Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Dia Lucu


“Nona, apa Anda baik-baik saja? Maaf, tadi saya tidak melihat Anda, ini adalah kecerobohan saya yang berjalan sambil bermain hp.” Pemuda tampan itu tersenyum, kemudian meraih hpnya yang tergeletak di lantai, terlihat sedikit retak. Aini meneguk salivanya, dari logo dan warna gold handphone genggam itu, ia bisa memastikan sangat mahal dan bermerek.


“Ma-maafkan saya!” Aini masih melirik hp itu setelah tersadar karena pria di depannya meraih hp yang terjatuh itu.


“Hpku tak apa, ini hanya anti goresnya yang retak, hpnya masih baik-baik saja, yang penting Anda tidak apa-apa 'kan? Apakah kaki atau tangan Anda terasa sakit?”


“Oh, tidak. Aku baik-baik saja!” jawab Aini, ia masih menatap pria tampan itu.


Pria tampan itu tersenyum manis. “Hm, apakah Anda ingin berfoto atau meminta tanda tangan saya sebagai wujud permintaan maafan saya?” tanyanya dengan wajah yang masih ceria.


Pria tampan itu adalah Arhen, ia baru saja keluar hendak mencari Lucas yang sejak tadi tak masuk-masuk ke dalam kamar, nomor hp pemuda itu juga tidak aktiv.


Aini masih diam dan menatapnya, membuat ia grogi dan canggung. Tatapan itu terlihat tidak seperti para fans yang kedua bola matanya berbinar, terlihat seperti tatapan biasa yang tak peduli namun dalam. Aneh.


“Nona!” Arhen memanggil Aini yang masih diam. “Nona!” Lagi, Arhen memanggilnya, bahkan melambaikan tangan.


“Ah, maafkan saya Tuan Muda, saya harus pergi karena buru-buru!” Aini segera berlari meninggalkan Arhen begitu saja saat teringat ia harus mengambil absen untuk dirinya dan Mutiara.


“Hm?” Arhen memiringkan kepalanya. “Dia benar-benar aneh. Tatapannya itu apa? Tidak seperti para fans atau haters. Sedikit seperti Rufia menatapku, namun tatapannya dalam, seperti orang yang menahan kesedihan. Apa dia habis dimarahi manager hotel? Atau tamu hotel yang memarahi?” Arhen bermonolog sendiri.


“Hm, tapi dia lucu, biasanya aku tak pernah menawarkan diri untuk berfoto dan memberikan tanda tangan pada orang lain terlebih dahulu, bagaimanapun. Akan tetapi, dia mengabaikan ku, apakah dia tidak tahu kalau aku artis? Hm, bisa jadi sih, soalnya waktu dikampung Mom, banyak yang gak tahu aku, setelah Papa Miss Billa mengenalkan aku pada warga, barulah mereka kenal, padahal posterku terpajang besar di baliho.” Arhen terkekeh kecil mengingat masa kecilnya di kampung.


“Rasanya menyenangkan juga, kalau ada orang yang tidak kenal aku, tak meminta foto dan tanda tanganku, terkadang aku merasa lelah juga melayani para fans!” Arhen tersenyum kecil dengan menyibakkan rambutnya.


“Ah, kemana sih Lucas, lama sekali!” Arhen pun kembali teringat Lucas. Dia melanjutkan kembali berjalan menyusuri koridor.


Aini berlari kencang, mengisi absen dengan cepat, kemudian langsung berkumpul di ruangan. Ia mendapatkan tugas membersihkan kaca dan bagian mengepel lantai bersama Mutiara.


“Tetapi kalau tamunya baik dan dapat tips besar, lebih enak, hehehe.” Aini cengengesan.


“Yah, kalau begitu sih aku juga mau. Akan tetapi kalau seperti tamu bawel tadi, ah sudahlah, udah pelit, tips kecil, banyak mau lagi!”


“Hehehehe! Sudah, sudah, ayo kita membersihkan kaca!” ajak Aini. Mereka berdua pun membersihkan ruangan kaca itu.


Selama bekerja, Aini terus melamun. “Hm, dia bertambah tampan dan keren, pasti dia sudah lupa denganku, buktinya tadi dia memanggilku nona. Ya, siapa juga yang akan mengenalku, gadis desa bukan siapa-siapa, miskin, bahkan tak ada lagi keluarga.” Dia berkata dalam hatinya, sambil membayangkan pertemuannya dengan Arhen di koridor tadi.


“Eh, Nur! Kau tahu tidak! Artis berdarah Indonesia Belanda itu comeback go Indonesia. Kabarnya dia menginap di hotel ini loh.” Mutiara bergosip ria dengan sangat bersemangat.


“Eh, Nur! Kau dengar tidak?” Mutiara meneriakinya, karena Aini terlihat bengong.


“Hm, ya aku dengar kok, yang kamu katakan, aku juga tahu dia ada di hotel ini,” jawab Aini.


“Ya, ya, ya. Susah cerita sama kamu! Kamu 'kan gak suka nonton, gak suka selebriti. Tapi untunglah kau cukup tahu infonya. Dia sangat tampan loh, nih fotonya!” Mutiara menunjukkan foto Arhen berfose dengan produk Indonesia yang diambasadorinya kepada Aini.


“Ganteng dan glowing 'kan?” puji Mutiara. “aku fans banget sama dia, makanya aku meminta kak Diva untuk menunjuk kita berdua bekerja di hotel ini. Aku ingin melihatnya, dari jauh pun tak masalah. Kemarin saat dia sampai di hotel kita sedang sibuk, semoga saja, saat dia akan keluar untuk jumpa fans, kita bisa melihatnya, dari jauh tak apa!” Mutiara tampak antusias dan menggebu-gebu.


“Oow!” Aini hanya mengangguk.


“Ah, respon apa itu, jika bicara masalah seperti ini, asiknya sama Dewi, kalau sama kamu, duh, cocoknya masalah kerja aja!” celetuk Mutiara kesal melihat reaksi Aini, padahal ia sangat bersemangat menceritakan Arhen.


Aini hanya terkekeh kecil sambil melanjutkan membersihkan kaca.


‘Aku sudah bertemu dengannya tadi, bahkan sebelumnya kami pernah berbincang, biarlah ini kusimpan ini semua dalam hati,’ Aini bergumam dalam hati.