
Arhen kembali duduk di tempat mereka makan tadi sebelum Aini kembali dari toilet. Dia mengirim pesan pada satu orang dari dua orang yang diutus Arsen menjaga dia secara rahasia.
‘Kau tahu 'kan rumah istriku? Datang ke sana, cari tahu siapa tamu adik ipar ku dan kirimkan fotonya padaku, secepat mungkin!’ Setelah mengirim pesan itu, Arhen menyembunyikan hp nya.
Aini pun keluar dari kamar mandi. “Oh,
ya, hp kamu berbunyi sejak tadi, jadi aku angkat, tapi aku tidak mendengar jelas apa yang dia katakan, makanya aku mematikannya kembali,” ujar Arhen.
Aini meraih hp nya, melihat ada nomor baru, Aini langsung menelpon balik, dia khawatir, jangan-jangan Ramadhan memakai nomor hp temannya dan terjadi sesuatu, dia jadi langsung menelfon ke nomor Ramadhan langsung.
Aini tampak terkejut, dia segera beranjak pergi ke arah balkon, menjauh dari sana. Di seberang telepon, Ramadhan mengabari jika Eric sedang bertamu di rumah mereka. Ramadhan tidak bercerita apa-apa tentang pernikahan Aini, dia membenarkan perkataan Erick yang bertanya jika Aini bekerja menjadi cleaning servis di hotel.
Eric berniat menjemput Aini pulang kerja karena malam, pemuda manis berbadan kekar itu masih menunggu di rumah karena di larang ramadhan menjemput.
“Katakan padanya aku lembur, suruh kembali!” perintah Aini pada adik laki-lakinya itu.
Setelah menelfon, Aini kembali masuk ke dalam kamar. Arhen sudah duduk di atas ranjang bermain hp. Aini menyusun piring kotor, agar pelayan hotel mudah mengambilnya, setelah itu ia juga duduk di tepi ranjang.
Suasana mereka berdua begitu hening, tak ada pembicaraan apapun, hingga Arhen menyimpan hpnya. “Aku hendak tidur, selamat istirahat, Nuraini!”
“Iya, selamat istirahat.”
***
Pagi-pagi sekali, Arhen sudah rapi, duduk santai menikmati cahaya pagi dari balkon kamar hotel, dengan membuka dinding kaca agar wajahnya dibelai angin segar di pagi hari.
Aini tampak masih tidur, karena ia dari semalam tak bisa tidur, dia selalu terpikirkan Eric. Dia khawatir jika pemuda itu masih menunggu di rumah dan mencarinya di hotel, tempat dia bekerja. Aini tahu, jika Eric menyukainya dulu, pemuda itu terang-terangan menunjukkan sikapnya, sudah beberapakali mengirimkan surat cinta waktu mereka sekolah menengah pertama.
Terdengar pintu kamar berbunyi, pertanda pelayan akan masuk ke dalam kamar mengantarkan sarapan pagi. Arhen membuka pintu dan mempersilahkan para pelayan masuk untuk meletakkan makanan serta membawa piring kotor mereka malam.
Diantara para pelayan itu ada Mutiara, teman sesama bekerja dengan Aini sebelumnya. Dia sangat senang dan antusias saat mendengar kepala pelayan mengajaknya mengantar makanan ke dalam kamar privat Arhen sang superstar terkenal idolanya.
Perjanjian kerja adalah tidak menyebarkan apapun tentang tamu, itulah yang terjadi sekarang, semua orang menunduk berpura-pura tidak tahu, tetapi tidak dengan Mutiara karena tanpa sengaja dia menoleh pada wanita yang tengah tertidur di ranjang, saat ia memungut kertas yang jatuh di samping ranjang.
‘Nur?’ batinnya tak percaya. Dia menatap sosok wanita yang tidur itu lama.
Kepala Pelayan langsung menekan kepala Mutiara turun agar menunduk. “Maaf Tuan Muda, pelayan ini masih pemula, saya pastikan dia tidak akan berkata apapun!” jelas Kepala Pelayan.
“Hm, ok, lanjutkan pekerjaan kalian,” jawab Arhen. Kemudian dia berjalan ke arah ranjang.
“Nuraini, bangun! Cup!” Arhen membangunkan Aini dengan mencium pipi Aini lembut, para gadis pelayan merasa cemburu dan iri pada wanita beruntung itu. Mereka ada yang tersenyum kecil, ada yang malu sendiri menjadi nyamuk atas keromantisan Arhen pada wanita yang tidur di ranjangnya.
“Sayang, bangunlah, sarapan sudah datang nih, biar sekalian seprainya diganti sama mereka!”
“Mmm,” Perlahan mata Aini terbuka, ia terkesiap dan langsung duduk melihat ada para pelayan di dalam kamar melihat dia baru bangun tidur. Biasanya, ia sudah rapi dan memilih menyembunyikan diri di balkon.
Dia segera melihat tubuhnya, dia merasa lega karena dia berpakaian. “Sudah bangun?” Arhen menatap wajah Aini lekat, langsung mengecup bibirnya sekilas, membuat Aini malu, wajah bangun tidurnya yang kusut, ditambah dia belum gosok gigi.
Dia mendorong tubuh Arhen pelan agar menjauh darinya. “Iya, aku sudah bangun, aku mau mandi!”
“Baik, Tuan!” jawab Kepala Pelayan.
Aini bangun dari ranjang hendak mandi dan dirinya sangat terkejut, kala wajahnya bersirobok dengan tatapan Mutiara yang mencuri-curi pandang padanya.
Deg! ‘Mutia?’ gumamnya dalam hati.
Mutiara mengikuti Kepala pelayan masuk ke dalam kamar mandi, menyiapkan aromaterapi di bathup. “Semuanya sudah siap Nona, silahkan!” ujar Kepala Pelayan.
“Iya, makasih!” Aini masuk ke dalam kamar mandi melewati Mutiara yang masih meliriknya.
Kasur pun di ganti seprainya dan di rapikan, selama merapikan kamar, Arhen memilih berdiri di balkon.
Tak lama, kamar sudah rapi. Semua sampah dan piring kotor serta seprai sudah di bawa keluar, kamar sudah rapi dan bersih, makanan yang sudah dimasukkan tadi perlahan dibuka tudung sajinya, di susun di atas meja kecil di sudut sana.
Setelah itu, para pelayan keluar dari kamar itu.
“Bu Kepala Pelayan, itu tadi Nuraini Putri yang bekerja satu team denganku 'kan?” Mutiara bertanya dengan penasaran, saat mereka sudah berada di luar, berjalan di lobi hotel.
“Iya,” jawab Kepala Pelayan itu pendek.
“Ka-”
“Jangan bicara apapun Mutiara! Kau sudah menandatangani surat bukan? Jika kau berani berkata dan bertanya melebihi batas, kau akan dituntut 20 kali lipat dari uang yang di dapatkan hari ini, kau paham 'kan?” Kepala Pelayan itu memberitahu Mutiara, sehingga gadis itu memilih diam , berjalan mengikuti ketua pelayan.
Hingga ia sampai kembali ke tempat dia mengelap piring-piring yang sudah dicuci menjadi kering. Dia mengirimkan pesan pada Aini.
‘Kawan, apa kabarmu? Kau sudah lama tak masuk kerja, kudengar kau mengundurkan diri. Oh ya, tadi aku melihat artis idolaku, aku senang sekali karena bisa mengantar makanan ke dalam kamarnya. Akan tetapi, aku juga melihat orang yang mirip denganmu di sana, sepertinya aku sudah gila, kau 'kan tidak suka dan peduli pada selebriti.’
Aini membaca pesan itu setelah ia berpakaian dan rambutnya sedang di keringkan oleh Arhen kini.
“Nanti rambutmu tidak boleh dipotong lagi ya, kau harus memanjangkan rambutmu!” ucap Arhen di sela-sela mengeringkan rambut Aini dengan Hairdryer.
“Iya,” jawab Aini malu-malu, ia mengalihkan pandangannya pada hp sejak tadi, ia gugup dengan sikap manis Arhen.
Setelah di rasa Arhen rambut itu kering, dia mengecup leher Aini. “Aku suka aromamu!” Mengecupnya beberapa kali, membuat Aini harus menelan salivanya.
“Ayo, kita sarapan!” ajaknya.
“Iya!” Aini menurut patuh.
Mereka pun sarapan, tetapi Aini tampak sarapan sambil bermain hp dengan wajah yang gelisah. Arhen mulai kesal, dia berpikir Aini sedang berkirim pesan dengan Eric.
“Nuraini, apa kau tahu, sikapmu ini tidak menghormati suamimu. Kita sedang makan berdua, tetapi matamu sejak tadi melihat hp. Apa hp lebih penting dari pada makan bersama suamimu?” Arhen menatap tajam.
“Ah, maafkan aku!” Aini langsung menyimpan hpnya dan mengabaikan bunyi pesan yang masuk sampai mereka selesai sarapan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...