
Vindo, Alex, dan David sangat sibuk. Semuanya sudah mulai terkendali. Beberapa orang lainnya yang masih selamat, pengusaha-pengusaha kecil yang berkomplot dengan Johan telah di penjara.
Sayangnya, pihak polisi rahasia dan pengawal tidak menemukan mayat Johan, yang artinya baji*gan tengik itu masih hidup. Vindo sengaja melonggarkan pengamanan perusahaan, agar bisa mengetahui keadaan Johan. Akan tetapi, tak ada pergerakan sama sekali dari mereka, biasanya Johan akan merusak sistem perusahaan.
“Kurasa, dia sedang sekarat!” Alex tiba-tiba sudah berdiri saja di samping Vindo.
“Aaaah! Paman! Kau mengejutkanku saja!”
“Entahlah, dia sangat licik Paman. Selama ini, menurutku yang licik dan pintar itu hanya Tuan Muda Arsen, tetapi masih ada manusia licik lainnya.”
“Dia itu licik jahat, sedangkan Tuan Muda Arsen licik perhitungan dan penuh ambisi, Tuan Muda Arsen sejatinya baik. Yang membuat Tuan Muda Arsen kali ini melemah, bukan karena Mr. J ini hebat, tetapi dia memegang titik lemah Tuan Muda Arsen. Kita semua sudah tahu, jika Tuan Muda Arsen sangat mencintai Ibunya dan adik Tuan Hans.” sambung David yang entah sejak kapan datangnya.
“Hm, Mr. J. Aku sangat penasaran dengan data pria ini!” gumam Vindo.
“Nah, coba kau lihat!” Alex memberikan berkas pada Vindo.
Vindo melihat data itu, matanya terbelalak dengan sempurna. “Dia!”
“Ya, dia Johan Rysh. James Athew!”
Vindo menatap Alex dan David tak percaya. Masih dengan mulut setengah terbuka. “Kami memperbaiki chip di kancing jas Tuan Muda Arsen saat ledakan itu terjadi. Kami mendengar semua percakapannya dengan Tuan Muda.”
“Ini!” Alex memberikan sebuah flashdisk.
Vindo mencolokkan flashdisk itu di laptopnya, mendengar audio rekaman saat ledakan itu terjadi. Dia menutup mulutnya tak percaya. “Semua ini karena sebuah dendam!”
Vindo merasa bersalah, dia mengusap wajahnya. “Aku akan memburu baji*ngan ini! Jika dia marah, bunuh saja aku, bukan sakiti keluarga Van Hallen begini!”
“Sabar, Vin! Ingat, kau harus menjalankan perusahaan ini dengan baik sampai Andrean dan Arsen sehat. Kita bisa memikirkan cara untuk membalas Mr. J. ini!” Alex meremas bahu Vindo.
“Dan satu hal lagi, walaupun bukan karena Eline itu, mereka juga akan mencelakai keluarga Van Hallen. Sebelumnya, Nyonya Sakinah juga pernah diculik.”
Mereka bertiga kemudian terdiam dengan wajah sendu, duduk menatap laptop masing-masing dengan pikiran yang menerawang.
***
Ruangan yang dijaga dengan ketat oleh Barend Elmo beserta pengawal lainnya ini adalah ruangan Andrean dan Arsen.
“Arsen, jagoan Miss! Akhirnya kau sadar sayangku!” Billa memeluk Arsen histeris.
“Sayang, jangan begitu, Arsen baru saja sadar. Jangan buat dia sesak, badannya masih sakit, jangan peluk terlalu kencang,” tegur Jimi.
“Ah, maaf, Miss terlalu senang karena kau akhirnya sadar Sayang.”
Arsen tersenyum, lalu menoleh ke samping, tampak Andrean duduk bersandar di ranjang dengan tangan di pasang infus. Menatap dirinya dengan tatapan kosong.
“Papa, Abang akhirnya sadar!” Jamila berkata dengan ceria.
Barend Elmo menangis senang saat melihat Arsen sadar dari tidur panjangnya, namun hatinya tercubit melihat reaksi Andrean yang datar. Semenjak Andrean sadar, dia tak pernah tersenyum, dia tak banyak berkata, bahkan sering tak menjawab pertanyaan. Dia lebih sering melihat ke luar jendela kamar rumah sakit itu.
Jamila berjalan ke arah Andrean, memegang tangannya. “Papa, Abang sudah sadar, semoga Papa dan Abang cepat sembuh, jadi kita bisa bertemu dengan Kakak dan Uda,” Jamila menggosokkan sendiri tangan Andrean di kepalanya.
Jay yang sudah beranjak remaja berjalan mendekat ke arah Jamila. “Tentu, Papa dan Abang akan segera sembuh. Kamu harus tetap ceria dan semangat Princess. Ingat, Mom pasti ingin melihat kamu selalu tersenyum bahagia, memiliki nilai bagus, lalu kita jalan-jalan ke seluruh dunia.”
“Iya!” Jamila memeluk Jay, menangis di dada Jay.
Jay memeluk gadis kecil itu. Jamila sudah cukup kuat dan tegar dengan umurnya yang masih kecil, dengan harus kehilangan ibunya, ayah dan kakak laki-lakinya yang keadaanya memprihatinkan. Jay sendiri tidak menyangka, gadis kecil nakal ini bisa diatur dan baik setelah kepergian ibunya.
Billa dan Jimi juga menahan tangis, berpura-pura mengalihkan pandangan pada tempat lain. Hingga terdengar suara tanya Arsen. “Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri, Miss?”
“Hampir dua minggu,”
“Oh, Mom dan yang lainnya siapa yang menguburkan? Apakah menunggu kalian datang dulu?”
Billa dan Jimi menatap wajah Arsen lekat, satu matanya di perban, bekas luka jahitan di pipi dan dagu, sedangkan mata satunya lagi juga terlihat agak putih seperti orang katarak.
“Saat kami datang, mereka sudah segera dikuburkan, Vindo meminta Imam dan saudara muslim yang lainnya untuk menguburkan Sakinah dan lainnya,” terang Billa.
“Oh, baguslah, mayat tidak boleh lama terletak, harus segera dikuburkan,” ucap Arsen tegar.
Jimi memegang tangan Billa yang tampak hendak menangis. Dia tahu, Billa pasti ingin memeluk dan mengusap punggung Arsen. Jimi menggeleng dan berbisik. “Berikan dia waktu untuk menenangkan perasaanya dulu.”
Mendengar itu, Billa mengangguk.
Beberapa hari kemudian.
Keadaan Arsen dan Andrean jauh lebih baik, mereka bahkan sudah boleh pulang. Vindo meminta Dokter mencarikan mata yang cocok untuk Arsen, karena hanya satu mata yang berfungsi untuk melihat.
“Tuan Muda yakin? Tidak ingin melakukan operasi untuk menutupi luka di wajah?”
“Iya, biarkan saja!”
Setelah memastikan itu, arakan panjang dan pengawalan ketat Arsen dan Andrean kembali pulang di iringi oleh Barend Elmo dan para pengawalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...