Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Menangkap Jonathan


Demi melindungi menantu dan calon cucunya, Sekar tak berpikir panjang saat melihat pisau mengarah ke Calista. Awalnya ia hanya hendak menyandung dan menepis pria itu, karena ia juga bisa ilmu bela diri sedikit, tetapi takdir berkata lain, dengan gerakan cepat pria itu merubah sasarannya, menusuk perut Sekar beberapakali hingga membuat usus wanita itu terluka parah.


Andrean yang murka melihat Ibunya terluka, menembaki semua bawahan Jonathan, sedangkan Jonathan sendiri tidak ada di lokasi. Dedrick menarik Sakinah, Anak-anak, Calista dan orangtua Calista ke dalam ruangan yang jauh lebih aman dikawal oleh Xander Pim dan bawahan lainnya.


Wizza langsung menyelamatkan dan membawa Sekar ke rumah sakit yang di kawal sebagian pengawal Andrean.


Tak lama, petugas keamanan yang sudah dipanggil beberapa tamu tadi pun telah tiba. Mereka mengamankan semua orang yang bersenjata termasuk Andrean salah satunya di sana.


Saat Andrean hendak di bawa masuk ke dalam mobil, Hans langsung mencegat petugas keamanan itu. “Aku yang melapor kejadian ini, dia memegang senjata itu untuk perlindungan diri, apakah perlu di tahan juga?” tanya Hans dengan tatapan tajam.


Polisi itu mengenal Hans dan juga mengenal Andrean, namun hukum tetaplah hukum, Andrean terlihat memegang pistol dan menembaki orang saat mereka datang.


Ceklek! Dua pistol di todong kan di kepala polisi itu oleh Berend yang baru menyusul dari belakang.


“Bagaimana jika aku menembak kepalamu? Apakah kamu bersedia?” tanya Berend.


Deg! Polisi itu sangat mengenal Berend. Pria tanpa ampun.


“Saat orang-orang ingin membunuhmu dan keluargamu jadi taruhannya, apa kau diam saja? Atau di kepalamu hanya memakan gaji buta? Lepaskan Tuanku!” perintah Berend dengan tatapan tajam.


“Atau ... kau mau aku meledakkan isi kepalamu?”


“Lepaskan dia!” perintah polisi itu akhirnya.


Saat borgor ditangan Andrean dilepaskan, tatapannya masih dingin dan kosong. Hingga Sakinah datang dan memeluknya.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Sakinah khawatir.


“Papa...” ucap Arhen dan Ardhen yang baru datang menyusul di belakang Sakinah. Mereka memeluk Andrean yang terlihat aneh.


~~


“Hallo, Paman. Kau mau kemana?” tanya Arsen berjalan santai.


Jonathan berhenti sejenak, hanya melihat seorang anak kecil yang menyapanya. “Pergilah anak kecil!” usir Jonathan.


“Urus anak kecil itu!” perintahnya menatap tajam bawahannya. Ia bersiap, hendak menaiki helikopter di atas gedung.


Jonathan naik ke atas helikopter dan memerintahkan pilotnya untuk segera melaju. Akan tetapi, sang pilot tidak bergerak. Muncul seseorang yang sangat ia kenal menodongkan senjata ke arah kepalanya dari belakang.


“Kau?!” ucap Jonathan terkejut.


“Senang bertemu denganmu!” jawab Puloh, lalu menurunkan senjata yang ia pegang ke arah bahu Jonathan kemudian menembakannya.


“Akkh!” Jonathan terpekik kesakitan. Tembakan barusan bukanlah peluru, namun sebuah cairan obat terlarang.


“Kau!” Ia menatap Puloh dan Pilot bergantian dengan tajam. Ia mencekik Puloh, mengeluarkan senjata, mulai menembak ke segala arah karena penglihatannya mulai kabur efek obat yang ditembakkan Puloh tadi.


Beberapa pengawal langsung mendekat dan melindungi Arsen, setelah melihat gelagat aneh di dalam helikopter.


“Aaakkhh!” Jonathan berteriak kesakitan, kepala dan seluruh tubuhnya terasa lemas.


Tak lama, Jonathan langsung tersungkur. Tangannya langsung di borgol oleh bawahan Arsen, ia langsung ditarik keluar dari helikopter dengan tubuh gemetar hebat.


“Tentu saja menyerahkannya pada pihak yang berwajib,” Arsen berkata dengan seringai devilnya.


Puloh, Pilot dan Co Pilot turun dari helikopter, merunduk hormat pada Arsen. “Bagus, kalian sudah melakukan yang terbaik. Aku adalah pria yang suka menepati janji. Kalian bertiga pergilah keluar negri, jalani hidup baru. Jangan membuat ulah lagi. Jika melakukan hal yang sama, aku pastikan kalian akan menyesal.” ujar Arsen.


“Terimakasih, Tuan Muda.” jawab mereka. Lalu berjalan pergi dari sana. Yang jelas, mereka bertiga hanya mengetahui informasi jika Arsen putra Berend.


“Ayo, kita berangkat menyerahkan dia pada yang berwajib.” ajak Arsen.


Di sepanjang perjalanan, Jonathan mengalami halusinasi tinggi. Ia tak bisa berjalan dengan benar. Arsen bukannya takut, ia malah senang karena dapat membalaskan kejahatan pria itu yang pernah melukai Mom nya.


Tadi, ia telah menyusun rencana untuk menjebak Jonathan. Xander Pim dan Neren fokus memusnahkan semu bawahan Jonathan, kemudian giring dia naik helikopter. Di tempat helikopter semua bawahan sudah diganti dengan bawahan Berend, sedangkan bawahan Jonathan sudah di siksa dan dipukuli oleh Berend.


Jonathan masih dengan pedenya memerintah semua bawahan yang ia lewati dari lorong kamarnya hingga dipuncak gedung dimana helikopter parkir. Padahal semua pria berjas itu bukanlah bawahannya, saking ia tak mempedulikan dan peka terhadap wajah para bawahannya.


Saat di dalam mobil, sebelum mengantarkan ke polisi, Arsen tertarik dengan isi tas Jonathan. Ia membuka isinya, kemudian menemukan kelicikan Jonathan.


“Wah, kau kakek-kakek pencuri ulung!”


“Paman! Kita harus kembali kembali ke apartemenku sekarang!” pintanya pada sang sopir.


Di apartemen, Jonathan masih diikat. Ia masih teler, bahkan air ludahnya mulai menetes keluar dengan sendirinya.


“Suntik dia satu kali lagi dengan dosis sedang!” perintah Arsen. Ia sedang asik mengotak-atik laptopnya.


Tak lama, keluarlah beberapa kertas penting dari mesin print. “Karena kau mencuri harta milik Van Hallen, maka aku akan mengambilnya kembali!” ujar Arsen.


“Pegang dia baik-baik!” perintah Arsen menatap bawahnya.


Ia celupkan jempol Jonathan pada tinta dan menempelkan jari itu di atas kertas yang tadi ia buat.


Setelah menyelesaikan semua keinginannya, Arsen meminta bawahannya mengantarkan Jonathan ke polisi.


Tiga hari kemudian, Jonathan sudah pulih dari halusinasinya. Ia tengah berada di dalam jeruji besi. “Keluarkan saya!” teriak Jonathan lantang mengguncang besi jeruji itu.


Waktu terus berlalu, hingga terjadinya persidangan, Jonathan di bawa ke ruang sidang. Di sana pengacara Jonathan tak bisa lagi membelanya, karena bukti kejahatan Jonathan telah diterima beberapa saksi.


Waktu diserahkan ke sel kemarin, Jonathan dalam ke adaan berhalusinasi setelah mencicipi obat terlarang itu. Kesalahan lainnya, ia menjual bagian organ anak-anak dan lainnya. Menipu banyak orang.


Sidang pun di tutup, Jonathan di jatuhi hukuman mati karena telah banyak membunuh dan menjual anak-anak, menjual dan mengkonsumsi obat terlarang.


Irfan terenyuh saat menyadari jika Jonathan telah menipu dan membuat ia terprovokasi dengan kakak laki-lakinya, Wizza. Belum lagi, ratusan milyar yang telah ia berikan pada Jonathan untuk persiapan perusahaan baru yang dijanjikan Jonathan dengan getah katilayu yang bisa menjadi amber.


Ia memijit keningnya, merasa lelah.


“Kakek!” sapa Frans, kemudian ia langsung memeluk Irfan yang tampak bingung.


“Kakek sibuk, ya, akhir-akhir ini. Jarang banget menemaniku bermain.”


“Maaf, ya. Maafkan Kakek, ada banyak pekerjaan di kantor.” jawab Irfan. Lalu, mengelus kepala Frans lembut.