Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kedatangan Roque


Berend Elmo, Vindo, Alex, memeluk tiga anak kecil yang masih diam terpaku. Jamila dalam pelukan Vindo, Jay dalam pelukan Berend, King dalam pelukan Alex.


Sedangkan Andrean dan Arsen masih belum sadar di rumah sakit dengan penjagaan ketat. Mereka berdua butuh donor darah yang cukup banyak.


“Paman, aku duduk di kursi saja ya, Paman masih sakit, lihat tangan dan punggungmu masih terluka,” ucap Jay khawatir.


“Paman kuat loh, tidak apa-apa! Aku khawatir jika kau jauh dariku!” Dia masih memeluk Jay.


“Aku akan duduk di samping Paman, kok. Aku khawatir dan takut, aku mohon Paman.” Mata Jay berkaca menatap Berend Elmo. Untuk kali ini, Jay anak laki-laki pendiam, irit bicara itu berkata cukup banyak.


“Baiklah!” Berend melepaskan pelukannya, Jay pun turun dari pangkuannya, duduk di kursi disebelahnya.


Mereka semua sedang melihat proses Sakinah, Hans, dan Roselia dari kejauhan. Ada seorang imam besar yang di undang oleh Vindo dan Calista untuk mengurus jenazah Muslim, dikarenakan mereka semua di sini Non Muslim.


Jenazah mereka bertiga dimandikan, dikafani dan di sholatkan, langsung dikuburkan dengan segera, sedangkan Dedrick dimandikan dan dipakaiankan pakaian kesukaannya dengan rapi.


***


Frans, Roque, dan istrinya, serta pengawalan yang cukup ketat, turun dari helikopter.


Mereka bertiga bersedih dan menitikkan air mata melihat Dedrick dengan wajah yang dirias sangat tampan di dalam peti. Sedangkan Sakinah tak bisa mereka lihat karena sudah dikuburkan dengan segera, atas permintaan Arsen sebelum dia pingsan dan tak sadarkan diri.


Menurut keyakinan Arsen sekeluarga, menyegerakan mengubur mayat lebih baik. Oleh karena itu, Vindo meminta Imam Besar untuk melakukan prosesnya.


“Kenapa bisa terjadi seperti ini, Berend?” Roque bertanya pada Berend. “apa bener mansion terbakar? Ini semua karena kebakaran? Tetapi tubuh Dedrick tidak ada luka bakar.”


Berend setengah berbisik. “Nanti aku jelaskan! Atau kau bisa bertanya pada asisten David dan Alex.


Roque melihat dua asisten itu, tampak Alex sedang menggendong Jay. Sedangkan David wajahnya tampak sedih, tangan dan kakinya tidak dalam keadaan sehat, karena sejak tadi dia terlihat meringis, memegang kaki dan tangan dengan hati-hati.


Roque berjalan ke arah David, mereka berdua pergi ke tempat yang lebih sepi dan mengobrol berdua di sana, menjelaskan semuanya yang terjadi.


“Oh, begitu.” gumam Roque.


“Iya, Tuan. Kami belum bisa menghubungi Lucas dan Tuan Muda Ardhen. Berita Tuan Muda Arhen--- it--” David tidak melanjutkan ucapannya, pemuda dewasa itu malah menangis.


Roque memeluknya. “Tenang, kita harus kuat, agar bisa menguatkan mereka yang ditinggalkan, Dav. Kau menjadi teman Andrean, Dedrick, dan Calista sejak kecil. Kau tahu betapa buruknya emosi mereka berdua 'kan? Calista dan Andrean sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi. Belum lagi, anak kembarnya terluka.”


“Sudah, kamu tenang, Ardhen ada di Amerika, dia aman di rumahku.” David langsung mengangkat kepalanya. Menatap Roque.


“Iya, waktu itu....”


Roque menerawang dan menceritakan kejadian pada David.


Roque baru saja pulang dari kantor, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seorang wanita yang sedang menahan tubuh seorang pemuda. Wajah mereka berdua misteri sekali karena mereka menutupi wajahnya.


“Tuan Roque Van Denc?” tanya gadis itu, nama yang terdengar dipanggil dengan lengkap, Roque menatapnya, menunggu ucapan wanita itu selanjutnya.


“Dia, Ardhen Ryker Van Hallen. Tolong selamatkan kami!”


Deg! ‘Ardhen Ryker Van Hallen?’ Roque bergumam. Berusaha membuka wajah Ardhen.


“Tuan, tolong jangan buka di sini, bukalah di tempat aman!” Mata gadis itu menatap tajam.


Roque meminta satpam membuka pagar rumah, setelah masuk dan mengunci kamar, Roque belum yakin sehingga langsung menarik penutup wajah mereka.


“Aa-astaga! Dia kenapa?” pekik Roque.


“Tuan, tolong pelankan suara Anda!” gadis itu menjadi khawatir. Ya, dialah Haizum. Karyawan Ven Beutique yang biasanya menjabat menjadi kasir.


Roque segera membawa Ardhen masuk, menelfon Frans agar membawa dokter pribadi ke rumah segera. Istri Roque menjadi berdebar melihat dagu dan Hidung Ardhen yang terluka. Wajah itu hanya di tutupi dengan kain kasa yang berantakan, jelas jika itu hanya diobati oleh Haizum yang tidak ahli.


“Ada apa ini, Nak?” Istri Roque bertanya.


“Nyonya, kami sedang dikejar dan diburu. Keluarga Van Hallen sedang dalam bahaya,” jelas Haizum berdebar. “Sebelum keadaan Tuan Muda Ardhen seperti ini, dia memberikan alamat ini pada saya. Makanya satu-satunya harapan saya untuk berlindung hanya kemari.” Haizum menatap penuh harap.


“Iya Nak, disini sudah paling tepat. Kami keluarganya,” tutur istri Roque lembut pada Haizum.


Tak lama, Frans datang bersama Dokter.


Dokter pun memeriksa keadaan Ardhen.