
Andrean berjalan dengan bangga, lalu masuk ke dalam mobil bersama Arsen. Di dalam mobil, saat ia mengemudi mobilnya masih terlihat senyum merekah dari bibirnya, bangga.
“Aku masih belum percaya padamu, Pa!”
Jeder! Serasa disambar petir telinganya, panas! Hati yang berbunga, melayu gara-gara ucapan anak yang ia banggakan itu.
“Pertama, kau kecolongan, tidak mampu menjaga Mom, walaupun kau bisa menyelamatkannya. Yang kedua, kau masih belum berubah, masih murahan!”
“Kau anak kecil bermulut pedas! Mulutmu setajam mulut Kakak!”
Arsen tak peduli.
“Kita langsung ke apartemen?” tanyanya kemudian disela mengemudi.
“Pulang!”
Andrean tersenyum, lalu melajukan kendaraannya dengan cepat ke Mansion.
David, Kepala Maid, menyambut Andrean dan Arsen paling depan, lalu barisan Maid pria dan wanita.
“Abaaaaaaang!” Arhen langsung menghambur dan mencium pipi Arsen kiri dan kanan.
“Cih! Menjijikkan!” Ia mendorong wajah Arhen, namun adik laki-lakinya itu masih lengket, ditambah Ardhen yang baru datang juga ikut-ikutan memeluk.
“Dasar anak kecil!” dengus Arsen.
“Abang! Kita semua disini masih kecil!” protes Ardhen.
“Ya, walaupun kata Daddy dan Miss Billa Abang sudah punya perusahaan besi di Batam, lalu punya aplikasi game Arbluefire, bukan berarti sudah dewasa. Aku juga punya banyak uang, tapi kita belum dewasa. Aku ak-”
Plak! Arsen menyumpal mulut Arhen dan Ardhen dengan uang kertas agar berhenti bicara.
“Berisik!” ucapnya, berjalan pergi
“Abaaaang! Menyebalkan! Mentang-mentang punya banyak uang sampai pamer begini!” celetuk Arhen, Arsen tak peduli dan masih melanjutkan jalannya.
“Abang pasti capek, ayo, Papa gendong.” tawar Andrean pada mereka.
“Males!” tolak Arhen, lalu ia berlari mengejar Arsen.
Tinggal Ardhen seorang. “Mau Papa gendong?” tanya Andrean.
Ardhen mengulurkan kedua tangannnya, jawaban dari pertanyaan itu, Andrean langsung menggendong Ardhen masuk ke dalam Mansion.
Di dalam Mansion.
Sekar dan Wizza masih terkesima dengan wajah Arsen. Bahkan mereka bertanya-tanya. Benarkah Arsen cucu mereka?
“Grandma pengen memeluk Abang? Peluk aja, kalau dia marah abaikan saja, dia memang begitu.” Arhen langsung duduk dalam pangkuan Sekar bermanja.
“Sekarang Abang tinggal disini 'kan? Enggak diapartemen lagi?”
Arsen menoleh pada Wizza.
“Granpa pasti akan merahasiakan, semua Maid juga akan merahasiakan.”
Arsen masih saja bergeming dan menatap Wizza.
“Terus maunya gimana?” tanya Wizza kemudian.
“Aku akan tinggal di sini, katakan pada Papa, aku mau adik perempuan!”
Eh?
Semua orang menatap Arsen, anak dingin itu sedang melawak atau bagaimana sih? Apa dia serius?
**
Malam hari.
Karena perkataan Arsen tadi siang, membuat Andrean berpikir, ia menjadi canggung sendiri, duduk diam diujung ranjang. Sakinah pun menghampiri dan duduk juga diujung ranjang.
“Itu, ah, anu.” Andrean gugup, tak tahu harus memulai bicara dari mana.
“Katakan saja, apa yang mau kamu katakan.”
“Itu ... perkataan Arsen tadi, aku ... aku ...,”
“Ya, kamu kenapa?”
‘Kenapa aku jadi gugup begini?’ Andrean bergumam dalam hati.
“Itu, aku...”
“Ya, kamu kenapa? Perkataan Arsen yang mana? Tentang perusahaan? Membuat kalung? Atau apa?” tanya Sakinah bingung.
“Ak-aku!” Andrean masih terbata.
Kening Sakinah sampai berkerut menunggu apa yang mau dikatakan Andrean.
“A-a-aku, aku haus!” ucapnya sekali tarikan nafas.
“Oh, haus. Tunggu ya, aku ambilkan air dulu.” jawab Sakinah tersenyum.
Plak! Andrean menepuk bibirnya sendiri, lalu menepuk kepalanya.
‘Dasar mulut bodoh! Kenapa kau malah mengatakan haus?! Ya, walau setelah kupikir-pikir, otakku menjadi haus karena tak bisa mengatakan itu! Ah, bukan, tapi kerongkonganku terasa kering.’ Andrean bergumam-gumam tak jelas sendiri karena kesal.
“Ekhem, Kinah, tadi Arsen mengatakan ingin adik perempuan, bagaimana kalau kita memberikannya adik yang cantik dan lucu.”
“Hm, masih kurang, jika aku langsung mengajak begitu, dia bisa-bisa mikir aku mesum!” Berkata sendiri di depan cermin.
“Kinah, malam ini kamu sangat cantik. Siaaal! Kalau aku bilang dia cantik malam ini, dia pasti marah, dia 'kan selalu cantik sebelumnya!”
“Aaah, siaaal!” Andrean menggaruk-garuk kepalanya.
Jika berhadapan dengan Sakinah, entah kemana perginya rasa percaya dirinya, gombalan dan godaan yang begitu mudah ia lontarkan biasanya, menguap entah kemana.
“Kinah,”
“Ya.”
“Setiap aku memandangmu, kau selalu terlihat bersinar, sangat cantik dan semakin cantik, ingin rasanya aku memelukmu selamanya.”
“Kinah,”
“Ya.”
“Maukah kau-!” Andrean menghentikan ucapannya, menoleh ke belakang.
“Ka-kamu!” Wajah Andrean merah padam malu, sumpah! Ia tadi tidak tahu, sejak kapan Sakinah di sana, menyahut.
“Se-sejak kapan kamu datang?”
“Barusan. Ini airnya.” Sakinah menyodorkan segelas minuman padanya.
“Apa dengar?”
“Dengar??
“Enggak, ya?”
‘Syukurlah!’ gumam Andrean dalam hati.
“Memangnya apa?” tanya Sakinah penasaran.
“Gak ada, aku hanya penasaran, kenapa waktu itu kamu merobek surat kontrak kita?” Mengalihkan topik pembicaraan.
“Baiklah, aku akan menjawabnya, tetapi setelah itu tolong jawab juga kenapa kamu menulis surat kontrak itu, jawabannya selain menolong Ardhen, aku butuh jawaban lainnya.” jawab Sakinah.
“Aku merobeknya sengaja, aku tak pernah menganggap kertas itu berarti melebihi surat nikah asli kita. Kau datang melamarku pada Ayahku ke desa, membawanya ke kota, dia yang menjadi wali nikah kita, buku nikah kita ada, sah secara agama dan hukum. Apalah artinya secarik kertas kontrak itu? Dari awal, aku sudah mengatakan, aku tak menganggapnya berarti.”
Andrean menerawang, mengingat Sakinah dengan gampangnya saat itu membubuhi dengan tanda tangan tanpa membaca surat perjanjiannya dulu.
“Lalu?”
“Lalu? Ya, tidak berarti apa-apa. Pernikahan kita ini asli bukan main-main.” tegas Sakinah.
“Sekarang giliranmu menjawab.” pinta Sakinah.
“Aku membuatnya, karena ... karena ... karena Kakak juga ingin menikahimu, aku dan kakak sering menyukai hal yang sama. Aku ingin mengikatmu selama dua tahun agar kau terbiasa denganku, aku ingin mendekatkan diri padamu dan anak-anak, aku tak ingin kau pergi.”
“Hehehe!” Sakinah terkekeh.
“Kamu terlalu kekanak-kanakan, sama seperti Arhen! Jika Arsen mendengar alasan konyolmu, dia pasti akan menertawakanmu.”
“Bukan menertawakan, anak bermulut pedas itu pasti langsung mengatakan aku bodoh.”
“Ahahahaha!” Sakinah tertawa terpingkal-pingkal.
“Sudah, jangan ejek aku lagi!” sungut Andrean.
“Lucu sih!”
“Ya, mau gimana lagi, aku suka kamu,” Andrean keceplosan. Lalu, ia segera terdiam, malu.
Pipi Sakinah pun juga bersemu merah.
“Aku juga menyukaimu.” balas Sakinah malu-malu.
Cling! Seolah ada lampu hidup dikepala Andrean.
‘Apa? Dia bilang juga menyukaiku?’
Andrean menoleh pada Sakinah dengan senyum senang terkembang.
Cup! Sakinah langsung mengecup bibirnya saat ia menoleh, lalu memalingkan wajahnya segera karena malu.
Andrean mendekatkan tubuhnya, jiwa lelakinya terpanggil gara-gara ciuman sekilas dari Sakinah tadi. Ia rangkul wajah Sakinah menghadap padanya.
“Sungguh, kau menyukaiku juga?” tanyanya menatap manik mata Sakinah dalam.
“He'em!” jawab Sakinah mengangguk malu-malu.
Andrean membelai wajah Sakinah, merapikan anak rambut Sakinah yang berserakan, ia dekatkan wajahnya. Cup! Ia kecup pipi kanan Sakinah. Cup! Ia kecup pipi kiri Sakinah. Cup! Kemudian ia kecup bibir Sakinah.
Lagi, ia mengulang mengecup bibir Sakinah yang berawal hanya sekilas, perlahan semakin lama dan liar, bibir yang tadinya menempel menjadi setengah terbuka, lalu lidah Andrean menari dan bermain silat lidah dengan Sakinah.
Andrean melepaskan penyatuan bibirnya, menempelkan kening mereka, ujung hidung mereka sampai bersentuhan, deru nafas saling terdengar dan menghembus wajah masing-masing.
“Bolehkah aku meminta lebih?” tanya Andrean lembut dengan nada penuh sensual.
“Tentu, kau suamiku.”