
“Ikuti aku!” perintah Arsen.
Dua laki-laki berbadan tegap itu mengikuti Arsen.
‘Hei, kita kemana ini?’ tanya teman disebelahnya dengan kode gerakan mulut dan mata.
‘Aku tidak tau! Kita ikuti saja! Tetapi sepertinya Tuan Muda Arsen hanya ingin ditemani pergi ketoilet.’ jawabnya dengan gerakan yang sama.
Arsen terus melihat jam tangannya, hingga tanda dijam tangannya menunjukkan sesuatu yang ia cari berada di dalam toilet.
“Kau! Maju ke depan, buka pintu itu dengan hati-hati!” perintah Arsen, kemudian dia berlindung dibelakang pria yang satunya lagi.
Pengawal NK7204 membuka pintu toilet hati-hati. “Aman, tidak ada apa-apa Tuan Muda.” ucapnya. Kemudian Arsen mengangguk dan melanjutkan masuk.
Setelah masuk, Arsen terus melihat pergerakan di jam tangannnya, hingga ia menemukan cahaya merah kecil berkedip.
“Periksa!” serunya. Kedua pria kekar itu memeriksa dengan sigap.
Sebuah benda kecil sebesar kancing baju, bahkan hampir menyerupai kancing, namun ada tali bening seperti tali pancingan terhubung di sana. Itu bukanlah tali biasa, tetapi itu adalah kabel kecil yang tipis.
Arsen merunduk. “Ada yang tidak beres! Periksa!”
Kedua pengawal itu memeriksa dan menemukan pengawal N7K203 didudukkan di tempat buang air besar dengan keadaan tak sadarkan diri.
“Bawa dia! Ayo, kita pergi ke ruang CCTV pusat!”
Arsen menghubungi David, meminta petugas untuk mengecek rekaman CCTV. Tak terlihat rekaman apapun dari sana! Arsen dan David mendesah!
“Pergilah Paman, katakan pada Papa jika aku akan membereskannya bersama Paman Berend! Tolong suruh dia menjaga Mom dan Adik-adik sebaik mungkin!”
“Baik, Tuan Muda.”
~~
Arsen telah berada di apartemennya bersama Berend. Beberapa pengawal sudah di siapkan sejak tadi oleh Berend.
Arsen sibuk mengotak atik laptopnya. Ia mendesah kesal!
“Apa alat yang aku berikan juga terlepas? Kenapa dia tidak menekannya terlebih dahulu!”
Ya, Vindo tak sempat menekan alat yang diberikan Arsen padanya, namun ia sempat menarik tali penghubung yang terjatuh di kamar toilet itu.
“Menurut Paman, bagaimana ini?” Arsen bertanya pada Berend sambil menunjukkan alat yang dijatuhkan Vindo itu.
“Bukankah kita bisa mencarinya dengan alat ini Tuan Muda?” sahut Berend. “Kita bisa meminta untuk memasang ulang ke perangkat lain untuk mendeteksinya.”
Berend menelfon seseorang yang ahli, tentu saja bawahannya yang sangat bisa diandalkan dalam memasang alat perangkat lunak dan perangkat keras, seorang teknisi mesin!
Satu jam menunggu, barulah seorang teknisi mesin itu datang!
“Pasangkan alat ini dihanphone genggam ini! Lalu, pasangkan alat peledak juga!” pinta Arsen.
Pria itu berdebar. Sedikit bahaya jika meletakkan alat peledak berdekatan dengan alat penyadap. Melihat raut wajah pria itu cemas, Arsen berkata.
“Masukkan alat penyadap ke dalam perangkat lunaknya. Sedangkan alat peledak letakkan di slikon pembungkus luarnya saja!”
“Baiklah, akan saya coba Tuan Muda.”
Sembari menunggu, Arsen telah menyiapkan beberapa langkah. Ia telah mengetahui koordinat posisi Vindo, namun hanya sebatas titik besar saja, tidak tahu tepat dimana dia. Jika ingin mengetahui tepat posisinya dimana, harus menggunakan alat pelacak pasangan yang sedang dipasang teknisi ini.
~~
Vindo anak yatim piatu yang diselamatkan oleh Berend, ia hidup di pulau selama ini, pergi bersama orang dewasa yang berprofesi menjadi pelayan untuk menangkap ikan. Bukan hanya Vindo, beberapa anak kecil lainnya juga banyak yang hidup di pulau itu.
Bagi penduduk di pulau yang bernama laut kebebasan itu Berend adalah penyelamat, Tuan tanah yang baik hati. Dari anak-anak yang berada di pulau, Vindo anak yang paling terbaik, dia cekatan, bisa berenang, berlari cepat dan pintar.
Saat ia diminta menjadi pengganti atasan Berend, ia sangat bangga dan bahagia karena akhirnya ia bisa membantu Berend melakukan tugasnya.
Sekarang ia merunduk sedih. “Apakah Tuan Berend sangat kecewa padaku saat ini? Aku sudah gagal menjadi pengganti, aku malah tertangkap...” gumamnya lirih.
Pelan-pelan ia bergerak, ia coba longgarkan tangannya yang terikat, ia kedikkan bahunya, gagal! Ikatan diseluruh tubuhnya terlalu ketat. Ia menggeser duduknya, masih ia ingat, alat kecil yang ada ditubuhnya masih terasa.
Ia terus berusaha dan berusaha, peluhnya bercucuran, badannya terasa pegal, entah berapa lama ia mencoba tetapi masih gagal, hingga terdengar suara tapak kaki. Vindo segera berpura-pura, ia memejamkan matanya kembali.
“Kenapa anak ini belum sadar juga? Bukankah seharusnya obat biusnya sudah habis?”
“Kalau begitu kita siram saja wajah dia pakai air!”
Seseorang mengambil air segelas, langsung menyirami wajah Vindo, sehingga Vindo berpura-pura tersadar.
Ia pura-pura terkejut dan berwajah panik. “Ka-kalian siapa? A-aku dimana?!”
“Ahahahha! Tenanglah anak kecil!”
“Sur, ayo rekam!”
Vindo direkam dan difoto. Lalu, hasilnya segera mereka kirim pada atasan mereka. Kemudian mereka mengambil makanan untuknya.
“Makanlah anak kecil!”
“Makanan! Aku lapar! Paman, tolong, aku sangat lapar, aku belum makan!” Vindo merengek.
“Hah! Aku paling malas mengurus anak kecil!”
“Paman, aku bisa makan sendiri kok, cukup Paman lepaskan satu tanganku saja, yang lain tidak usah. Aku akan berlaku baik, tidak akan menyusahkan. Apakah Paman ingin meminta uang pada Papaku? Papaku memiliki banyak uang, dia pasti akan menebusku segera.”
“Ahahaha!” Mereka tertawa. “Kau memang sangat pintar, pintar untuk dimanfaatkan!” Lalu pria itu melepaskan satu tangan Vindo.
“Terimakasih Paman, nanti jika Papaku datang. Aku akan bilang kalau Paman sangat baik. Aku makan dulu.”
“Ahahaha!” Mereka masih tertawa lantang. “Benar-benar anak kecil! Cerdik apanya!” ejek mereka disela kekehannya.
Vindo mengambil piring dan sendok yang sudah berisi makanan dengan satu tangannya, berpura-pura menggaruk, padahal ia sedang meraba alat yang diberikan Arsen, lalu menekannya dengan jari kelingking.
Vindo tersenyum kecil saat berhasil menekannya. Alat yang diberikan Arsen tertempel diikat pinggangnya, tak akan terdeteksi dengan alat scan biasa, makanya para penjahat ini tidak mengetahui jika Vindo memiliki alat pelacak.
Arsen terkejut saat melihat jam tangannya berkedip.
“Vindo telah memberi sinyal! Bersiaplah Paman!” serunya, kemudian bertanya pada teknisi. “berapa lama lagi ini akan selesai?”
“Se-ecepatnya Tuan Muda. Saya sedang mengusahakannya.” jawab teknisi itu gugup, peluhnya telah sangat banyak memenuhi dahi dan pelipisnya. Berkali-kali ia lap sejak tadi.
“Bagus. Tenangkan dirimu dan tetap fokus, Paman!”
Arsen keluar. Ia menyusun rencana bersama Berend, bagaimana caranya menyelamatkan Vindo dengan aman.
“Biar kami saja yang pergi, Tuan Muda tunggu saja di sini. Ini akan sangat berbahaya.” ujar Berend.
“Ya, aku memang berencana tidak pergi ke tempat itu. Aku akan menunggu kalian digerbangnya!” sahut Arsen santai. Mendengar itu, Berend terperangah.
Ya, Berend ingat satu hal! Arsen anak laki-laki dingin itu hanya mempedulikan Ibunya seorang saja di dunia ini! Jadi, dia tak akan menempatkan dirinya ditempat yang bahaya hanya demi orang lain. Walaupun begitu, Arsen akan selalu melakukan yang terbaik untuk orang yang dianggapnya penting.