
‘Dia memejamkan matanya? Apa kau sedang menikmatinya sekarang?’ tanya Andrean di dalam hatinya.
Ya, Sakinah memejamkan matanya, mencoba menikmati ciuman liar dari suaminya, pasangan halalnya.
Bukannya melanjutkan aksinya mencium, Andrean malah terdiam dan terkesima menatap wajah cantik Istrinya yang sedang menutup mata. Biasanya jika wanita sudah pasrah begini, Andrean akan melanjutkan aksinya, mengangkat tubuh wanita keranjang, menghempaskannya, membuka semua pakaiannya, lalu bermain-main ke surga dunia ciptaannya.
“Kenapa berhenti? Apa ciumanku terlalu buruk?” tanya Sakinah menatap Andrean.
Andrean tak menjawab, ia malah sedang terpesona, terjebak dalam pikirannya sendiri.
“Maaf.” ucap Sakinah. Ia tundukkan pandangannya.
“Hm,” Andrean mengangkat dagunya ke atas, membuat jarak pandang mereka dekat, hidung mereka bahkan hampir bertubrukan.
“Tidak, kau tidak salah, aku yang salah. Aku memaksamu berciuman denganku, padahal aku seharusnya tak melakukan itu.” ucapnya.
Sakinah tersenyum. “Itu bukanlah sebuah kesalahan, itu adalah hal yang patut.” jawab Sakinah.
‘Apa?! Hal yang patut?’ Lagi, jawaban Sakinah membuat Andrean berbisik dalam hati.
“Kau berhak menciumku, itu bukan sebuah kesalahan, aku ini istrimu, jadi sangat wajar.” sambung Sakinah lagi.
“Istri, ya?”
“Iya.” jawab Sakinah menatap manik mata Andrean.
“Bagaimana jika aku mengajakmu bermain di atas ranjang?“ tanya Andrean dengan nada sensual.
Wajah Sakinah memerah, malu, namun ia masih menjawab. “Jika kamu menginginkannya, aku pun bersedia.”
“Huh?” Andrean terkesiap mendengar jawaban itu.
Lama Andrean menatap wajah Sakinah, kemudian ia terkekeh. “Kau benar-benar memesona, bahkan tak berkedip saat mengatakan ‘Ya’, padahal jelas-jelas tanganmu mengepal tanda tak setuju.” Andrean menggenggam tangan Sakinah yang berada di tengkuknya.
Mencoba melepaskan tangan Sakinah yang masih bergelayut di lehernya, mengecup tangan yang berbentuk tinju itu hingga melemah dan melepaskan kepalan itu.
“Bagaimana dengan anak-anak hari ini?” tanya Andrean sembari melepaskan tangan Sakinah perlahan, berjalan pergi dan duduk ditepi ranjang, mencoba membuka pakaiannya sendiri.
Sakinah masih berdiri ditempat yang sama. “Anak-anak baik-baik saja.” jawabnya.
Tadi, ia bukan tidak setuju, tetapi hanya gugup. Sakinah jika gugup, refleks tangannya membuat kepalan tinju atau tiba-tiba meraba lehernya hingga dada, seperti orang menggenggam kalung dileher sendiri.
Bagi Sakinah, permintaan Andrean akan selalu ia setujui, ia sangat mengerti antara hak dan kewajiban sebagai seorang istri.
“Apa kau bisa memijat?” tanya Andrean berdiri dengan tubuhnya yang atletis, ia membuka ikat pinggang, meraih handuk, dan melepaskan celana panjangnya saat handuk sudah sempurna melilit di pinggangnya.
“Cukup bisa.” jawab Sakinah menatap tubuh gagah itu.
“Pijit aku setelah ini.” pinta Andrean sembari melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Tak menunggu lama, Andrean telah selesai mandi, ia menggunakan celana boxer, tidur menelungkup.
Sakinah mendekat memijit kakinya.
Niat hati ingin mengerjai Sakinah, tetapi sepertinya dirinya yang tengah dikerjai oleh salah satu anggota tubuhnya yang kecil itu. Ya, burung Pipit yang hendak berubah menjadi burung elang.
“Ah, kau tak bisa memijit, pijit tanganku saja!” Protes satu!
Lagi, tangan Sakinah seperti magnet, membuat bulu remang ditangannya berdiri. Sebenarnya itu pikiran Andrean sendiri sih!
“Pijit kepalaku saja, tangan dan kakiku sangat berguna untuk mencari uang, aku takut cedera karena salah urat dalam pijitanmu!” Protes dua!
“Maaf, aku akan memijitnya lebih pelan. Perlahan Sakinah pindah duduk ke atas, bersandar ke kepala ranjang, dimana posisi kepala Andrean.
!!! Warning!!!
Posisi itu membuat Andrean semakin salah dalam berpikir, sepertinya otaknya sedang tersesat, pemikirannya berkelana jauh membelah buana. Apa yang ada di dalam otaknya itu? Ya, adegan ranjang dengan posisi liar.
“Sudah, jangan pijit aku lagi! Aku semakin sakit kau pijit!” Protes tiga!
Andrean langsung duduk, beberapa kali ia usap wajahnya kasar.
“Maaf, aku akan belajar lebih baik setelah ini.”
“Ah, sialaan!” umpat Andrean, Sakinah langsung terdiam. Nyut sekali rasanya!
Andrean yang katanya playboy dan hebat menaklukan perempuan, kali ini sepertinya kalah atau ia tak mampu menaklukkan hati istrinya sendiri. Apa barusan yang ia lakukan? bertindak bodoh? Biasanya ia akan merayu dan menggoda wanita, tak akan membuat wanita bersedih apalagi menangis hanya karena sebuah pijitan.
Sebenarnya, Andrean kabur karena tak tahan lagi berdekatan dengan istrinya itu, tubuhnya jadi aneh, pikirannya pun lebih aneh lagi, bereaksi tanpa diminta.
Kata umpatan tadi untuk dirinya sendiri bukan untuk Sakinah. Namun sayang, sepertinya istrinya itu salah paham.
_________
Andrean duduk di teras, memanggang rokoknya, meminum air mineral yang dingin dengan beberapa bongkahan es di dalam gelasnya.
Dedrick menemui dan duduk di sampingnya.
“Bagaimana dengan kerangka kalung itu?” tanya Dedrick, ia meraih gelas Andrean, meminum minuman Andrean.
“Sssstt, aaah, dalam proses.” jawab Andrean sembari menghisap rokoknya, lalu membuang asapnya ke atas.
“Kurangilah merokok! Sekarang dirumah ini ada dua anak kecil, apa kau ingin memberikan mereka contoh yang buruk?”
“Tidak, 'kan ada Kakak!” Andrean menoleh menatap Dedrick, kemudian menyuguhkan senyuman mautnya dengan deretan giginya yang putih.
“Kau kira aku seorang wanita yang bisa kau rayu dengan kata seperti itu? Lalu terkesima dengan senyuman konyol itu? Aku bukan wanita-wanita bodoh itu.” ucap Dedrick.
“Pfft! Ahahahaha! Kau benar-benar keren Kakakku. Aku sungguh mencintaimu. Berikan aku sebuah ciuman.” Ia meraih bahu Dedrick hendak memeluknya.
“Peluk saja sana wanita-wanita liarmu!” tepis Dedrick. Ia menepuk tangan Andrean yang jahil hendak memeluknya itu.
“Perbuatanmu yang sekarang hebat sekali, bahkan kau sampai memikirkan menjebak putrinya dengan pria paruh baya itu, kau kejam sekali.” ucap Dedrick tersenyum kecil.
“Itu bukan pekerjaanku, Kak.” ucap Andrean serius, kemudian ia minum air yang tersisa di dalam gelasnya sampai tandas.
“Itu memang bukan pekerjaanmu. Tapi pekerjaan David dan bawahanmu yang lainnya 'kan?!” Dedrick terkekeh, tangannya mengelus kepala Andrean.
“Kau memang sangat romantis padaku Kak, aku sungguh sangat cinta padamu dan tak akan pernah bisa berpaling darimu lagi.”
“Dasar Anak Nakal! Hentikan ucapanmu yang menjijikan itu sebelum aku muntah!” Dedrick menjitak kepala Andrean yang tadinya ia elus.
“Kakak teganya kamu memukulku.”
“Biar!” jawabnya.
Beberapa detik, mereka terdiam.
“Sungguh, kau sangat keren sekali!” Lagi, Dedrick memuji Andrean.
“Itu bukan pekerjaanku Kak, tetapi ada orang lain yang melakukannya.” jawab Andrean.
“Hah? Jangan bercanda?!”
“Aku tidak bercanda Kak. Sebelum aku melakukan, sudah ada orang lain yang melakukan.”
“Kau pikir aku bodoh? Bawahanku melihat kau sudah masuk ke dalam kamar, lalu tak lama pria tua itu dibawa bawahanmu ke dalam kamar.” terang Dedrick.
“Apa?”
Dedrick tersenyum dan langsung kabur dari sana sebelum Andrean bertanya.
“Kakak, tunggu!” Andrean meneriakinya, ia mengejar Dedrick yang telah mengunci kamarnya.
“Kakak! Jelaskan dulu padaku!”
“Aku tidak mau!” balas Dedrick berteriak juga.
Jika seandainya para bawahan mereka melihat kelakuan ini, mungkin mereka akan sangat terkejut, ini bukanlah sifat kedua atasan mereka putra keturunan Van Hallen.
Namun sebenarnya, sifat seperti inilah yang dirindukan dan disukai oleh Andrean, perhatian dari Kakaknya, tak ada batas jarak yang dibuat oleh Kakaknya.
“Hei, Kalian berdua! Kalian bukan anak kecil lagi, kenapa kalian masih melakukan hal konyol ini? Apa kalian tidak malu pada anak-anak?” teriak Sekar.
Andrean dan Dedrick langsung diam, apalagi saat Arhen dan Ardhen berada dibelakang Sekar, bahkan Sakinah juga sedang menyusul.
Andrean tersenyum kaku, lalu pergi dengan wajah memerah.
...***...