Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Khawatir


Sejak semalam Sakinah menanti suaminya pulang, namun sudah jam 2 dini hari Andrean tak jua kunjung pulang. Ia telah selesai melakukan solat malam dan mengaji beberapa ayat.


Ia mulai khawatir, berniat hendak menghubungi suaminya, namun ia tak cukup berani, takut mengganggu atau hatinya masih goyah, belum percaya sepenuhnya pada Andrean? Apakah khawatir jika yang akan mengangkat panggilannya adalah perempuan? Entahlah.


Jujur, sejak jam 2 dini hari tadi, hingga adzan subuh berkumandang di hpnya, matanya tak bisa lagi terpejam.


Selesai sholat subuh, Sakinah memberanikan diri menelfon Andrean, bahkan hati kecilnya ingin sekali melakukan panggilan video. Hal yang sama sekali tak pernah ia lakukan selama ini, akhirnya ia melakukan panggilan video pada Andrean.


Tut! Berdering! Bacaan di layar hp Sakinah, pertanda panggilan video itu masuk, namun tak diangkat.


Ia mencoba tiga kali panggilan. Panggilan terakhir diangkat oleh Andrean dengan mata tertutup, sepertinya ia mengangkatnya setengah sadar.


“Xyz?#*@/#” Entah apa yang dikatakan Andrean pada Sakinah, entah Bahasa Belanda atau lainnya. Yang lebih jelasnya ia hanya bergumam, ngigau.


Sakinah tersenyum setelah melihat wajah lelah itu masih dalam mode ngantuk, hatinya merasa lega, apalagi sosok David juga sedikit terekam tidur di atas sofa dalam panggilan video itu. Artinya, suaminya baik-baik saja.


“Alhamdulillah.” bisiknya dalam hati.


“Selamat tidur Suamiku, maaf mengganggu tidurmu.” Sakinah mematikan panggilan itu akhirnya, walaupun tak menerima jawaban dari Andrean.


__________


Jam 9 pagi, cahaya mentari sudah mulai masuk ke ruangan yang hanya terlihat seperti kaca yang mudah pecah dari kejauhan.


David baru saja terbangun, ia telah segera mandi dan merapikan diri, kemudian mempersiapkan pakaian untuk Andrean, ia memesan sarapan untuk dirinya dan Andrean. Lalu, ia keluar dari ruangan CEO dan telah mendapati Sekretaris berkacamata tebal bersiap menyambutnya dengan senyuman ramah.


“Selamat pagi, Tuan.” sapanya. Hanya sebuah anggukan kecil sebagai jawaban dari David.


“Berkas yang sebelah sini telah diperiksa dan ditandatangani oleh Tuan Muda, sedangkan yang ini harus diperbaiki kembali. Dan satu lagi, persiapkan bahan untuk rapat jam 11 nanti.” jelas David.


“Baik, Tuan.” jawab Sekretaris itu.


David kembali masuk ke dalam ruangan setelah menerima makanan di ruang resepsionis.


Ia hidangkan sarapan serta teh hangat aroma melati di atas meja. Kemudian ia mengintip ruang privat, Andrean sudah terbangun dan sedang mandi. Sembari menunggu Andrean selesai, ia telah membaca beberapa berkas yang tadi diantarkan Sekretaris ke dalam ruangannya.


Tak lama, Andrean pun keluar dengan pakaian rapi. Ia duduk diatas sofa dimana sudah ada sarapan dan minuman yang terhidang.


“Mari sarapan!” panggilnya pada David, ia mulai meminum air mineral, kemudian memegang sendok bersiap mencicipi sarapannya.


David duduk di hadapan Andrean, mereka memakan sarapan.


Andrean memeriksa hpnya sambil makan, membalas beberapa email dan beberapa pesan ia abaikan. Hingga matanya menangkap layar panggilan masuk dini hari. Lama ia tatap, ia telan salivanya, pikirannya mulai menerawang.


‘Shiiiit! Kenapa aku bisa melakukan panggilan video dengannya? Apa yang sudah aku katakan padanya? Apa aku membuka bajuku?’ Andrean bergumam.


Ia memukul kepalanya sendiri, membuat David terkesiap.


“Maaf Tuan Muda, apa makanannya terlalu pedas atau ada bahan berkacang di dalam? Sungguh, saya sudah memesan bahan tanpa kacang.” jelas David.


“Tidak masalah.” Andrean kembali melahap makanannya, bahkan melahapnya lebih cepat.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, pikirannya masih saja terganggu, akhirnya ia menelfon Sakinah.


Hanya sekali panggilan, istrinya itu telah mengangkat teleponnya. Suara lembut yang membuat ia bersemangat.


“Apa aku menelfonmu tadi pagi?”


‘Tidak, aku yang menelfon, menanyakan kabarmu, soalnya sudah larut malam kamu belum pulang, aku khawatir. Maaf mengganggu.’ jawab Sakinah.


‘Apa? Dia mengkhawatirkanku?’


“Tidak, kamu tidak mengganggu. Aku sibuk tidak bisa pulang, banyak masalah yang harus diselesaikan.”


‘Oh, ya tidak apa-apa. Semoga pekerjaannya cepat selesai, jaga kesehatannya ya, jangan terlalu dipaksakan dan jangan lupa makannya diatur.’


“Dia sangat peduli dan mengkhawatirkanku.” ucapnya masih senyum-senyum sendiri.


________


Hans sedang melakukan panggilan video, ia berkunsultasi dengan dosennya, kemudian melakukan panggilan dengan teman-teman serta meminta dukungan pada kedua orangtuanya.


Sedangkan Barend telah mendapatkan seorang model wanita yang cantik dan cukup terkenal untuk menjadi model peraga rancangan kalung yang akan ikut even jewerly nanti. Lalu, sekarang, ia sedang bertemu dengan Arhen yang datang menemui Arsen ke apartemennya.


“Aku adalah teman dekatnya, Anda siapa?” tanyanya menatap Barend penuh selidik.


“Aku teman Ayahnya, Jimi memintaku menjaga Arsen.” jawab Barend.


Arhen menelfon Arsen, hanya Xander Pim yang mengangkat panggilan itu. Arhen berdecih sebal.


“Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat kesal? Apa dia meminjam uang atau mainanmu?” tanya Barend.


“Tidak!”


Sepertinya mereka berdua tidak terlihat akur, lebih tepatnya Arhen sering mengabaikan Barend yang dianggapnya orang asing banyak tanya.


Hans keluar dari kamar setelah selesai melakukan panggilan, hari ini ia memilih libur dan menyerahkan tugasnya pada bawahannya.


“Tuan Muda.” sapa Hans, ia mengetahui jika Arhen adik kembar Arsen.


“Tuan Muda Arsen pulang akan terlambat akhir-akhir ini, beliau sedang melakukan ujian dan latihan praktek.” jelas Hans.


“Hm, lalu kapan Abang pulang?”


“Biasanya jam 4 atau 5 sore.” balas Hans.


“Baiklah, kalau begitu aku akan kemari besok malam, katakan pada Abang untuk menungguku, ada yang ingin aku bicarakan penting padanya.”


“Baik, Tuan Muda. Akan saya sampaikan.” sahut Hans kembali.


“Kalau begitu, aku kembali.” ucapnya pada Hans lalu berlalu pergi bersama dua orang pengawalnya tanpa menoleh pada Berend.


Barend mendekat pada Hans setelah kepergian Arhen.


“Dia itu ... cucu Wizza Van Hallen 'kan?” tanya Barend.


“Iya.” jawab Hans.


“Kenapa bisa berteman dengan Arsen? Apa dia sering kemari?” Berend bertanya kembali.


Hans lama terdiam, setelah berpikir, barulah ia menjawab. “Ya, sering, mereka akrab sejak dulu, sebelum anak-anak itu terdaftar menjadi keluarga Van Hallen.”


“Oooh, begitu.” sahutnya manggut-manggut.


“Pantas saja anak itu terlihat angkuh.” gumam Berend.


“Hm, aku sampai lupa, ini beberapa file, apakah Arsen membutuhkannya atau tidak.” Ia menyodorkan flasdisk pada Hans.


“Aku telah mengajak Nagi untuk menjadi model kita, lalu Laluna gadis cilik yang sedang naik daun itu.” jelas Berend.


“Model pria aku memilih Xin, sedangkan model pria cilik masih dalam pencarian, secepatnya akan saya temukan sebelum hari H even.” lanjutnya lagi.


“Baik, saya akan menyampaikan semuanya pada Tuan Muda.”


“Oh, ya. Ku dengar-dengar anak tadi itu cukup terkenal di dunia artis cilik-”


“Jangan sentuh dia, Tuan.” potong Hans cepat sebelum Berend menyelesaikan kalimatnya.


...***...