Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Aku Akan Memukul Kepalamu


Setelah melakukan percintaan panas, Arhen dan Aini mandi, lalu memesan makanan yang diantarkan pelayan ke dalam kamar, mereka berdua makan dengan lahap.


Sejak tadi, Arhen makan sambil tersenyum kecil, tidak menyangka dirinya begitu mesum, tanda-tanda merah di leher, tulang selangka, bahkan tangan Aini pun ada, parah.


“Makasih, ya, Sayang,” ucap Arhen tiba-tiba, membuat Aini serangan jantung karena perasaan berdebar dimabuk cinta.


Pipi Aini kembali memerah, Arhen merasa sangat gemes. “Kau sangat cantik, menggoda dan juga liar sekali tadi!” goda Arhen lagi, membuat Aini salah tingkah, menyuap makanan dengan cepat, sampai mulutnya penuh seperti monyet makan.


“Hei, habiskan dulu makanan di mulutmu, itu sangat penuh, nanti tersedak, atau kamu mau aku bantu makan dari mulutmu?”


Uhuk! Uhuk! Aini tersedak mendengar perkataan itu. Dia tidak menyangka, suaminya itu sangat mesum.


Aini segera minum air, berdehem karena tenggorokannya terasa perih. “Kamu jangan berkata mesum begitu lagi. Masa makan dari mulut, menjijikan sekali!” keluh Aini.


“Aku mesum, ya? Tapi aku cuma mesum sama kamu seorang aja kok!” jawab Arhen jujur. Dan perkataan itu... membuat dia ingat ayah dan ibunya. Ayahnya selalu dikatai mesum oleh ibunya.


“Pftt! Hehehe!” Dia malah terkekeh sendiri mengingatnya. Sepertinya dia benar-benar mendapatkan semua karma, dia jadi mengerti kenapa ayahnya begitu, memang sangat menyenangkan mesum pada istri, apalagi jika istrinya menggemaskan seperti ini.


“Jangan tertawa seperti itu, aku akan memukul kepalamu, huh!” Perkataan Aini barusan mengingatkan dirinya pada gadis kecil masa lalunya.


★★★


Arhen kecil bertemu dengan Aini kecil diam-diam di pematangan sawah yang hijau, jalan itu jarang ditempuh anak-anak yang akan mandi ke sungai, hanya para petani saja yang akan melewatinya.


‘Hai, Aini. Aku senang kau datang juga, aku sudah lama menunggu di sini, sedikit susah menipu kakak laki-laki dan adikku, mereka khawatir membiarkanku sendirian.’ Arhen memberikan alasan.


Aini kecil memakai baju dress yang panjangnya selutut, berwarna orange dengan bunga-bunga berwarna kuning, rambutnya panjang sepinggang, lurus, tebal dan hitam, dia memakai bendo berwarna orange juga. ‘Iya, kita 'kan sudah janji bertemu di sini.’


Arhen memainkan air sawah di petak sawah dari pematang sawah dengan kakinya. ‘Kau sangat cantik, Aini,’ puji Arhen.


‘Kau juga tampan, artis terkenal dan anak orang kaya, aku jadi iri!’ balas Aini polos.


‘Untuk apa iri, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu aku ataupun kamu. Hm, makasih ya, kamu sudah nolong aku waktu itu,”’tutur Arhen tersenyum.


‘Ish, kamu kenapa selalu berterimakasih terus, sih! Kamu gak lupa bawa yang aku minta 'kan?’ Aini menatap Arhen penuh selidik.


‘Ehehehe, kalo lupa, gimana?’ tanya Arhen terkekeh ceria.


‘Huh, jangan tertawa seperti itu, aku akan memukul kepalamu!’ Aini menatap kesal Arhen.


‘Eheheh, nih, aku bawa, kok!’ Arhen memberikan jelly buatan Ardhen.


‘Waaaah, senangnya, akhirnya aku mendapatkan jelly ini juga!’ Aini langsung membuka bungkus jelly buatan Ardhen. Dia sangat penasaran dengan rasa jelly itu. Waktu itu, dia melihat Bang Edi dan Edrick memakan Jelly pemberian Ardhen. Jadi, dia sangat ingin mencobanya. ‘Hmmmm, enaknyaaaaaaa!’ serunya senang.


Hari-hari pun berlalu, mereka sering bertemu diam-diam di pematang sawah, Arhen memberikan banyak makanan buatan Ardhen untuk Aini. Hingga tiba-tiba, Arhen mengikat sebuah rumput di tangan Aini.


‘Aini, jika kita besar, menikah denganku ya, ini adalah cincin palsu lamaranku, nanti jika aku sudah besar dan mampu memberi permata indah nan mahal dengan uangku sendiri, aku akan menyorongkannya di tanganmu!’ Arhen berkata serius.


Aini bergidik ngeri, otak polosnya yang masih tidak sebanding dengan anak genius yang pikirannya sudah melebihi batas anak kecil normal itu, Aini tidak pernah memikirkan hal seperti itu, dia hanya menganggap Arhen teman. ‘Dasar anak kecil, kamu ngomong apa sih? Anak kecil gak boleh ngomong gitu!’


‘Hehehhe!’ Arhen kecil masih terkekeh dengan menyibakkan rambutnya.


‘Jangan tertawa seperti itu, aku akan memukul kepalamu!’ sewot Aini, tetapi Arhen tetap saja terkekeh.


Hingga hari Arhen ingin kembali ke Belanda. Mereka tak lagi bertemu di pematang sawah, tetapi di sebuah musholla, Arhen mengajak Aini berbicara berdua di samping musholla.


‘Aini, aku akan segera kembali ke Belanda, tidak tahu kapan kembali ke Indonesia lagi. Ini hadiah untukmu!’ Arhen memberikan sebuah bendo hello kiti berwarna pink.


‘Hm, aku gak tahu kalau kamu mau kembali ke Belanda!’ Aini merasa sedih, dia membuka gelang rajutan yang sedang ia pakai, dan memberikannya pada Arhen. ‘Ini hadiah untukmu, nanti aku akan mengganti hadiah baru saat kita berjumpa kembali!’


‘Baiklah, aku tunggu janjimu Aini, hehehe!’ ujar Arhen dengan terkekeh.


‘Jangan tertawa seperti itu, aku akan memukul kepalamu....’ lirih Aini bersedih, kemudian memeluk Arhen.


Arhen kecil dan Aini kecil pun saling berpelukan sebelum Arhen pergi ke Belanda.


★★★


Arhen larut dalam memori masa lalunya, dia mengusap wajahnya, kenangan memang tak mudah dilupakan, tetapi setidaknya dia akan mencoba menguburnya, dia tidak ingin melukai hati istrinya.


‘Ya, itu hanya janji anak kecil!’ batin Arhen.


“Uuh!” Aini langsung berdiri dan berlari ke toilet dengan terburu-buru karena tiba-tiba perutnya mules. Dengan bersamaan, hp nya berdering, karena hp itu berdering berkali-kali, Arhen berniat mengangkatnya.


“Tidak masalah 'kan, kalau aku mengangkat telepon istriku?” bertanya sendiri. “Hm, aku angkat saja, mungkin saja penting!” gumam Arhen lagi.


Arhen mengangkat hp Aini.


‘Hallo, Aini, iko awak Eric. Awak alah Tibo di rumah Aini ha, Aini indak juo mahubungi awak, jadi awak mintak nomor Aini ka Ramadhan. Dima Aini kini? Bia awak japuik!’ Terdengar suara laki-laki di sana dengan bahasa daerah.


Laki-laki yang mengaku bernama Eric dan memanggil istrinya dengan nama Aini, bahasa daerah yang jelas-jelas dimengerti oleh Arhen. Laki-laki itu berkata sedang berada di rumah Ramadhan, meminta istrinya menghubungi dirinya, kalau tidak, laki-laki itu ingin menjemput Aini.


Arhen teringat saat Aini pulang tadi, istrinya itu sedang menggenggam sesuatu. Dia berjalan ke arah sofa dan menemukan kartu nama yang tergeletak di lantai. Dia membaca nama itu.


“Eric Naufal Muzakki Sargus, dia---” Arhen menatap tajam kartu nama itu.