
Mereka main gitar sampai subuh, Arsen pun juga mengontrol sampai subuh, sedangkan Xander Pim sudah tertidur sejak tadi. Beberapa orang juga telah tidur. Hingga, hampir jam 6 pagi, Arsen tertidur sendiri, tombol kecil yang ia pegang terjatuh sendiri.
Entah berapa jam berlalu, Xander Pim telah membangunkan Arsen. “Tuan Muda, bangunlah, sepertinya mereka hendak kembali, mereka sudah berkemas.”
Arsen terlonjak kaget, bola matanya merah, ia menatap keluar, hari sudah terang, tampak mereka telah masuk ke dalam bus. “Kameranya!” Arsen teringat, ia melihat ponsel dan tombol kecilnya.
Terdengar suara srek! srek! Lalu, dia aktivkan mode kamera, hanya terlihat warna coklat. “Hm, sepertinya kameranya ada di tanah! Aku akan mencarinya dulu!” Arsen keluar dan turun dari mobil.
Ia mencari kumbang kecil itu dengan mencari sinyal melalui ponsel dan tombol kecilnya.
Cukup lama ia mencari, hingga akhirnya ia menemukannya. “Ah, kau di sini rupanya!” Arsen berjongkok mengambil kumbang itu.
Saat ia berdiri dan berbalik, ia terlonjak kaget. Roselia tengah menatapnya.
“Tuan Muda?” tanya Roselia.
“Ka-kamu ke-kenapa di sini?” tanya Arsen terbata.
“Hm, aku ada acara perpisahan sekolah di sini Tuan Muda. Apakah Anda kehilangan sesuatu! Mencari sesuatu? Mau di bantu?”
“Enggak! Sudah bertemu!” jawab Arsen sigap.
Lalu, suasana hening dan canggung, hingga Rayyan datang.
“Rooo--” Rayyan tadi ya yang ingin berteriak memanggil Roselia, menjadi menghentikan ucapannya.
“Hallo Tuan Muda.” sapa Rayyan.
“Hm, hallo.” sahut Arsen dingin.
“Itu ... ban busnya sudah di ganti, ayo!” Rayyan berbisik.
“Em, Tuan Muda-”
“Kau mau kemana?” Arsen bertanya dengan wajah datar.
“Mau pulang.”
“Oh, acaranya sudah selesai? Pulang bersamaku saja! Aku ingin ke apartemen!”
Roselia menatap Rayyan, “Rayyan bisa muat juga gak?” tanya Roselia, membuat kening Arsen berkerut.
Akan tetapi, dia masih menjawab dengan expresi datar. “Bisa, dia duduk di depan, di samping Paman Xander!”
“Ha, ayo, kita bilang sama guru pembimbing dan ketua team! Enak naik mobil Tuan Muda dari pada bus, di bus bisa pegal-pegal. Ayo!” Roselia menarik tangan Rayyan.
“Tuan Muda, tunggu ya, aku pinta izin dulu!” Roselia berteriak, lalu berbalik dan berlari bersama Rayyan.
Tak lama, Roselia berjalan dengan senang bersama Rayyan. Xander Pim membukakan pintu untuk Roselia, gadis berkacamata itu duduk di samping Arsen, sedangkan pintu depan tak dibukakan oleh Xander, Rayyan memilih membuka sendiri sambil tersenyum.
“Paman, antar temanku dulu ya, di jalan lili diamond ams.” pinta Roselia tersenyum.
Xander melirik Arsen, pemuda tampan itu tampak hanya diam, tak ada sorot mata tajam tanda penolakan. “Baiklah, Nona!” jawab Xander.
Rayyan beberapakali mengajak Roselia berbicara, namun gadis itu hanya menjawab satu-satu, ia tampak menjaga sikap di hadapan atasan kakak laki-lakinya. Akhirnya Rayyan memilih diam, mobil menjadi sunyi.
Cukup lama menempuh perjalanan, mobil berhenti di depan pagar tinggi di perumahan elit, tepatnya di depan rumah Rayyan.
“Terimakasih Tuan Muda, makasih Paman!” ucap Rayyan tersenyum ramah, ia melirik Roselia yang tertidur, gadis berkacamata itu tengah tidur bersandar di bahu Arsen.
“Ya!” Arsen menjawabnya, menoleh pada Rayyan.
“Tuan Muda, apa perlu bantal? Apakah saya ambilkan bantal?” Xander bertanya sebelum ia melajukan mobil lagi saat melihat Roselia tidur bersandar di bahu atasannya.
Arsen berdebar saat tadi kepala Roselia rebah di bahunya, kini ia merasa senang saat kepala itu masih betah di bahunya, ia ingin sekali mengelus kepala yang bersandar itu, tapi ia menahannya.
Di perusahaan Ar3s, Hans sibuk dengan banyak tugas, ia adalah wakil direktur sekaligus asisten pribadi pemilik perusahaan, begitu banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Belum lagi ia butuh tanda tangan Arsen, namun pemuda itu tak diketahui dimana posisinya, Xander hanya menjawab kalau Arsen pergi ke tempat Berend, setelah itu tak ada kabar. Saat ia bertanya pada Vindo, pemuda berotot itu sudah menghubungi orangtuanya, mereka berkata kalau Arsen telah kembali.
“Vin, bantu aku dulu, ya!” Hans berkata sambil memijat keningnya.
“Baik, Kak.” Vindo dengan sigap membantu.
“Bagaimana dengan pekerjaan yang diminta Tuan Muda padamu?” tanya Hans disela kesibukannya.
“Masih dalam proses, Kak. Ya, selama ini masih berjalan lancar, mungkin tak lama lagi akan berhasil.” jawab Vindo dengan percaya diri.
“Syukurlah.”
***
“Dhen, apa kamu memiliki kekasih?” Rufia bertanya saat Ardhen mengolah keripik baru. Gadis itu tengah beristirahat.
“Tidak.”
“Oh, apa kau tak menyukai seseorang?”
“Untuk sekarang tidak, kenapa memangnya?” Ardhen bertanya, namun tangannya masih lincah.
“Aku hanya penasaran saja. Hm, tipe wanita yang kamu sukai seperti apa?” lanjut Rufia bertanya lagi.
“Seiman, pintar dan merima apa yang aku suka, mengerti dengan diriku!” jawab Ardhen.
“Seiman itu apa maksudnya?” Rufia menatap Ardhen, menanti jawabannya.
“Satu agama denganku.”
“Jadi, kamu tidak menyukai beda agama?”
“Ah?” Ardhen terkejut, kemudian dia meletakkan adonannya. “Akh, dengarkan maksudku dulu!” Ardhen ingin menjelaskan, ia tak ingin Rufia salah sangka dengannya. “Maksudku begini, bukan aku tak suka dengan orang yang berbeda denganku, kalau berteman, bersahabat, aku suka dengan semua agama, asal itu nyaman, aku, Abraham, Cleo, sudah berteman sejak kecil, sudah bertahun-tahun. Akan tetapi, untuk kekasih, aku tak bisa, aku butuh yang satu agama.”
“Di dalam agamaku, beda agama itu tidaklah baik untuk menikah. Aku harap kamu mengerti maksudku, Ruf!” Ardhen menatap Rufia.
Rufia tersenyum. “Iya, aku paham Dhen. Jangan khawatir.”
Terdengar suara bel kecil, menandakan jam istirahat Rufia telah berakhir, ia harus bergantian dengan yang lainnya untuk istirahat.
“Bos, jam masuk sudah berbunyi, aku ke depan lagi ya!” ucap Rufia.
“Hahaha! Ok!” Ardhen menjawabnya dengan tertawa.
Ya, Rufia akan bersikap bak pegawai pada atasan kepada Ardhen dan Abraham saat bekerja, jika jam istirahat dan pulang kerja, maka sifatnya akan kembali seperti saat mereka kuliah di Italia dulu.
Saat Rufia keluar, ia terkejut dan hampir menabrak Abraham.
“Ah, Pak Abraham!” Rufia menyapanya, lalu segera menuju ke meja resepsionis. Abraham hanya menjawab mengangguk dan tersenyum.
Tadinya, ia memang hendak masuk ke dalam, namun saat ia ingin masuk, ia mendengar Rufia bertanya pada Ardhen. Tanpa sengaja, ia menguping, entah kenapa hatinya menjadi cemas saat ini. Ia mulai semakin khawatir.
“Ruf, apakah kau menyukai Ardhen?” Abraham bertanya dalam hatinya. “Ataukah kau akan terpesona pada Kak Arhen yang tampan dan sangat keren?” Abraham terus bergumam.
Akhirnya, ia tak jadi masuk ke dalam menemui Ardhen karena perasaanya yang tak menentu dan buruk. Ia memilih pergi dari sana.
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar nya Arlove. Terimakasih masih setia membaca dan menunggu kelanjutan cerita ini, love you 💓