Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Surat


Surat pertama telah ia baca, ia terdiam lama, mengartikan makna kata dari tulisan itu.


Ia kembali membaca surat demi surat yang tertulis.


Hai, Kertas!


Hari ini aku mau bercerita, aku bertemu dengan seseorang yang baik, tetapi aku tak yakin. Kenapa? Sebelumnya aku telah lama berkenalan dengannya. Akan tetapi, dia dan ibunya adalah orang yang merebut kebahagiaan orang lain. Dia hanya baik padaku, tidak baik pada temanku, Tuan Muda Wizza.


Hai, Kertas!


Hari ini aku ingin bercerita, aku sebenarnya tidak benci pada Irfan. Tetapi, aku tak mungkin berpihak pada orang jahat 'kan? Apa menurutmu aku jahat? Soalnya dia baik padaku. Suka memberiku hadiah, mainan dan makanan. Sering membantuku membuat PR. Sedangkan Tuan Muda Wizza dia tidak sekelas denganku.


Hai, Kertas! Apa kau tahu? Tadi aku terlambat datang ke sekolah dan lupa mengerjakan PR. Irfan membantuku lagi dengan menyogok satpam di gerbang, lalu menerima hukuman dan mengganti bukunya menjadi bukuku. Aku jadi canggung dan segan padanya.


Begitulah banyak surat kecil sebagai curahan hati Roqa. “Apa kau sedang ingin curhat padaku atau pada bukumu?” Irfan tersenyum kecil, namun sudut matanya berair, mengingat masa-masa muda mereka dulu.


Hei, Kertas! Apa kau tahu? Hari ini Irfan menyatakan cinta padaku. Dadaku berdebar kuat, aku menjadi bodoh tak bisa menjawab apapun. Apa yang harus aku lakukan?


Irfan membaca banyak kertas, hingga ia menemukan kertas yang menggulung sebuah bunga kering. Ia penasaran dan membukanya.


Kertas,


Lama tidak bertemu, ya. Akhir-akhir ini aku sering melupakanmu, setelah aku menikah dengannya, aku semakin percaya, sebenarnya aku mencintai dia. Pria lembut dan melakukan apapun untukku. Aku hanya ingin kembali dan menyatakan cinta padanya. Besok, aku akan membuat janji dengan Kak Wizza, aku akan menjelaskan kalau ku tak ingin lagi melanjutkan hubunganku dengannya, aku ingin mempertahankan rumah tanggaku dan membesarkan anakku, Roque. Bunga cantik ini adalah hadiah ulang tahunku dua hari yang lalu. Dia memberikanku bunga dan coklat. Dia manis 'kan?


Air mata Irfan terus mengalir, bunga kering yang sudah berwarna coklat kehitaman itu ia pegang. “Terimakasih Tuhan, walaupun terlambat untukku menyadari, bunga yang kuberikan setulus hati, diterima dan disukai olehnya.” Irfan menggigit bibirnya menahan agar suara tangisan tak lepas kuat dari mulutnya.


Kertas, aku mencintai dia. Walau hatiku terlambat menyadarinya, aku akan menjelaskan semua padanya esok. Do'akan aku ya!


Tangan Irfan bergetar memegang kertas itu, air matanya terus mengalir mengikuti lekuk hidungnya, turun melewati bibir yang ia gigit, lalu turun ke dagu dan menetes di kertas yang bergetar itu.


Irfan terhenyak, air matanya menggucur deras di pelupuk mata, dadanya terasa sesak. “Maaf, maafkan aku...” lirihnya.


“Aku juga sangat mencintaimu Roqa. Maaf ... dan terimakasih telah mencintaiku.” Ia peluk erat kertas itu di dadanya, ia masih menangis dalam diam.


Selama ini, ia mengira Wizza dan Roqa bertemu dan merencanakan pernikahan. Tak pernah ia menyangka jika cintanya berbalas.


Ia membaca dan mengetahui semuanya. Roqa menyadari perasaan cintanya saat ia hamil 7 bulan hingga melahirkan putra mereka. Ia hanya kagum dan tertarik pada Wizza bukan cinta.


Wizza yang telah selesai mandi sejak tadi mengulurkan tisu di hadapan Irfan yang tak sadar akan kehadirannya. “Hati-hati, jangan terlalu banyak menangis, ingat umur, kau sudah tua! Nanti kau sakit jantung!” kelakarnya.


“Kakak!” Irfan malah berhambur memeluk Wizza, seperti dirinya waktu kecil berumur 6 tahun.


“Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Kita sudah baikan, lalu kita akan bermain bersama keliling dunia. Bukankah seperti itu dulu yang kau ingin 'kan?”


Irfan tersenyum. Dia memang sering mengatakan jika memiliki uang banyak akan mengelilingi dunia bersama Wizza.


“Nah, kalau begitu, kau segera mandi! Lalu, kita akan makan bersama.”




Keesokan harinya, mereka berdua pergi pamit, tampak wajah Mindi bersedih. “Mindi, aku telah menganggapmu seperti keponakanku dari dulu. Jangan menyukai orang tua yang sebentar lagi mati dan hatinya masih terkunci untuk satu wanita. Berbahagialah!” Irfan mengelus kepala Mindi lembut.



“Wah, ku gentle sekali, Dik!” Wizza menyikut Irfan yang berjalan pergi hendak ke mobil.”



“Hati-hati!” teriak Jondri melepas kepergian mereka.



Irfan tersenyum kecil, walau ia tak enak hati. Namun, ia harus jujur, Mindi terlalu muda untuknya. Wanita itu berumur 35 tahun sekarang. Jauh lebih muda dari putranya Roque. Ia sendiri tidak menyangka, kenapa dia bisa suka.



“Kita langsung ke kantor anak-anak, ya!” ajak Wizza. Irfan mengangguk.



~~



Di sepanjang jalan, semua mata karyawan tak lepas menatap Wizza dan Irfan yang tampak akrab, wajah mereka ceria dan mereka membalas dengan anggukan.




“Loh, aku kira mataku yang bermasalah, rupanya beneran, ya!” sahut karyawan di sebelahnya.



Hampir semua karyawan berbisik-bisik melihat pemandangan langka itu.



“Papa, Paman!” sapa Andrean. “Silahkan duduk, Pa, Paman!” Andrean mempersilahkan ke dua pria tua itu.



Andrean tak henti-hentinya tersenyum melihat ayah dan pamannya akur seperti ini. ‘*Benar kata istri dan putraku, lebih baik memaafkan, memperbaiki masalah agar tak terjadi kesalahpahaman. Ah, aku jadi merindukan mereka*...” gumam Andrean dalam hati.



Wizza menceritakan keinginannya yang akan bersenang-senang bersama Irfan ke luar negri, lalu mendatangi Dedrick yang berada di rumah Calista. Kemudian, Roque dan Frans.



“Kakek tidak sayang lagi padaku? Kakek mau meninggalkanku? Bukankah saat itu Kakek berjanji akan memberikanku hadiah?!” Frans berkacak pinggang.



“Iya, ini hadiahnya.” Ia memberikan hadiah, mengecup kening Frans.



“Maaf, Kakek tidak bermaksud meninggalkanmu. Tapi, kmu tahu 'kan, kaki kakek selalu sakit, kepala kakek sering berdenyut. Jadi, Kakek harus berobat ke luar negri. Apakah kamu tidak sayang lagi pada Kakek...?” tanya Irfan melirih.



“Hm, iya, Frans izinkan, Kakek harus segera sembuh...” sahutnya memeluk Irfan erat.



~~



Akhirnya, dua pria tua itu telah menyiapkan pakaian, tiket, dan persiapan lainnya untuk bersenang-senang menghabiskan sisa-sisa hari mereka.



Kini, mereka tengah tiduran santai di dalam pesawat yang sedang terbang. “Kak, kemana tujuan pertama kita kali ini?” tanya Irfan.



“Kau bertanya sangat telat! Seharusnya sebelum berangkat, sehingga bisa merubah tujuannya jika kau tak suka!” jawab Wizza.



“Aku akan selalu suka jika bersama kakak!”



“Hahahha! Kalau begitu bersiaplah! Aku harap tubuh tuamu tidak akan sakit dan gemetaran saat kita sampai di sana!” Setelah berkata seperti itu, Wizza menutup tubuhnya dengan selimut, lalu mereka berdua tertidur.



Entah berapa lama mereka melakukan perjalanan panjangnya, kini dua pria tua itu baru saja turun dari pesawat dan telah dijemput oleh mobil. Lalu, diantarkan ke hotel tempat mereka menginap.



Barang-barang mereka telah di susun pelayan, minuman segar dan makanan juga sudah terhidang. Irfan dan Wizza duduk santai ditepi kolam mini di depan kamarnya.



‘*Istriku, hari ini, aku ke Amerika, aku sudah berbaikan dengan Irfan, kau jangan khawatir lagi aku bertengkar dengannya, ya. Bahkan, kini aku bersamanya*.’ gumam Wizza dalam hati.



‘*Roqa, kau tahu, hari ini aku sangat bahagia, jika seandainya ... ada kamu juga*....’ Irfan menatap telapak tangannya.