Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Londo dan Jero


Semua tentang gosip Ven Beutique, tentang Rufia menyukai Ardhen, tentang gosip Ardhen jahat pada karyawan, semuanya adalah kerjaan Londo, lalu skandal yang bertebaran di sosial media juga dilakukan oleh Londo.


Dia menyebar banyak gosip, sayangnya, gosip untuk Arhen yang dia sebar, membuat pemuda tampan itu semakin terkenal, sedangkan gosip untuk Ardhen langsung hilang dan dimusnahkan, hanya satu sampai dua hari bertahan, lalu situs itu hilang.


Semua itu karena diatur oleh Arsen.


Oleh karena itu, Londo bergabung dengan Sony yang juga mengincar Ardhen, lalu mereka juga bergabung dengan Johan, setelah menemukan kepentingan yang sama.


Sedangkan Jero, Pemuda tampan berkebangsaan Belanda-Jerman. Dia merasa tidak adil, kenapa Arhen selalu merebut peran utama miliknya. Jero merasa, akting dirinya lebih bagus dari pada Arhen. Jika tampang, dia juga tidak kalah tampan dari Arhen.


Dia berpikir, karena Arhen di dukung keluarga, kakak laki-lakinya, ayahnya, pamannya, memiliki perusahaan besar sebagai pendukungnya, Jero merasa Arhen terlalu rakus, jika sudah memiliki banyak uang, untuk apa lagi syuting? Kenapa harus merebut peran utama miliknya.


Kini, Jero mengirim beberapa orang ke Indonesia.


Jero sendiri masih di Belanda, dia hanya memantau dari jauh, dia sekarang berhasil memerankan pameran utama, dan dia sangat senang sekali mendengar pengumuman Arhen akan berhenti dari dunia hiburan. Akan tetapi, hatinya masih merasa tak tenang, fans Arhen masih ingin pemuda itu bertahan di dunia hiburan.


Dia tak ingin Arhen kembali, jika tidak membuat Arhen mati, setidaknya cacat, begitulah perintahnya pada orang-orang yang dia bayar.


***


Rayyan telah menunggu Roselia lama, tapi tak ada kabar, ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


“Kenapa?” tanya Ayah Rayyan.


“Oh, tidak apa-apa kok, Pa. Sepertinya temanku ada masalah deh, nomor hpnya gak aktiv, dia sudah dari tadi keluar dari toilet,” jelas Rayyan pelan.


“Dasar wanita tidak sopan! Papa padahal sudah meluangkan waktu berharga untuk bertemu, malah dia pergi tanpa pamit. Makanya, papa bilang, kamu tuh kalo berteman apalagi suka dan menjalin hubungan dengan perempuan, harus dilihat bibit, bebet, dan bobotnya! Jangan asal sembarangan aja! Begini nih akibatnya!” dengus Ayah Rayyan.


“Tidak kok Pa! Ros itu anak baik dan sopan! Pasti ada masalah. Tidak mungkin dia akan menghilang begitu saja!” bela Rayyan.


“Ah, Papa sudah selesai makan! Papa pergi!” Ayah Rayyan pun pergi dengan wajah kesal dari restoran itu.


Dia pun menghubungi Hans, nomornya juga tidak aktiv. “Apa ada masalah sama Kak Hans ya? Makanya dia jadi terburu-buru dan menghilang begitu saja?” pikir Rayyan.


Akhirnya, Rayyan memilih pergi, menuju apartemen Roselia. Setibanya di apartemen, tempat itu kosong, bahkan tampak acak-acakan seolah sudah di rampok. Dia pun berlari, melapor pada penjaga, dia meminta rekaman cctv, sayangnya rekaman itu sudah di rusak.


“Ros....” lirih Rayyan.


***


Sakinah hanya bisa istighfar, berdoa untuk keselamatan dirinya dan tiga anak yang terikat di bawah. Rasa panas terik matahari, lapar dan haus sudah mulai menyerang. Sungguh kejam mereka mengikat Sakinah tergantung di atas sana.


Badan lelah dan letih, rasa ngantuk pun mulai menyerang, namun perut keroncongan.


Dor! Mata Sakinah yang tadi mulai dia tutup untuk tidur, terbuka lebar saat mendengar suara tembakan. Matanya langsung menuju pada tiga anak yang berada di bawahnya.


Mereka bertiga terlihat baik-baik saja.


Dor! Dor! Dor! Terdengar suara tembakan mulai bersahutan, kemudian terdengar suara toa berbunyi.


“Ahahhha! Rupanya kau datang lebih cepat ya? Apa kau ingin melihat dia mati? Atau mereka bertiga? Coba saja kau menembak kembali!” Ultimatum yang terdengar dari toa.


“Aaaaaa, astaghfirullaaaaaah!” pekik Sakinah, saat tiang besi itu bergoyang dan menghentak turun sedikit.


“Hahhaha! Bagaimana? Kau suka? Atau mau yang ini?”


“Aaaaa!” Terdengar suara tiga anak kecil yang terikat di tiang pondasi pile itu serempak. Mereka bertiga diberikan kejutan listrik ringan melalui kabel yang di pegang oleh bawahannya.


“Ahahha! Bagaimana? Lebih baik cepat keluar, jika kau tidak ingin mereka semua mati seketika!” perintah dari toa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...