
Aini kembali ke hotel sore hari, setelah ia berbincang dan meninggalkan uang serta membelikan banyak makanan untuk adiknya Ramadhan.
Tadi, sebelum pulang ke rumah. Arhen memberikan dia banyak uang untuk Ramadhan dan keperluannya.
Aini terharu, padahal semalam ia sangat ketakutan, khawatir jika laki-laki yang baru beberapa hari menikahinya itu akan menceraikannya, dia sudah menyiapkan hatinya untuk itu. Akan tetapi, laki-laki yang dia cintai sejak kecil memang pantas dicintai, pria yang baik dan bertanggungjawab, dia semakin jatuh cinta akan pesona suaminya itu.
Aini terburu-buru dan sedikit berlari, hingga dia menabrak seorang pria.
Brugh! “Awch!” Aini meringis, mengelus bahunya yang terasa ngilu karena bertabrakan dengan seorang pria berbadan kekar.
“Maaf, a-” Pria itu langsung terdiam dan menatap Aini lama. Aini juga menatapnya dengan ragu-ragu.
“Aini!” ucap pria itu akhirnya. “kau Aini 'kan? Akhirnya, aku menemukan dirimu juga Aini!” Pemuda itu langsung memeluk Aini dengan erat, dia sangat merindukan wanita itu sejak lama.
“Ka-kamu--- Eric?” tanya Aini.
Pemuda itu tersenyum senang. “Iyo Aini, iko awak, Eric. Alah lamo ndak basobok. Ndak panah danga kaba, Aini ndak panah manelpon nomor nan awak agiah waktu tu!”
“Hm, i-itu awak ndk ba hp waktu tu, tu nomor tu hilang,” jawab Aini memberi alasan, perlahan melepaskan dan mendorong tubuh Eric yang memeluknya.
Mereka berbasa-basi menanyakan kabar dan Eric mempertanyakan kenapa Aini tak menghubunginya selama ini. Aini menjawab jika dia tidak punya hp waktu itu, kemudian nomor yang diberikan Erick saat itu juga hilang.
Eric tumbuh menjadi pria tampan nan manis, badan altetis dan berotot, tubuhnya tinggi 175, berbeda sedikit dari Arhen yang memiliki tinggi 180 cm. Kulit Arhen yang putih bersih, sedangkan Eric memiliki kulit sawo matang nan manis khas Indonesia.
Giginya rapi dan putih, hidungnya mancung, alisnya rapi dan tebal, rambutnya lebat hitam, potongan rambutnya ala Korea. Dia tersenyum sangat manis pada Aini.
“Aini, awak lah lamo mancari-cari. Waktu tu, sampai Pai Karumah Apak Aini nan di Jakarta Selatan, tapi rumah tu alah bajua,” jelas Eric. Dia menjelaskan jika dia sudah mencari Aini, sampai ke Jakarta Selatan, tempat Pamannya dulu tinggal, tapi rumah itu rupanya sudah dijual.
“Maaf.”
“Hehehe, ndak apo. Kini, Aini samo Ramadhan tingga dima? Buliah awak bakunjuang?” Eric menanyakan dimana Aini dan adiknya tinggal, ia ingin berkunjung ke sana.
“Di--di jalan rambutan xx!” Akhirnya Aini meyebutkan alamatnya.
“Oh, tu-- kini Aini ka kama ko?” Eric kembali bertanya, Aini akan pergi kemana dan mau ngapain.
“Awak karajo jadi cleaning servis hotel.” Aini berbohong mengatakan dia bekerja di hotel.
“Oh, awak nginap di kamar nomor 007 lantai 3. Ko nomor hp Wak!” Erick memberikan kartu nama dan menyebutkan kamar tempat ia menginap di hotel ini juga.
“Iyo, kalau baitu, awak pai dulu!” Aini pamit undur diri.
“Iyo, Jan lupo hubungi awak, Aini!” Eric mengingatkan Aini agar menghubungi dirinya.
Aini pun bergegas kembali ke kamar hotel, dimana Arhen menyewa kamar itu sudah hampir sebulan. “Kau sudah pulang?” tanya Arhen setelah menjawab salam Aini yang baru masuk.
“Iya.”
“Kabar Ramadhan baik?”
“Iya, dia baik.”
“Pekerjaanku sudah selesai di Jakarta, aku ingin pulang kampung ke kampung ibuku, di Sumatra Barat. Aku ingin kau dan Ramadhan pergi, jadi bersiaplah, katakan pada Ramadhan juga, beberapa hari lagi kita pergi,” tutur Arhen lembut. Arhen berniat mencium Aini, tetapi Aini langsung mendorong wajah tampan itu.
“A-aku dari luar, aku bau besing, bau besi, bau!” tolaknya.
Arhen tersenyum kecil. “Memangnya kenapa kalau kamu bau?” Arhen malah memeluk Aini semakin erat, mengabaikan penolakan Aini. Wajah wanita itu semakin memerah dikala Arhen berbisik.
“Seberapapun baunya kamu, aroma itu yang ingin kuhirup, aroma tubuh asli istriku, agar aku mengenalnya lebih dekat dan candu!”
Setelah berbisik begitu, dia langsung mengecup bibir Aini. Setelah beberapa kali mengecup, dia melepaskan Aini sambil tersenyum memperhatikan wajah dan sikap Aini. Wanita yang dinikahinya itu terlihat sangat lucu dan salah tingkah, pipi dan daun telinganya sampai memerah. Arhen menjadi ingin lebih menggodanya.
“Katanya kamu bau, bagaimana kalau kita mandi bersama? Aku dan kamu belum pernah mandi bersama sekalipun!” Arhen berkata mesra sambil mengecup leher Aini.
“A-apaan sih!” Aini menahan bahu Arhen agar menghentikan menciumi lehernya, ia sangat kegelian. Arhen tidak mau berhenti, membuat otak Aini berhenti berpikir, dia mulai merasakan sensasi terbakar.
Arhen tersenyum melihat respon tubuh Aini. Wanita yang susah ia tebak itu, diam tanpa banyak bicara, menurut tanpa memberi penjelasan, entah kapan dia berbohong dan apa saja yang ada dalam kepalanya, tetapi saat seperti ini, wanita itu mengeluarkan ekspresi menggemaskan minta di makan.
“Ayo!”
“Mhmm.” Aini malah menjawabnya dengan setengah mend*es*ah, membuat Arhen yang tadinya mengajak mandi bersama malah berbelok keranjang bersama.
Arhen menggendong tubuh kecil dan kurus Aini lembut, menyatu dengan istrinya itu dengan ratusan ciuman mesra yang membara. Mereka berdua hanyut dalam asmara cinta.
Setelah melakukan penyatuan, Arhen mengajak Aini mandi bersama, dia menggendong Aini dan memeluknya di bathtub. Masih dengan posisi memeluk Aini dari belakang, wajahnya ia benamkan di ceruk leher Aini.
“Aku benci jika kau mencintaiku sebagai artis, jadi cintai aku sebagai suamimu mulai detik ini, berjanjilah!” Lagi, Arhen menekankan perkataan itu. Entah berapa kali Aini mendengarkan ucapan itu.
“Kenapa? Bukankah sama saja, kamu mendapatkan cinta juga?”
“Berbeda Nur! Cinta seseorang pada idola itu karena sesuatu, jika sesuatu itu hilang cinta itu juga habis, jika cinta pada pasangan tentu saja tidak begitu!”
“Enggaklah. Banyak kok para fans menggila, sampai habis harta, tenaga demi idola,” bantah Aini.
“Aku tidak suka itu. Aku bilang cintai aku sebagai suami, bukan sebagai idola, ngerti gak!” Arhen langsung menggigit bahu Aini kuat, meninggalkan jejak giginya di sana.
“Awch!” Aini meringis karena sakit.
“Kau menyebalkan Nur!” Arhen bangun dari bathup, mengeluarkan Aini dari sana, menariknya ke ruangan kaca kecil, menutup ruangan itu. Ruangan kecil yang hanya ada shower di dalam sana.
“Aku sedang marah sekarang! Aku akan menghukummmu sampai kau mencintaiku sebagai suamimu!” Dengan buas Arhen langsung melahap bibir Aini, tidak membiarkan wanita itu menolaknya sedikit pun.
Lagi, Arhen menggagahi Aini dengan gaya terbaru, posisi berdiri dan memojokkan tubuh Aini ke dinding kaca. Istrinya itu tak berkutik, hanya bisa menikmati sentuhan pria yang dia cintai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hohohoho. Bab-nya gak bikin panas 'kan?
Maklum, Arhen masih muda banget, lagi fit-nya, pengantin baru lagi 'kan... uh, lagi gak kerja juga,😁😁 Kalo gak ada kegiatan gini, Arhen kan jadi mikirnya sering ke sana, apalagi pernah icip juga. wkwkwkwk😁😁😁😁😁😁