Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Gombal


Hati yang dipenuhi dengan api cemburu, membuat Arsen terus menggerutu.


Dia menarik laci kecil di bawah kursi depan yang berada di samping kursi kemudi, kemudian dia mengambil sebuah mainan kecil, kumbang hitam.


“Hm, sudah lama aku tak menggunakanmu, King!” Arsen mengambil kamera kecil yang selalu terpasang di dalam mainan dasinya.


“Bekerjalah dengan sempurna, aku mengandalkanmu, King!” Arsen berkata pada kumbang hitam mainan itu. Lalu mulai menerbangkannya dengan tombol kecil yang ia pegang.


“Tuan Muda, bukankah itu sangat bahaya, bagaimana kalau mereka menyadari ada seekor kumbang, memukul dan membakarnya?” Xander Pim berkata. Iya cukup sayang, jika kumbang hitam itu hilang cuma-cuma untuk mengintai Roselia kini, harga kumbang itu setidaknya ratusan juta rupiah. Setara dia bekerja setahunan lebih.


“Paman, tenanglah! Kumbang itu warna hitam, aku tak akan menerbangkannya disekitar cahaya api unggun. Tak usah khawatir.” tolak Arsen dengan nasehat Xander Pim.


Kumbang itu mulai terbang perlahan, Arsen mengontrolnya dengan baik, setelah ia menghubungkan jaringannya ke ponselnya satu lagi. Kumbang itu mengitari beberapa orang, hinggap sebentar di ranting kayu, lalu kaca spion bus, beberapa kali hinggap karena khawatir seseorang memukul dan menangkapnya.


Akhirnya, kumbang hitam sampai di dekat Roselia.


“Ros!” Rayyan memanggil dan menyibakkan rambut Roselia, hampir saja tangannya mengenai kumbang hitam yang baru mendarat sempurna di rambut Roselia.


“Rambutmu terbang dan melayang-layang, menampar wajahku, sanggul sana, atau ikat saja!” kata Rayyan


Kumbang itu segera masuk ke dalam topi jacket Roselia.


“Apa kau masih dingin? Aku akan membuatkan teh untukmu, atau kau ingin ikan bakar?” tanya Rayyan, Ros menggeleng.


“Atau ... mau jagung bakar? Nuget bakar? Sosis bakar?” tanyanya, Ros masih tetap saja menggeleng sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya dan meniupnya.


“Atau ... kau mau bakar hati?” Rayyan menarik turun kan alisnya.


“Hati apa?” Ros bertanya.


“Hatiku, hehehe!” Rayyan nyengir. Ros mencebikkan bibirnya.


“Ros, kamu tau nggak, apa bedanya kamu sama taman kota?” Rayyan menyodorkan sosis bakar pada Ros.


“Ya bedalah, aku manusia, taman kota itu bukan manusia!” jawab Ros, lalu mengambil sosis yang disodorkan Rayyan.


“Salah!” jawab Rayyan, lalu melahap sosis miliknya.


“Hm, apa bedanya emang?” Ros menatap Rayyan sambil memakan sosis itu. Padahal, tadinya ia berkata tak mau, tapi dia me sosis itu juga akhirnya, karena diajak berbincang oleh Rayyan.


“Karena kalau taman kota itu milik bersama, kalau kamu kan sahabatku, cuma milikku seorang lah! Ahahaha!” Rayyan tertawa, Ros pun menepuk pundak Rayyan pelan.


“Hm, apa bedanya?” Ros langsung bertanya kembali karena dia penasaran.


“Karena, kalau cincin itu melekatnya di pajangan toko, buat di jual ke orang-orang, kalau enggak ya dijari tangan melekatnya, tetapi kalau kamu 'kan melekat di hatiku, hahahaha!” Rayyan berkata masih dengan tertawa.


“Dasar tukang gombal, playboy! Ahahha!” Ros juga membalasnya tertawa sambil memukul-mukul bahu Rayyan.


“Hei, Ray, Ros, kalian mau kopi atau teh?” Seseorang bertanya sambil bersorak menghentikan tawa mereka.


“Ros teh hambar, aku kopi tanpa gula ya!” jawab Rayyan berteriak.


Tak lama, minuman pun datang. “Nih, minumannya! Kamu bawa gitar Ray?”


“Iya, tuh!” Rayyan menunjuk gitar yang ia geletakkan di belakangnya.


Temannya itu mengambil dan langsung berdiri di tengah-tengah, beberapa orang yang bergitar lainnya juga berdiri bersama, ada yang memegang ember dan botol minuman, botol bir, botol minuman kaleng, kayu dan sendok


Terlihat mereka bicara sebentar, saling menyetel musik dan mencocokkan.


Sedangkan di dalam mobil, Arsen berdecih beberapakali.


“Perkataan segaring itu aja ketawa! Kamu tau gak apa bedanya kamu dengan taman kota, kamu tau gak apa bedanya kamu dengan cincin! Cih!” Arsen kesal sekali, sampai ia mengulang pertanyaan Rayyan, hanya ingin mengejek ucapan itu dengan bibir mencibir.


Xander ingin rasanya tertawa lepas, namun ia menahannya, sehingga ia hanya tersenyum kecil, bahkan sekali-kali mengusap wajah, saat ingin tersenyum, berpura-pura menguap. Atasannya yang dibalut cemburu itu tampak sangat lucu.


Arsen tak bisa menangkap jelas suara lagi karena suara gendang dan botol yang dipukul teman di samping Roselia untuk mengiringi musik itu terdengar sangat nyaring dan berisik, belum lagi Roselia menggerakkan tangannya untuk bertepuk tangan, sehingga kumbang hitam di topi jacket di belakang punggungnya juga ikut tergoyang-goyang.


Mereka bermain gitar dengan melodi nan indah, saling melengkapi, ditambah beberapa orang memukul ember, kaleng dan botol, menggunakan kayu, sehingga terdengar suara musik yang indah, mereka menyanyi bersama dengan iringan tepuk tangan juga.


Di sela-sela itu, Rayyan menyeruput minumannya, lalu berbisik pada Roselia. Adegan itu terlihat mesra di mata Arsen, seolah Rayyan mencium pipi Roselia, ia sangat geram.


Tapi, setelahnya ia mendengar dengan sedikit kurang jelas. “Ya, karena manisnya ada sama kamu!” kata Rayyan.


“Ahahaha! Dasar penggombal ulung! Jelas-jelas kopinya pahit, tidak pakai gula, mana mungkin manis, mana ada hubungannya minumannya sama aku!” Roselia mendorong bahu Rayyan sambil tertawa. Kedekatan mereka membuat Arsen murka.


“Setelah ini, aku akan ... Aaaaah!” Arsen kesal, ia tampak frustrasi.


Setelah ini apa? Dia siapa? Dia hanya atasan Kakaknya Ros, mereka tak ada hubungan dekat, bukan teman sekolah juga.