah.


Sakinah membawa Andrean berwudhu, lalu ia mengambil iqra' yang sudah tersimpan diantara buku agama yang ia simpan. Semua buku itu memamg sengaja ia beli untuk Andrean, ia berharap suaminya akan bersedia membacanya suatu hari nanti.


Jujur, rasanya kaki dan perut Andrean terasa kebas saat duduk bersila, bukti ia tidak pernah melakukan pergerakan duduk diantara dua sujud.


“Susah, ya? Kamu duduk senyaman kamu saja dulu, tidak apa, belajar itu perlahan, tidak perlu terburu-buru.” terang Sakinah.


“Ikuti, ya,” ucap Sakinah, Andrean mengangguk.


“Audzubillah.”


“Audzubillah.” Andrean mengikuti.


“Himinassyaitonirrajim.”


“Himinasyaitonirrajim.”


“Bismillah.” lanjut Sakinah lagi mengejakan.


“Bismillah.”


“Hirrahma.”


“Hirrahma.”


“Nirrahim.”


“Nirrahim.” Andrean mengulang bacaan yang dibaca oleh Sakinah.


“Alif!”


“Alif!” ulang Andrean.


“Ba!”


“Ba.” Andrean mengikuti bacaan Sakinah.


“Ta!”


“Ta!” Andrean kembali mengikuti.


“Alif, huruf yang berdiri tunggal, seperti tiang. Huruf ba seperti gambar perahu kecil yang ada titik dibawahnya, sedangkan huruf ta seperti dua orang sepasang kekasih yang ada diatas perahu.” jelas Sakinah tersenyum.


“Paham 'kan? Ayo, kita mulai lagi.” lanjut Sakinah, Andrean mengangguk mengerti.


“Ta!” ucap Andrean langsung menunjuk huruf ta. Sakinah tersenyum, lalu menggeser ke huruf ba dan alif, Andrean terlihat berpikir, mengingat-ingat.


“Alif, tunggal, berdiri kokoh, alias jomblo, gak ada pasangannya. Ba, perahu kecil yang ada titik dibawahnya, seperti seorang yang berenang didanau, terus dia memegang perahu hendak naik ke atas. Sedangkan huruf ta sepasang kekasih duduk diatas perahu.” ulang Sakinah kembali menjelaskan dengan contoh yang mudah Andrean pahami dari segi mesumnya.


“Alif ... Ba ... Ta!” tunjuk Andrean ragu-ragu.


“Wah, kamu pintar, Sayang. Benar! Cup!” Sakinah langsung mencium pipi Andrean.


“Ayo, kita lanjutkan!”


Andrean meraba pipinya dengan senyum bahagia, ia semakin bersemangat belajar mengaji.


...----------------...