
David salah satu Asisten Pribadi Andrean tengah berdiri tegap di depan pintu mobil. Ia telah memasukkan beberapa koper ke dalam mobil.
Shalsabilla menangis sesungukan memeluk Sakinah, Arhen dan Ardhen juga memeluk Arsen dan Jimi sambil menangis. Tak ingin rasanya berpisah.
“Aku pasti akan sangat merindukan kalian. Huhuhuhuhu.” Suara Shalsabilla tercekat dalam tangis.
“Aku juga pasti merindukanmu. Jangan menangis lagi.” Sakinah menghapus air mata Shalsabilla.
“Jim, aku titip Billa dan Arsen, ya.”
“Iya. Kamu juga baik-baik di Belanda.” jawab Jimi. Ia memeluk dan menepuk-nepuk bahu Billa. Mengelus pucuk kepala Arsen.
Sakinah, Arhen, Ardhen menaiki mobil. “Dadah!” Melambaikan tangan.
“Daaaaah, hati-hati di sana. Aku pasti akan merindukanmu!”
David melajukan mobilnya segera.
Kinah melarang Billa dan Arsen mengantarnya ke Bandara, ia takut goyah saat melihat wajah mereka berdua menangis. Setidaknya, ada beberapa waktu saat akan terbang masuk ke dalam pesawat untuk menangkan dirinya. Jika mereka ada di bandara dan melihat mereka dalam keadaan menangis, tentu itu membuat iman Sakinah goyah. Ia pasti tak akan kuat meninggalkan salah satu putranya dan sahabat baiknya.
Kemarin mereka menghabiskan waktu bermain-main bersama, mengambil beberapa foto, seolah rasanya mereka akan pergi untuk selamanya dari Indonesia ini. Sakinah duduk termenung.
‘Kinah, aku beli es krim strawberry vanilla, ini buat kamu. Es krim durian buat aku.’ ucap Billa menyodorkan es krim.
‘Kinah, kau harus menjaga penampilanmu. Ya ampun! Kau ini, kenapa tidak berdandan sama sekali. Anakmu tampannya selangit. Orang-orang tak akan percaya jika mereka anakmu kalau tampilanmu seperti ini!’ Pekiknya.
‘Bukankah ada kamu Ibu kedua mereka, cantik paripurna, seksi badai.’ jawab Kinah terkekeh.
‘Astaga Kinah! Kau masih tidur jam segini? Aku heran, kenapa anak-anak bisa rajin dan pintar sedangkan dirimu tukang tidur dan begini pemalasanya bergerak!’ teriak Billa.
‘Baju ini bagus untukmu, cocok dengan hijabmu. Ah, ini juga bagus, ini juga. Ya ampun, kamu kalau dandan sebenarnya cantik banget. Kenapa sih kamu gak mau dandan? Jadi burik gini 'kan!’ Billa protes.
Sakinah tersenyum pilu, begitu banyak deretan kenangan slow motion di dalam bayangan otaknya. Ia menatap kaca jendela mobil. Lalu lalang kendaraan melewati mobil mereka yang juga sedang melaju.
Arhen dan Ardhen memegang tangan Sakinah, menatap wajah Ibunya.
“Mom jangan terlalu bersedih. Kita pasti bisa melalui semua ini, Abang dan Miss akan segera menyusul kita ke Belanda kok. Jangan khawatir.”
“Iya, Mom. Percayalah, Abang pasti akan segera menyusul kita.”
Sakinah menoleh pada kedua putranya, tersenyum, lalu mengelus kepala mereka, menciumi pipi Arhen dan Ardhen. “Mom baik-baik saja, kalian yang jangan terlalu khawatir.” ujar Kinah.
Mereka telah sampai di Bandara.
Sebuah jet pribadi telah menanti, karpet merah terkembang, pramugari dan pramugara menyambut dengan ramah, mengatupkan keduanya telapak tangan mereka.
Barang-barang Kinah di bawa oleh pramugara. Di iringi masuk oleh David dan lainnya.
Sakinah menatap setiap sudut jet itu. Arhen dan Ardhen juga berdecak kagum.
“Silahkan, Nyonya.” David mempersilahkan Kinah duduk.
“Silahkan, Tuan Muda.” lanjutnya lagi pada Arhen dan Ardhen.
Perlahan, jet pribadi itu mulai landing, meliuk ke kiri, ke kanan, lalu berbelok menukik ke kiri naik ke atas tajam. Sakinah sampai memegang pegangan kursi, begitupula dengan Arhen dan Ardhen.
Beberapa saat jet telah naik di atas awan, melayang-layang seperti diatas ayunan. Sakinah dan Putra-putranya sudah terlihat relaxs, mereka menoleh ke jendela kaca jet itu. Melihat gundukan awan yang seperti kapas.
Tak lama, pramugari mulai memberikan mereka minuman dan cemilan serta makanan.
Arhen dan Ardhen bahkan berjalan-jalan, mengintip ruang pramugari saking penasarannya.
“Tuan Muda menginginkan apa? Kami akan segera menyiapkan.” ucap seorang pramugari ramah.
“Tidak ada, hanya melihat-lihat saja.” jawab mereka.
Namanya juga anak-anak, dunia yang selalu ingin tahu dan aktiv. Walaupun mereka memiliki IQ tinggi, mereka tetaplah anak-anak.
“Iya, bagus.”
“Wah, lihat ini Dik!”
“Dik, coba lihat ini. Aku bisa menangkap awan. Hahaha.” Arhen membayangkan menggenggam awan di tangannya di sebalik kaca.
Ardhen menempelkan wajahnya dikaca jendela jet pribadi itu. “Aku bahkan bisa makan awan.” ucapnya tak mau kalah.
Para pramugari terkekeh kecil melihat mereka.
Arhen dan Ardhen berlari-lari kecil bolak balik sembari terkekeh. Bergelut, main gelitik-gelitikan sampai mereka berhenti karena lelah.
Arhen lelah bermain, ia kembali duduk disamping Sakinah, Ardhen pun juga mengikutinya. “Bagus ya Mom, jetnya. Apa mom suka?” tanya Arhen.
“Iya, bagus.” jawab Sakinah.
“Tenang Mom. Nanti Kami akan membeli ini juga, kita akan keliling dunia.”
Sakinah tersenyum kecil. “Makasih ya, Mom sangat senang mendengarnya. Semoga anak-anak Mom sehat selalu dan mendapatkan apapun yang diinginkan.”
Entah berapa lama mereka menempuh perjalanan. Sakinah, Arhen dan Ardhen bahkan sudah tertidur.
Saat mereka terbangun, hari sudah gelap, dari kaca jendela pesawat terlihat cahaya lampu berkerlipan kuning dan putih. Perlahan bangunan sudah mulai tampak, jalan-jalan juga sudah mulai kelihatan.
David berjalan mendekat. “Nyonya, Tuan Muda, kita akan sampai tolong pakai kembali sabuk pengaman Anda. Kita sebentar lagi akan mendarat.” jelasnya.
Sakinah memasangkan sabuk pengaman Arhen dan Ardhen, lalu memasang sabuk pengamannya.
Sama seperti hendak naik tadi, pas mendarat, jet itu juga sedikit bergetar, menukik berbelok sedikit, lalu turun ke bawah.
Mereka turun dan telah disambut oleh karpet merah bersama para pria berbaju jas. Seorang wanita yang sangat Sakinah kenal telah berdiri di sana.
“My Grandsons!” (Cucu-cucuku) serunya, ia rentangkan kedua tangannya.
Arhen dan Ardhen memeluk Sekar. Sakinah pun juga menyalami dan menciumi punggung tangan Sekar.
“Ayo kita pulang! Maaf, Andrean tidak bisa menjemput, ada urusan yang sangat penting.” ucapnya pada Kinah lembut.
“Sorry, ur Daddy gak bisa jemput. Don't angry, ok! Grandma akan belikan apapun yang kalian mau sebagai permintaan maaf. Boleh 'kan?” Sekar menatap Arhen dan Ardhen.
“Ok, kita akan menagihnya nanti. Deal?!” Arhen menjulurkan jari kelingkingnya.
“Deal!” Sekar menautkan jari kelingkingnya juga, serta menyambut kelingking Ardhen yang juga ikut mengulurkan kelingking setelahnya.
“Ayo, mari, kita pulang!” ajak Sekar.
Mereka menaiki sebuah mobil yang terlihat unik bagi Arhen dan Ardhen, mobil yang cukup panjang. Mereka duduk ditengah, seperti sofa, ada meja dan televisi di dalamnya. Sedangkan di depan dan dibelakang ada pria berpakaian berjas.
“Kalau mau minum atau makan cemilan, ambil saja di sini.” Sekar membuka sesuatu di bawah televisi, di sana ada minuman dan beberapa makanan.
Kedua anak itu langsung mengambil makanan dengan riang.
“Apa kalian suka?” tanya Sekar.
“Iya. Makasih, Nek.”
“Now, call me, Grandma. Orang-orang tidak akan tahu dengan panggilan Nenek.”
“Hm, Ok Grandma.”
Sakinah hanya bisa menatap keakraban mereka dengan tersenyum kecil.
...***...