Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Amber


Gedung tinggi mencakar langit, awan putih di langit biru menambah gagahnya gedung itu. Beberapa karyawan sibuk dengan kegiatan masing-masing, salah satunya David, asisten pribadi Andrean.


“Tuan Muda, Jonathan sudah berhasil mendekati Hans Ares. Apakah kita harus melakukan sesuatu?” tanya David sambil meletakkan berkas di depan atasannya.


Andrean tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia yang tadi sibuk, menoleh pada David dan berkas yang baru diletakkan orang kepercayaan nya itu.


Ia ambil berkas itu dan membacanya.


“Coba selidi tempat ini lebih rinci lagi! Pastikan harus dapat informasi secepatnya!”


“Baik, Tuan Muda.”


“Pergilah!” Andrean mengibaskan tangannya, David pun kembali ke mejanya.


Andrean membaca berkas itu kembali, menganalisanya, lalu memikirkan sesuatu.


~~


Di Perusahaan Ar3s.


Hans tersentak kaget saat berjalan keluar dari ruangannya. Ia telah membuat banyak alasan agar tidak bertemu dengan Jonathan. Namun, rupanya pria itu keras kepala dan pantang menyerah. Ia berkali-kali mendatangi kantor, meninggalkan pesan ingin bertemu dengan Hans Ares, berkali-kali juga Hans mengelak, tetapi kali ini dia gagal.


“Siang, Tuan Hans.” sapa Jonathan. “Akhirnya kita bertemu juga, Tuan. Saya sangat senang, beberapa hari ini menunggu Anda.” sambungnya lagi.


“Oh, iya, selamat siang.” jawab Hans.


“Apakah Anda sibuk Tuan, bisakah saya meminta waktu Anda sebentar, ada yang ingin saya bahas.” pinta Jonathan.


“Baiklah, mari kita bicara di sana.” jawab Hans. Ia tak mungkin lagi menolak secara terang-terangan, itu bisa menimbulkan masalah.


Mereka berdua duduk di ruangan tamu, minuman dan cemilan telah dihidangkan oleh office boy. Di belakang Hans ada dua bodyguard berdiri tegak, sedangkan di samping ada asisten pribadi yang membantunya dalam pekerjaan kantor. Begitu pula di samping Jonathan ada satu orang bawahannya.


Jonathan mengulurkan tangan pada bawahannya. Pria itu sedikit merunduk, lalu meletakkan tas hitam yang ia pegang sejak tadi di atas meja. Ia buka tas itu dan mengeluarkan berkas-berkas yang ada di dalamnya.


Satu berkas yang ada di map berwarna merah itu ia berikan pada Hans untuk di lihat, sedangkan yang satunya lagi ia buka dan mulai menjabarkan isi di dalam berkas itu pada Hans.


“Ini adalah hutan di daerah Lauw Flores, tanah ini kisaran 20 hektar milik pribadi yang diwariskan keluarga kepada saya. Di hutan ini, terdapat pohon katilayu, pohon gaharu, kayu jati dan ikia.” Jonathan mulai menjelaskan. “pohon kayu jati dan ikia bisa di perjual belikan untuk alat perabot dan lainnya.” lanjutnya lagi.


Hans menatap Jonathan, masih menunggu inti dari penjelasan Jonathan.


“Sedangkan pohon katilayu dan pohon gaharu berbeda lagi kegunaannya. Getah kayu gaharu yang wangi kerap dijadikan untuk bahan baku pembuatan parfum, bahan baku dupa, bahan baku sabun, bahan baku shampoo, bahan baku pewangi pakaian, bahan baku lotion, bahan baku obat-obatan, menghilangkan racun dalam tubuh dan lainnya.”


“Lalu, getah katilayu bisa untuk menjadi batu mulia amber dan black diamond dengan proses pemfosilan.” jelas Jonathan.


Hans mengangguk mengerti, inti dari ucapan Jonathan ialah tentang batu mulia amber dan black diamon yang bisa diperoleh dari getah katilayu.


“Ini foto bukti dari getah katilayu yang baru di ambil, dibekukan dan diolah.” Jonathan menunjukkan beberapa foto.


“Lalu?” tanya Hans setelah melihat foto-foto itu.


“Aku ingin kita bekerja sama, aku memiliki bahan baku batu amber dari getah katilayu untuk permata perhiasan.” terang Jonathan, Hans masih menatapnya, menunggu kelanjutan dari ucapan pria di depannya itu.


“Kami membutuhkan bantuan biji besi untuk pembangunan pabrik kecil mengolah bahan baku di sana, kami kekurangan dana.”


Hans masih berwajah datar. Ia diam beberapa menit, lalu berkata, “Baiklah, Tuan Jonathan. Terimakasih atas tawaran Anda. Saya akan segera memberitahu Tuan Jimi dan Tuan Muda Arsen. Saya berharap Anda bersedia menunggu.”


“Tentu, Tuan Hans. Terimakasih.”


Mereka berdua pun bersalaman setelah memutuskan keputusan itu, kemudian saling berpisah untuk pekerjaan masing-masing.




Calista dan Dedrick pulang ke Belanda tanpa memberi kabar terlebih dahulu pada keluarga.



Andrean, Wizza, Sekar, Dedrick dan kedua orang tua Calista telah berkumpul malam ini di rumah Calista. Sedangkan Calista duduk jauh dari mereka sambil meremas roknya.



Sikapnya yang berani dan keras kepala menghilang, membuat Sekar dan Wizza merasa aneh, apalagi saat menerima undangan makan malam.



“Mari kita mulai makannya,” ajak Ibu Calista saat semua menu makanan telah terhidangkan penuh di meja makan.



“Calista tidak ikut makan?” tanya Sekar.



“Dia sedikit mual, dia hanya bisa memakan jeruk akhir-akhir ini.” jawab Ibunya, Sekar pun mengangguk setuju.




Andrean sampai mengerutkan keningnya, Kakak laki-laki yang selalu ia banggakan itu tampak gugup dan telapak tangannya berkeringat. Ia bisa melihat kegugupan ini terlihat seperti saat ia menawarkan diri hendak menikahi Sakinah.



Tadi, Dedrick bersikeras mengajak Andrean makan malam, ia pikir karena Dedrick ingin menghindar dari Calista. Akan tetapi pandangan mata mereka berdua terlihat berbeda, Calista tampak cuek, tak penuh damba seperti biasanya.



“Kak, apa terjadi sesuatu?” tanya Andrean berbisik. Dedrick mengangguk.



“Nak Dedrick, apakah kamu sudah menceritakan pada Ibu dan Ayahmu?” tanya Ayah Calista.



Dedrick mendongak menatap Ayah Calista, kemudian melihat Wizza dan Sekar yang juga menatapnya.



“Ma, Pa, Tante, Bibi. Maafkan saya...” lirih Dedrick. “saya akan bertanggungjawab dan menikahi Calista.”



Andrean tercengang, Wizza dan Sekar juga.



“Maksudnya bagaimana, ya? Kamu mau melamar Calista? Kenapa tidak bilang?! Mama dan Papa bisa bawa persiapan dulu untuk melamar!” ucap Sekar.



“Tidak perlu, kita langsung nikahkan mereka saja.” jawab ayah Calista. “Sebelum perut Calista membesar.” lanjutnya lagi.



“Hah?!” Andrean yang pertama kali terkejut. “Kau memperkosa Kakak? Tidak mungkin Kakak akan memulainya duluan!” celetuk Andrean langsung menatap Calista tajam.



“Andrean!” Wizza menatap Andrean yang tampak tak terima.



“Kak, katakan! Apa kau ketakutan?!” Andrean bertanya penuh khawatir.



“Awalnya memang seperti itu, tetapi aku menyukainya dan kami memutuskan untuk pacaran dan melakukan itu beberapakali.” jawab Dedrick jujur dengan pandangan merunduk ke bawah.



“Maksudnya, Kakak tidak apa-apa menyentuh dia? Kakak sudah sembuh?!” tanya Andrean, wajahnya langsung berubah ceria.



“Aku tidak yakin, tetapi jika menyentuh Calista aku baik-baik saja. Jika wanita lain, aku masih tidak bisa.”



“Oh, syukurlah.” Sekar tampak lega. “Kalau begitu, mari kita bahas tentang pernikahan mereka.” lanjut Sekar.



“Aku ingin menikah di Gereja, tetapi Kakak tidak mau, menyebalkan!” sambung Calista yang memotong perkacakapan mereka.



“Itu ... karena Sakinah tidak bisa masuk ke Gereja, Calista.” jelas Dedrick.



“Kakak selalu saja membahas Sakinah, Sakinah. Apa Kakak masih menyukai adik ipar Kakak itu, hah?!” tanya Calista emoi, dia berjalan merentak-rentakkan kaki ke kamarnya.



“Calista!” teriak Dedrick mengejarnya.