Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Makan di Restoran


Seperti rencana yang telah di susun sebelumnya, Vindo tiba-tiba menghubungi Eline Fey dua hari kemudian. Mereka berbincang cukup lama ditelepon, lalu merencanakan pertemuan di sebuah restoran mewah.


Vindo memakai kemeja setelan hitam dengan rambut poni yang disisir ke belakang, jam tangan serta cincin batu permata amber menghiasi tangan kekarnya, menambahkan kesan maskulin dan kaya raya.


Ia turun dari mobil marsedes hitam yang ia kendarai sendiri tadi. Lalu, langsung masuk ke restoran mewah itu dengan gagah. Eline Fey sudah sejak tadi datang, ia telah melihat dari kejauhan, dari dinding kaca restoran, sejak Vindo mulai turun dari mobil hingga kini berjalan ke arahnya, ia terpesona akan ke tampanan Vindo.


“Hallo, Nona Eline Fey, lama menunggu?” sapa Vindo, kemudian ia langsung duduk di kursi yang berada di hadapan Eline Fey.


“Ah, tidak juga, aku juga baru sampai. Jangan panggil aku Nona begitu Cris, panggil namaku saja Fey, bukankah semalam kita sudah mengobrol, kau bisa memanggil panggilanku saja. Teman-teman dekat sering memanggilku Eline, jika keluarga memanggilku Fey. Bukankah kita sekarang teman dekat?” Eline Fey menatap Vindo.


Vindo tersenyum menggoda. “Fey, kau sangat cantik, aku bahkan tak ingin hanya sekedar menjadi teman dekat, aku ingin menjadi seseorang yang spesial bagimu,” ucap Vindo pelan dengan suara yang terdengar sangat mesra. Lalu, tangannya terulur, menyentuh rambut Eline Fey yang panjang di blonde, berwarna kuning kecoklatan.


“Sungguh, aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia ini karena telah mengenal wanita secantik dirimu!” Vindo mencium rambut Eline Fey sambil menatap wajah wanita itu dengan tatapan menggoda.


Pipi Eline Fey memerah. “Ah, kau pandai sekali menggodaku, Cris!” ujar Eline.


“Ini bukan hanya sebuah godaan, tetapi kenyataan, kau sangat cantik,” ucap Vindo. “tapi sayang, kecantikanmu ini belum membuatku tertarik, apalagi menarik perhatian para Tuan Muda, seharusnya kau lebih banyak belajar lagi, Nona,” lanjut Vindo di dalam hati.


“Uh, kamu!” Eline Fey mencolek pinggang Vindo gemes dengan wajah malu-malu.


Tak lama, hidangan mereka pun tersaji. Di ruangan ini hanya ada mereka berdua, mereka bisa melihat apa yang terjadi di luar, namun orang di luar tidak bisa melihat kejadian di dalam karena kaca restoran ini gelap.


Vindo memotong steak tenderloin, di atasnya ada taburan potongan mangga dan saus hitam ditepinya, setelah memotong itu, ia langsung memberikan piring itu pada Eline Fey.


“Terimakasih, Cris!”


Setelah itu ia memotong steak miliknya, steak rib eye, dengan hiasan asparagus dan saus merah di samping atas daging steak itu. Ia mulai menyuap steak dengan cool-nya ke dalam mulut sambil menatap Eline Fey yang menyantap steak miliknya yang telah dipotong Vindo tadi.


Beberapa saat, Vindo masih saja menatapnya tak berkedip sambil mengunyah daging dan menyuap potongan daging itu ke mulutnya, membuat Eline Fey jadi salah tingkah.


“Ah, Cris, kau membuatku malu, apa ada sesuatu di wajahku?”


“Iya, ada!” jawab Vindo.


“Ada?” Eline Fey menjadi panik, ia segera meletakkan sendok makannya, perlahan mengambil tas slig bag miliknya, mengambil kaca imut berbentuk hello kitty pink di dalam tas itu, lalu bercermin, memperhatikan wajahnya.


“Hm, tidak ada apa-apa,” gumamnya kemudian setelah bercermin dan menyimpan kaca itu kembali ke dalam tas.


“Tetapi aku melihat ada,”


“Dimana?” tanya Eline Fey.


Vindo meletakkan sendok, meminum air putih di gelas dan mengelap mulutnya dengan tisu. Menggeser duduknya ke arah Eline Fey dengan posisi yang sangat dekat. Menatap manik mata perempuan itu dalam, membuat Eline Fey berdebar hebat, bahkan ia sampai meneguk salivanya dua kali, dan itu jelas terdengar oleh Vindo.


Pemuda tampan berbadan kekar itu bahkan menyunggingkan senyum kecil saat mendengar, kemudian perlahan tangannya menyentuh wajah Eline Fey, membelai wajahnya lembut, sampai Eline merasa meremang.


“Di wajahmu ada sesuatu, sesuatu yang mampu menarikku untuk mendekat, ingin menyentuh dan tak ingin jauh darimu, sesuatu yang seperti magnet, wajah cantik yang tiada duanya, tak pernah bosan aku memandangnya, mengaguminya, sungguh indah.” Vindo berkata dengan bola mata yang tak lepas dari setiap inci wajah Eline Fey. Wajah wanita itu langsung memanas, pipinya merona merah sampai ke ujung hidungnya.


“Cris, kau benar-benar penggoda, mulutmu manis sekali.” ujar Eline Fey merunduk malu.


“Manis?” Vindo tersenyum, lalu mengatakan sesuatu ke telinga Eline Fey dengan berbisik manja, “Kau bisa merasakan bibirku nanti, jika kau menginginkan rasa manisnya.” Wajah Eline Fey semakin merah saat mendengarkan ucapan itu.


“A-aku belum selesai makan!” Eline Fey jadi salah tingkah, ia sedikit mendorong tubuh Vindo, kemudian meraih sendoknya, menusuk potongan mangga dengan garpu, mencocokkan buah mangga itu pada kuah steak yang berwarna hitam itu.


“Aku merasa cemburu pada buah mangga itu, bisa-bisanya dia lebih dulu merasakan bibirmu!” gumam Vindo sambil merapikan jasnya dan menjaga jarak duduk kembali.


Setelah mereka menghabiskan semua yang terhidang di meja, Eline Fey masih tampak malu-malu.


Tiba-tiba, ponsel Vindo berdering, itu panggilan dari adiknya, wajahnya tampak menegang sesaat, kemudian mensilentkan hpnya.


“Kenapa tidak diangkat Cris, apa itu pacarmu?” tanya Eline Fey penuh selidik.


“Ah, bukan, lihat saja, ini panggilan ibuku, dia bawel dan ... ya, gitu deh!” Vindo berkata dengan menghela nafas, menunjukkan nama pemanggil yang bertuliskan My Mother.


Ya, Adiknya memang selalu memakai telepon Ibunya, Monic, untuk menelfonnya, dia yakin yang menelfon itu pasti bukan ibunya, karena jam segini Barond selalu bersama istrinya itu bermanja.


“Oh, begitu.” Eline Fey mengangguk paham.


Setelahnya, mereka beranjak pergi dari sana, kemudian berjalan sebentar dengan berpegangan tangan, mata Vindo melirik ke kiri dan ke kanan, kemudian di tempat yang agak sepi, dan di sudut sana, ada bunga bonsai yang cukup tinggi, ia memeluk dan mengecuuup bibir Eline lembut dan mesra.


Awalnya Eline terkejut, kemudian dia menikmati ciuman itu dengan penuh perasaan.


Vindo melepaskan ciuman itu. “Maaf, maafkan aku Fey, aku sungguh ti-” Vindo ingin berpura-pura minta maaf setelah mencuri cium Eline Fey, tetapi siapa sangka, gadis itu malah menciumnya balik dengan rakus, tentu saja Vindo tidak menyia-nyiakan peluang baik itu, mereka pun berciuman panas.


Bibir Vindo terasa cukup kebas melayani Eline Fey, masih dengan tersenyum dan tatapan menggoda, ia sedikit menjauhkan wajah mereka, membelai lembut bibir Fey. “Bibirmu sungguh manis, Sayang.” pujinya.


“Aku sangat menyukainya,” lanjutnya lagi dengan mengusap ibu jarinya di bibir bawah Eline.


“Aku juga menyukainya,” jawab Eline Fey dengan tersenyum malu-malu.


“Emm, mau aku antar pulang?” tawar Vindo dengan tatapan menggoda. Eline Fey mengangguk setuju.