
Hari-hari terus berlalu, gosip baru mulai menyebar, Arhen memiliki kekasih baru, dan Eline Fey tampak sedang dekat dengan pria baru juga, namun wajahnya tak diketahui, begitulah trending topik gosip akhir-akhir ini.
Eline Fey sedang diserbu wartawan saat ia tengah berjalan-jalan di mall bersama asistennya.
“Nona Elin, kami dengar Anda telah benar-benar putus dengan Tuan Muda Arhen dan kini Anda sedang dekat dengan seseorang. Apakah pemuda itu juga seorang Tuan Muda? Apakah lebih keren dari Tuan Muda Arhen?” tanya wartawan.
“Maaf, untuk saat ini aku belum bisa memberitahunya pada kalian, hubungan kami masih sangat baru, jadi aku harap kalian bersabar ya,” jawab Eline Fey tersenyum manis.
“Terimakasih telah meluangkan waktu untuk kami Nona! Oh ya, biasanya Anda sangat jarang jalan-jalan di mall secara terbuka begini. Apakah kali ini Anda ada jadwal kencan dengan kekasih baru Anda itu?” Wartawan muda yang satunya lagi menyosor dan bertanya.
“Ah, jangan bicara kekasih baruku, hubungan kami belum terlalu jelas,” Eline Fey menyelipkan rambut ke telinga belakangnya dengan pipi yang merona merah, terlihat malu-malu.
“Kami berharap dan mendo'akanmu dengan kekasih barumu itu langgeng. Semoga dia pria yang setia dan jauh lebih baik!” Seseorang berteriak di antara kerumunan wartawan itu. Seorang gadis dengan memakai masker dan jacket hitam yang menutupi rambutnya dengan topi jacket.
“Heh! Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kau mau berkata kalo Tuan Muda Arhen buruk? Sialan! Eline Fey itu yang buruk dan para wanita lainnya itu yang buruk!” Seorang wanita dengan tampilan barbar menerjang gadis itu, dan terjadilah keributan.
“Ah, maaf, kalo begitu, permisi ya, aku harus pergi!” Eline Fey beranjak pergi dari sana bersama asistennya.
Lagi, lagi, berita tentang Arhen muncul di gosip. Gosip terbaru yang mengatakan para fansnya menyerang orang-orang mall membabi buta karena Eline Fey memiliki kekasih baru.
Di kantor Ar3s.
Hans melihat hpnya yang berbunyi karena notifikasi berita. Ia khusus menghidupkan notifikasi dengan nada khusus untuk melihat perkembangan berita adik atasannya, yaitu Arhen.
“Ekhem, Tuan Muda!” Hans memanggil Arsen dengan berdehem.
“Ya?” sahut Arsen.
“Sepertinya ada gosip terbaru lagi tentang Tuan Muda Arhen!”
“Bagus dong!”
“Bukan begitu ... ini tentang ... berita terbaru, para fans Tuan Muda membuat keributan gara-gara Nona Eline Fey putus dengan Arhen dan dia memiliki kekasih baru,” terang Hans.
“Hah? Hanya gara-gara itu? Aneh!” Arsen mengerutkan keningnya dan tampak berpikir. “Aku akan memikirkan cara mengatasinya, Kakak silahkan lanjutkan pekerjaannya lagi!” tutur Arsen kemudian.
Arsen berpikir beberapa saat, ia melihat postingan yang baru saja di post. “Ini semua terlihat rapi dan benar-benar disetting! Dia benar-benar ular rupanya, sama seperti ayahnya!” Arsen menggumam. “Baiklah Nona, karena kau ingin bermain-main, mari aku temani kau bermain!”
Arsen menghubungi seseorang dan berbincang dengannya.
Di pulau laut kebebasan, seorang pemuda tampan berhenti dari berenangnya di tengah pantai karena terdengar suara wanita meneriakinya. Pemuda dengan tubuh tinggi atletis, ototnya yang perkasa dan bulu-bulu menghiasi dada dan perutnya tampak jelas karena tubuhnya basah. Ia mengibaskan rambutnya ke belakang karena poninya yang cukup panjang menutupi jarak pandangnya.
Ia berlari-lari kecil menghampiri wanita yang melambaikan tangan memanggilnya. Setelah sampai, ia berhenti dan bertanya, “Ada apa Mom?” tanya pemuda tampan itu.
Dia adalah Vindo Zein Elmo. Pemuda yang diadopsi oleh Berend Elmo dan Jesylin.
“Tuan Muda Arsen menelfon, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganmu, penting!” Jesylin memberikan ponsel Vindo padanya.
“Oh, makasih Mom!”
Vindo langsung menelfon balik Arsen, sedangkan Jesylin kembali ke rumah.
“Hallo Tuan Muda!” Vindo mulai menelfon dan berbincang-bincang panjang lebar dengan Arsen, cukup lama.
Vindo membuka hpnya kembali setelah Arsen mengirim sebuah pesan chat kembali, sebuah foto dan data seorang gadis. “Cantik juga!” gumam Vindo.
“Hai jagoan!” Vindo menyapa seorang anak laki-laki berumur 5 tahun yang tengah asik belajar, saat ia hendak masuk dan membersihkan diri ke rumah.
“Kakak! Lihat, aku menyelesaikan melukis kerang, cantik 'kan?” Ia memamerkan karya lukisnya.
“Wah, iya, sangat keren!” puji Vindo, kemudian ia mengusap kepala anak laki-laki itu. Ia adalah putra kandung Berend Elmo dan Jesylin.
••
Usai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Vindo menemui Berend yang tampak sibuk membuat sesuatu.
“Dad!” panggilnya.
“Hm, kau sudah selesai. Tadi Mom mu bercerita, kalau Tuan Muda menelfon, apa dia butuh sesuatu?” Berend menoleh menatap Vindo.
“Iya, aku harus segera ke pusat kota, menemui Tuan Muda. Dia butuh bantuanku, aku disuruh menetap di sana, sampai beberapa waktu tertentu,” jelas Vindo.
“Oh, baiklah kalau begitu! Kau harus hati-hati dan jaga diri!” Berend menepuk pundak Vindo, “Sekarang minta izinlah pada Mom dan adikmu, ku kira kau harus sedikit membujuk dan merayu adikmu,” Berend menyunggingkan senyum kecil saat membahas putranya.
“Ya, aku paham Dad!”
Vindo dulu nya hanya anak kecil yang di bawa oleh Berend, dia biasanya memanggil Berend sebagai Paman. Namun, semenjak menikah dengan Jesylin, istrinya itu ingin Vindo diadopsi menjadi putra mereka. Jujur saja, Berend juga menyukai kepribadian, sikap, dan kepintaran Vindo.
Ia memiliki putra yang penurut, namun begitu terobsesi pada Vindo, kakak laki-lakinya. Agak susah memisahkan mereka, saat Vindo sekolah saja, putranya itu rela duduk menunggu Vindo di luar sekolah.
“Kuharap dia tidak menangis semalaman!” Tampak Berend menghela nafas, melirik putranya.
“Dad harus membantu membujuknya juga!” Vindo mengeluh.
“Ya, aku hanya heran saja, kenapa dia begitu padamu, bahkan dia tidak mengapa jika tidak bertemu denganku dan Mommu! Asal ada kau! Seharusnya, dulu tak kuizinkan Mommu ngidam tidur sambil memelukmu!” Berend masih saja tampak kesal jika mengingat Jesylin dengan perut besarnya memeluk Vindo yang sudah remaja untuk tidur, sedangkan dia hanya menjadi satpam tidur. Kejadian itu kurang lebih berlangsung 5 bulan.
Vindo terkekeh.
“Lebih baik Dad tambah adik untukku, bagaimana?” usul Vindo masih dengan terkekeh.
“Itu ide bagus, ahahaha!”
“Ide bagus apa?” Jesylin tiba-tiba menyahut, ia membawa minuman panas, terlihat keluar asap dari cangkirnya.
“Tidak ada apa-apa Mom, aku hanya berdiskusi dengan Dad, bagaimana caranya menipu, merayu dan membujuk Adik!” jelas Vindo.
“Membujuk untuk apa? Apa ada sesuatu? Apa Tuan Muda Arsen butuh bantuan?” Jesylin tampak serius, ia menatap Vindo.
“Iya Mom. Tuan Muda butuh bantuan dan memintaku segera ke kota, aku tak bisa memastikan kapan pulang.”
“Oh, nih, minumlah dulu sup kerang! Mom akan memikirkan cara menipu adik!” jawab Jesylin.
“Sup?” Kok di cangkir, gak di mangkuk?” tanya Vindo, ia langsung meraih cangkir dan melihat isinya.
“Ini kerang merah muda, hanya dituang air panas saja memasaknya, beda dengan kerang hitam dan kerang hijau yang memasaknya ditumis dengan beberapa bumbu. Ayo, cicipi!” Jesylin juga mengambil cangkir miliknya terlebih dahulu setelah menyodorkan cangkir milik Vindo dan Berend.