Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Tertembak


Andrean membuka borgol tangan Sakinah dengan jarum kecil yang berbentuk tanda tanya yang ia keluarkan dari jam tangan yang selalu ia pakai.


“Sssst!” Andrean menempelkan tangannya dibibir Sakinah.


Mereka sekarang sedang bersembunyi di dinding, dimana posisi itu sebenarnya sangat berbahaya, dinding didepan dan dibelakang mereka ada orang-orang bawahan Pria itu. Jika seandainya ia maju kesamping, akan ada jalan, namun disana ada pengawal menodongkan senjata.


Sakinah hanya bisa menyebut nama Allah, lututnya terasa gemetar saking cemasnya, dimana keadaan ini tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Ia adalah wanita yang lebih suka menonton film Tom and Jerry, dimana nuansanya hanya dipenuhi dengan tawa, sekarang ia harus menghadapi kejadian action seperti ini, yang dipenuhi dengan ketegangan.


Andrean memegang jemari tangannya, mengecupnya dua kali. “Tenang, jangan takut.” bisiknya sangat pelan sambil memeluk Sakinah.


**


Mobil Barend dan bawahannya serta bawahan Andrean telah datang dimana posisi Arsen berdiri. Lalu, ada beberapa kelompok baru yang juga datang mendekati mereka.


Kelompok itu disambut oleh 4 orang bawahan Andrean. Mereka berbincang.


“Salam kenal Tuan Muda, saya tim 1.” Salah seorang dari mereka memperkenalkan diri dengan menundukkan kepalanya hormat pada Arsen.


Ya, alasannya tunduk adalah karena kalung yang dipakai Arsen. Artinya, Andrean meminta mereka melindungi anak itu paling utama.


“Saya Arsen Ryker Van Hallen, tolong bantuannya Paman, Papa dan Mom saya ada di dalam. Ini petunjuk lokasi mereka.” Arsen memberikan tabletnya pada pria itu. Disana menunjukkan dua titik koordinat berwarna merah dan biru saling berhimpit. Artinya, mereka berdua sedang bersama.


“Terimakasih, Tuan Muda. Kami akan melakukan yang terbaik.” sahutnya dengan mengambil tablet yang diberikan Arsen itu sebagai petunjuk mereka untuk masuk.


“Tolong kalian berdua di sini, jaga Tuan Muda!” perintahnya pada dua orang bawahannya.


“Siap, Ketua!” jawab mereka.


Mereka masuk dengan bantuan tablet itu, mencari dimana titik keberadaan Andrean dan Sakinah.


Barend masih diam membaku saat bawahannya bertanya. Ya, ia masih tercengang dengan apa yang ia dengar.


‘Arsen Ryker Van Hallen?’


Bukankah artinya anak kecil didepannya ini juga keluarga Van Hallen? Ya, itulah yang tengah dipikirkan oleh Barend.


“Paman, kenapa kau menjadi bengong sepeti itu? Paman sudah siap 'kan?” tanya Arsen.


“Ah?” Barend malah baru sadar.


“Paman tidak mendengarkan rencana yang sudah di susun sejak tadi?”


“Ah, itu-”


“Paman, jika kau tidak fokus ini akan sangat berbahaya, bukan main-main, tetapi taruhannya nyawa. Aku selama ini selalu percaya padamu.”


“Ya, maaf, Tuan Muda.”


“Paman, lihat ini. Mereka sedang berada disini sekarang. Di sini ada jalan 4 buah untuk keluar bagi mereka. Kelompok Paman yang tadi sudah masuk dari sini, lalu kita berada di sini.” Arsen menunjuk-nunjuk hpnya, kembali menjelaskan pada Barend.


“Paman Jef dan yang lainnya sebagian datanglah dari arah sini, sedangkan Paman Barend dan lainnya serang mereka dari sini. Aku dan Paman Galian akan menunggu berdua disini.” jelas Arsen kembali.


“Tidak, itu tidak bisa!” tolak Barend.


“Paman, bukan hanya Paman Galian bersamaku, lihat dibelakang kita, ada dua pengawal Papa Andrean dengan senjata lengkapnya, tenang saja. Mereka tidak akan menuju kearah sini. Biasanya orang kabur selalu dari pintu belakang atau samping, bukan dari pintu depan.”


“Tetapi Tuan Muda-”


“Sudah Paman, kita tidak punya banyak waktu lagi.”


Tak ingin berdebat, semuanya pun mulai melakukan pergerakan yang sesuai dengan rencana. Di depan, kini ada Arsen dengan tiga orang pengawal menatap lurus ke depan.


“Tuan Muda, tolong tunggu di dalam mobil.” ucap Galian khawatir.


Arsen pun duduk dan menunggu di dalam mobil dengan patuh sembari melihat pergerakan dari layar hpnya.


**


Dor! Satu kali tembakan tepat mengenai pergelangan tangan seseorang, pistol yang ia pegang pun jatuh, darahnya bercucuran keluar.


“Tutup matamu, jangan buka mata dan jangan berteriak!” Itulah perintah yang dibisikkan Andrean lembut pada Sakinah saat ia menembak pergelangan tangan pria yang sejak tadi ia bidik dari persembunyiannya.


Dor! Dor! Dua kali tembakan untuk dua orang yang menghadang jalannya.


Setelah berlari dan menemukan tempat baru yang cukup sepi, ia menurunkan tubuh Sakinah, mereka bersembunyi dan berjalan mengendap-endap.


!!!


Langkah mereka tercegat saat pistol menodong kening Andrean, ia terdiam dan menatap ke arah orang yang menodongkan senjata. Lalu, pistol panjang itu diturunkan dari keningnya.


“Tuan Muda.”


“Hah! Kalian, syukurlah!” ucap Andrean lega.


“Ayo, cepat!”


Mereka segera menuju ke arah luar karena telah menemukan Andrean dan Sakinah, tetapi...


Dor! Dor! Suara tembakan menyerang mereka.


“Lindungi Tuan dan Nona itu!” teriak Ketuanya.


Andrean memeluk Sakinah erat, mereka berlari sedikit merunduk untuk berlindung dari tembakan. Jujur, pergerakan Andrean sekarang sedikit susah, ia tak bebas, biasanya ia akan berani berdiri menembaki semuanya, namun kini ia hanya bisa memeluk dan menggenggam tangan Sakinah agar wanita itu tidak syok karena ketakutan.


Andrean merengkuh Sakinah dalam pelukannya, lalu sedikit berguling saat ia melihat seseorang hendak menembak ke arahnnya.


“Aauwch!” Andrean meringis, lengannya terkena tembakan dan ia terluka.


“Kamu ke-” Pertanyaan Sakinah terhenti.


“Aku tak apa-apa, hanya sedikit terkejut, ayo kita segera keluar.” ucap Andrean lembut.


“Cepat keluar, lindung mereka!” teriak seseorang lalu menghujani tembakan tiada henti ke depan.


Dor! Dor! Suara tembakan mereka saling bersahut-sahutan.


Andrean masih memeluk Sakinah sembari menutup telinga wanitanya itu, membawanya berlari bersama.


“Kita harus berlari ke arah pintu depan yang awal kita masuk tadi, kalau kita pergi ke arah lain, bisa saja sudah ada jebakan, ayo!” Dua orang pengawal mengiringi Andrean dan Sakinah.


Sedangkan pengawal lainnya masih saling menembak ditempat-tempat yang berbeda. Benar saja kata Arsen, disetiap pintu sudah ada banyak orang-orang mereka yang telah bersiap.


Andrean dan Sakinah akhirnya sampai juga diluar, pengawal Arsen yang tiga orang itu segera berlari ke arah dua pengawal yang membawa Andrean dan Sakinah.


Sakinah yang sudah sedikit lega baru berani menatap Andrean dan merasakan ada yang basah dari tangan suaminya.


“Da-da-darah!” Sakinah terbata.


“Aku baik-baik saja, tidak apa-apa.” jawab Andrean tersenyum. “hanya luka kecil saja, ini bukan apa-apa untukku.” Ia usap wajah Sakinah lembut.


Arsen terkejut saat melihat keadaan keduaorangtuanya, Andrean yang berdarah, lalu Sakinah yang tidak menggunakan hijab dengan rambut pendek.


Serasa keluar api dikepalanya, ia langsung mengambil cairan yang berada di dalam tasnya. Sample cairan itu masih dalam proses pemeriksaan oleh bawahannya di labor.


Cairan yang jika digunakan sedikit dicampur dengan aroma lainnya bisa menjadi farfum, sedangkan digunakan banyak bisa membuat halusinasi tinggi. Cairan yang hampir sama dengan buah pala, bumbu yang digunakan untuk memasak oleh Ardhen.


‘Abang! Jangan menuang banyak buah pala di dagingnya! Abang tau, ini sangat bahaya untuk kesehatan, kalau orang dewasa yang mengkonsumsinya mungkin hanya akan membuat mereka berhalusinasi, tetapi jika kita anak-anak, kita bisa meninggal dunia!’ Ardhen memperingati Arsen menggebu-gebu.


‘Huh, aku tak peduli, siapa suruh kau mengajakku memasak!’


Arsen mengambil cairan yang berada dalam botol itu, memasukkannya ke dalam jarum kecil, pandangan matanya menatap tajam kearah manusia yang berada dibelakang orang tuanya yang sedang menembak.


Dor! Tembakan pertama membuat tumbang yang memegang tangan Andrean.


Dor! Dor! Suara tembakan bersahutan.


Sekarang tersisa dua orang yang berdiri saling berhadapan, sedangkan yang lainnya terkapar.


Sakinah menggigil ketakutan. “Tenanglah....” ucap Andrean dengan suara yang semakin pelan.