Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Resign


Lutut Rufia terasa bergetar saat ia memaksa berdiri, hatinya benar-benar tak kuasa mendengar penolakan itu. Ia juga pergi ke toilet, membasuh mukanya, menutupi matanya dengan bedak agar tak terlihat usai menangis, tetapi sayang, bekasnya masih terlihat walaupun di tutupi bedak.


Ia kembali ke meja resepsionis, di lihatnya mobil Ardhen sudah tak ada di parkiran tadi sebelum ia sampai di meja kerjanya. Artinya, pemuda tampan berambut coklat itu telah kembali ke kantornya.


“Hei, Nona Rufia, apa kau baik-baik saja?” Haizum berbisik.


“Aku baik-baik saja Nona Haizum,” jawab Rufia memaksakan senyum.


“Senyumanmu terlihat buruk Nona. Jika kau sedang kurang enak badan, istirahatlah, yang lain akan membantu dan menunggu mejamu!”


“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja!”


“Hm, baiklah kalau begitu.”


Drrrrt! Hp Rufia bergetar, terlihat sebuah pesan dari Abraham.


“Ruf, nanti setelah Vend Boutique tutup, aku ingin mengajakmu makan malam berdua, bisakah kita pergi berdua, aku mohon untuk sekali ini saja, tolong luangkan waktumu ya! Please, temanku yang paling cantik dan baik sedunia.” pesan Abraham seperti biasa memujinya cantik dan baik.


“Ok!” Rufia membalasnya. “Aku akan menyelesaikan semua masalah ini,” gumam Rufia dalam hati.


Malam hari.


Rufia datang ke restoran yang ditunjukan alamatnya oleh Abraham, pemuda itu rupanya memesan ruangan VVIP.


“Kau sudah datang? Hm, ayo, duduk!” Abraham tersenyum ramah dan cerah seperti biasa, ia terlihat rapi dan tampan dari biasanya.


Abraham menekan tombol di samping, tak lama makanan disajikan oleh para pelayan. “Ayo, kita makan kenyang dulu, sebelum mengobrol, aku sudah lapar!” ucap Abraham.


Rufia hanya mengikuti dengan diam.


“Hm, kamu kenapa Ruf, kamu terpaksa ya? Apa kamu tidak suka hanya makan berdua denganku saja?” Abraham menghentikan suapannya, saat melihat Rufia sejak tadi tidak bersemangat seperti biasanya, bahkan makannya di bolak balik sejak tadi.


“Tidak kok, sepertinya aku hanya datang bulan, jadi perasaanku jadi kacau, biasa lah!” Rufia membuat alasan.


“Apa dia akan menyatakan cinta padaku? Apa benar dia menyukaiku seperti yang dikatakan Ardhen?” Rufia bergumam dalam hati. Hatinya masih sedih.


Setelah makan, Abraham mulai bercerita panjang lebar, membahas tentang mereka kuliah dulu, lalu mengatakan inti dari ceritanya.


“Aku akan pergi ke Jepang beberapa hari lagi, mungkin ini adalah makan bersama kita untuk terakir kalinya, Ruf, karena itu ... aku hanya ingin kita berdua saja. Maaf, ya, jika kau merasa terpaksa menuruti keinginanku.”


“Kenapa kamu ke Jepang?” Rufia bertanya, ia menatap Abraham.


“Em, aku ikut Pamanku di sana, ingin belajar masakan Jepang!” sahut Abraham.


Abraham melirik jam di tangannya. “Wah, kita sudah 2 jam saja di sini, tak terasa! Ayo, kita pulang, besok kamu harus bekerja 'kan? Aku antar ya!” ajak Abraham.


Abraham pun mengantarkan Rufia kembali pulang, tepatnya di Vend Boutique.


Di dalam kamar, Rufia memeluk lututnya di atas ranjang. “Jadi, itu alasannya wajah Ardhen tampak tak bersahabat, ia dengan tegas menolakku, karena Abraham memilih pergi ke Jepang. Akan tetapi, apakah benar Abraham menyukaiku sejak dulu? Jika benar, ke apa barusan dia tak mengatakan apapun padaku?” Rufia bergumam.


Ia teringat kembali perkataan Ardhen. “Tanya pada hatimu, apakah sebenarnya kau mencintaiku atau hanya sekedar mengagumi ku?” Rufia berpikir dan terus berpikir, tetapi air matanya selalu tumpah jika mengingat itu.


Keesokan paginya, Abraham sedang berbincang dengan Cleo, ia telah duduk di kursi kerja mereka masing-masing sambil terkekeh. Ardhen berjalan tanpa menyapa kedua pemuda itu, dia memilih diam dan sibuk memainkan hpnya kemudian.


“Eh, kenapa tuh Bocah?” Cleo menyenggol Abraham, melirik Ardhen yang terlihat bersikap aneh.


“Kesambet sekretaris baru di depan kali, hehehe!” jawab Abraham terkekeh, lalu berjalan ke meja Ardhen.


“Dhen, nanti malam ke rumahku ya!” Abraham menepuk pundak Ardhen.


“Aku gak bisa, sibuk!” jawab Ardhen, ia masih menatap ponselnya.


“Enggak!” Arhen menghindari tatapan Abraham.


“Aku gak tahu, pokoknya nanti malam ke rumahku!” Abraham meletakkan ponsel Arhen, lalu kembali ke kursi kerjanya.


Malam hari, di rumah Abraham.


Pelayan tengah sibuk memasak berbeque di tepi kolam.


Cleo menjemput Arhen ke mansionnya, pemuda itu banyak alasan sejak tadi, sehingga Cleo menarik paksa dia.


“Memang ya ada acara apa sih?”


“Makanya, ayo ke sana!”


Akhirnya Ardhen pergi juga karena di Sakinah mendukung desakan Cleo.


“Kalian sudah datang? Ayo, kita berenang! Lalu berpesta!” seru Abraham.


“Ayo!” Cleo membuka baju dan mencemplung ke kolam berenang beriringan dengan Abraham, mau tak mau Ardhen pun juga membuka bajunya, memakai celana renang yang sudah di sediakan Abraham, lalu melompat ke dalam kolam.


“Hahaha, sudah lama kita tidak berenang!” Abraham tampak tertawa.


“Ahahahha, Iya!” jawab Cleo juga tertawa. Sedangkan Ardhen tak bisa tertawa, hatinya masih terasa sedih dan kecewa, hingga sekarang, Abraham masih belum mengatakan apa-apa, padahal surat resign sudah di urus dan digantikan Ibu Abraham.


Setelah cukup puas berenang, mereka memakan makanan yang sudah di bakar pelayan.


“Dhen,” panggil Abraham di sela mereka makan. Arhen menoleh padanya.


“Hm, aku akan pergi ke Jepang ke rumah Pamanku. Em, aku sudah mengurus surat-surat resign, em ... apakah...”


“Ya, tak apa-apa! Jika kau merasa yakin akan keputusanmu itu, tidak masalah,” jawab Ardhen tegas.


Cleo dan Abraham menatap Ardhen, mereka berdua tak menyangka dengan reaksinya, biasanya pemuda itu akan berkata ketus dan akan marah, menceramahi kedua temannya.


“Kau-”


“Aku tak apa-apa, aku harap kau merasa bahagia di sana!” potong Ardhen.


“Aku pasti kembali!”


“Ya, aku tahu, lalu ... aku ingin menegaskan, aku tak menyukai Rufia lebih dari teman, aku juga sudah menolaknya, jadi jangan khawatir.”


Abraham dan Cleo saling tatap, lalu menatap Ardhen.


“Apa maksudmu, Dhen?”


“Maksudku, jika kau pergi ke Jepang karena dia suka aku, aku sudah menolaknya, aku tak punya perasaan apapun padanya melebihi teman.”


“Kau menolaknya?” tanya Abraham melotot.


“Ya, aku mengatakan pada nya, jangan menyukaiku, apalagi berharap padaku. Jangan berubah percayaan karena aku, dan aku mengatakan padanya kalau kau mencintainya sejak dulu.”


“K-ka-kau berkata seperti itu? Kau mengatakan padanya jika aku cinta dia?” tanya Abraham, mukanya merah padam. “Kenapa kau mengatakan padanya, Dhen?”


“Karena kau tak mengatakan padanya, maka aku yang mengatakan padanya, agar dia tak berharap padaku yang tak menyukai dirinya.” jawab Ardhen.


“Kau benar-benar pemuda tidak peka, tidak berperasaan. Ku rasa kau akan jomblo sampai tua!” Cleo berkata dengan menggelengkan kepalanya sambil menatap Ardhen.


...----------------...