Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
My Love


Callista memutar stir mobilnya kembali ke Mansion. Mobil Dedrick dan dirinya berselisih jalan, sehingga mereka tak bertemu.


“Aku tak bisa kehilanganmu! Baiklah, aku akan mengalah, tak apa jika jadi istri kedua. Lihat pakaian wanita itu, aneh sekali. Aku yakin Tante Sekar pasti lebih setuju denganku dari pada wanita aneh itu.” Callista berbicara sendiri sembari memukul-mukul stir mobilnya.


Tak lama, Callista pun sampai di Mansion.


Ia dipersilahkan duduk kembali oleh Maid. Sakinah juga mendekat dan menyambut ramah Callista.


Callista komat kamit dengan bahasa Belanda, Sakinah hanya diam saja karena tak mengerti. Clara mendekat dan menerjemahkan bahasa.


“Oh, Kau tidak bisa bahasa Belanda?” Callista berkacak pinggang, melirik Sakinah tak henti-hentinya dari atas sampai bawah. Ia mendengus, mengejeknya.


“Apa yang menonjol dari dirimu, sehingga My Love suka padamu?”


“Cantik? Ya, lumayan, tetapi aku juga tak kalah cantik, lebih tinggi aku darimu, bodyku lebih ok dari mu!”


“Pintar? Sepertinya jauh lebih pintar aku darimu.” oceh Callista tak hentinya.


“Apa dadamu besar?” Callista berusaha membuka hijab dan menarik dress panjang Sakinah.


“Nona, maaf, perbuatan Anda sangat lancang!” ucap Clara menghalangi tangan Callista.


“Dasar pembantu! Pergi sana!” Callista mendorong kuat tubuh Clara sampai ia terhuyung.


“Clara!” seru Sakinah.


“Saya tidak mengerti maksud Anda Nona, saya tidak mengenal Anda sebelumnya, sepertinya kita tidak mempunyai masalah apapun sebelumnya.” ujar Sakinah.


“Ada! Kau dan aku kini memiliki masalah! Siapapun yang mendekati My Love, akan menjadi masalah dan musuhku!” Callista mendorong bahu Sakinah.


Nani dan Amy mendekat serta Kepala Pelayan memegang Callista.


“Nona, Jika Anda bersikap kasar begitu pada Nyonya kami, silahkan Anda keluar dari Mansion ini!” usir Kepala Pelayan.


“Dasar Kepala Pelayan tidak tahu diri, awas jika aku menjadi istri Dedrick, aku akan mengusir kalian semua terlebih dahulu!” geram Callista.


“Sepertinya Anda bermimpi terlalu jauh Nona, rubahlah terlebih dahulu sikap Anda, baru bermimpi seperti itu.” balas Kepala Pelayan.


“Awas kau Wanita Rubah!” maki Callista menatap Kinah tajam, saat tubuhnya dipaksa keluar.


“Ada apa ini?” teriak Andrean dari atas. Ia melihat adanya keributan.


“Andrean! Kau lihat para pekerja mansion ini, aku diusir.” adu Callista.


Andrean berjalan turun, Callista pun dilepaskan.


“Ada apa ini?” tanya Andrean setelah ia dekat.


“Ampun Tuan Muda, Nona Callista hendak memaksa membuka hijab dan Pakaian Nyonya Muda.” jawab Nani.


Andrean menatap Callista tajam. “Apa itu benar?” tanyanya.


“Iya, kau sudah berjanji padaku akan membuat aku dengan Dedrick bersama, tetapi apa ini? Dia sudah punya istri dan anak, jadi semua itu beneran, lalu kalian menekan berita itu agar tidak terkuak.”


“Callista, kau sering sekali mengabaikan peringatan ku dan berbuat nekat.”


“Itu karena kinerjamu lambat!” protes Callista.


“Kinah, pergilah dari sini.” pinta Andrean lembut.


“Iya,” jawab Sakinah patuh, memilih pergi bersama Clara dan Amy.


Sedangkan Nani dengan sigap segera ke dapur membuatkan minuman dan cemilan hanya dengan sekali kode mata dari Andrean.


“Kenapa keluargamu bisa menyetujui wanita seperti itu untuk menjadi wanita Dedrick?!” tanya Callista setelah Sakinah pergi dan hanya ada dirinya dan Andrean saja.


“Memangnya kenapa dengan dia?”


“Tampilannya aneh seperti itu.”


“Menurutku cantik, tidak aneh sama sekali.” jawab Andrean.


“Hello?! Kamu tidak sakit 'kan? Apa kalian semua sudah terhipnotis oleh wanita aneh itu? Ku dengar-dengar wanita berpenampilan seperti itu suka dengan hal mistis.”


“Sudahlah Callista, kau itu bicara jangan mengada-ada! Hanya karena cemburu kau mengejeknya. Ada apa kau kesini?”


“Kau tau 'kan sekarang umurku sudah 30 tahun.”


“Ya, lalu?”


“Terus?”


“Ya, aku sudah didesak dan dipaksa orangtuaku menikah. Aku ingin menikah dengan Dedrick, masa kamu tidak paham juga!”


“Oooh.”


“Kamu hanya bilang, Oh?”


“Kau harus bantu aku mengusir wanita aneh tadi dan anaknya dari Mansion ini, aku yang akan menjadi istri Dedrick.”


“Kau tau, anak wanita itu benar-benar nakal, dia hampir setiap hari membuat aku jengkel.” lanjut Callista.


“Maksudmu, Arhen?”


“Iya.”


Andrean malah terkekeh mendengarnya, setidaknya bukan hanya padanya saja Arhen bersikap begitu.


“Benarkah Arhen itu anak Dedrick dengan wanita aneh itu? Bukankah kau bilang dia tak bisa disentuh wanita? Kalau tau begitu, aku akan perkosa Dedrick saat itu.” rungutnya.


Andrean hanya diam saja, tak banyak ia tanggapi ucapan Callista.


“Kenapa kau hanya diam saja? Kita sudah saling kenal sejak kecil. Setidaknya bantu aku bersama dengan Kak Dedrick.”


“Iya. Sekarang kau kembalilah.” Andrean berdiri, hendak pergi.


“Kau selalu saja begitu, tetapi tak ada hasil!”


“Pergilah!” Andrean pergi.


_________________


Di Resort milik Alex.


“Hai, Uncle.” sapa Arhen dan Ardhen.


Mereka berbincang-bincang dengan bahasa Belanda.


“Uncle, aku ingin memasak sendiri ya.” pinta Ardhen. Anak laki-laki bungsu Sakinah ini memang sangat senang jika diajak ke sini. Ia bisa bebas memasak bersama koki pilihan.


“Hai Paman Koki, bolehkan aku ikut membantu.”


“Silahkan, Tuan Muda.” jawabnya sopan.


Sedangkan Arhen lebih memilih menikmati pemandangan resort.


Jepret! Jepret! Mengabadikan moment-moment dimana ia berada, begitulah Arhen.


_____________


Hans sedang sibuk meneliti setiap rinci dua kerangka kalung yang diberikan Arsen padanya.


‘Sebenarnya dia beneran anak kecil atau orang dewasa berbadan kecil?’ Hans bergumam sembari menatap kerangka kalung itu.


Data Arsen yang telah ia baca dan pelajari memang benar anak itu berumur 6 tahun, 2 bulan lagi baru 7 tahun. Anak itu memiliki IQ 180 memiliki dua saudara kembar yang berbeda rupa.


“Ini perbedaan kerangkanya di sini. Kita harus membuat dua perpaduan kedua kerangka ini dengan logo khusus.”


Ya, logonya dengan huruf A dan R yang disambung, huruf A yang diatasnya dengan logo permata diamond, sedangkan di kaki ujung huruf R dengan logo bunga mekar.


“Menurutku, permata itu lebih bagus terlihat kecil dan imut tetapi elegan.” ujar Arsen, ia membayangkan Ibunya yang senang berpenampilan sederhana tetapi tetap yang paling tercantik baginya.


“Rantai dengan permatanya ikuti rantai dari kerangka kalung yang ini.” pinta arsen. “rantai panjangnya, kerangka yang ini, lalu diberi permata kecil disetiap jarak rantainya.” tunjuk Arsen.


“Kalau diberi permata di rantai panjang, tidak elegan lagi Tuan Muda. Bagaimana kalau kita buat dua model kalung. Pertama terlihat glamor dan mewah yang fokus menunjukkan permatanya, sedangkan yang satunya lagi bermata kecil elegan.” usul Hans.


Arsen berpikir beberapa saat.


“Baiklah, kalau begitu atur saja, Kak. Aku akan menghubungi Dad Jimi, untuk mengatur perusahaan yang ada di Batam. Kamu cukup fokus dengan tugas ini saja dulu, Kak.”


“Baik, Tuan Muda.”


Arsen menghubungi Jimi, menjelaskan rencana dan tugas selanjutnya, kemudian menelfon Berend.


“Atur saja Paman, besok kita akan bertemu dengan mereka, pastikan langkah kita tidak ketahuan oleh orang lain terlebih dahulu.” ucap Arsen.


...***...