
Abraham, Cleo dan Ardhen tinggal di asrama yang sama, mereka satu kamar.
“Ehem, Dhen!” panggil Abraham berdehem, ia duduk lebih mendekat ke tubuh Ardhen. Pemuda itu sedang membaca buku memasak, tentang menu masakan Afrika.
“Hm?” sahut Ardhen tanpa melepaskan pandangannya dari buku itu dan membalikkan halaman buku itu, setelah melihat gambar dan bahannya sejenak.
“Boleh aku tanya sesuatu nggak?” ujar Abraham bertanya.
“Ya, tanya aja!” Ardhen menjawab acuh tak acuh.
“Apa kau ... menyukai Rufia?”
“Hah?” Ardhen menoleh pada Abraham dengan alis mengernyit. “kau ngomong apa sih? Bukannya kau yang menyukai dia? Kau selalu tebar pesona dan menggodanya.” dengus Ardhen, kemudian matanya kembali menatap buku yang ia pegang.
“Itu ... ya, ku akui, aku memang suka padanya, tetapi sepertinya dia tertarik padamu. Ap-”
“Aku tidak!” jawab Ardhen cepat, memotong ucapan Abraham.
“Kau yakin? Jika seandainya dia menyukaimu-” Abraham bertanya kembali.
Ardhen menutup buku yang ia baca, kemudian menatap Abraham. “Cleo mana?” tanyanya mengabaikan ucapan Abraham barusan.
“Aku bertanya padamu, malah kau menanyakan Cleo!”
“Cleo itu teman kita, tentu saja aku tanyakan, ini sudah malam, dia belum masuk ke kamar? Kemana lagi dia? Apa tidak puas-puas menggoda wanita, ck!” Ardhen berdecih.
“Semoga kau cepat merasakan yang namanya cinta, biar kau tahu rasanya bagaimana mengejar wanita!” gerutu Abraham dengan menyedekapkan tangannya.
“Untuk apa mengejar cinta, aku percaya dengan jodoh ditangan Tuhan, bagaimana pun berusaha mendekati ataupun mengelaknya, jika berjodoh akan bersatu juga,” sahut Ardhen.
“Ah, males berdebat denganmu!” Abraham cemberut.
Ardhen terkekeh kecil, melihat Abraham berwajah kesal. “Ayo, kita jemput Cleo, sebelum nanti perangainya diketahui Dekan!” Ardhen menarik tangan Abraham.
Mereka pun akhirnya keluar dari kamar, menuju ke arah tembok asrama putri.
Ada 5 orang pemuda di sana yang berdiri, sebagian lebih tepatnya mengintip gerombolan wanita yang tampak senyum malu-malu ke arah pemuda yang mengintip mereka itu.
“Heh, Cleo!” Ardhen memanggil Cleo dengan menepuk pundaknya yang sedang membelakangi Ardhen dan Abraham. Ia asik mencuri pandang dengan mengintip ke arah wanita yang ia sukai.
“Kalian?! Kenapa ke sini?” Cleo tampak tak suka kesenangan nya diganggu.
“Ini sudah malam! Ayo, kembali ke kamar kita!” Ardhen mengingatkan.
“Sebentar lagi, masih ada waktu 15 menit lagi!” Cleo melihat jam dipergelangan tangannya.
“15 menit itu pas, jika kita berjalan dari sini ke kamar, atau kalian ingin dihukum Dekan? Sebentar lagi gerbang akan di tutup, ayo!” ucap Ardhen pada Cleo, lalu melirik 4 pemuda lainnya.
Akhirnya, para pemuda itu patuh kembali ke kamar masing-masing, dan benar saja, jika seandainya mereka telat kembali, gerbang asrama pria sudah ditutup oleh satpam.
Sesampainya di kamar, Cleo merebahkan tubuhnya, Abraham dan Ardhen juga.
“Abraham, apakah dadamu terasa berbunga-bunga, saat melihat Rufia? Kau merasa senang jika berdekatan dengannya?” Cleo bertanya, ia memiringkan tubuhnya menghadap Abraham.
Abraham membalikkan tubuhnya, ia juga menghadap pada Cleo, mereka berdua di sisi paling ujung antara kiri dan kanan, sedangkan Ardhen ditengah-tengah, memilih tidur tertelentang dengan menumpu keningnya dengan tangan.
“Jangankan bertemu dan berdekatan, mendengar namanya saja aku berdebar,” sahut Abraham.
“Ah, begitu ya! Aku kira, cuma aku sendiri yang merasakan keanehan, aku sampai berpikir memiliki kelainan atau penyakit, soalnya aku berdebar hebat jika melihat dia. Aku bahkan tak berani berselisih di jalan dengannya, aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, aku sangat menyukainya.” Cleo menceritakan perasaannya.
“Aaaah! Aku mau tidur, bisa tidak, kalian jangan bahas cinta dan wanita lagi, kalian bisa bahasnya besok siang, sekarang sudah malam, waktunya tidur! Bagaimana aku bisa tidur, jika kalian ribut sekali!” seru Ardhen, lalu memilih berkelumun di bawah selimutnya.
Dua temannya itu, akhirnya memilih diam dan tersenyum sendiri di atas ranjang masing-masing.
Jay tidak pernah mengeluh apalagi menginginkan kembali pulang ke Indonesia, membuat Billa merindu-rindu. Ia berpikir anaknya yang masih kecil itu akan kembali dan tak bisa berpisah dengannya, rupanya anak itu tidak keberatan sama sekali, malah terukir senyuman saat di tanya apa dia betah di sana.
Ia telah di daftarkan ke salah satu sekolah terbaik di Belanda oleh Andrean.
“Hai, Jay!” sapa Arhen saat melihat Jay berjalan ke arah taman belakang.
“Apa ini?" tanya Arhen, bukannya di jawab, Jay malah mengernyit tak suka, dan menarik-narik tangan Arhen tanpa bersuara. “Wah, benda ini sangat penting ya bagimu?” tanya Arhen menggoda, ia mainkan tangannya tinggi-tinggi ke atas dengan menggoyangkannya, sehingga Jay tak bisa menjangkau sedikit pun, walau ia telah melompat-lompat.
“Arhen,” panggil Sakinah lembut. “jangan ganggu Jay,” lanjut Sakinah lagi menegur Arhen.
“Mom!” seru Jay dan Arhen berbarengan.
“Kalian lihat Mila tidak? Sebentar lagi guru privatnya akan datang!” tanya Sakinah.
“Tidak Mom, Kakak baru datang, cuma jumpa Jay barusan,” jawab Arhen, sedangkan Jay tidak menjawab.
“Apa Jay lihat Dik Mila?” Kinah bertanya dengan menatap manik mata Jay. Anak laki-laki itu diam tak menjawab, namun Sakinah bisa mengenal dengan baik, bagaimana Arsen kecil dulu ditanya saat berbohong, alis kirinya sedikit berkedut.
“Oh, baiklah, kalian berdua tidak melihatnya, ya!” ujar Sakinah. “ya sudah, Mom harus cari Mila dulu.” Sakinah berjalan beberapa langkah, Arhen juga mengikuti Sakinah.
Melihat Sakinah dan Arhen pergi, Jay langsung pergi ke taman belakang.
“Hei, keluarlah! Aku tidak bisa membawa pesananmu itu, Kak Arhen mengambilnya tadi di jalan.” ucapnya di bawah pohon rindang di taman belakang.
Tak lama meluncurlah Jamila turun dari pohon dengan pakaian berwarna hijau bergaris-garis coklat seperti warna pohon.
“Kenapa bisa berjumpa dengan Kakak? Jangan-jangan dia curiga lagi!” Jamila menatap Jay melotot dengan berkacak pinggang. Tiba-tiba Jamila menarik tangan Jay, lalu mendorongnya ke semak.
“Sssst!”
Sakinah dan Arhen rupanya mengikuti Jay.
“Cilubba! Kalian ketahuan!” Arhen mengejutkan mereka dengan menyembulkan kepalanya ke semak itu. “Nah, Princes Mila, sudah waktunya bersiap untuk belajar, dan kamu Jay, harus dihukum karena membantu seorang calon pembolos!” tegas Arhen menatap Jay.
Jay terdiam, ia tahu dirinya salah, akan tetapi dia melakukan itu karena ancaman Jamila. Gadis itu akan merusak dan mengacak-acak kamarnya, sedangkan dirinya tidak berdaya, ia akan di marahi Ibunya, Billa, jika bertindak kasar apalagi menentang Jamila seperti waktu itu, sedangkan anak perempuan itu membuatnya selalu emosi.
Terlebih, Jamila sangat dimanja oleh idolanya, Arsen.
“Ayo!” Kinah menggendong Jamila, sedangkan Arhen menyedekapkan kedua tangannya di dada.
“Kamu mau hukuman seperti apa adik kecil? Mau dihukum olehku atau Abang? Kau tahu, Abang tidak suka sesuatu yang tidak sempurna, ceroboh dan ....” Arhen menakut-nakuti Jay.
“Kakak saja!” sahut Jay cepat. Baru sekarang Jay menyahuti ucapannya, Arhen tersenyum simpul, saat mendapati perubahan expresi datar Jay menjadi cemas.