Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Berdebar


Hari ini, Sekar membawa Sakinah jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan.


Dari awal ia masuk, semua mata sudah tertuju padanya, yang pertama pakaiannya yang sangat aneh bagi penduduk Belanda. Yang kedua, Nyonya Wizza Van Hallen menggandengnnya penuh kelembutan dan sayang. Ya, siapa lagi kalau bukan Sekar.


Mereka duduk di sofa yang terdapat dalam toko pakaian bermerek, memilih barang-barang yang hendak dibeli di katalog. Para karyawan membawakan dan mempersembahkan semua pakaian serta aksesorisnya di hadapan Sekar dan Sakinah.


Sekar memberikan sebuah kartu VIP pada karyawan toko itu setelah memilih yang cocok, Sakinah sampai menelan salivanya saat mengintip angka yang tertera di baju. Ia menghitung satu harga dress setara dengan rumah Billa yang berada di Batam Centre.


Sekar membeli beberapa dress untuknya dan dirinya.


“Mama, ini terlalu berlebihan.” tolak Sakinah tak enak.


“Mama tau kamu merasa risih, Mama juga dulu awalnya begitu, tetapi kamu harus belajar mulai sekarang, pakailah pakaian branded. Apalagi setelah Irfan, Paman Andrean mengenalmu. Ia akan mencari celah kelemahan kita.”


“Para kolega, rekan bisnis suka mencari kelemahan dan bergosip, setidaknya kita harus menjaga penampilan supaya bisa menekan mereka. Jadi, mulai sekarang belajarlah untuk membaur.” Sekar menepuk punggung tangan Sakinah lembut sembari tersenyum manis.


“Baik, Ma. Saya akan belajar.” jawab Sakinah patuh.


“Kita makan dulu, ya, setelah ini.” ajak Sekar, Sakinah mengangguk mengiyakan.


__________


Di sebuah restoran.


Sakinah telah duduk bersama Sekar dengan hidangan makanan Asia.


“Ayo, cicipi, kenapa makanannya hanya ditatap saja?” tanya Sekar.


Hal yang pertama, Sakinah tidak bisa makan pakai sumpit. Ia hanya tersenyum kecut saat Sekar menawarinya.


“Tak apa, pakai sendok saja kalau kamu belum terbiasa, nanti bisa latihan dirumah pakai sumpit.” ucap Sekar tersenyum.


“Iya, Ma.” jawab Sakinah lagi dengan patuhnya.


Hal yang ke dua membuat Sakinah melamun dan terdiam melihat makanan adalah suara suaminya. Awalnya ia berpikir mungkin ia sedang berhalusinasi, tetapi saat ia menoleh ke depan, tampak Andrean bersama seorang wanita cantik nan seksi.


Sekar tak melihatnya, karena posisi Andrean berada di 4 meja di belakangnya. Andrean pun juga tak melihat ada Sakinah ataupun Sekar disana. Tubuh wanita seksi itu menutupi pandangan Andrean.


“Ma, apa Mama mendengar sesuatu?” tanya Sakinah.


“Suara apa?” balas Sekar bertanya balik.


“Hm, gak ada apa-apa kok, Ma,” kata Sakinah.


“Apa kau terkentut tanpa sengaja?” tanya Sekar sembari tersenyum kecil.


Sakinah terkesiap mendengar pertanyaan itu. Berarti, Sekar benar-benar tak mendengar suara anaknya, lebih tepatnya ia tak fokus mendengarkan, ia sibuk dan konsentrasi dengan makanannya saja. Sehingga mengira Sakinah terkentut saat makan.


“Kalau tak bunyi tak apa-apa, tak ada yang tahu.” Sekar berbisik. “tetapi lebih baik jangan ulangi lagi, jika bersama orang lain nanti.” sambung Sekar kembali.


___________________


Malam hari.


Setelah menikah dengan Sakinah, Andrean sudah mulai terbiasa mendengar Sakinah bernyanyi. Ya, begitulah kata Andrean, padahal Sakinah membaca ayat suci Al-Qur'an. Itu disebut mengaji bukan bernyanyi.


Malam hendak tidur, tengah malam saat ia terjaga dan subuh, Sakinah akan mengaji beberapa ayat setelah sholat, dengan suara sedikit berbisik, hanya bisa didengar oleh Andrean jika ia terjaga.


Awalnya Andrean sangat tidak suka, tetapi ia tak mampu marah, bibirnya tak mampu untuk menghardik, terkadang ia jadi tertidur sendiri, hatinya dan pikirannya merasa tenang mendengar lantunan itu. Lama kelamaan ia pun menjadi terbiasa mendengarnya.


Lalu, malam ini seperti biasa, ia melihat Sakinah terbangun tengah malam, ia mencuri-curi lihat di sela tidurnya yang menelungkup. Setiap bangun tengah malam, Sakinah akan sholat.


Ia pernah mengajak Andrean, tetapi ajakan itu tentu saja ditolak, hingga Sakinah tak pernah lagi mengajak Andrean sholat. Ia hanya akan mengingatkan tiga putranya saja untuk sholat karena di dalam rumah ini hanya mereka yang Muslim. Lalu, Andrean Muslim karena ingin menikah dengan Sakinah.


Sakinah berwudhu, ia memakai mukena dan sholat. Setelah sholat wanita itu tampak mengangkat tangannya ke atas untuk berdo'a, air matanya mengalir, cukup lama. Andrean merasa sedih melihat pemandangan itu.


Setelah selesai berdoa, Sakinah menghapus air matanya, lalu mengaji beberapa ayat dan kembali tidur.


Sedangkan Andrean sejak tadi tak bisa tertidur, ia hanya mencoba memicingkan matanya, tetapi ia masih teringat Sakinah yang menangis.


‘Apa dia menginginkan sesuatu? Atau dia merindukan keluarganya dikampung?’ gumam Andrean


Entah kapan Andrean tertidur, namun saat ia bangun, cahaya sudah mulai terik, panggilan tak terjawab sudah puluhan dan juga ada beberapa pesan di hp nya yang belum ia baca.


Ia balas pesan itu terlebih dahulu. Salah satunya dari Dedrick.


Andrean pun mandi setelah memeriksa hp nya.


Ceklek! Sakinah membuka pintu kamar, ia rapikan kamar tidur, ia keluarkan pakaian Andrean.


Tak lama, Andrean keluar dari kamar mandi.


“Apa ini kerjaanmu lagi?” Menatap Sakinah dengan menunjuk pakaian yang telah terletak diatas ranjang. “Aku sudah mengatakan padamu 'kan? Kalau kau itu, bukan pembantu!” sambung Andrean lagi.


“Iya, tapi aku hanya ingin melayani suamiku.”


Aaaaahh! Andrean menghela nafas panjang. “Kenapa kau sangat suka sekali mengatakan hal seperti itu? Membuat orang akan salah paham.”


“Ya sudah, terserah kau saja!” ucapnya lagi. Ia dengan entengnya membuka handuk, hendak memakai bajunya.


“Kenapa kau tidak menoleh ke sana?” pekiknya pada Sakinah, tiba-tiba ia merasa malu sendiri saat Sakinah masih berdiri menatapnya.


“Kau ini!” Ia tarik kembali handuknya.


Sakinah pun membalik badannya.


“Apa kau merindukan Ayah dan Adikmu?!” tanya Andrean sambil memakai pakaiannya.


“Hm, tidak terlalu, kami sering berbagi kabar.”


“Oh, jika kau rindu katakan saja, aku akan menyuruh David menjemput mereka berdua. Apapun yang kau inginkan katakan saja.”


“Iya.” jawab Sakinah.


“Hanya iya? Apa kau tak menginginkan sesuatu sekarang? Ya, mungkin meminta sesuatu padaku?”


“Apa sudah selesai memakai pakaiannya? Biar aku bantu memakai dasi.” Bukannya menjawab, Sakinah malah mengalihkan pembicaraan.


“Hm, sudah.” jawab Andrean sembari memakai kancing kemejanya.


Sakinah berbalik. Ia meraih dasi dan mendekat ke arah Andrean. Ia memakaikan dasi dengan kaki berjinjit, sedangkan Andrean sedikit membungkuk.


Tiba-tiba saja reflek tangan Andrean membelai pipi Sakinah lembut.


“Ah, maaf.” Ia tarik kembali tangannya yang telah lancang mengelus Sakinah.


“Tidak apa-apa, jika ingin menyentuh sentuh saja, jika ingin mencium, cium saja.“ jawab Sakinah.


Deg! Andrean menelan salivanya. Tadi, ia belum memikirkan hal yang berbau cium, sekarang gara-gara Sakinah berkata seperti itu, otaknya langsung berfantasi.


“Boleh?” tanyanya.


“Iya, boleh.” Sakinah menatapnya dengan tersenyum.


Deg! Lagi, jantung Andrean tiba-tiba berdebar. Dia merasa sedikit grogi.


Rasa pedenya saat mencium seorang wanita hilang entah kemana, padahal jelas-jelas Sakinah mengizinkan dan berada sangat dekat dengan wajahnya. Jika biasanya, ia akan langsung menyerobot tanpa permisi.


“Hm-” Andrean bergumam, masih grogi. Tetapi, tiba-tiba....


Cup! Sakinah yang mengecup bibirnya sekilas terlebih dahulu.


Deg! Deg! Jantungnya bertalu-talu. Ia benar-benar terkesiap. Sensasi dikecup Sakinah jauh berbeda dari wanita agresif yang mendekatinya.


Untuk pertama kalinya, ia benar-benar grogi, salah tingkah, hingga telinga dan pipinya memerah.


“A ... Ak ... Aku harus berangkat kerja dulu.” ucap Andrean terbata.


“Iya, hati-hati dan baik-baik bekerja.” balas Sakinah.


...***...