
Beberapa pertanyaan diajukan tim penyidik pada Irfan, mulai darimana uang yang ia dapatkan untuk mendirikan perusahaan, kemana saja uang penghasilannya dibelanjakan, kemana saja ia pergi dan membeli apa saja. Pertanyaan aneh semakin aneh.
“Tuan memiliki hobi dan makanan kesukaan apa?” Polisi itu bertanya kembali.
“Hobiku memancing, menikmati pemandangan. Dulunya, aku menyukai makanan seafood. Tetapi, kini aku sudah tua, tidak baik untuk kesehatanku, aku bisa kolesterol dan tekanan darah tinggi. Jadi, kini aku hanya bisa menyebutkan sayur dan buah sebagai makanan kesukaanku.” jawab Irfan.
“Tempat apa yang paling ingin Anda kunjungi, Tuan?”
‘Hm? Pertanyaan apa lagi ini? Apa aku harus jawab.’ gumam Irfan.
“Untuk sekarang, aku tak ingin kemana-mana.” jawabnya.
“Baiklah, terimakasih atas kesaksian Tuan. Tunggulah tiga hari lagi, sampai semuanya diproses.” ucap penyidik itu berkemas mengemasi barang-barang nya. Kemudian, membawa Irfan masuk ke dalam ruangan tahanan penjara khusus untuk pidana.
Penyidik itu memberikan hasil rekaman dan berkasnya pada Arsen. “Terimakasih sudah membantu kami, Tuan Muda.”
“Ya, itu adalah tugas masyarakat untuk membantu menegakkan kebaikan dan memberantas kejahatan bersama para petugas keamanan.” jawabnya tersenyum. Lalu, pergi dari kantor polisi itu bersama Xander Pim.
Setelah ia menyerahkan Jonathan, ia sering memberikan kesaksian dan bukti pada polisi, karena itu Arsen mulai dikenal oleh mereka. Apalagi, dia membawa nama Arsen Ryker Van Hallen. Dimana ia menyuntik Puloh dengan zat aneh saat itu, hingga ia menjadi berhalusinasi dan berbicara sendiri.
Saat telah sampai di dalam mobil, Xander Pim bertanya, “Tuan Muda, apakah benar Anda melepaskan Puloh begitu saja?”
Masih diingat oleh Xander Pim beberapa hari lalu. Arsen mendatangi rumah sakit dimana Puloh di rawat. Dua perawat rumah sakit membawa Puloh ke dalam ruangan khusus yang ada Arsen dan Xander di dalam.
“Hai, Paman. Sepertinya, obatnya sudah habis ya. Kau terlihat sudah sadar dan normal.” sapa Arsen.
“Aku tidak gila!” teriak Puloh. Semua orang gila akan berteriak hal yang sama seperti itu.
“Ya, aku tau Paman. Apa kau ingin keluar dari tempat ini?” tanya Arsen tersenyum.
“Tentu saja, aku tidak gila! Aku normal!” teriaknya, tubuhnya gemetar, ia tak ingin menjadi gila beneran.
“Baiklah, aku bisa membantumu. Tetapi, aku memiliki syarat.” tawar Arsen menatap Puloh yang telah duduk bersimpuh.
Puloh menjadi gila kemarin karena suntikan zat, setelah zat itu habis, ia kembali menjadi normal. Tentu saja rumah sakit jiwa ini sesuatu yang buruk baginya.
“Bacalah ini!” Arsen melompat kan beberapa berkas ke hadapan Puloh. Tentang rencana dan kekayaan Jonathan.
“Ja-jadi, Bajingan itu benar-benar busuk, dari dulu memang berniat menjadikanku kambing hitam.” gumamnya gemetaran, lalu meremas kertas itu geram. Hatinya terasa tercabik-cabik. Kemarin, ia masih merasa karena ia berselingkuh dengan istri Jonathan, tak bisa menahan hasraatnya saat melihat keindahan dan kecantikan istri ketiga pria itu.
Rupanya Jonathan memang berniat buruk padanya dan istri ketiga itu memang tak pernah ia sukai.
“Kau banyak melakukan kesalahan dengan memperkosa dan menjahati wanita! Termasuk menculik Nyonya Muda kami!” Suara berat Xander Pim terdengar menghardik Puloh dengan tatapan tajam.
“Paman! Sudah, dia sudah mendapatkan hukumannya.” Arsen menyentuh kepalan tinju Xander Pim.
“Aku memberimu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanmu, berikanlah kesaksian dan bukti kejahatan Jonathan dan kawanan lainnya. Aku akan membebaskanmu dan membantumu ke luar dari negara ini, serta menghapuskan jejak-jejak kesalahan yang kau lakukan.” Arsen melempar beberapa foto gadis yang ia dapatkan dari Berend.
“Kau kenal gadis ini 'kan?” tanya Arsen saat matanya tertuju pada satu foto. Puloh mengangguk.
Akhirnya Puloh pun keluar dari rumah sakit itu. Akan tetapi, Arsen menyuntiknya. “Jika kau macam-macam, obat ini hanya aku yang punya penawarnya.” Senyuman licik Arsen menyambut wajah tercengang Puloh.
Beberapa menit kemudian, Puloh langsung memberi hormat dengan bersujud. “Tuan Muda, aku tak akan ingkar janji. Aku adalah pria yang memenuhi janji.”
Ya, Puloh memang setia pada atasan yang dia anggap, contohnya pada Jonathan, ia begitu setia dan patuh, tetapi pria itu yang mengkhianati nya terlebih dahulu. Puloh memang memiliki sifat buruk, hobi bersenang-senang dan penjahat kelamin.
“Ya, aku harap kau bisa dipercaya.”
••
Ya, begitulah Arsen mulai membebaskan Puloh, hingga pria itu benar-benar membantu dan menangkap Jonathan kemarin, karena dia salah satu orang kepercayaan yang lama bekerja dengan Jonathan, jadi dia tau kebiasaan dan seluk beluk persembunyian Jonathan.
Xander Pim mendesah. “Sudahlah Paman, beri dia kesempatan kedua. Mana tahu, dia berubah jadi lebih baik.”
“Ya, kalau Tuan Muda berkata begitu...”
Xander Pim melajukan mobilnya ke kantor Antaman Wizgold yang dipimpin oleh Andrean. Arsen bersiap dan memakai topengnya. Begitu pula Xander Pim saat turun juga memakai topeng.
Itu perintah Arsen, selama di publik, Xander Pim juga harus memakai topeng karena bisa saja orang melacak dari pengawal pribadinya nanti siapa dia. Jika, pengawalnya juga misterius, tak dikenali wajahnya, itu jauh lebih baik.
Orang-orang memberi hormat pada anak laki-laki yang memiliki aura kepemimpinan itu. Di sepanjang perjalanan decak kagum dan hormat yang bisa Xander Pim rasakan, juga jiwa penuh penasaran.
David menyambut dan membukakan pintu ruangan Andrean. “Maaf, Tuan Muda. Saya tidak tahu jika Anda akan berkunjung kemari. Saya jadi tidak menyambut Anda.”
“Tidak apa-apa, Paman. Aku juga tadi terburu-buru. Jadi, tidak sempat mengabarimu.” jawab Arsen.
“Putraku, tumben kau kemari? Apa kau merindukanku?” tanya Andrean. Pria itu sudah sedikit membaik perasaanya setelah Ibunya meninggal.
“Aku ingin membahas tentang Kakek Irfan.” Arsen duduk di sofa dengan elegannya. Ia lompatkan berkas yang diberikan Xander Pim ke atas meja.
Andrean beranjak dari duduknya, dikursi kebesaran yang ia duduki tadi. Lalu, berjalan ke arah sofa dimana Arsen duduk. Mengambil dan membaca isi berkas itu.
Beberapa saat ia pelajari berkas itu, kemudian ia berikan pada David untuk dibaca.
“Bisa Papa dengar usulmu terlebih dahulu, sebelum kita berdiskusi lebih lanjut?”
“Tentu, aku ingin Kakek Irfan dilepaskan.” jawab Arsen, singkat dan padat.
“Kenapa?” tanya Andrean menatap manik mata putranya yang tegas.
“Dia adalah keluarga kita, dia tak salah, hanya karena dia bodoh. Terjadi banyak kesalahpahaman di masa lalu, seharusnya kita membantu mereka berdua bukan? Atau Papa akan membiarkan mereka terpuruk di masa tuanya hingga mati?”
Andrean tersenyum kecil, mengusap kepala Arsen. “Pintar, tegas, bijaksana dan baik hati. Aku sangat bangga memiliki putra sepertimu.” puji Andrean.
“Papa tidak sedang menggombal dan menginginkan sesuatu dariku 'kan? Kenapa tiba-tiba menggombal seperti Arhen?” tanya Arsen penuh selidik, membuat Andrean tertawa terbahak-bahak.