Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Ke Amerika


Tadi pagi, di kantor.


Calista masuk ke dalam ruangan Dedrick dengan semangat 45. Semangat penuh perjuangan hingga titik penghabisan, tak pernah takut pada penolakan, apalagi kemarin ia habis berbincang-bincang dengan Dedrick membuat ia semakin percaya diri pagi ini.


“Selamat pa-” Calista langsung terdiam, tangannya yang tadi membuka pintu dengan semangat perlahan menutup pintu pelan.


“Pagi, Paman.” sapa Calista pada Wizza.


“Pagi Calis.” sahut Wizza.


“Oh, ya. Panggil Sekretaris Erva dan Manager Deri kemari, tolong ya.” pintanya pada Calista sembari membaca berkas.


“Baik, Paman.” jawab Calista.


Calista pun memanggil Sekretaris dan Manager itu.


Sejak pagi hingga sore datang, bahkan sudah waktunya pulang, Dedrick tak muncul, Calista hanya mendengar pengumuman jika Wizza akan menggantikan Dedrick.


“Paman!” panggil Calista.


“Iya, ada apa Calis? Kenapa belum pulang? Apakah banyak tugas yang belum selesai?” tanya Wizza.


“Sudah selesai Paman. Aku disini ... menunggu Paman.”


“Menungguku?” Wizza tersenyum. “Kenapa? Apa dia tidak mengabarimu? Dia memang begitu, sabar, ya.”


“Dia kemana Paman? Hm, tidak mungkin sakit 'kan, kalau sakit ... pasti Andrean mengabariku, sedangkan anak itu sejak pagi mengabaikan telpon dan pesanku.” jelas Calista malu-malu berbicara pada Wizza.


“Dedrick memilih mengambil alih perusahaan yang ada di Amerika.”


“Apa?!”


“Ma-maksudnya dia akan bekerja disana, Paman?” tanya Calista.


“Iya.” jawab Wizza.


“Di-dia tidak bekerja diperusahaan ini lagi?!”


Calista pun pulang dengan kecepatan penuh, ia segera memesan tiket penerbangan ke Amerika setelah mendapatkan alamat yang dituju Dedrick pada Wizza.


Sesampai dirumah, Calista mengemas barangnya, ia ingin berangkat secepat mungkin menyusul Dedrick.


“Apa maksudmu Calista?!” Mamanya tidak terima jika putrinya pergi tiba-tiba.


“Aku sudah membooking tiket dan berangkat nanti malam jam 7.”


“Papa, tolong larang putri kita!” adu Ibu Calista pada suaminya.


Ayah Calista hanya bisa menghela nafas panjang, seberapa pun keras mereka melarang Calista, anak itu tetap saja teguh pada pendiriannya.


“Calista, kamu ingatkan dengan umurmu yang tak muda lagi? Kenapa kamu tak melihat pria lain?!”


“Putriku, apa kamu yakin dengan pilihanmu, Nak? Apa dia tidak akan mengabaikanmu di sana? Kamu tidak punya siapa-siapa di Amerika.” ucap Ayah Calista menyambung. Ia khawatir.


“Ma, Pa. Dont worry! Aku akan baik-baik saja.” tegasnya.


Warna jingga dilangit hampir menghilang dan mulai berganti warna gelap. Ibu Calista masih bersedih menatap kepergian putrinya. Ia peluk erat suaminya saat melihat Calista manarik dua kopernnya.


‘Dedrick sialaan, kau lihat saja, aku akan menyusulmu! Kau pikir bisa menipuku dengan memberiku permen lollipop, lalu mengelus kepalaku? Huh, tak akan kubiarkan!’ gumam Calista, ia pasang kacamata hitam di matanya.


Ia memakai baju kaus pendek setinggi pusat dengan celana jean.


‘Bahkan jika kau keujung dunia pasti akan ku kejar!’ Calista tersenyum, kemudian memasang jacket.


‘Aku tak peduli, apakah ini kau anggap obsesi. Yang aku tau, aku mencintaimu karena aku mencintaimu!’ Calista penuh percaya diri menarik kopernya,


Tujuannya hanya satu dari dulu, kemanapun, dimanapun Dedrick berada, dia akan berusaha selalu disamping pria pujaannya itu. Mulai dari mengusir para hama dan serangga, ataupun ular penggoda.


Dulu, cita-citanya ingin menjadi dokter, namun melihat Dedrick jadi CEO dia memilih kuliah ditempat yang sama dengan Andrean. Ayahnya juga memiliki perusahaan namun ia memilih menjadi Sekretaris cadangan di tempat Dedrick.


Ya, begitulah dia demi cintanya.


“Akan aku tunjukkan padamu Dedrick, cinta yang sebenarnya!” serunya penuh semangat, membuat orang disekitar melihatnya, ia tak peduli dengan tatapan orang.


Fokusnya hanya menatap foto wajah dedrick yang ia curi-curi ambil saat Dedrick bekerja. Foto favoritnya yang menjadi walpaper hpnya.


Andrean mengotak-atik laptopnya.


“Tuan Muda, apa aku hubungi Alex?” tanya David.


“Jangan!” larang Andrean.


Alex, pria yang menjadi asiten pribadi Dedrick, pria yang cukup hebat dalam dunia IT. Pria yang juga patuh pada Andrean karena pria itu sebenarnya bawahannya yang ia berikan pada Dedrick. Jika Alex tahu, maka Dedrick juga akan tahu, Andrean tak ingin perjalanan Kakaknya terhambat gara-gara masalah ini.


“Andrean! Andrean, Hiks! Hiks!” Sekar memanggil-manggil. Lagi dan lagi wanita itu menangis.


Ia marah dan kesal, sia-sia saja jika melapor pada Polisi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika belum 24 jam, Sakinah baru hilang tadi sore.


“Iya, Ma. Tenanglah. Aku sedang berusaha melacak dan meretas CCTV, mungkin saja kita bisa menemukannya Ma.” bujuk Andrean.


“Iya, tetapi anak-anak juga hilang....”


Andrean terdiam. Tadi, karena Sakinah hilang ia jadi lupa tentang anak-anak. Sesaat ia teringat, anak-anak menangis menuju apartemen.


‘Jangan-jangan Sakinah dan anak-anak diancam? Bukankah sore itu aku lihat dia keluar dari apartemen? Lalu Kakak hanya keluar dengan Calista. Ini semua jelas dia berbohong!’ pikir Andrean. Ia langsung berdiri.


‘Dan ... Monessa sedang berada di rumah sakit sekarang karena dia syok atas penyergapan sore itu!’


“Dav, jaga Mama.” perintahnya pada David.


“Ma, aku akan segera menemukan mereka, Mama jaga diri ya!”


Andrean bergegas memacu mobilnya dengan laju yang kencang. Bahkan pengawal kewalahan mengejar dan mengiringinya dibelakang dengan mobil lain.


“Apa jangan-jangan ... dalang semua ini peretas itu? Bukankah Kakak semalam mengatakan peretas itu berada disekitar apartemen,”


“Sialaaan! Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini!”


Ckiit! Andrean memijak rem sangat cekram hingga berbunyi saat ia sampai di depan apartemen.


Ia berlari masuk ke apartemennya, ia hidupkan laptop dan mulai melacak, meretas CCTV. Di sana terlihat, Arhen dan Ardhen masuk ke arah apartemen yang dekat dengan pintu apartemen Dedrick. Baru saja melihat video itu, tiba-tiba laptopnya langsung error. Ya, sepertinya ia ketahuan sedang meretas.


“Sialaan! Pasti anak-anak dan istriku ada disini!” Andrean langsung berlari kencang ke arah pintu apartemen Arsen.


“Tuan Muda!”


“Cepat, dampingi dan kawal Tuan Muda!” teriak salah satu dari pengawal yang mengikuti Andrean.


Brak! Andrean mendobrak pintu itu dengan paksa sambil menyodorkan dua buah pistol ke depan.


!!!


Arhen dan Ardhen terbangun dari tidurnya karena suara keras pintu yang hancur, sedangkan Arsen duduk disofa dengan laptop menyala menatap tajam Andrean yang merusak pintu apartemennya. Dua pengawal Arhen dan Ardhen langsung berwajah panik.


Mereka berdua tak bisa melanggar perintah, lalu bagaimana dengan nasib mereka. Itulah kekhawatiran mereka saat ini.


Andrean menurunkan pistolnya. Setelah melihat hanya tiga orang anak kecil lalu dua pengawal pribadi Arhen dan Ardhen.


“Tuan Muda!” Empat pengawal berlari terburu-buru dengan menodongkan pistol kedepan.


“Turunkan senjata kalian!” pinta Andrean.


Empat pengawal itu segera menurunkannya, mereka malah tercengang melihat orang-orang yang ada di dalam apartemen yang pintunya didobrak oleh Tuan Muda mereka.


Andrean perlahan berjalan ke arah anak-anak.


“Maaf, Papa mengejutkan kalian ya, Papa sangat cemas.” Andrean langsung memeluk dua anak laki-laki itu.


Andrean menatap Arsen setelah mengurai pelukannya pada Arhen dan Ardhen. Begitu pula Arsen, ia menatap tajam Andrean. Mereka saling beradu pandang.


“Tuan Muda, ada apa ini?!” teriak Hans dari luar. Ia baru saja selesai membeli makanan.


“Kalian siapa? Penga-” pekiknya.


Pengawal Andrean dengan sigap mengatup dan membekap mulut Hans. Barang-barang belanjaan Hans pun jadi jatuh berserakan.


...***...