Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Memancing Bersama di Desa


Jalanan tampak remang karena langit jingga sudah mulai menggelap, suara adzan pun berkumandang memanggil.


Rukhsa dan Sikembar berjalan ke Mushola. Sikembar sudah menyandang tas belakang dan sarung melilit di leher serta memakai peci di kepala mereka.


Tiiin! Terdengar suara klakson berbunyi, itu suara motor Pak RT.


“Duluan, ya!” sapa Pak RT ramah, ia membonceng Andrean yang tampak kikuk.


“Eh, itu 'kan, Papa?!” gumam Sikembar serempak.


“Iya, itu Papa kalian.” jawab Rukhsa lembut.


“Oh, Mom sendirian dong di rumah.”


“Gak lah!” Arhen mencubit pipi Ardhen lembut. “Mom 'kan sama Kakek!” sambungnya lagi.


“Eh, iya, ya! Adik lupa.” Ardhen nyengir.


Andrean telah berwudhu dan masuk terlebih dahulu bersama Pak RT. Beberapa orang yang sudah terlebih dahulu masuk sejak tadi, langsung menyalami Pak RT dan Andrean. Setelah bersalaman, Pak RT langsung melakukan sholat sunat masuk mesjid dan Sholat qobliyah magrib yang dikerjakan sebelum melakukan sholat magrib.


Andrean hanya duduk diam, jujur dia tidak tahu. Sakinah baru mengajarkannya sholat wajib 5 waktu, beberapa do'a dan hal lainnya. Akhir-akhir ini, ia juga tak sering membaca buku yang diberikan Sakinah karena sibuk dengan dunia bisnis dan masalah yang menimpa keluarganya beberapa saat yang lalu.


Ia melirik para pria di sampingnya dengan ekor matanya, sebagian ada yang sholat sendiri seperti yang dilakukan Pak RT, sebagian mereka berdzikir, ada yang main hp dan berbisik-bisik. Tentu saja yang berbisik itu anak-anak dan remaja yang baru saja puber.


Tak lama, Sikembar datang, mereka berdiri di belakang shaf Andrean yang berada di baris pertama. Andrean memutar badannya ke belakang, untuk menoleh pada Sikembar, tampak mereka bertiga juga langsung sholat sendiri-sendiri.


‘Hm, aku harus tanya pada Kinah setelah ini!’ gumam Andrean, kemudian kembali berbalik.


Beberapa saat kemudian, Pak RT dan Sikembar telah selesai sholat sunat, tak lama suara Iqamat terdengar, seruan untuk segera berdiri untuk sholat magrib berjamaah.


Imam pun berdiri paling depan, semua makmum merapikan shaf dengan rapi dan lurus.


“Allahuakbar!” Imam melafazkan. Semua makmum mengikuti membaca Allahuakbar dan melipat tangan di dada. Lalu, melanjutkan sampai mereka duduk tahyat akhir.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.” Imam mengucapkan salam, yang diikuti semua makmum.


Setelahnya mereka berdzikir dan berdo'a bersama. Andrean ikut-ikutan membaca Aamiin saat mendengar semua orang berseru amin. Ia tersenyum kecil, lingkungan tempat tinggal istrinya dahulu begitu menyenangkan.


Setelahnya, Pak RT Membawa Andrean berkeliling kampung bersama para bapak-bapak lainnya. Menunjukkan jembatan baru yang baru saja selesai, tugu selamat datang di desa dan beberapa rumah bantuan.


“Terimakasih banyak Pak Andrean, semoga PT. Wilz Plantsgroup selalu berjaya dan penuh berkah.” ucap mereka yang berada di sana. Bahkan ada yang menangis haru karena mendapatkan rumah bantuan.


“Berterimakasihlah pada Pak RT dan bapak pengurus lainnya, saya hanya menerima info dari mereka saja. Jika bukan karena mereka saya tidak akan tahu apa-apa.” jawab Andrean ramah.


“Nak Andrean, Anda sungguh berhati mulia, terimakasih banyak.”


Andrean tersenyum bingung, uang yang ia sumbangkan hanya 500 juta saat itu pada Ayah Billa, atas keberhasilan Arsen dan dirinya di even Jewerly. Lagian uang segitu biasanya hanya ia buang-buang untuk kekasih liarnya, bersenang-senang beli barang-barang branded. Tak pernah ia sangka, uang segitu bisa membuat beberapa rumah mini tipe 21, jembatan, dan beberapa bangunan lainnya.


‘Lain kali, aku akan memberikan lebih, agar desa istriku tercinta lebih makmur lagi.’ gumam Andrean.


Di tempat lain, tepatnya di Mushola. Anak-anak baru saja selesai mengaji bersama Ruksha dan Ruslan. Lalu, melakukan sholat isya berjamaah.


Andrean, Pak RT dan yang lainnya juga kembali ke Mushola saat mendengar adzan isya berkumandang, setelah sholat mereka kembali berbincang-bincang di pos ronda.


Semua murid setelah berdo'a langsung bersalam dan mencium tangan Rukhsa dan Rushlan untuk berpamitan pulang. Biasanya, yang sholat di Mushola kebanyakan bapak-bapak, kakek-kakek, anak-anak mengaji dan nenek-nenek, sedangkan ibu-ibu jarang sholat berjamaah di Mushola. Ibu-ibu berkumpul hanya waktu tertentu seperti bulan puasa, lebaran dan wirid setiap hari rabu.


“Bibi, kami memancing di sekitat rawa, ya.” Sikembar meminta izin.


“Iya, hati-hati.” Rukhsa mengelus kepala ketiga keponakannya. “Sudin, Agung, dan lainnya tolong jaga mereka bertiga, ya.” pesan Rukhsa.


“Insyallah, akan kami lakukan Ustadzah.” jawab Agung, Sudin dan lainnya serempak.





Mereka mulai memasang umpan dan mengayunkan pancing agar terlompat agak jauh. Arsen lebih memilih membenamkan tali pancingnya ke dalam lubang yang berada di sekitar kakinya.



“Loh, Abang kok narok tali pancingnya di sana?!” tanya Arhen.



“Biar dapat lele!” jawab Arsen.



“Hah?” Arhen terbengong. Begitu pula Ardhen.



“Kalau begitu Adik juga, Ah.” Ardhen memasukkan tali pancingnya perlahan ke dalam lubang yang tak jauh dari tempat ia jongkok.



Tak lama pancingan Sudin terasa ditarik. “*Straikkk*!! teriaknya menggulung tali pancingan dengan cepat.



Setelah tali pancing mendekat dan terlihatlah sosok ikan yang mereka dapat, seketika itu juga wajah Sudin melesu. “*Haaah! Dapek lauak bakok! Paliang maleh den dapek bakok Jo kiuang ko*!” gerutunya kesal. (Menjengkelkan, aku paling tak suka mendapatkan ikan gabus putih ataupun ikan gabus perut kuning.)



“Bakok? Ikan apa itu?” tanya Arhen bingung. “lah, ini 'kan ikan gabus!” serunya lagi.



“Wah, ikan ini enak dan bagus untuk kesehatan, bisa membuat otak cerdas loh, bisa di masak asam pedas, sup ikan atau panggang ikan keju, bla, bla, bla,” Panjang lebar Ardhen menjelaskan dengan semangat.



“Stop! Udah! Kalau adik mau, tinggal minta saja. Jangan banyak bicara, kalau berisik, nanti gak dapat ikan!” tegur Arsen. Mereka pun akhirnya diam.



“*Oi, lauak bakok ko bahaso Indonesia nyo ikan gabus, yo? Aden tau lauak limbek nyoh, ikan lele bahaso Indonesia nyo. Kalau lauak badasenter, apo bahaso Indonesia nyo, yo*?” bisik Agung pada Sudin. (Hei, lauak *bakok* dalam bahasa Indonesia nya ikan gabus ya, aku hanya tahu lauak *limbek* itu ikan lele. Ngomong-ngomong badasenter bahasa Indonesia nya apa, ya?)



“*Antah, ndak tau*!” balas Sudin berbisik kembali. (Entahlah, aku juga tidak tahu.)



“Wah, wah, adik dapat ikan!” seru Ardhen saat merasakan pancingan nya ditarik. Ia pun menarik pancingannya. “Haaaaa!” soraknya terkejut. “Ulaaaaaaaaar! Ada anak ular nyangkut di pancing ku!!” pekiknya melempar pancingan.



Sudin mengambil pancingan itu dengan terkekeh. “Ini bukan anak ular, Ardhen! Ini ikan *baluik*! Hm, apa yang bahasa Indonesianya, ikan balut.” jawab Sudin bangga dengan senyum merekah.



Agung memukul bahunya. “Bukan balut, Din. Tetapi belut.”



Ahahahha! Beberapa teman lainnya malah terkekeh mendengar. Ya, anak-anak di desa ini memang tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia, walaupun mengerti, tetapi lidahnya masih patah-patah karena selalu menggunakan bahasa daerah, bahkan disekolah sering menggunakan bahasa daerah.