
...Mohon yang dibawah umur dan kaum jomblo menghindar! Bab, Haredang! ...
...----------------...
“Ya ... walaupun begitu, sebenarnya Arsen anak yang baik, maafkan kekuranganku dalam mendidiknya, aku akan mendidiknya agar lebih sopan lagi padamu.” ucap Sakinah.
Hening, tak ada jawaban. Sakinah menoleh menatap Andrean yang terlihat hanya diam, namun matanya menatap kearah Sakinah.
“Hm, kenapa kamu diam saja? Apa kamu marah?” Sakinah masih menatap Andrean yang menatapnya diam dengan tatapan kosong.
Sakinah masih menatap Andrean cukup lama, mata suaminya itu juga menatapnya, tetapi dengan pikiran yang terbang entah kemana.
“Hai, hai!” Sakinah melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Andrean, suaminya itu masih saja bergeming.
Lalu, tiba-tiba tersenyum sendiri, membuat alis mata Sakinah berkerut.
Andrean mengerucutkan bibirnya ke depan, bibir itu terlihat lucu, Sakinah tergelak. “Hihihi, apa yang kamu pikirkan?” Refleks tangan Sakinah menepuk dada bidang Andrean.
Andrean terkesiap, saat tangan Sakinah menepuk-nepuk dadanya, matanya mengedip beberapa kali, otaknya segera memutar untuk berpikir.
‘Siaaal! Memalukan sekali! Aku sampai berhayal! Ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam hidupku! Menghalayal adalah tindakan yang paling bodoh, aku bahkan sudah melepaskan keperjakaanku saat umur 15 tahun, kenapa sekarang aku menjadi anak remaja kecil yang baru pertama kali melihat gadis saat puber?’
Ya, setelah bercerita tentang Arsen yang akan berbicara pedas padanya, dia langsung menghayal kalau ia keceplosan mengatakan cinta pada istrinya, kemudian Sakinah membalas cintanya, mereka pun berciuman, hendak menghabiskan malam yang indah. Rupanya ... itu hanya hayalan semata!
Wajah Andrean merah padam, bahkan hingga daun telinganya memerah juga saat mata mereka berdua bersirobok. Jantungnya berdegup cepat tak karuan.
“Maaf, ya, aku akan mendidik Arsen lebih sopan lagi ke depannya.”
“I-iya, itu tidak masalah.” jawab Andrean. “aku suka kok dengan sikap tegasnya.” sahutnya lagi, ia mengontrol dirinya yang sedang malu, menstabilkan debaran didadanya.
“Ya, walaupun begitu. Seorang anak tidak boleh berbicara tidak sopan pada orangtuanya.” ucap Sakinah.
“Kedepannya, aku akan mendidiknya lagi. Hm, kalau begitu, aku istirahat dulu, selamat malam.” sambung Sakinah.
Ia bersiap tidur, melepaskan hijab yang ia kenakan, sehingga rambutnya yang pendek itu memperlihatkan garis-garis lehernya, pemandangan itu membuat Andrean menelan salivanya. Sakinah memilih tidur memunggungi Andrean yang masih terduduk ditepi ranjang.
“Selamat malam.” ucap Sakinah sekali lagi sebagai penutup malam.
“Hm ... selamat malam.” jawab Andrean lesu.
Andrean menatap kecewa punggung itu.
‘Bagaimana caranya ya, aku mengajak dia bercinta denganku? Bukankah dia mengatakan surat nikah kami lebih berarti, artinya dia bersedia bersamaku 'kan? Waktu itu ... dia juga mengatakan, kalau aku sudah mandi taubat, dia mau melakukannya denganku! Aku bahkan sudah lama menahan biraahiku, tak ada wanita lain yang kusentuh lagi sejak aku berjanji padanya waktu itu. Apa dia tidak mengerti? Kenapa dia tidak peka sama sekali?!’ Mengomel sendiri dalam hati.
Salah Andrean sendiri sih sebenarnya, seharusnya ia menggoda dan merayu Sakinah seperti pada wanita-wanita yang sering ia goda itu. Kalau perlu membujuk dan memohon. Ini ... malah keberaniannya menghilang dan tiba-tiba menjadi bodoh saat berhadapan dengan Sakinah.
Sebenarnya keberuntungan telah berpihak padanya, seorang wanita diperkosa pasti akan mengalami trauma jika bertemu dengan sipemerkosa, bagaimana mungkin wanita itu akan lebih agresif padanya? Sedangkan Sakinah, ia telah mencoba membuka hatinya, tidak menolak dan masih memilih tetap bersamanya.
Andreanlah yang seharusnya lebih agresif dan mendekatkan diri pada Sakinah. Bukankah begitu?
“Hei, kau sudah tidur?” tanya Andrean.
“Belum, ada apa?” jawab Sakinah sembari memutar tubuhnya.
“Itu,” Andrean mengelus tengkuknya. “Bisakah kau membantuku?”
“Ya, Insyaallah. Jika aku mampu, aku akan membantu dengan senang hati. Kamu perlu bantuan apa?” tanya Sakinah menatapnya.
Andrean mengelus lengannya. ”Tanganku terasa pegal, bi-”
“Baiklah.” jawab Sakinah memotong ucapan Andrean, ia langsung duduk dan mendekat.
Sakinah langsung mimijat tangan Andrean, kemudian pindah ke bahu dan punggungnya, Sakinah juga memijat kepalanya dengan sesekali menarik-manarik rambut Andrean.
Beberapakali Andrean merapikan duduknya. Ya, sekarang posisi Sakinah berada dipunggunggnya, saat Sakinah memijat kepalanya, beberapa kali punggung itu bisa merasakan gundukan daging empuk Sakinah.
Semakin dipijit, semakin salah, rasanya enak, tetapi membuat pikirannya melayang-layang. Mungkin karena dia yang mesum, sehingga saat jari jemarinya dipijit Sakinah, ia malah membayangkan istrinya itu menghisap jarinya.
“Ah, sudah!” Ia menarik tangannya saat Sakinah memijat jari tangan itu. Adik kecil dalam celananya terasa ngilu.
Otaknya benar-benar sudah tak bisa lagi ia ajak berpikir jernih.
“Maaf, jika pijitanku masih tak terasa enak.”
“Enak kok.” jawab Andrean, lagi ia kembali membenarkan celana boxernya.
Mata Sakinah menangkapnya kali ini, bahkan ia bisa menebak bagaimana keadaan adik kecil itu sekarang.
Sakinah mendekat, menggelayutkan tangannya dileher Andrean.
Deg! Posisi yang membuat Andrean semakin berdebar, badannya terasa panas dingin, mata Sakinah yang menatapnya membuat ia terhipnotis.
Sumpah, ia tak bisa lagi menahannya!
Cup! Satu kecupan ia tempelkan cepat dibibir Sakinah. Wanita itu meresponnya dengan tersenyum, kemudian membalas dengan satu kecupan juga. Cup!
Lagi, Cup!
“Mhm,” Terdengar suara yang tidak jelas.
Andrean yang dicium seperti itu membalas ciuman Sakinah. Peraduan bibir itu kali ini cukup lama, dada mereka berdua sama-sama bergemuruh hebat, Andrean mengulum bibir bawah Sakinah, lidahnya pun lincah bergerilya memasuki rongga mulut Sakinah, ia pejamkan matanya menikmati sensasi mendebarkan ini.
‘Apakah ini masih hayalanku? Atau aku bermimpi dalam tidur? Aku tak ingin bangun, aku ingin menikmatinya.’ gumam Andrean dalam hati.
Ia semakin buas, mencicipi semua sisi bahkan sudut bibir itupun tak luput. Lincah dan berpengalaman.
“Mhm!” Sakinah mendorong dada Andrean pelan, nafasnya tersengal-sengal, pipinya terlihat memerah, bahkan juga ujung hidungnya.
“Perlahan saja, aku kehabisan nafas.” tuturnya lembut.
“Maaf.” Andrean mengusap wajahnya.
Sakinah kembali mencium, masih sama, Andrean menikmatinya, ia mengulum bibir bawah Sakinah, kemudian bibir atas. Andrean melepaskan pagutan bibir itu, menangkup kedua pipi Sakinah.
“Buka sedikit lagi bibirnya,” perintah Andrean, Sakinah membuat bibirnya setengah terbuka.
“Jika aku menyesap bibir bawahmu, kau harus menyesap bibir atasku, begitupun sebaliknya.” ucap Andrean.
Mereka pun kembali berciuman, apa yang diajarkan Andrean dilakukan oleh Sakinah. Saat ia mengulum bibir atas, Sakinah akan mengulum bibir bawah, penyatuan bibir yang sempurna. Ciuman Andrean terasa sangat lembut dan menggetarkan, seolah mengirimkan sinyal pada Sakinah.
Entah dikabut asmara atau hasraat Sakinah mulai naik, ia meletakkan tangan Andrean di dadanya, tentu saja Andrean yang tadi masih menjaga sikap, mulai memberikan pijatan manja di dada itu.
Tangannya mulai nakal meraba-raba, hingga terdengar suara ******* yang manja dari bibir Sakinah.