Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Hukuman untuk Papa!


Andrean mengganti pakaian, memasang celemek ditubuhnya. Pria tampan yang baru taubat itu kini tampak kikuk dan bingung, ia tengah berdiri di depan lemari es yang berada di dapur. Lemari es itu besar, tersedia sayuran, daging, aneka hewan laut seperti udang, gurita, kepiting, cumi-cumi dan lainnya di sana.


Andrean bingung, bagaimana cara memasak itu. Akhirnya ia menonton Youture, melihat masakan paling mudah dan gampang, yaitu rolling egg. Ia kemudian mengambil bawang merah dan bawang putih, lalu daun bawang.


Bawang merah ia iris, sedangkan bawang putih ia geprek, lalu mencincangnya sangat kecil. Kemudian ia pecahkan telur dengan kuat sehingga telur pecah total!


Kedua kalinya, ia pecahkan lagi telur dengan tenaga kecil, lalu saat memasuklah telur ke dalam wadah, cangkangnya juga masuk. Ia mengambil cangkang telur itu dengan tangannya, sambil mendesah.


Bawang iris dengan telur ia kocok, lalu diberi garam dan penyedap.


Ia menyiapkan minyak panas ke dalam penggorengan sedikit, karena terlalu panas saat ia menuangkan telur, api hidup membesar dipenggorengan.


“Aaaaa!” Ia terpekik.


Ya, Andrean selama ini tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur untuk memasak, jadi hal seperti ini sangatlah sulit baginya.


Sakinah dan sikembar duduk melihat keterampilan Andrean, biasanya tempat duduk itu tersedia untuk Sakinah dan Sekar menilai masakan Ardhen, jika ia ingin menunjukkan kemampuannya.


Kepala Pelayan dan para maid lainnya hanya bisa melihat dari kejauhan, mereka menjadi khawatir dan cemas, bagaimana jika terjadi apa-apa pada Tuan Muda mereka itu, dapur menjadi terbakar karena ia tak bisa menggunakannya!


Andrean melompatkan sisa telur yang sudah ia kocok itu kepenggorengan hingga terciprat kemana-mana. Ia berdiri jauh-jauh dengan sendok menjangkau-jangkau penggorengan.


Di dalam yuoture yang ia tonton, cara memasak rolling egg memang seperti itu, memasukkan telur sedikit demi sedikit lalu digulung perlahan. Masalahnya Andrean tidak menggulung telur itu dengan menambahkan telurnya perlahan, ia malah menuangnya cepat dengan tangan yang cukup jauh jaraknya dari penggorengan, ia tak menggulungnya.


Telur yang dibawah sudah tercium bau gosong, sedangkan Andrean tidak bisa membalik telur itu. Ia matikan api kompor, keringatnya bercucuran.


Ia angkat telur itu, dibawahnya gosong, diatasnya mentah. Ia kembali mengambil telur, hendak memasak rolling egg baru. Kini ia lebih berpengalaman dari tadi, ia tak memasukkan cangkang telur lagi ke dalam wadahnya, juga tidak menghancurkan telur sampai pecah berserakan.


Ia kocok kembali telur bersama irisan bawang, ia panaskan tempat penggorengan baru, ia masukkan minyak. Belum juga panas minyaknya, ia sudah menuangkan kocokan telur itu.


Ia tatap lama telur itu, bergumam-gumam tidak jelas, kemudian tersenyum karena telur itu mengembang setelah minyak panas, perlahan ia geser telur dengan spatula, ia tuangkan sisa telur perlahan, saat ia menggulung telur tumpah-tumpah ke sana kemari.


Ia mengambil telur yang tumpah-tumpah itu dengan tangannya. “Ah! Uft! Uft! Panas!” Meniup-niup tangan yang kepanasan.


“Dik, apa kamu yakin, makanan itu akan enak? Apakah masih bergizi?” tanya Arhen pada Ardhen.


“Aku tak yakin, Kak!” jawab Ardhen menghela nafasnya.


“Cih, payah!” ejek Arsen.


Andrean hanya bisa pasrah dengan ejekan ketiga putranya, memang kenyataan dia tidak bisa memasak.


Ardhen langsung berdiri dan mendekati Andrean. Tangannya cekatan mengambil telur, memecahkannya dengan gesit, mencampur bumbu giling siap saji yang sudah disiapkan dalam kulkas, lalu irisan bawang.


Ia oleskan margarin ditempat penggorengan, margarin mencair, ia tuangkan telur yang sudah dikocok perlahan, lalu tangannya dengan sigap memotong sosis, menaburkan sosis sedikit demi sedikit pada telur, menggulung telur itu perlahan, menepikannya, kemudian menuang lagi, digulung lagi, ditepikan lagi, dituang dan digulung lagi, sampai menjadi gulungan besar.


Kemudian, Ardhen menggoreng udang, mengocok putih telur dan kuning telur secara terpisah. Setelah menggoreng udang, ia memasukkan kuning telur dengan satu batang sosis sapi, menggulungkan telur pada sosis, setelah selesai, lantas ia goreng putih telur dengan menggulungkan udang di dalamnya, menampakkan sedikit ujung ekor udang.


Semua telah selesai, Ardhen memotong rolling telur sehingga tampak seperti sushi makanan ala Jepang. Menabur mayonaise dan saus sambal diatasnya.


Makanan siap di hidangkan.


“Hm.” Andrean menoleh pada putra bungsunya yang keren itu, tangan kecilnya sungguh ajaib, ia memasak dengan waktu yang relatif singkat, bahkan bisa membereskan kekacauan yang dibuat oleh Andrean.


“Apa kamu tahu, apa perbedaaanmu dengan Abang?” tanyanya sambil menghidangkan makanan pada Sakinah dan kedua kakak laki-lakinya.


“Apa? Apakah karena Papa lebih besar sedangkan Abang akan menjadi besar?”


“Bukan, kesamaan kalian adalah sama-sama pintar, sama-sama jago dalam dunia teknologi. Bahkan pemimpin besar sebuah perusahaan, memiliki banyak karyawan, banyak yang tunduk pada perintah kalian.” tutur Ardhen.


“Sedangkan perbedaan kalian,” Ardhen menjeda kalimatnya, menatap sang Papa yang juga menatapnya. “Perbedaan kalian adalah ini!” tunjuk Ardhen pada masakannya.


“Setidaknya Abang bisa memasak masakan sederhana untuk kami. Jika nanti kami dewasa, kami kuliah ke luar negri, kami bekerja, lalu Mom rindu masakan tangan orang yang ia sayangi, apakah Papa akan menggoreng cangkang telur untuk Mom?” sindirnya, membuat wajah Andrean mengecut.


“Papa tahu, seseorang bisa menjadi pintar karena makanan bergizi, seseorang bisa marah-marah karena lapar, seseorang bisa bahagia saat mencicipi makanan enak. Setidaknya, Papa harus bisa memasak masakan sederhana untuk kita. Tak perlu hebat, karena ada aku yang akan memasak banyak makanan.” ucap Ardhen tersenyum.


“Tetapi ....” lanjutnya lagi dengan menggantung kalimatnya.


“Papa sudah melakukan yang terbaik! Muach!” ucap Arhen dan Ardhen memeluk Andrean, kemudian mencium pipi pria itu di pipi kiri dan kanannya.


Sedangkan Arsen hanya mengulum senyum.


“Ayo kita makan, Mom yakin, nanti, Papa pasti bisa memasak makanan enak kok! Iya 'kan Pa?” tanya Sakinah dengan tersenyum pada Andrean.


“Hu'um.” jawabnya malu-malu.


Arsen menyumpit rolling egg, kemudian menyodorkan pada Andrean, membuat pria itu sangat terharu. “Aaa...!” ucap Arsen dengan mulut ternganga.


“Papa sudah bekerja keras!” pujinya setelah Andrean membuka mulut dan melahap rolling egg yang disuapi Arsen untuknya.


“Abang, Kakak juga mau disuapi!”


“Adik juga mau!” Dua anak kecil itu berebut minta disuapi sang kakak.


“Nanti, setelah Abang suapi Mom dulu.” jawabnya kemudian mengarahkan makanan pada Sakinah.


Sakinah menerimanya dengan tersenyum, sambil mengunyah makanan ia mengusap kepala Arsen, lalu menelan makanan sampai habis dan berkata. “Kalian sudah semakin besar.”


“Tentu saja, Mom tunggu saja kami besar nanti, kami akan menjadi anak hebat yang membanggakan!” ucap Arhen menepuk dadanya, membusungkan dadanya ke depan.


“Iya Mom, Adik akan menjadi Chef terkenal dengan bayaran termahal di dunia! Mom, Papa, Abang dan Kakak pasti bangga.” ucap Ardhen tersenyum sembari menggosok kedua telapak tangannya.


Andrean tersenyum bahagia, tiga anaknya sudah semakin dekat dengannya. Bukan hanya keluarga kecil itu yang bahagia, namun Kepala Pelayan yang telah 20 tahun bekerja disini, baru pertama kali ini melihat kehangatan itu. Sekar dan Wizza dulu sibuk bekerja, Andrean kecil nakal, Dedrick kecil pendiam, setelah mereka dewasa, mereka jarang di mansion, sibuk dengan aktivitas masing-masing, mansion terasa hampa.


Sedangkan sejak ada sikembar, mansion sangatlah terasa nyaman dan menyenangkan. Dapur tak lagi terasa menegangkan, ruang televisi tak lagi sunyi, setiap pagi dan malam meja makan akan selalu penuh karena akan ada yang makan bersama, sedangkan dulu majikannya makan sendiri-sendiri.


Nani dan Amy yang juga sudah cukup lama bekerja di sini tersenyum senang. Clara yang baru bergabung juga tersenyum melihat mereka.


Tentu saja do'a-do'a indah melantun dalam hati mereka masing-masing.