
“Apa maksudmu dengan semua ini Sakinah?!” tanya Shalsabilla, “kau menikah dengan Andrean tetapi menandatangani surat kontrak? Jangan bilang padaku, kau mau melakukan pernikahan kontrak?”
“Sakinah ... kau mengerti 'kan, jika menikah kontrak itu haram. Kau seharusnya lebih paham tentang ini dari pada aku yang gak alim ini.” desisnya.
“Baiklah, sebentar, aku akan membrowsing di internet.” Shalsabila mengetik sesuatu dihandphonenya.
“Imam Mazhab menyatakan bahwa nikah mut'ah atau kawin kontrak hukumnya adalah batil atau haram. Kawin kontrak dilakukan hanya untuk melampiaskan ***** semata dan dibatasi oleh jangka waktu, bukan untuk membangun rumah tangga yang sesuai dengan syariat Islam. Nih, denger!” tekannya.
“Nih, ada lagi, aku akan cari melalui hukum deh! Kawin kontrak telah melanggar ketentuan pasal 2 ayat (2) UU No.1 Thn. 1974 karena dalam perkawinan ini tidak dilakukan pencatatan pada pejabat yang berwenang (KUA atau Catatan Sipil) dalam rangka memperoleh kepastian hukumnya melalui surat nikah.”
“Pada dasarnya Kawin Kontrak itu sendiri telah melanggar arti dan tujuan suci dari sebuah perkawinan sesuai dengan UU No. 1 Thn. 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, jadi tidak ada alasan untuk membenarkan dan mengesahkan keberadaannya. Menurut Hukum Islam, kawin kontrak ini adalah haram hukumnya, yaitu dengan mendasarkan pada dalil-dalil baik berasal dan Al Qur'an maupun Hadist. Jadi tidak ada alasan untuk membenarkan bahkan mengesahkan keberadaan kawin kontrak atau kawin mut'ah ini. Nih, baca!” geramnya.
“Kenapa sih kamu melakukan hal bodoh begitu, Kinah?!”
“Tenanglah Billa, aku bukan kawin kontrak, tapi menikah yang sesungguhnya sama dia, terdaftar. Cuma ... dia minta nikahnya hanya 2 tahun aja.”
“Bukankah itu namanya kontrak, Dudul? Menikah dengan jangka waktu tertentu!” seru Billa.
Sakinah mendesah. “Maaf, aku salah, aku melakukan ini demi operasi Ardhen. Kalaupun aku menolak, mereka akan merebut anak-anakku.” sesalnya.
“Bagaimana mungkin mereka seperti itu?! Mereka datang-datang ingin merebut, selama ini mereka kemana? Seharusnya mereka bertanggungjawab!” bentak Shalsabila.
“Tenanglah Miss. Jangan desak Mom, dia melakukan ini semua karena terpaksa. Jadi, biarkan aku bersama Miss dan Daddy.” Arsen menggenggam tangan Billa. Jimy juga sudah merangkul bahu istrinya.
“Dad, kenapa lama sekali?” Arhen mengeluarkan kepalanya di daun pintu. “Katanya cuma mau manggil Miss, malah nyangkut juga sama Abang di sana!”
“Ah, iya, Kami akan segera masuk.” sahut Jimi.
“Ayo, temani Arhen dan Ardhen dulu, nanti kita bahas lagi. Jangan sampai anak-anak tau, gak baik.”
Jimi dan Shalsabila masuk terlebih dahulu.
“Apa Arhen dan Ardhen juga tahu?” tanya Sakinah.
“Kalau Mom menandatangani surat, mereka hanya melihat sekilas, mereka tak tahu. Hanya aku sendiri yang menonton keseluruhan. Yang mereka tahu, Mom dipaksa menikah dengannya.”
“Kenapa Mom tidak baca dulu sebelum menandatangani surat itu? Bagaimana kalau isinya malahan pengalihan hak asuh anak?”
Sakinah tersentak mendengar ucapan Arsen, kenapa dia sampai bodoh seperti itu, dalam hatinya ia merasa percaya pada lelaki yang menjadi ayah biologis anak-anaknya.
“Maafkan Mom.”
“Sudahlah Mom, semuanya sudah terjadi.” Arsen memeluk Sakinah.
Sakinah terkadang sangat terhibur oleh Arsen yang sangat dewasa, ia benar-benar anak ajaib, memiliki sifat dan pemikiran yang berbeda dengan anak-anak seusianya bahkan dari adik kembarnya Arhen dan Ardhen.
“Ayo, kita masuk kembali ke dalam kamar inap Ardhen.” ajak Arsen.
_________________
“Ah!! Shiiit!” teriak Andrean.
Senjatanya yang biasanya nakal suka bergonta ganti perempuan itu sedang melakukan perawatan. Ya, dikhitan.
“Mama!!! Ini sakit! Kapan sembuhnya!” pekiknya lagi.
Sekar cuma bisa mengusap kepala putranya. “Tenanglah, ini akan cepat sembuh.” hiburnya.
“Kenapa harus dipotong?! Ini sakit sekali! Pasti punyaku jadi pendek!” erangnya kesakitan.
“Bukan pendek Tuan, itu hanya kulitnya saja yang dipotong dan dibersihkan, jadi tidak ada pemotongan untuk batang itu.” jelas perawat yang memeriksa.
“Diam kamu! Berikan aku sesuatu! Atau suntik penghilang rasa sakit!”
“Tidak bisa Tuan, jika disuntik bius terus, itu akan berdampak buruk. Rutin minum obat dan jika nanti agak kering baluri ini. Biasanya tidak lama, akan segera sembuh.” jelas perawat laki-laki itu dengan ramah sembari menyodorkan obat berbentuk salep.
“Ah, kau menyebalkan! Keluar sana!” usirnya.
“David!” Ia memanggil seseorang yang berada diluar dengan suara lantang.
“Ya, Tuan.” sahut Pria berbadan kokoh itu menghadap Andrean.
“Periksa dan selesaikan surat-surat yang aku minta pada Alex. Apa dia sudah mengurusnya!”
“Baik, Tuan.”
“Surat-surat apa?” tanya Sekar.
“Surat nikah, Ma.”
“Sakinah bersedia menikah denganmu?”
“Iya.”
“Baguslah. Mama akan menyiapkan semuanya. Mama sudah tidak sabar.”
“Tidak, Ma.”
“Apanya yang tidak?” tanya Sekar dengan alis mata berkerut.
“No party!”
“Bagaimana mungkin!”
“Listen to me, Jika menikah di rayakan, anakku sudah besar, artinya aku membuat anak haram dan membuat malu. Perlahan mereka akan diperkenalkan, masalah ini belum reda Ma, video itu masih tersebar. Jadi, sekarang jangan melakukan party. Aku akan membuat surat nikah resmi bertanggal 7 tahun yang lalu di desanya. Aku akan minta tanda tangan kepala desa dan perangkat desa.”
“Jadi saat konferensi nanti, data mereka bukan anak haram.” jelas Andrean.
“Kau benar-benar putraku yang tampan dan keren.” Sekar menepuk lengan Andrean.
“Tentu saja Ma, aku putra Mama dan adik Kakak yang sangat rajin dan pintar.”
“Ini kapan sembuhnya Ma, sakit sekali!” Ia merengek kembali.
“Sabar putraku.”
______________
Di Belanda.
Dedrick sudah sibuk dengan perusahaan. Begitu banyak tugas yang menumpuk, belum lagi pertanyaan tentang video Arhen.
“Dedr, benarkah kau memiliki putra?” Calista bertanya untuk kesekian kalinya.
“Kamu bisa gak bekerja dengan serius, jangan menanyakan hal-hal diluar pekerjaan, kalau kamu tidak bisa aku akan mencarikan penggantimu.”
“Aku bisa! Tetapi kamu harus tau, semua orang bergosip tentang itu.”
Dedrick berjalan pergi meninggalkan Callista. Ia benar-benar tak peduli dan sakit kepala.
Ia memilih duduk di dalam toilet. Hatinya terasa sakit saat Andrean mengatakan kalau Sakinah setuju menikah dengannya. Tak seharusnya ia marah apalagi sakit hati, bukankah pantas jika Andrean menikahi wanita yang telah ia hamil dan sekarang memiliki dua orang putra kembar.
‘Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa?!’
Cukup lama ia duduk di sana. Ia malas kembali ke ruangannya, ada Calista yang akan menanyakan pertanyaan yang sama.
“Geweldig, kom er alles over te weten. Vooral die vrouw!” (Bagus, Caritahu semua tentang mereka. Terutama wanita itu!) Terdengar suara laki-laki yang sangat ia kenal dari luar.
‘Bukankah itu suara Paman? Apa yang ingin ia lakukan? Ia ingin mencaritahu tentang apa? Siapa?’ gumam Dedrick dalam hati.
“Hoe is het frame van de ketting?” (Bagaimana dengan kerangka kalung itu?)
‘Kalung?’ Dedrick menguping pembicaraan Pamannya, namun handphonennya malah berbunyi, membuat Irfan berhenti bicara dan ia menjadi waspada.
...***...