Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Perfect Boss


Tadi Pagi.


Ini adalah hari pertama Arsen secara resmi datang dengan menunjukkan wajahnya di perusahaan pribadi miliknya, PT. Ar3s.


Hans telah menghandel semua karyawan, tempat, jalan, lift dengan sempurna, tangga lift untuk ke atas juga sudah mengkilat di bersihkan oleh OB dan OG. Tak ada debu ataupun sesuatu yang membuat Arsen jengkel.


Karpet merah terkembang saat mobil keren berwarna black milik Arsen berhenti, pintu mobil itu dibukakan oleh pengawal, Arsen keluar dengan setelan jasnya, kacamata hitam bertengger terpasang di matanya. Jam tangan mahal dengan sepatu yang mengkilat. Perfect Boss. Itulah ungkapan untuk penampilannya yang tampan.


Hans menyambutnya dan berjalan mengiringinya satu langkah di belakang, lalu empat orang pengawal di belakang Hans. Dua orang pengawal pribadi Hans dan dua orang lagi pengawal pribadi milik Arsen.


Pegawai pria maupun wanita sangat penasaran sampai berdebar ingin tahu dengan wajah Arsen.


“Ya ampuuuuun, dia tampan sekali!” jerit mereka dalam hati. Tak bisa mengeluarkan suara jeritan langsung saat sorot mata tajam Hans menatap mereka.


Hans, pria itu cukup menyeramkan, jadi, siapa yang berani berteriak melihat Arsen seperti melihat artis idola di ajang konser.


“Selamat datang Tuan Muda.” sapa Sekretaris saat melihat Arsen datang bersama Hans. Arsen hanya melirik sekilas, tanpa ekspresi apapun, membuat wajah sekretaris yang tadi tersenyum berubah jadi hambar.


Arsen berdiri di depan ruangan yang menghubungkan meja para karyawan bagian kantor.


“Perkenalkan semuanya, ini adalah CEO sekaligus pemilik perusahaan ini, Tuan Muda Arsen.” Hans memperkenalkan Arsen.


“Saya harap kalian bekerja dengan baik dan tetap semangat.” Arsen memberikan sebuah senyuman tipis. Lalu, beranjak pergi dan lngsung duduk di kursi CEO.


Tak lama, 4 orang datang memasuki ruangannya, Hans masih berdiri tegak setia di samping Arsen yang memainkan pulpen.


“Pekenalkan diri kalian!” perintah Hans.


“Perkenalkan Tuan, saya Shelomita, kepala bagian Humas, saya-”


“Cukup! Perkenalkan nama dan jabatan saja, tak perlu ada yang lain!” potong Hans.


“Perkenalkan Tuan, saya Kepala bagian survei dan analisis data. Nama saya Reck Duadji.”


“Perkenalkan Tuan, Saya De Rephie, Kepala bagian Personalia.”


Arsen menatap dan memindai wajah mereka, lalu mengetuk meja dengan jari telunjuknya dua kali.


“Baiklah, kalian sudah bisa keluar!” pinta Hans.


Mereka berempat pun membungkuk hormat, lantas berlalu pergi menuju keruangan masing-masing.


Hans kembali memencet tombol kecil di atas meja Arsen dan memberikan perintah untuk masuk keruangan CEO. Tak lama, masuklah tiga orang kembali dengan wajah yang berbeda.


“Perkenalkan diri kalian, cukup nama dan jabatan saja!” jelas Hans.


“Perkenalkan Tuan, saya Thomas, Direktur Teknologi.”


“Perkenalkan Tuan, saya Amin, Direktur keuangan.” Arsen langsung menoleh dan menatap wajah pria yang bernama Amin itu.


“Dia kebangsaan Arab-indonesia, Tuan Muda.” bisik Hans menjelaskan. Arsen pun mengangguk. Lalu, giliran wanita yang tadi menyapanya. Penampilannya sangat mencolok dan seksi.


“Perkenalkan Tuan, nama saya Agnes, Saya Sekretaris kedua.”


“Hm.” Arsen merunduk, tak melihat ke arahnya. Membuat wanita itu sedikit kesal, ia merasa di abaikan.


“Kalian berdua silahkan keluar! pinta Hans.


Setelah dua pria itu keluar, kini tinggallah Agnez yang masih berdiri kaku, ia tak tahu apa yang akan terjadi.


“Silahkan bicara, Tuan Muda.” Hans berkata.


“Agnez, aku tidak suka penampilanmu. Tolong, selama bekerja, rubah penampilanmu dari rok dan bajumu sedikit longgar dan panjang.”


Agenez lama terdiam. “Kau dengar?” Sekali lagi, Arsen berkata.


“A-ah, i-ya, saya dengar Tuan Muda,” jawabnya terbata.


“Baiklah, silahkan keluar!” perintah Arsen kemudian.


Agnez pun keluar. Arsen langsung menghela nafas.


“Kak, tolong buat peraturan baru, bajunya tolong tertutup, jangan menonjolkan dada seperti itu, kalo rok harus dibawah lutut, jangan dibelah.”


“Baik, Tuan Muda.”


Hari pertama di mana Arsen masuk, langsung ada pengumuman baru tentang peraturan dalam cara berpakaian.




“Pastikan semuanya sudah sempurna, wartawan, aula tempat berkumpul, file penting dan lainnya,” ujar Andrean sambil membalikkan berkas.



“Iya, Tuan.”



Begitu pula dengan Perusahaan Wilz Plantsgroup, yang kini di pimpin kembali oleh Dedrick.



Dedrick juga tak kalah sibuk bersama asisten pribadi nya, Alex. Mereka akan berkumpul nanti di aula, menyambut sekaligus memperkenalkan King dan Arsen sebagai calon penerus mereka nanti.



Calista hanya bisa hamil sebanyak tiga kali, lalu ia melakukan pengikatan pada rahim yang disebut KB steril. Ia setiap melahirkan selalu operasi. Tidak baik untuk kesehatan jika lebih dari tiga kali operasi. Namun sayang, Adik King hanya bertahan sampai 7 bulan di dalam perut, tapi syukurnya, untuk hamil ketiga ia memiliki seorang putra yang diberi nama Clay.



Clay sekarang masih berumur 1 tahun lebih. Orangtua Calista menyerahkan hak waris dan calon penerusnya pada Clay karena King akan melanjutkan usaha dari Van Hallen.



Sedangkan perusahaan kecil di Amerika di rintis oleh Roque.



Ya, setelah waktu itu Irfan kalah tender dan memberikan beberapa saham pada Arsen, perusahaan itu sepenuhnya menjadi milik Arsen. Lalu, tanah Flow Lawyer juga menjadi milik Arsen.



Saat itu, Arsen akan mengangkat Roque menjadi Asisten pribadinya di perusahan yang dirintis Irfan, tetapi pria itu menolak dengan alasan ia tak bisa tinggal di Belanda, terlalu banyak kenangan, ia juga ingin melatih Frans agar tidak lagi bersikap sombong dan arogant karena selama ini terlalu dimanjakan, putranya itu pun jadi malu ke sekolah dan menjadi bahan bullyan.



Ia berharap, Frans menjadi anak yang jauh lebih baik nanti di Amerika. Oleh sebab itu, Dedrick menyerahkan sepenuhnya perusahaan kecil itu pada Roque, karena sebelumnya Irfann dan Wizza yang menjalankan perusahaan kecil itu sambil mereka berlibur, kemudian keliling dunia untuk bersenang-senang di hari tua.



“Semuanua sudah beres 'kan, Lex?” tanya Dedrick.



“Sudah, Tuan!” jawab Alex tegas.



“Bagus.”



Tak terasa sudah sore, langit telah berwarna jingga. Arsen merenggangkan tubuhnya.


“Aku ingin ke apartemen.”


“Iya, Tuan Muda.”


Apartemen milik Arsen dihuni oleh Hans dan Roselia, adik satu-satunya yang ia bawa ke Belanda.


Beberapa tahun yang lalu, tak lama dari meninggalnya Wizza. Hans mendapatkan berita buruk, Ayahnya mengalami kecelakaan kerja di bengkel, lalu ibunya sakit-sakitan sejak ayahnya meninggal. Hingga adik satu-satunya yang masih berusia remaja itu ia bawa ke Belanda, karena tak ada sanak keluarga yang bisa ia percaya di Indonesia.


Kini, Roselia tengah duduk di bangku SMA.


~~


Brak! “Aaakh!” Roselia berteriak. Ia sangat malu.


Apa yang terjadi?


Awal kejadian, Arsen dan Hans baru sampai di apartemen.


“Tuan Muda, tunggu sebentar, saya akan turun dulu membeli minuman dan makanan, biasanya Roselia baru pulang sekolah jam segini, dia belum sempat masak,” jelas Hans.


“Hm!” Arsen mengangguk. Akan tetapi, ia tidak patuh dan malah membuka pintu apartemen!