
“Aaah, itu-” Aini bergumam, tetapi Arhen sudah menyodorkan daging steak sapi ke mulut Aini dengan tersenyum.
Perlahan, Aini membuka mulutnya, memakan daging yang disuapi Arhen itu dengan tatapan menghipnotis nya. Wajahnya yang dicintai oleh jutaan umat itu, dengan tubuhnya yang kini terlihat sangat sexsy, benar-benar menggoyahkan iman. Senyuman dengan satu lesung pipi di sebelah kanannya, hidungnya yang mancung dengan sempurna, bibir merah alami dan berisi, alis mata yang tebal dan berbaris rapi seperti semut yang beriringan, poros wajah yang yang tegas dan jantan dengan kulit mulus seperti keju.
Tadinya, Aini sempat melamun melihat potongan daging steak itu. Tak pernah ia berpikir bisa makan mewah dan indah seperti ini sebelumnya. Biasanya, jika ia membeli lauk daging di Ampera rumah makan Padang yang harganya 10 ribu dengan porsi potongan dagingnya sangat kecil, dia akan membagi dua daging itu dengan Ramadhan adiknya. Dia jadi teringat adiknya saat ini, ingin rasanya dia membungkus untuk di bawa pulang, hm...
Aini mengunyah daging itu dengan sayang, berpikir andaikan ada nasi sebagai kawannya, ini hanya potongan daging saja.
“Apa kau tidak suka? Tidak enak?” Arhen sejak tadi rupanya memperhatikan expresi Aini.
“Sangat enak,” jawab Aini masih dengan wajah malu-malu.
“Oo,” Arhen masih menatapnya. “Kalau begitu habiskan lah, atau kau mau aku suapi terus?”
“Ti-tidak! Aku bisa makan sendiri kok!” Aini jadi salah tingkah dan langsung melahap daging yang sudah dipotong Arhen tadi dengan terburu-buru.
“Hei, istriku! Aku memintamu mencicipi dan memakannya dengan nikmat, jika kamu makan terburu-buru seperti itu, terkesan aku memaksamu,” tutur Arhen masih memakan daging steaknya dengan anggun. Aini hanya bisa mengedipkan mata beberapa kali karena terharu akan perhatian Arhen, manusia tampan itu baru saja memanggilnya dengan istriku dengan wajah penuh pesona begitu.
“Hm, maaf,” gumam Aini pelan.
Arhen terkekeh kecil. “Untuk apa minta maaf, kita sudah menikah, aku hanya ingin mengenal istriku lebih baik saja, maaf jika aku menakutimu, kau terlihat begitu sungkan dan menjaga sikap. Bersikaplah seperti biasa, seperti apanya dirimu, agar aku bisa mengenal dan membiasakan diri denganmu.”
“Kita menikah bukan hanya sebatas tanggungjawab ku atas kejadian malam itu saja. Akan tetap, aku ingin pernikahan ini berjalan dengan baik, menyatukan dua manusia, baik dengan perilaku dan sikap, cara pikir dan keseharian kita. Kamu mau 'kan?” Arhen menatap Aini lembut.
Ya, begitulah didikan Sakinah menasehati putranya, Arhen. Terlepas dari cinta atau tidak cinta, terlepas dari kejadian buruk itu. Pernikahan bukanlah sebuah permainan, orang yang menjalani pernikahan itu harus benar-benar melakukannya dengan sebaik-baiknya. Ada pertanggungjawaban dunia akhirat yang akan dipikul nanti, bukan hanya sebuah ucapan saja.
Pernikahan itu ibadah, akan banyak mendapatkan pahala dan keberkahan jika menjalankan nya dengan sungguh-sungguh. Arhen ingin menjadi pria baik, pemimpin keluarga yang memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi istri dan anak-anaknya kelak.
Beberapa saat mereka hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring, sesekali helaan nafas keduanya. “Kamu dingin?” tanya Arhen, setelah melihat Aini menghabiskan makanan dan minumannya, lalu mengelus kedua bahunya, seperti orang kedinginan.
“Tidak, anginnya terasa segar kok!” Ia dengan cepat menurunkan tangannya, meletakkan kembali ke bawah, di dekat paha.
“Kamu berhenti bekerja ya, aku akan mengurusnya pada manager hotel dan pihak tempatmu bekerja.” Tiba-tiba Arhen membahas tentang pekerjaan Aini yang menjadi cleaning service di hotel.
“Baiklah,” jawab Aini patuh. Arhen tersenyum.
“Kalau saya boleh tahu, kenapa Tu-, ah, kamu ingin berhenti dari dunia hiburan?” tanya Aini, memperbaiki panggilannya tadi. Ia ingat, jika Arhen melarangnya memanggil dengan Tuan.
“Aku sudah berkecimpung di dunia hiburan sejak kecil, hingga sekarang, sudah bertahun-tahun lamanya. Aku merasa bosan dan lelah, ingin istirahat saja. Dunia hiburan terlalu banyak tipu-tipu, gosip dan ini itulah untuk menaikkan popularitas. Terkadang berita terpanas dari selebriti itu banyak yang settingan.” Arhen berkata dengan pandangan lurus, setelah berkata seperti itu, ia menyudahi makannya, menelungkup kan pisau dan garpu, lalu meminum minumannya dan menghapus mulutnya dengan tisu.
“Hm, kenapa? Apa model iklan lebih besar ya bayarannya dari drama atau film layar lebar?” Aini bertanya dengan penasaran.
Arhen terkekeh kecil. “Bukan, syuting film aku akan sangat sibuk, jarang kumpul keluarga, ke sana kemari, dan ... aku bersentuhan dengan banyak lawan jenisku, walaupun tak ada hasrat apapun, tetapi aku merasa ... em, ya gitu lah. Sepertinya Mom juga senang aku berhenti, dia hanya mendukung aku untuk iklan saja. Dulu, Mom izinkan aku main jika menjadi peran antagonis, atau pameran sampingan gitu, tetapi tawaran terlalu banyak untukku menjadi pameran utama.”
“Jika adegan yang lebih intens seperti ciuman dan lainnya, aku gak ambil, hanya sebatas pelukan dan kecup kening aja sih. Tetapi banyak banget yang minta aku jadi pameran utama film lainnya, seperti bunga Daisy dan Lily. Aku menolaknya.”
“Film apa itu?”
Arhen tersenyum kecil. “Syukurlah jika kau tidak tahu dan belum menonton, itu film adult, eem, maksudnya ada adegan dewasanya 21+ gitu,” jelas Arhen, membuat Aini salah tingkah karena malu mendengar.
“Mom ingin, kalau aku jadi Superstar, harus dalam jalur yang tidak melenceng jauh gitu, kata Mom, rezeki yang tidak baik dengan cara buruk akan mempengaruhi kita. Jadi, aku putuskan buka usaha seperti kedua saudara kembarku saja!”
Aini mengangguk memahami, dulu dia pernah bertemu dengan Sakinah. Wanita itu memang sangat baik dan lembut. Pakaiannya panjang dan sopan, adiknya adalah guru ngaji Aini dulu di kampung, Bi Rukhsa. ‘Keluarga yang alim semua,’ pikir Aini mengingat-ingat.
“Itu memang jauh lebih baik,” sahutnya setelah itu.
“Iya, apalagi sekarang aku sudah menikah. Aku ingin menjaga perasaan wanita yang aku nikahi.” Arhen berkata dengan tersenyum, membuat semurat rona merah di pipi Aini muncul.
Mereka berbincang ringan beberapa saat, tentang makanan yang disukai serta cita-cita mereka, tak ada yang membahas tentang masa kanak-kanak. Hanya bahasan tentang mereka sudah besar kini saja.
“Hm, Nur, hoooaamm, aku ngantuk, bagaimana kalau kita tidur?” Arhen berkata sambil menguap. “Hoaamm, a'udzubillahi minassyaiithaa ni rrajiim,” gumam Arhen pelan menutupi mulutnya yang menguap.
“Iya.” Aini segera berdiri dan berjalan mengikuti Arhen di belakang.
...----------------...
Hallo Arlove tersayang, terimakasih banyak telah selalu setia membaca cerita ini. Aku sangat senang karena jumlah pembaca masih banyak di statistik view pembaca. Aku juga sangat bersyukur atas kebaikan para pembaca yang berbaik hati memberikan vote, hadiah-hadiah, dukungan like dan komentarnya. Apalagi saat mengingatkan aku tentang typo yang sering aku lakukan tanpa sengaja, bahkan kemarin kesalahan nama pada Berend dan Jesylin. Aku malah menulis Monica, ketahuan banget ya, aku gak baca ulang ceritaku sendiri untuk memastikan nama tokoh😁 Habisnya aku sering teringat Abang Arsen aja sih!
Terimakasih saya ucapkan kepada semua pembaca setia yang masih membaca Anak Genius itu Anakku hingga bab sekarang ini, memberikan aku dukungan dengan komentar positif , hadiah-hadiah, vote dan perhatiannya, yang membuat aku selalu semangat. Semoga selalu terhibur ya💓🌹
Sebentar lagi bulan puasa tiba, Alhamdulillah, kita masih bisa diberikan kesempatan untuk menyambut bulan berkah ini, semoga kita mendapatkan berkah yang berlimpah dalam bulan ini, bisa berpuasa penuh, dan beribadah lebih banyak dan lebih baik lagi.
*Jika ada kesalahan yang aku sengaja atau tidak sengaja dalam bertutur kata, janji yang belum ditepati, update yang slow dan lama, aku minta maaf. Sebelumnya, aku juga sudah memaafkan reader tercinta semua**💓*
Love you Arlove 🌹💓 Happy reading to next episode 💓