Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Mengganti Target


Barend termenung, entah kenapa hatinya merasa kasihan pada Jesylin.


“Keluarlah dari perusahaan! Buatlah surat pengunduran dirimu mulai sekarang!” titah Barend.


“Ta-”


“Aku bisa memasukkanmu diperusahaan lain, aku akan memberikanmu tempat tinggal yang dekat di tempat bekerja barumu, jadi jangan khawatir!” potong Barend, ia tak membiarkan Jesylin menjawab sedikit pun. Ia tempelkan jari telunjuknya di bibir wanita itu.


Ia kecup jari tangannya sendiri yang sedang berada ditengah, diantara kedua bibirnya dan bibir Jesylin.


Barend langsung berdiri dan membersihkan dirinya ke kamar mandi. Jesylin terdiam, mencerna perkataan Barend.


“Kami baru kenal, tetapi kenapa hatiku merasa sangat nyaman bersamanya. Bodohnya, hatiku ini percaya dengan semua yang dikatakannya. Apakah benar, cinta itu ada saat pandangan pertama? Itu tidak mungkin 'kan? Dia sama saja dengan lelaki lain, mengagumi tubuh wanita-wanita.” gumam Jesylin mendesah.


Setelah selesai membersihkan diri, Barend keluar dengan handuk. Ia menelfon seseorang.


“Dimana? Bawakan sekarang pakaianku!” ucapnya memerintah.


Tak lama terdengar suara bel berbunyi dari pintu kamar hotel mereka. Pengawal Barend setengah merunduk memberikan setelan pakain padanya.


“Kalian sudah mendapatkan kirimannya juga 'kan? Mana?” tanya Barend menatap tajam bawahannya.


“Sudah Tuan, tetapi...” Wajah bawahannya itu terlihat pucat.


“Kenapa?”


“Pria itu ... bersikeras menahannya, aku tidak sengaja membunuhnya.” Tangan pria itu gemetar ketakutan.


“Oh, berarti kau sudah dewasa karena sudah mampu menghilangkan nyawa orang lain!” Jawaban semacam apa itu? Tetapi memang begitulah kehidupan Barend yang asli. Dulu, ia mendapatkan banyak uang menjadi pembunuh bayaran, melakukan berbagai cara demi imbalan uang dan bersenang-senang. Ya, dia seorang preman dulunya!


Semenjak ia bertemu Jimi, ia menjadi lebih baik, apalagi setelah ditunjuk Jimi untuk membantu dan mengawal Arsen.


Anak kecil dingin berjiwa pemimpin tinggi, sangat pintar membuat otak normalnya bingung, bukan sembarang anak, ia memiliki darah keturunan terbaik, menurut Barend.


“I-ini, Tuan!” Ia memberikan flasdisk pada Barend.


“Pergilah!” usir Barend kemudian ia mengunci pintu.


Jesylin masih bermalas-malasan menatap Barend yang memakai pakaiannya. Tak sengaja matanya menatap luka di punggung Barend. Luka yang membuat ia ingat akan sesuatu.


“Dimana kamu mendapatkan luka itu?” tanya Jesylin, ia bahkan bangkit dari tidurnya dan duduk diranjang.


“Luka?”


“Ya, luka dipunggungmu itu!”


Barend menaikkan alismatanya. Pertanyaan yang cukup sensitif. Ia benar-benar tak ingin membahas tentang luka dipunggungnya. Namun melihat tatapan penuh harap Jesylin, ia menjawabnya. “Aku jatuh saat memanjat pohon jambu waktu kecil!”


“Oh...”


“Kenapa? Kau tidak suka karena tubuhku bekas luka?”


“Tidak, sungguh tidak masalah. Kau tetap sexsy dan tampan. Kau sangat perkasa, aku suka!”


“Hm, baiklah! Kau buatlah segera surat pengunduran diri! Aku akan keluar dulu, ada yang harus aku kerjakan! Nanti siang, aku akan menemuimu kembali di sini.” Barend mengecup pipi dan bibir Jesylin.


**


Jimi dan Billa telah tiba di apartemen Arsen dengan pengawalan ketat.


Billa langsung merebahkan dirinya di ranjang, mengirim pesan pada Sakinah, ia sangat ingin bertemu dengan sahabatnya itu.


“Aaah! Menyebalkan sekali Andrean itu! Aku ingin sekali memukul kepalanya! Tau gitu, aku tak mendukung mereka menikah dulu!” teriak Shalsabilla kesal.


“Honey, kenapa kamu berkata seperti itu. Andrean melakukan seperti itu karena cemas, tidakkah kamu ingat akan penculikan Sakinah waktu itu.” Jimi mengelus kepala Billa.


“Kamu juga harus jaga diri mulai sekarang, Honey!” Jimi mengecup pipi Billa.


“Lanjutkanlah beristirahat, aku harus berumbuk dulu dengan mereka sambil menunggu Barend dan Hans datang.” tunjuk Jimi ke arah sana. “Oh ya, sore nanti anak-anak akan datang terlebih dahulu menemui kita!” tutur Jimi mengelus kepala Billa.


“Benarkah?” tanyanya antusias, ia segera merebahkan tubuhnya diranjang penuh semangat. “Aku istirahat dulu, Honey!”


“Iya,” Jimi mengecup kening Billa yang telah berbaring.


~


“Selamat sore, Nyonya Billa!” sapa Hans. Pemuda itu tengah menyusun makanan di meja kitchen bar.


“Silahkan makan dulu, Nyonya. Tuan Jimi keluar bersama para Tuan Muda untuk membeli sesuatu tadi.” jelas Hans.


“Oh! Thanks!” jawab Billa. Ia menarik kursi mengambil makanan, memasukkan makanan yang ia suka ke dalam piring.


Beberapa saat kemudian.


“Hai, Miss. You wake up?” sapa Arhen saat Billa sibuk memakan makanannya.


“Oh, my handsome! I miss u so much!” Ia berdiri, memeluk Arhen.


“Miss you too Miss! But, selesaikan dulu makannya!” tunjuk Arhen pada tangan Billa yang masih menempel saus.


“Hehehe, ok!” jawabnya terkekeh.


Billa kembali duduk, menghabiskan makanannya. “Mana Ardhen dan Arsen?”


“Adik Ardhen ada di hotel bersama koki untuk latihan, dia mau lomba masak! Kalau Abang, sedang berbicara sama bawahannya! Sepertinya dia sedang marah.” jelas Arhen.


**


Arsen dan Barend duduk saling berhadapan di taman belakang.


“Apa alasan Paman menukar target?” tanya Arsen menatapnya tajam.


“Jawab! Kenapa diam saja!” Plak! Arsen melempar beberapa lembar berkas yang ia pegang ke wajah Barend.


Mendengus kesal, lalu berdiri. “Apa Paman tertarik dengan wanita itu?” Arsen bertanya kembali, Barend tetap diam, ia tak bisa menjawabnya.


Arsen berjalan pergi beberapa langkah, kemudian berhenti. “Aku tak menyangka Paman bahkan tergoda dengan seorang wanita, aku pikir kau manusia sempurna yang bisa ku percaya! Kutekankan sekali lagi, apapun alasanmu Paman, aku paling tidak suka pekerjaan yang tidak sesuai, apalagi pekerjaan yang berhubungan dengan Momku. Di dunia ini, wanita yang paling kucintai adalah dia!” ucap Arsen tanpa membalikkan badannya.


Setelah berkata seperti itu, ia berjalan pergi.


Barend hanya diam menatap punggung anak kecil itu.


Arsen masuk ke dalam ruang kerjanya melewati Arhen dan Billa. Muka anak laki-laki itu terlihat berubah seram, hingga tak ada yang ingin menyapanya.


Blam! Pintu ruang kerja dibanting Arsen dengan kuat, membuat siapapun yang mendengarnya terkesiap.


Arsen langsung menghidupkan semua laptopnya, saat semua laptop louding, ia segera mencuci wajahnya dan berwudhu. Begitulah ajaran Ibunya, jika terlalu marah, redamkanlah amarahmu dengan berwudhu. Ibarat api yang panas harus dipadamkan dengan air 'kan?


Setelahnya, ia minum dua gelas air putih, menghela nafas panjang.


Duduk dan memakai kacamata. Sibuk mengamati semua, ia membuat rencana cadangan. Ia sungguh tak tau alasan Barend kenapa bisa merubah target dan melepaskan Jesylin, wanita yang menyiram Ibunya.


Baginya, siapapun harus mendapatkan hukuman jika mengganggu Ibunya! Tak terkecuali bahkan jika itu ayahnya Andrean sekalipun.


Perlahan, ia amati profil pria yang menjadi targetnya kemarin, lalu info Jesylin dan Sopia.


‘Bukankah semalam Paman berkencan dengan wanita menor itu, lalu berubah pada Jesylin. Apa rencanamu sebenarnya Paman? Jika kau ingin menghukum dua wanita, tidak mungkin wanita jahat ini kau lepaskan, bahkan kau meminta bawahanmu mencari tempat tinggal untuknya! Kau kira aku tak bisa mengawasimu? Kau salah Paman! Bahkan, biasanya aku bisa bekerja seorang diri dalam hal seperti ini!’


...----------------...