Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Ramadhan


Setelah menyampaikan pesan, dengan berbisik-bisik, Rufia bertanya pada Haizum.


“Nona Haizum, Tuan Muda berambut hitam itu siapa? Kenapa sampai Paman Samber yang khusus memasak makanan untuknya?” tanya Rufia penasaran.


“Oh, itu, dia Tuan Muda pertama, kakak laki-laki Tuan Muda Ardhen, namanya Arsen Ryker Van Hallen, owner perusahaan Ar3s sekaligus menjadi CEO nya juga. Dia memiliki banyak perusahaan kecil juga selain Ar3s. Lalu, dia juga memiliki perusahaan game, Nona pernah lihat 'kan game Arbluefire?” tanya Haizum, Rufia menganggukkan kepalanya.


“Nah, game itu dia yang membuatnya, lalu sekarang sudah mendirikan perusahaan khusus gamenya, bahkan game itu sekarang semakin berkembang menjadi versi 9.0. Keren banget 'kan?” Haizum menceritakannya penuh semangat.


“Sudah tampan, kaya raya, pintar lagi. Akan tetapi, dia itu dingin dan menyeramkan, beda banget sama Tuan Muda Arhen dan Ardhen, Nona Ruf.” Haizum menjelaskan.


“Ooooooh!” Rufia menganggukkan kepalanya. Ia tak menyangka, Ardhen memiliki dua kakak laki-laki yang super tampan dan keren.


Waktu dirinya melihat Arhen yang keren, seorang superstar, ia merasa takjub, lalu kini, saat ia mengetahui kakak pertama Ardhen bukan orang sembarang, ia bertambah takjub dan terkejut.


Saat di Italia, hampir semua orang menganggap Ardhen hanya pria biasa, sikapnya ramah dan lembut, memakai barang biasa, bersikap sederhana, tak banyak bertingkah, lebih senang menghabiskan waktu membaca buku, menonton cara memasak dan memasak berbagai macam makanan untuk mengasah kemampuan. Siapa sangka, pemuda tampan berambut coklat itu adalah orang kaya dengan nama keluarga yang sangat terpandang.


Hatinya semakin berdebar dikala mengingat itu, Ardhen sungguh pria luar biasa, ia tak menyesal telah menyukai pria yang menolaknya dengan terang-terangan, pria yang dengan tegas tak menginginkan dirinya.


Rufia tersenyum kecil. “Wajar jika aku menyukai pria seperti dirinya dan wajar dia menolakku, akan banyak wanita yang menginginkan dirinya.” Rufia berkata dalam hati.


“Hei, Nona Ruf, kau tak mendengar ku sejak tadi ya? Kau melamun? Apa kau menyukai Tuan Muda Arsen? Wah... Kau langsung terpesona padanya, kuburlah perasaanmu itu Nona, dia sangat menyeramkan dan dingin.” Haizum membuat gerakan merinding.


“Hehehe!” Rufia terkekeh akhirnya setelah melihat reaksi Haizum yang berlebihan. “Tenang, aku hanya bertanya saja, tak menyukai seperti yang kau bayangkan Nona Haizum!”


Di meja makan.


Arhen menceritakan tentang rencananya yang akan pulang ke Indonesia lebih dahulu dari yang lain, karena dia harus ada pertemuan dan promo produk yang ia ambasador kan, serta foto fans di Jakarta.


“Oh, begitu, gak apa-apa sih Kak. Aku juga gak bisa cepat, harus ngurus perusahaan dan Vend Boutique dulu, soalnya Abraham memilih pergi ke Jepang...” Tampak wajah Ardhen lesu saat mengatakan Abraham pergi ke Jepang.


“Loh, kenapa?” Arhen menatap adiknya.


“Karena ... karena ...”


“Karena apa?” Arhen jadi tidak sabar.


“Karena ... katanya dia ingin belajar membuat masakan Jepang dengan Pamannya, dia tidak bisa memastikan kapan kembali kemari.”


“Kau yakin? Kalian tidak bertengkar 'kan?” Arhen menatapnya penuh selidik.


“Tidak kok Kak!”


“Hm, baguslah kalau kalian tidak bertengkar, soalnya sulit juga. Hm, perusahaan 'kan kalian yang mengembangkan nya bertiga, lalu bagaimana dengan bagian Abraham? Apa Ibunya kembali yang memenagementnya?” tanya Arhen.


“Hm,” Arhen dan Arsen mengangguk mendengarkan penjelasan Ardhen.


“Kalau Abang gimana?” Ardhen bertanya.


“Ada Kak Hans dan Vindo. Aku terserah kapan saja sih! Mungkin bareng Mom dan Papa!”


“Iya juga, Abang mah enak!” Ardhen berbicara dengan memanyunkan bibirnya, lalu menyandarkan dagunya yang sedikit belah itu di meja.


“Atau mau ku suruh Vindo bantu perusahaan makananmu? Di Vend Boutique 'kan ada Paman Samber yang bisa dipercaya sejak dulu!” Arsen menawarkan bantuan.


“Hm, gak usahlah Bang, kasihan dia. Lawsen dan Arbluefire juga dia yang bertanggungjawab.” tolak Ardhen.


Mereka bertiga berbincang-bincang sampai makanan tiba dan dihidangkan oleh Pelayan dan Tuan Samber.


“Silahkan dinikmati Tuan Muda, semoga Anda menyukainya dan puas.”


“Makasih Paman,” balas Arsen dengan wajah datarnya.


***


Di Jakarta.


Aini telah tamat Sekolah beberapa saat yang lalu, ia kini hidup hanya berdua dengan adik laki-lakinya. Paman dan istri pamannya meninggal dunia karena kecelakaan satu tahun yang lalu. Anak-anaknya dibawa oleh keluarga istri pamannya, usaha dagangannya di tanah abang juga telah dijual.


Aini memilih hidup mengontrak di kontrakan kecil di sudut kota. Tak ada tempat ia pergi, keluarganya yang lain tak ada niat menampungnya sejak dulu. Hanya Paman yang menampungnya sejak dulu, namun kini keluarga itu telah tiada. Dikampung, ia hanya memiliki keluarga adik bungsu Ibunya, namun mereka juga sangat miskin, hingga ia bertahan di kota ini, kota yang mengajarkan bertapa keras dan kejamnya hidup yang ia alami bersama adiknya.


“Aden maleh sekolah Ni! Jo apo sekolah? Uni sampai kini indak tapanggia-panggia malamar. Uni karajo serabutan, manjadi cleaning servis sabulan nyoh di Mall, itupun kanai pecat dek Kanai tuduah mancilok!” Adik laki-lakinya mengeluh, ia tak ingin melanjutkan sekolah. Ia berkata, jika kehidupan mereka sangat susah, kakaknya tidak pernah terpanggil kerja saat melamar, adapun ia dapat kerja menjadi cleaning servis di sebuah mall, tetapi sayang itu hanya sebulan dan dituduh mencuri.


“Tapi, ang harus sikolah Ramadhan! Saindaknyo sampai tamat SMA!” (Tapi setidaknya kamu harus sekolah sampai tamat SMA, Ramadhan.)


“Jo apo biayanyo Uni? Bialah den karajo Lo agak satahun atau duo tahun ko, caliak lah, Uni alah kuruih, cando amak-amak padahal masih mudo, gara-gara karajo, ndak cukuik istirahat, kurang makan jo lalok!” Ramadhan memegang bahu kurus Aini, kemudian ia memeluk kakak perempuan nya itu sambil terisak.


Sungguh, ia menolak, Aini telah kurus dan terlihat seperti ibu-ibu karena bekerja, tak cukup makan dan istirahat, ia kurang tidur, ia terlihat tua padahal masih sangat muda, baru tamat sekolah menengah atas beberapa saat yang lalu.


“Ramadhan, picayolah! Allah maha pemberi Rezki. Rezki anak sekolah pasti Ado, Rezki setiap manusia pasti Ado, asal awak namuah karajo jo usaho, Allah pasti akan memberi Rezki. Allah Ndak panah malatakkan Baban barek malabiahi tanago umatnyo.” Aini pun memeluk dan mengelus punggung Ramadhan.


(Ramadhan, percayalah! Allah Maha Pemberi Rezki. Anak sekolah pasti ada rezkinya juga, Rezki setiap manusia itu ada, asalkan kita mau bekerja dan berusaha, Allah akan melimpahkan rezkinya. Allah tidak akan memberikan cobaan berat pada umatnya melebihi kemampuannya.)


“Model, ko sajo lah! Pagi sekolah, siang Jo malam buliah karajo, tapi sekolah Jan sampai lalai?” Aini berkata, Ramadhan boleh bekerja, asalkan pagi di sekolah, pulang sekolah baru boleh bekerja dan tidak mengganggu sekolahnya.


Ramadhan semakin memeluk kakak perempuannya, ia semakin menangis. Di dunia ini, hanya Aini seorang lah yang ia miliki lagi, ia sangat takut jika Aini sakit dan meninggalkan dirinya sendiri di dunia ini.