
David berjalan sembari membawa berkas, ia berselisih dengan Sakinah dan Maid yang memberikannya cake tadi. Mereka berdua berjalan dari dapur hendak ke kamar.
“Nyonya Muda!” serunya dengan mata terbelalak.
“Kenapa Nyonya memakai pakaian ini?!”
“Ada yang memberikan ini tadi padaku.” jawab Sakinah jujur dengan wajah ramah.
Maid yang berada disamping Sakinah menunduk takut. ‘Apa yang dikatakan oleh Tuan David padanya? Tampaknya wajahnya murka, bagaimana ini?’ pikir Maid itu dalam hati.
“Excuseer me, Mijnheer. Ze was een nieuw meisje, dus ze kende deze regel nog niet. Ik zal het hem in de toekomst leren.” jelas Maid untuk membela Sakinah pada David. (Maaf, Tuan. Dia pembantu baru, belum mengetahui peraturan di sini. Saya akan segera memberitahu dia kedepannya.)
“Bediende?!” (Pembantu?!) Mata David semakin melotot.
“Bel de butler hier!” perintahnya. (Panggil Kepala Pelayan kemari!)
Sakinah menatap David dan Maid dengan wajah polos yang tak mengerti apa-apa.
Maid itu mengangguk dan segera pergi mencari Kepala Pelayan.
“Nyonya Muda, tolong maafkan saya.” ucap David menunduk.
“Untuk apa? Memangnya kamu melakukan kesalahan apa?” tanya Sakinah.
Kepala Pelayan yang baru saja bertemu dengan wanita yang menampar Sakinah itu berlari tergopoh-gopoh karena Maid yang memberikan Sakinah cake menyampaikan pesan jika David memanggilnya, menunggu di lorong jalan arah ke kamar para Maid.
“Groeten, Meneer.” sapanya terengah, setelah berada dihadapan David dan Sakinah.
Plak! David menampar pria itu kuat. Mata Sakinah terbelalak sempurna. Jadi, Mansion ini semua orang bebas main tampar? Ya, begitulah pikiran Sakinah sekarang. Ia langsung merindukan tanah airnya Indonesia. Dimana penuh canda dan tawa Billa. Anak-anak yang ceria. Bekerja disebuah perusahaan walaupun jadi operator, bertemu dengan teman-teman, lelah tapi merindukan.
“Hoe durf je deze jurk aan de Jonge Dame te geven!” teriak David lantang. (Berani sekali kau memberikan gaun ini pada Nyonya Muda!)
Kepala Pelayan itu terkesiap, menatap Sakinah.
“Hoe durf je zo naar het gezicht van de jongedame te kijken?! Je krijgt puntenaftrek en boetes!” (Beraninya kau menatap wajah Nyonya Muda begitu?! Kau akan mendapatkan pengurangan point dan hukuman!)
Ia segera menunduk takut. ‘Wanita berpakaian teror*s ini Nyonya Muda? Bagaimana mungkin?’ Ia bergumam.
“Apakah dia yang meminta Nyonya memakai baju ini?” tanya David. Sakinah menggeleng.
“Siapa?” tanyanya lagi.
“Aku tak tahu. Seorang perempuan yang memakai baju sama dengan ini, memiliki tahilalat di hidungnya cukup besar.” Sakinah menyebutkan ciri-ciri wajah wanita itu.
“Oh, dia. Baiklah. Mohon Nyonya Muda ganti baju segera, ini sudah jam makan. Pasti Nyonya besar dan para Tuan Muda menunggu diruang makan. Dia akan segera mengantar Nyonya.” ujar David menunjuk Kepala Pelayan.
“Breng de Mevrouw naar de kamer om te veranderen!” perintahnya. (Antarkan Nyonya ke ke kamar untuk mengganti gaunnya.)
Kepala Pelayan itu mengangguk, membungkuk dengan membuka satu tangannya melebar, sembari sedikit membungkuk, mempersilahkan Sakinah agar mengikutinya.
“Het spijt me mevrouw, ik weet het echt niet.” ucapnya dengan menyatukan kedua telapak tangannya menghadap Sakinah. (Maafkan saya Nyonya. Sungguh saya tidak tahu.)
Jujur, Sakinah tak mengerti dengan ucapannya. Cuma melihat dari gerakan tangan sebagai permohonan maaf, ia menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum.
Kepala Pelayan membuka daun pintu setelah sampai di kamar.
“Alsjeblieft, Mevrouw.” (Silahkan, Nyonya) Ia membungkuk hormat.
Sakinah menatap takjub kamar itu. Benar-benar kamar yang sangat luas dan mewah, ranjang kayu jati klasik ala Eropa dengan warna full gold, seprai yang terjuntai berwarna coklat muda selaras dengan ranjangnya.
Di atas langit-langit kamar, tergantung lampu kaca yang begitu unik, nakas dan meja rias yang memiliki ukiran bagus selaras dengan warna ranjang. Vas bunga kecil di atas nakas serta jam weker. Sedangkan di sudut di dekat lemari pakaian yang besar itu terdapat vas bunga besar. Sungguh kamar yang menakjubkan!
Kepala Pelayan membukakan pintu lemari, berkata sesuatu yang tak dimengerti Sakinah. Wanita itu hanya mengangguk pura-pura mengerti.
‘Dia pasti nyuruh aku ganti baju, seperti yang dibilang David tadi.’ gumam Sakinah.
Setelah Kepala Pelayan itu keluar, bukannya mengganti baju, Sakinah malah celingukan sana sini. Ia berjalan dan membuka kamar mandi.
“Wow! Ini kamar mandi? Lebih besar dari ruang nontonku di Batam.” Ia berdecak kagum.
Sakinah masuk, tangannya meraba cermin, bathup dan semua yang ada di kamar mandi itu, sungguh sangat bagus. Kemudian matanya menangkap ruangan kecil berdinding kaca semua, membuka pintu kaca itu. Saat ia masuk, dengan otomatis shower di atas kepalanya menyemburkan air, sehingga ia terkejut dan berteriak kuat karena terkejut.
“Mevrouw!” ucap Kepala Pelayan itu mengetuk-ngetuk pintu dari luar.
‘Telinga dia nyaring sekali, sampai bisa mendengar suaraku dari sini, atau aku berteriak terlalu kencang ya tadi? Hm, Berarti dia masih diluar menungguku. Apa tadi dia bilang menungguku ganti baju? Aku harus segera mengganti baju dulu.’
Sakinah bergegas keluar dari kamar mandi.
“I'm ok!” teriak Sakinah menyahuti Kepala Pelayan itu setelah ia keluar dari kamar mandi.
Sakinah bergegas menyibak baju pada lemari yang tadi dibuka Kepala Pelayan itu. Ia kembali tercengang.
“Ini lemari baju apa toko baju?” Ia lihat semuanya sungguh gaun-gaun yang indah berwarna warni dengan banyak gaya.
“Bajunya semuanya panjang?” Sakinah terus melihat baju. “Sepertinya Mama sudah menyiapkan semuanya.” Sakinah tersenyum lega setelah melihat pakaian yang ada di lemari ini.
“Aha! Ini dia!”
Namun apa yang dia pakai? Dia tidak memakai pakaian yang disiapkan, ia membuka kopernya yang telah dimasukkan David ke dalam lemari sebelumnya.
“Astagfirullah! Tas ku ada dikamar yang tadi?! Aku sampai lupa. Aku akan bertanya pada David nanti!” ucapnya setelah memakai pakaiannya dan berniat mengambil handphonenya.
Sakinah membuka pintu kamar setelah memakai pakaian yang dibawanya dari Batam. Kepala Pelayan menatap Sakinah sebentar, lalu kembali menunduk dan berucap.
Ucapan yang tak dimengerti Sakinah, namun wanita itu mengikuti langkahnya.
Sampailah Sakinah di ruang makan. Sekar melotot, menatap tampilan Sakinah lama. Kepala Pelayan semakin menunduk takut.
“Mom!” Arhen dan Ardhen langsung memeluk Sakinah.
“Mom darimana? Kenapa lama sekali? Kami sangat lapar. Ayo, kita makan.”
Kepala Pelayan semakin menciut saat melihat Arhen dan Ardhen memeluk Sakinah dengan panggilan Mom.
“Anak-anak sudah lapar. Ayo, makan dulu.” ucap Sekar tersenyum pada Sakinah. Kemudian menoleh pada Kepala Pelayan, menatapnya tajam.
“Ontmoet me later in de studeerkamer na het eten!” (Temui aku nanti diruang kerja setelah makan)
Deg! Jantung Kepala Pelayan berdebar.
‘Pasti.’ ringisnya dalam hati. Ia mengerti, setelah ini ia akan mendapatkan kemarahan dari sang Nyonya Besar.
Sekar mengibaskan tangannya, Kepala Pelayan dan para Maid pergi. Kini tinggallah mereka saja diruang makan.
“Ayo, makan!” ucap Sekar dengan semangat.
“Kalian mau makan pakai tangan apa sendok?” tanya Sekar.
“Boleh?” Arhen dan Ardhen saling beradu pandang, kemudian menatap Sekar.
“Tentu saja.” Sekar tersenyum.
“Ayo Mom kita makan!”
...***...
Selamat malam Minggu ArLove💓
Jaga kesehatan selalu ya🌹