
Malam hari, tepatnya jam 7 malam di Belanda.
Billa dan Jimi datang bertamu bersama Hans ke Mansion. Kedatangan mereka tentu saja disambut baik oleh para Maid.
Sekar menyalami mereka semua. “Duduklah, aku akan meminta para Maid menghidangkan minuman dan cemilan.” ucap Sekar berbasa-basi pada mereka bertiga.
“Tante, santai saja. Aku sudah menganggap mansion ini sebagai rumah kedua kami.” jawab Billa.
“Ah, syukurlah kalau begitu. Apa kalian ingin menemui Sakinah atau Arsen?” tanya Sekar.
Ya, bisa ditebak. Jika Billa biasanya datang hanya untuk mencari Sakinah, sedangkan Hans dan Jimi untuk mencari cucu sulungnya yang dingin itu.
“Tante tahu aja! Kami mencari dua-duanya, padahal tadi siang kami sudah bertemu di apartemen. Tetapi kedua pria ini mau berkumpul dengan Andrean dan Arsen katanya.” jawab Billa.
Tak lama, Sakinah dan anak-anak mendatangi mereka. Namun, Andrean belum pulang bekerja, ia masih berada dalam perjalanan.
“Kami pergi dulu ke ruangan kerja, Mom, Miss, Grandma!” pamit Arsen. Langkahnya diikuti oleh Arhen, Jimi dan Hans. Sedangkan Ardhen, Billa, Sakinah dan Sekar mulai berbincang dan berjalan ke dapur.
Setelah sampai di dapur, tiga wanita dewasa itu langsung disuguhkan minuman teh beraroma kulit manis dan cengkeh buatan Ardhen.
“Minuman apa ini?!” Billa mengernyit tak suka.
“Miss harus meminum ini, minuman ini baik untuk kesehatan.” jelas Ardhen tersenyum.
“Nah, sekarang Adik mau bikin cemilan sehat untuk kita semua, mumpung ada tamu. Jadi, Mom, Grandma dan Miss harus melihat cara masakku dan menjadi jurinya. Soalnya Adik mau ikut lomba!” tutur Ardhen.
“Ok, Chef cilik!” sahut Sekar dan Billa. Sedangkan Sakinah hanya memberikan jempol dengan tersenyum.
Arsen membuka ruang kerja khusus yang dibuat Andrean untuknya. Di sana banyak laptop berbaris. Beberapa televisi menyala. Arsen langsung menutup televisi itu. Ya, bisa Hans dan Jimi lihat, Arsen tahu keberadaan Ardhen, Sakinah, Arhen, Andrean, Dedrick dan Billa. Hanya saja gambar Dedrick tak jelas, buram, namun titik koordinat dimana dia berada terlihat jelas. Mungkin, karena pria itu berada jauh di negera lain.
Hans dan Jimi membaca berkas yang diletakkan Arsen di depannya. Sedangkan Arhen hanya diam menjadi pendengar, ia bermain HP dengan suara silent.
Tak lama, Andrean sudah masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru. “Apa kalian lama menunggu?” tanyanya dengan nafas ngos-ngosan. David, Asisten Pribadi Andrean juga terlihat ngos-ngosan.
“Tidak. Kami juga baru sampai, baru melihat berkas-berkas ini.” jawab Jimi.
Andrean duduk untuk menenangkan nafasnya. Lalu, David menyodorkan berkas ke hadapannya. Tak lama setelah itu, Maid membawa minuman dan cemilan panas untuk mereka semua.
“Bagaimana selanjutnya?” tanya Jimi.
Andrean menatap Arsen.
“Aku butuh masukan!” jawab Arsen.
Arhen menyimpan hp nya, lalu berkata. “ Aku hanya sebagai model, usulan dariku ... aku bisa menjadi model peraga perhiasan dan berakting untuk rencana apapun yang akan Abang dan Papa lakukan. Aku akan selalu mendukung kalian.”
“Dad juga hanya bisa berakting dan berdiri dibangku peserta, tentu saja tak bisa melakukan apapun.” Jimi menyerah tentang sebuah usulan, dari awal semua selalu dipikirkan oleh Arsen. Ia hanya mengerjakan, mencari dan melakukan apapun yang diharapkan Arsen, karena dari awal bisnis bukan dunianya.
“Hm, kalau dari saya... yang pertama tentang negosiasi Puloh, dia menawarkan batu mulia untuk kita dengan syarat, ia ikut serta di dalam pembuatan. Ia juga menawarkan tenaga kerja untuk pengolahan dengan syarat bisa transaksi jual beli batu mulia di kawasan Verji Banal Amsterdam.” jelas Hans.
Arsen mengerutkan keningnya. “Kenapa tak sekalian dia meminta lokasi di Taman Bunga Keukenhof! Cih! Arsen berdecih.
Ia segera membrowsing dan keluarlah beberapa gambar.
“Astagaaaaa! Taman bunganya indah sekali Bang! Apa ini tempat indah yang akan Abang berikan sebagai kejutan untuk Mom?” tanya Arhen antusias.
“Cih! Kau lola sekali!” jawab Arsen.
“Tuan muda, taman ini milik publik, tempat pariwisata, sudah ada sejak dulu.” bisik David menjelaskan pada Arhen. Anak laki-laki kecil itu hanya bisa ber'oh dengan mulut bulat membentuk huruf o.
“Lanjutkan, apalagi!” pinta Arsen menatap Hans.
“Kalau saya tidak setuju dengan negosiasi itu.”
“Apa karena kita ada biji besi? Jadi, bisa untuk pengolahan dasar perhiasan bisa bermain dengan besi begitu? Karena batu mulia, emas dan berlian barang mahal yang susah untuk dibentuk?” tanya Arsen.
“Bisa jadi jika Tuan Muda berpikir begitu. Tetapi, batu mulia yang ia miliki tak terlalu indah menurutku. Kandungan karbonnya sedikit. Mineral di dalam kandungan batu mulia juga bisa berpengaruh untuk pembentukannya.”
“Jadi ... bila kandungan karbonnya sedikit, batu itu saat diproses akan mudah pecah seperti kaca?” tanya Arsen.
Hans tersenyum. “Seperti berkas yang sebelumnya pernah saya tunjukkan pada Anda, Tuan Muda. Proses pembuatan perhiasan emas ataupun berlian dari olahan batu mulia melalui alat canggih. Kita menggunakan komputer untuk melakukan beberapa proses!”
“Contoh di dalam pembuatan berlian dari batu mulia, adanya Proses Marking, pengambilan gambar tiga dimensi dari bahan rough diamond (intan). Kemudian dibuat pola untuk menentukan berlian yang akan di bentuk sehingga rough diamond bisa maksimal menjadi diamond. Tentu saja proses itu kita gambar melalui komputer dan memiliki keahlian khusus, sama seperti Tuan Muda memerlukan pelukis seni fantasi tinggi untuk game.”
“Lalu, Proses 4 P & Sawing, rough diamond (intan) akan di potong sesuai pola yang ditentukan. Pemotongan tersebut menggunakan mesin laser yang akan menghasilkan potongan berlian yang simetris.”
“Selanjutnya, Automatic Blocking dan Proses Polish. Proses finishing yang dikerjakan secara manual untuk membuat bott facet dan crown facet agar kilauan berlian lebih bagus dan indah. Proses ini memerlukan ketelitian dari tenaga ahli yang sudah berpengalaman.”
“Kemudian Proses Bruting, memoles dan menghaluskan girdle (pinggang diamond) yakni dengan menggunakan sistem komputer. Lalu dilanjutkan dengan Proses Micro Setting, pemasangan berlian ke dalam perhiasan seperti cincin, kalung, dan gelang.” jelas Hans panjang lebar.
“Oh...” Arsen dan Arhen mengangguk-angguk.
“Kalau menurut Papa gimana?” tanya Arsen pada Andrean.
Andrean tersenyum. “Selama Papa bekerja di perusahaan Antaman Wizgold, perusahaan yang mengolah perhiasan. Langkah-langkah pengolahan memang seperti yang dijelaskan Hans. Karbon di dalam mineral berharga yang bisa berupa kristal, ataupun aulotrop, memiliki sifat-sifat fisika yang istimewa, terutama faktor kekerasannya dan kemampuannya mendeskripsikan cahaya. Makanya perhiasan itu mengkilat dan berkilau setelah melakukan berbagai proses juga.”
“Perhiasalan berharga fantastis, tentu saja pembuatannya juga sangat sulit. Seperti kerangka unik yang kamu ciptakan itu, ditambah Hans dan Berend menemukan tangan yang benar-benar ahli dalam mengukirnya.” puji Andrean.
“Jadi, menurut Papa ... Puloh itu hanya seekor cacing yang sedang kepanasan. Ia mengkhianati Papa, lalu pergi bernegosiasi dengan perusahaan Ar3s, setelah melihat perusahaan Ar3s mulai menguasai perusahaan milik Kakek Irfan. Dia menjadi takut hancur bersama Irfan.”
“Artinya, dia sadar kalau Papa telah mencurigainya?” tanya Arsen. Andrean mengangguk.
...----------------...
Nb **
Cara pembuatan perhiasan ini aku tonton dari YouTube. Jadi sumber informasi ada di sana**