
Adegan yang sangat bahaya sekarang. Dimana, dua orang sama-sama saling menodongkan senjatanya.
Dor! Tembakan itu lebih dulu menembak bawahan Andrean, sehingga kini Pria yang mengikuti mereka sejak tadi masih berdiri gagah hendak menembak Andrean yang sudah melemah karena banyak mengeluarkan darah, sedangkan Sakinah memeluk Andrean ketakutan.
Arsen memakai kacamata, keluar dari mobil, melemparkan sesuatu sebelum pintu mobil terbuka lebar. Barang yang sama ia berikan pada Andrean tadi. Barang yang bisa meledak dan mengeluarkan asap, lalu menarik semua senjata yang terbuat dari jenis besi dan alumunium.
Sekali lagi, Arsen melempar sesuatu ke depan saat pintu mobil terbuka lebar.
Douar! Meledak! Satu kali lagi Arsen melempar, asap semakin tebal, membuat ruang lihat semua orang benar-benar gelap. Tangan pria yang memegang pistol itu tertarik karena benda yang dilemparkan oleh Arsen bisa menarik senjata yang ia pegang.
Ia sampai terjatuh karena mencoba mempertahankan senjatanya, bahkan ia tak sengaja menekan bingkai tembaknya. Untung saja pistol itu mengarah keatas karena ia saling menarik pistol dengan barang yang dilempar oleh Arsen.
Akh! Ia jatuh tersungkur karena masih mempertahankan pistolnya. Tetapi akhirnya, pistol itu terlepas juga.
Semua senjata yang berada disekitar sana, termasuk senjata pria itu tertempel dekat dengan barang yang Arsen lempar itu. Setelahnya, Arsen memilih berlari kencang, menuju ke satu arah.
Di dalam kabut asap yang tebal itu, hanya ia dan Andrean yang bisa menatap jelas karena mereka memakai alat.
“Aakhh!” Terdengar suara pekikan yang melengking.
Apa yang terjadi?
Seorang pria ditusuk oleh Arsen dengan jarum yang mengandung cairan. Pria yang membuat ia sangat marah, pria yang berada dalam video itu, pria yang berani membuka hijab ibunya secara paksa, pria yang membuat rambut panjang ibunya jadi pendek.
Tadi, dari kejauhan ia bisa melihat dengan jelas saat titik yang ia tandai mendekat dan mengikuti titik koordinat orangtuanya. Ia bersiap, ia ambil peralatan canggih yang ia bawa di dalam tasnya itu.
Dari jauh, ia melihat pria itu dari dalam mobil menyaksikan ia menembak para pengawal yang membantu Sakinah dan Andrean.
“Dalam dunia ini yang paling aku cintai adalah Mom! Jangan pernah membuat ia terluka dan bersedih!” ucap Arsen pada pria yang sudah dalam keadaan bersujud.
Kini, Pria itu setengah sadar, matanya berkunang, kepalanya terasa berat, ia mulai berhalusinasi berat.
Andrean melihat pergerakan Arsen di dalam kabut itu. Setelah ia melihat pria itu mulai roboh dan terlihat bersujud, ia mengucek matanya dan mengeluarkan lensa yang ia pakai.
Asap pun mulai memudar.
Suara serunai polisi pun terdengar dengan iringan suara ambulance. Orang-orang banyak yang terluka bahkan ada yang meninggal. Mereka diangkat ke dalam mobil ambulance, yang terluka juga diobati ditempat, beberapa orang diborgol. Termasuk pria itu, pria yang sudah berhalusinasi berat itu!
Sakinah menangis, ia memeluk Arsen, lalu juga memeluk Andrean.
“Terimakasih ... ayo, kita harus segera ke rumah sakit, kamu terluka parah.” lirih Sakinah.
“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik sa-” Belum selesai Andrean menyelesaikan ucapannya ia sudah jatuh pingsan. Darahnya benar-benar banyak keluar sejak tadi.
**
Sebuah Desa di Indonesia, tepatnya dikampung halaman Sakinah.
Rukhsa dan Ayahnya sedang melihat berita selebriti, Artis cilik yang dulunya populer hanya diinstagram dan yutb saja, kini masuk dalam acara televisi. Sejak seminggu ini, berita dia menggemparkan, tentang artis cilik dari Indonesia adalah seorang anak haram CEO yang memiliki perusahaan di Singapore dan Belanda.
Artis cilik Indonesia yang memiliki bakat, namun masih dipertanyakan dia anak siapa, anak haram milik siapa?
Kini, tayangannya diputar di televisi swasta satu-satunya yang bekerja sama dengan televisi swasta singapore, berita yang sangat menghebohkan, langsung terhubung dari Negara Belanda.
Tampak seorang pengusaha yang terlihat tua namun masih gagah perkasa, menyebut namanya dengan Wizza Van Hallen. Rukhsa dan ayahnya membaca ucapan mereka dari translate yang terpampang ditelevisi itu.
Lalu, tampil seorang anak laki-laki yang gagah memesona, ia adalah Arhen, ia memperkenalkan dirinya, Dia lah Artis cilik yang menjadi topik hangat akhir-akhir ini, kemudian perkenalan selanjutnya disusul oleh Ardhen.
Ardhen diakui sebagai cucu ketiga oleh pengusaha tua itu.
“Oh, cucu-cucuku.” ucap Ayah Rukhsa tersenyum penuh rindu.
“Mereka terlihat bertambah besar dan keren, ya, Yah.”
“Iya.”
Mereka berdua melihat dengan takjub dan rindu.
Acara itu adalah pengumuman keturunan Van Hallen yang berada di Belanda, ia memiliki tiga orang cucu, cucu pertama dan menantunya dirahasiakan dari publik, Rukhsa dan Ayahnya tersenyum kembali.
“Lebih baik Kakak dan Arsen disembunyikan. Kakak bisa diusik karena dia lemah, sedangkan Arsen terlalu bahaya, takutnya ia didekati orang-orang jahat karena dia sangatlah pintar.”
**
Seminggu kemudian.
Andrean telah keluar dari rumah sakit, lengannya masih diperban.
Arhen dan Ardhen sedang melakukan video call bersama Dedrick.
‘Syukurlah kalian semua baik-baik saja, Papa senang dan merasa lega.’ ucap Dedrick. Tadi, ia baru saja melakukan panggilan video call dengan Andrean, menanyakan kabar dia dan Sakinah.
“Iya, Pa. Papa tenang saja, Papa harus fokus di Amerika, jangan sampai berpikir pulang kembali, padahal baru berangkat ke sana. Kami janji akan berkunjung ke sana dan membawa Abang juga.”
‘Hm, memangnya ... sekarang, Papa juga belum boleh melihat keponakan pertama Papa, ya?’
Arsen akhirnya berdiri setelah melihat mata kedua adiknya itu seolah memohon. “Hallo Papa, salam kenal.”
‘Kamu?!’ Dedrick terkejut, anak yang ia anggap anak teman Sakinah, wajahnya sangat berbeda dengan siapapun, tidak seperti Sakinah, tidak juga seperti dirinya ataupun Andrean.
‘Astaaagaaaa! Aku tak menyangka, aku jadi ingin pulang bertemu denganmu.’
“Tidak perlu Pa, biar kami menemui Papa ke sana.” jawab Arsen tegas.
Cukup lama, panggilan itu pun segera berakhir.
**
Keesokan harinya.
Andrean dan Arsen memakai pakaian berjas hitam dengan kacamata hitamnya. Mereka berdua sungguh memesona.
Mereka masuk ke dalam ruang tahanan.
Pria itu diikat disebuah kursi, Arsen dan Andrean duduk didepan pria itu. Dua polisi dan satu orang penyidik berdiri disamping mereka berdua.
“Katakan! Siapa pelaku utamanya?!”
Pria itu masih diam, tak menjawab satu patah katapun. Ia hanya menatap Arsen tajam.
Bruk! Satu pukulan bersarang diperutnya. Ia masih tetap saja bersikukuh, tak ingin membuka mulutnya.
Arsen berdiri, mengeluarkan jarum. “Apa kau suka ini? Aku punya obat penawarnya, apa kau ingin sembuh?” Arsen memainkan jarum itu dihadapan pria itu.
“Oh, ya, aku ingat. Kamu memiliki putri yang sedang kuliah di Spanyol, istrimu sudah lumpuh, bagaimana kalau aku beritahu jika kau bercinta dengan Monessa, lalu menjadikan putrimu-” ancam Andrean yang terpotong.
“Tidak! Aku mohon jangan!” potongnya cepat.
“Baiklah, kalau begitu, katakan siapa pelaku utamanya. Aku tidak akan mengganggu mereka.”
“Kamu pasti tau ... karena kamu berada dalam ruangan itu, bersama Barend saat itu.” Ia menatap Arsen.
Andrean mengalihkan pandangannya pada Arsen, anak itu malah mengalihkan pandangan ketempat lain. Artinya, ia tak mau diselidiki juga oleh ayahnya.
“Tetapi, siapa Anak itu? Bukankah dia anak Barend? Lalu kenapa-”
Aakh! Ia terpekik saat pergelangan tangannya disuntik oleh Arsen.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Tenang saja, itu hanya obat pelupa ingatan, dia akan lupa pertemuan kita setelah ini.” jelas Andrean.
“Ooh.”
“Iya, ayo, kita pergi, Pa.” ajak Arsen, ia langsung berdiri dan beranjak keluar.
Sedangkan Andrean mendekat pada pria itu, ia dalam keadaan setengah sadar setelah disuntik Arsen tadi.
“Aku akan menjawab pertanyaanmu yang tadi.” ucap Andrean, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah pria itu.
“Dia anak yang genius bukan? Kau bahkan sangat penasaran tentang itu!” Andrean tersenyum bangga.
“Anak Genius itu Anakku.”
Setelah mengatakan itu dengan bangga, ia langsung pergi, sedangkan pria itu lama tercenung, kemudian pingsan.
...*** End Season 1 ***...
Nb:
Abbe Andrean Van Hallen.
Sakinah
Arsen Ryker Van Hallen
Arhen Ryker Van Hallen
Ardhen Ryker Van Hallen.