
Panas matahari telah mulai condong, menunjukkan hari sudah mulai sore. Missel tengah duduk di ujung ranjang bersama Clara. Menatap gerakan Sakinah tak berkedip.
Tadi, saat ia datang, ia langsung masuk ke kamar Sakinah bersama Clara, khawatir jika Nyonya Mudanya itu kenapa-kenapa, karena tak ada jawaban saat dipanggil.
Saat mereka berdua membuka pintu kamar, terlihat Sakinah sedang sholat. Missel lama mematung melihatnya.
“Oh, Nyonya muda lagi sembahyang, berdo'a pada Tuhannya.” ucap Clara memberitahu Missel dengan bahasa Belanda.
“Oh...” Missel berjalan ke arah ranjang, duduk diujung ranjang. Kamar ini luas dan polos, biasanya ada sofa, entah kenapa sekarang tak ada lagi, jadi Missel dan Clara memilih duduk diujung ranjang.
Setelah mengucapkan salam, Sakinah berdzikir dan berdoa. Barulah ia membuka mukenanya dan tersenyum pada Missel.
Missel pun juga tersenyum, hatinya merasa sejuk melihat Sakinah.
“Nyonya, saya diminta oleh Tuan Andrean kemari. Dia ingin pergi makan malam spesial bersama Nyonya, jadi izinkan saya untuk merias wajah Anda.” ucap Missel, kemudian diterjemahkan oleh Clara pada Sakinah.
“Baiklah, silahkan dipersiapkan saja dulu, tetapi saya hanya mau dirias setelah saya sholat magrib, kisaran jam 6 sore lebih.” jelas Sakinah.
“Baiklah, Nyonya. Saya akan menyiapkannya dan menunggu Anda.” jawab Missel.
Waktu magrib pun tiba, Sakinah sholat magrib terlebih dahulu, kemudian barulah ia dirias oleh Missel.
Missel merias secepatnya karena Tuan Muda Andrean mengatakan padanya akan makan malam bersama istrinya jam 7 malam. Kurang lebih satu jam berlalu, barulah Missel menyelesaikan pekerjaannya, merias wajah Sakinah, membantu mengaplikasikan dress bersama perhiasan yang cocok, sepatu yang tak terlalu tinggi dan runcing di bawahnya, karena Sakinah tidak bisa memakainya.
“Omg! Ur so beautiful!” seru Missel bangga. Sakinah benar-benar cantik.
Sakinah biasanya dirumah hanya memakai riasan tipis, tanpa maskara ataupun bulu mata tanam seperti Sekar mertuanya dan wanita lainnya. Pakaiannya panjang tertutup dan sederhana, hanya menggunakan cincin pernikahan dan kalung 300 Milyar yang dibelikan Andrean saat itu, kini berubah, terlihat seperti putri bangsawan.
Dress kembang berwarna merah dengan renda bunga berwarna hitam dibawah dan ujung tangannya, hijabnya mengkilat dengan bros burung peonik gold di leher samping. Bagian dadanya polos, ditambahkan dengan kalung glamor buatan perusahaan Ar3s yang baru dibawa Missel tadi, sehingga ia mencopot kalung embun pagi pemberian Andrean.
Di bagian kaki, ia memakai sneaker berwana hitam mengkilat, ada tali pengaitnya. Cincin permata biru yang diberikan Arsen ia pakai kembali setelah melepasnya semalam.
“Nyonya, cincin ini berwarna biru, tidak cocok, bagaimana kalau pakai Balck Ring Amber, atau Ruby Heart?” tawar Missel.
“Arsen tidak suka aku melepaskan cincin ini.” Sakinah menjawabnya dengan tersenyum.
“Ok, kalau begitu saya harus memberi bunga biru kemerahan di pinggang bagian kiri, agar senada dengan cincinnya.”
“Hm, baiklah.”
Sakinah tak mengerti dengan fashion, jadi ia menurut saja, bagaimana kata desainer pilihan suaminya.
~~
Jam 8 malam tepatnya, Sakinah sampai di tempat yang telah dipersiapkan Andrean. Tempat yang cukup tinggi dari daerah lainnya. Sakinah dan Andrean tengah duduk di gazebo yang dibangun ditengah kolam yang panjang dan lebar di atas tempat tinggi itu.
Sakinah menoleh kesampingnya, kelap-kelip cahaya lampu yang indah diujung sana, apalagi ditemani dengan alunan musik yang syahdu. Seorang perempuan pemain biola berdiri di pojok memejamkan matanya, menggesek dawai biola dengan menghayati.
Kelopak bunga mawar ditaburkan di kolam yang lebar dan panjang itu, beberapa lilin aromaterapi juga dibakar di dalam mangkuk khusus yang diapungkan diatas kolam itu bersama kelopak-kelopak bunga mawar.
“Suka sih, tapi boros.”
‘Eh?’ Andrean untuk pertama kalinya mendapatkan reaksi seperti ini, biasanya wanita-wanita yang berkencan bersamanya, langsung terharu dan berhamburan memeluknya. Tangan yang tadi sudah ia lebarkan kembali ia letakkan di samping pahanya.
Senyumannya pun menjadi kecut.
“Tak apa Sayang, ini juga sekali-kali, kita tidak pernah makan romantis sebelumnya. Aku bekerja, cari uang banyak, buat kamu.”
“Iya, aku tahu. Aku bahagia dan bersyukur, kamu adalah suami yang bertanggungjawab, tak pernah sekalipun kurang dalam menafkahiku lahir dan batin, malahan berlebih.” jawab Sakinah tersenyum.
“Tetapi, sesuatu yang berlebihan seperti boros itu, tidaklah baik. Tak perlu tempat mewah dan elit, dipenuhi bunga begini,” kata Sakinah lagi, membuat Andrean mengerucutkan bibirnya. Bukannya dapat pujian malah dapat protesan!
“Aku akan tetap suka dan bahagia, asalkan bersamamu. Kau genggam saja tanganku seperti ini, itu sudah romantis.” lanjut Sakinah lagi, mengeratkan tangan mereka berdua. Membuat wajah Andrean bersemu merah, dadanya berdebar-debar.
“Apa kau suka aku genggam begini?” tanyanya menatap wajah cantik istrinya.
“Suka. Terasa hangat.”
“Cup! Andrean kembali mengecup punggung tangan Sakinah. “Apa kau mau berdansa denganku?”
“Hah? Bukannya mau makan malam? Kok dansa?” ujar Sakinah. “aku... aku tidak bisa berdansa...” gumam Sakinah pelan, malu.
“Aku akan mengajarimu.” Andrean langsung mengulurkan tangannya kehadapan Sakinah. “Maukah engkau memberikanku kehormatan Istriku, mari berdansa denganku!”
Sakinah menyambutnya dengan ragu dan malu-malu.
Setelah tangannya disambut, Andrean langsung meletakkan tangannya di pinggul Sakinah, melirik wanita pemain biola. Wanita pemain biola itu mengganti musik biolanya. Lalu, memulai berdansa dengan Sakinah.
Sakinah sangat kaku. Jujur saja, dia tidak pernah berdansa selama ini, baru pertama kali ia berdansa, bukan dia tak tau apa itu dansa, ia pernah, bahkan sering menonton orang-orang berdansa. Tetapi baru kali ini ia berdansa.
“Sayang, tatap aku. Jangan tegang begitu, kamu harus menikmati musiknya, rasakan kebersamaan kita.”
Andrean mencoba memutar tubuh Sakinah, beberapakali gerakan dan putaran Sakinah masih kaku, salah langkah dan memijak sepatu Andrean.
“Sayang, aku sungguh tidak bisa.”
“Tidak apa-apa, nanti kita akan sering berlatih agar kamu bisa.”
Sakinah tersenyum. Waktu itu ada guru dansa juga yang datang ke mansion, tetapi Arhen dan Ardhen menolak, mengatakan bahwa ia tak harus mengikuti pelajaran seperti itu pada sang Guru, karena Ibunya hanya akan disembunyikan. Tetapi, kini Andrean ingin melatihnya.
“Baiklah Sayang, aku akan berlatih bersamamu sampai pandai, hingga suatu hari nanti, saat ada acara besar keluarga, aku bisa berdansa denganmu, tidak membuatmu malu.”
Andrean menghentikan pergerakannya, tangannya bergerak mengelus bibir Sakinah yang merah itu. “Sssst! Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Sayang. Tidak ada hal seperti itu.”
Ia mengelus pipi Sakinah lembut, “Kau sangat, sangat, saaaangaaat cantik malam ini. Walaupun malam lainnya tetap cantik, malam ini lebih memukau. Terimakasih telah bersedia menjadi istriku, menikah dan memilih aku yang buruk ini.”
Cup! Andrean mencium mesra bibir Sakinah.