Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Curiga


Haizum mulai curiga. “Ayo, kita segera sarapan, sarapan pagi kali ini sangat lezat!” seru seseorang, dia koki paling termuda, sudah bekerja di Vend Beutique selama dua tahun.


“Son, bentar ya, tolong jagain meja dan sarapanku! Aku ke toilet dulu nih, perutku mules, sekalian main nelfon, hehe!”


“Kau mau menelfon siapa? Kau belum punya pacar 'kan? Aku jadi patah hati nih!”


“Gayamu, aku 'kan jomblo. Ini temanku yang nelfon kok, cewek, tunggu ya!” Haizum segera pergi dari sana. Haizum bukannya masuk ke toilet, tetapi ke dapur, dia merasa curiga, karena itu membuat alasan, soalnya di telpon yang ia dengar kemarin, mereka akan bereaksi jam 10. Sekarang jam 9 pagi, artinya mereka sedang bersiap.


Haizum jalan berinjik, diam-diam. Betapa terkejutnya ia, saat seorang koki lama terikat, pingsan tak sadarkan diri. Lalu terdengar langkah kaki, dia bersembunyi di balik tubuh koki lama yang terikat itu, menutupi dirinya dengan celemek.


“Obat itu bereaksi 30 menit lagi, pastikan semua karyawan memakan dan meminum makanannya. Kunci semua pintu, beri tanda close!” titah Ketua koki. Mata Haizum terbelalak, saat melihat Ketua Koki yang berkata seperti itu.


“Kita semua akan bereaksi jam 10 pagi, yang lain sudah melakukan perjalanan sejak jam 7 pagi tadi ke lautan kebebasan dengan kapal dan boat. Yang helikopter mungkin sebentar lagi. Lalu, sudah standby dijalan untuk membuntuti tiga anak kecil itu, sedangkan yang lain sudah mengadakan pertemuan dengan para pebisnis itu. Jadi, pastikan team kita berhasil, jangan sampai Boss Johan membunuh kita!”


“Iya, aku mengerti ketua!”


Haizum terkejut luar biasa.


Seseorang masuk kembali ke dapur, waiter yang mengantar makanan tadi. Kini, mereka bertiga di dapur. “Dua anak kecil sudah ditangkap di jalan, sopirnya sudah di bunuh, yang satu lagi kecolongan, tetapi sudah diintai dengan mengirim pesan pakai hp gadis kecil itu!” jelas Koki Muda yang baru masuk.


“Lalu, Mansion Van Hallen gimana? Mereka sudah mulai meretas dan masuk?” tanya Ketua koki.


“Boss Johan sendiri yang meretas langsung dan memimpin.”


“Oh, bagus, sekarang aku akan menghubungi team lain untuk menuju perusahaan Ardhen!” Ketua Koki langsung menelpon.


“Kalian bersiaplah menangkap Ardhen, jika dia melawan, langsung bunuh, gantung mayatnya ditempat yang telah di jelaskan Boss Besar!”


‘Apa?’ Haizum terkejut bukan main. ‘Apa yang aku dengar ini? Siapa mereka? Bukankah mereka adalah orang-orang lama yang bekerja di sini? Apa mereka sekarang memberontak? Kenapa?’ Haizum terus berpikir.


Haizum tak habis pikir, Ardhen begitu baik pada mereka, memberikan gaji yang besar, berlaku baik, adil dan ramah.


“Bagaimana dengan koki yang tadi?” tanya koki muda.


Dengan langkah was-was, dada yang berdebar kuat, hingga suara jantungnya yang berdetak pun bisa Haizum dengar karena merasa takut ketahuan, ia berjalan pelan keluar dari dapur setelah ketiga pria tadi keluar. Dia langsung menuju rumah belakang, mengambil barang-barang penting, hp, tabungan, surat-surat penting dan uang simpanan tentunya.


Dia memanjat pagar rumah belakang dengan menyusun kursi, agar lebih mudah memanjatnya. Masih dengan perasaan was-was. “Ya Tuhan, tolong selamatkan aku dan lancarkan tujuanku!”


Brugh! Haizum meringis, melompat dari tempat yang cukup tinggi, ia membekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Masih dengan rasa sakit, dia berlari secepatnya, menunduk dan bersembunyi agar tak terlihat siapapun. Akhirnya dia sampai dengan selamat di jalan raya utama, dengan sigap ia menaiki taksi dan meminta diantar ke perusahaan Ardhen sebelum team ketua koki datang.


Selang tak berapa lama, Sony merasa curiga karena Haizum tak kunjung datang. “Heh, coba cek Haizum di toilet, dia belum juga datang, dia harus segera memakan sarapannya.” perintahnya, lalu dia menatap waiter. “Kau juga, pastikan semuanya sudah minum dan makan, jika tidak bersiaplah memukul sampai pingsan, atau membunuh mereka!” titah Sony.


Haizum sampai di gedung tinggi, dia berlari dengan cepat, awalnya dia dicegat oleh dua orang satpam, lalu di meja resepsionis. Dia berkata ada hal yang sangat penting, dia mengatakan identitas nya adalah kasir di Vend Beutique. Mau tak mau, akhirnya Sekretaris Ardhen memberitahu Ardhen, dan dia diizinkan masuk.


Peluhnya sudah bercucuran karena berlari sejak tadi, pakaiannya sedikit berantakan karena memanjat dan sembunyi-sembunyi, lalu juga berlari ke sini, di bahunya tersandang tas belakang yang terisi penuh dengan tas sligbag yang tergantung di depannya.


***


Abraham dan Cleo terkejut saat mendapatkan pesan pendek dari Ardhen melalu email. Lalu semua nomor tak bisa dihubungi lagi, email-nya pun juga tak lagi di balas, saat Abraham bertanya.


Abraham, pria yang masih mencintai Rufia, tentu saja tak merasa tenang saat mendengarkan kabar itu di Jepang.


“Cleo, jaga perusahaan dengan baik, aku akan menyusul Rufia ke Italia!”


Abraham pun meminta izin Pamannya, dia menuju Italia.


“Rufia, aku harap kau baik-baik saja, semoga pesan ini tidak benar, Tuhan kumohon,” pinta Abraham mengusap wajahnya saat ia telah berada di atas pesawat yang menuju ke Italia.


Dia baru tahu beberapa hari lalu, jika Rufia memilih kembali ke Italia dari Cleo, selama ini dia memang menutup komunikasi dengan dua sahabatnya karena sedang menata hati. Dia pikir, Rufia bisa bahagia bersama Ardhen sang sahabat. Nyatanya, pemuda yang dijuluki tak punya perasaan itu benar-benar tak ada perasaan, menolak Rufia dengan jelas dan nyata, sehingga Rufia memilih resign dari Vend Beutique.


Abraham sangat cemas, Rufia anak yatim, tak berada, tak punya siapa-siapa lagi. Bagaimana jika benar ada penjahat yang datang menjahatinya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...