Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Cintai Aku Sebagai Suamimu


Arhen memasuki kamar. Tampak Aini termenung melihat ke arah luar. Saat Arhen membuka pintu dan mengucap salam, Aini terkesiap dari duduknya.


“Nur!” panggil Arhen.


“Ya,” jawab Aini.


“Apa gak ada yang ingin kau katakan padaku?” Arhen menatap Aini. Jujur saja, dia sudah berpikir keras sejak tadi. Bahkan setelah bercerita dengan kedua saudara kembarnya panjang lebar, serta dengan Ibunya Sakinah, dia tak bisa menyimpan semuanya di dalam hati. Dia butuh kepastian.


“Ti-tidak ada,” Aini menjawab terbata.


“Apa kau tahu, aku benci dengan orang yang berbohong!” Nada suara Arhen terdengar mulai ketus.


“Aku tidak berbohong. Tidak ada yang ingin aku katakan.”


“Ok!” Arhen berjalan dan memojokkan Aini, mengangkat dagu wanita itu, lalu mengecup bibirnya dan menggigit bibir itu sedikit kuat, hingga bibir itu terluka, membuat Aini meringis kesakitan dan reflek mendorong tubuh Arhen.


Mereka berdua saling tatap dengan keheningan.


“Aku akan bertanya sekali lagi! Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku, menjelaskan sesuatu padaku?” Tatapan Arhen begitu tajam, seolah ingin menelan Aini bulat-bulat.


“Tentang apa?” tanya Aini.


“Ck! Kau menyebalkan!” Arhen berdecak kesal, lalu langsung mengangkat Aini, merebahkan tubuh istrinya itu dengan kasar di atas ranjang. Tanpa ciuman dan sentuhan lembut, Arhen langsung membuka dan menarik pakaian Aini dengan kasar.


“Ka-kamu ma-mau ngapain?” Aini mencoba mempertahankan pakaiannya karena khawatir dengan sikap Arhen.


“Ck! Diam! Bukankah kau bertanya tentang? Tentang sesuatu yang ingin kudengar, sesuatu yang harusnya kau jelaskan padaku Nur!”


Sreeek! Dengan kasar, setelah membuka baju, Arhen merobek singlet yang dipakai Nur. Lalu menampilkan dadanya yang terbalut bra. Arhen menyibak bra itu ke atas.


Bukan hanya itu, dia menarik paksa dan membuka celan*a dal*am Aini. Mengangkat satu kaki Aini ke atas, menyentuh bekas luka di pangkal paha. “Ini luka apa? Apa yang terjadi pada hari itu, hah?” tanya Arhen menatap tajam.


Deg! Wajah Aini memerah, dia tampak gugup, kemudian pandangannya langsung tertunduk.


“Tatap aku!” Arhen meraih dagu Aini dengan kasar. “Katakan!”


“Maaf....” Hanya sepatah kata itu yang diucapkan Aini, kemudian diam.


Arhen terdiam lama, begitu pula Aini. Tubuh wanita itu sudah polos dieksekusi oleh Arhen. Pemuda tampan itu tak habis pikir, dengan menghembus nafas kasar, dia mengusap wajahnya, menyebut nama Tuhan beberapa kali, agar tak memarahi dan membentak istrinya dengan kata-kata yang tak pantas didengar.


“Maafkan aku yang serakah,” jawab Aini.


Arhen memicingkan matanya. “Serakah?” tanyanya menatap Aini tak percaya dengan ucapan yang akan dilontarkan istrinya.


“Ya, serakah. Aku serakah ingin memilikimu, aku ingin menikah denganmu. Saat itu, aku tak menjelaskan padamu. Aku tak ada niat berbohong, karena sejujurnya aku juga tidak tahu apa yang terjadi seterusnya. Setelah kamu mencium paksa aku, aku terluka di bagian paha, melihat darah segar mengalir di paha sampai kakiku, aku tak kuat, aku phobia darah, jadi saat itu aku langsung pingsan gak sadar diri.”


“Saat aku sadar, aku sudah diranjang. Lalu, kamu melamarku, aku serakah karena menerima lamaranmu tanpa menjelaskan apapun padamu. Maaf!”


Arhen terperangah. Badannya terasa melemah. Apakah dia harus marah? Dia merasa dibohongi, tetapi ... Ini adalah takdirnya bukan? Inilah yang disebut jalan takdirnya? Nuraini Putri adalah wanita yang dijodohkan Allah untuknya, sehingga kejadian seperti ini terjadi. Seberapa jauh pun mengelak, jika dia jodohmu, dia akan tetap bersamamu. Arhen mengusap wajahnya pasrah.


“Kenapa kau serakah terhadapku?” Arhen bertanya dengan menatap Aini lebih lembut daripada sebelumnya.


“Karena aku mencintaimu!”


Mata Arhen membulat sempurna. “Kau serakah karena mencintaiku? Cinta sebagai fans?”


“Bukan, aku cinta sejak dulu padamu,” jawab Aini.


“Ahahha! Ok! Rupanya semuanya sama! Karena aku artis, semua orang jadi serakah terhadapku! Baiklah!” Arhen langsung membuka bajunya, hingga tubuhnya polos.


“Sekarang kau sudah memiliki aku, aku sudah menikah denganmu, maka serakah lah denganku!” Perkataan itu terdengar aneh oleh Aini, kemudian Arhen langsung mencium bibir Aini, menyentuh tubuhnya dan menciumi dengan bringas, hingga melakukan penyatuan badan kembali.


Rasanya kali ini, penyatuan itu terasa berbeda, ada kemarahan yang terkandung di dalam, dari cara Arhen bermain terburu-buru dan kasar, tak ada lagi ciuman hangat nan manis yang ia mulai sebagai pembuka.


Setelah melakukan penyatuan, Arhen bangkit, meraih laci dan mengambil kotak kecil. Aini bisa melihat Arhen memegang sebuah gelang rajutan yang pernah dia berikan pada Arhen dulu.


Deg! Jantung Aini berdetak cepat. Arhen menatap gelang itu cukup lama, lalu ...


Arhen membuang gelang itu ke dalam tong sampah.


Deg! Aini terkejut. Setelah membuang gelang, Arhen kembali ke atas ranjang, langsung memeluk tubuh Aini.


“Aku tak peduli dengan alasanmu, apapun itu! Aku sudah menikahimu, jadilah istriku dengan baik, istriku sesungguhnya, jangan cintai aku sebagai idola, tetapi cintai aku sebagai suamimu, paham!” Arhen membenamkan wajahnya di dada Nur, lalu memejamkan matanya.


Perkataan yang dia ucapkan barusan, bukanlah sebuah permintaan, tetapi perintah.