Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Melamar


Dua orang pria dengan memakai jacket hoodie warna putih hitam dan merah corak hitam, masker, dan topi, menyelinap keluar dari hotel menuju sebuah kontrakan. Hari ini diketahui Aini pulang lebih sore.


Sesampainya di sana, mereka hanya menemukan Ramadhan yang baru pulang sekolah. “Hallo Dik, saya Lucas dan dia Arhen, teman kakak perempuan Anda, apakah dia ada di rumah?” tanya Lucas sopan saat Ramadhan hanya membukakan pintu kontrakan itu sedikit saja dengan menyembulkan kepala keluar.


Mata Ramadhan tampak sedikit melotot saat mendengar perkenalan Lucas, ia beberapa saat diam, kemudian menjawab. “Kakak belum pulang, biasanya setelah pulang dari tugas hotel, dia pergi ke laundry untuk menggosok pakaian hingga jam 8 sampai jam 9 malam.”


“Hm, begitu, ya,” gumam Lucas, lalu dia menoleh pada Arhen yang tampak bergeming saja.


“Tuan Muda, bagaimana menurut Anda?” tanya Lucas.


Arhen tampak berpikir dan diam sejenak. “Hm, apakah kami boleh menunggu di sini sampai Kakak Perempuan mu pulang?” tanya Arhen kemudian.


“Hm---” Ramadhan tampak bimbang, beberapa detik kemudian, entah apa yang ia lakukan di sebalik pintu, mungkin saja memakai bajunya, soalnya waktu dia menyembulkan kepala tadi, terlihat bahu tanpa pakaian, sedangkan sekarang saat dia membuka lebar pintunya, dia telah menggunakan baju kaos berwarna biru muda. Lalu, mempersilahkan Lucas dan Arhen masuk ke dalam rumah kontrakan mereka.


“Baiklah, silahkan masuk, rumah kami hanya begini, saya harap kakak berdua cukup nyaman di sini!” ucapnya.


“Ahh, tentu saja. Terimakasih!”


“Silahkan duduk dulu!” Ramadhan langsung ke dapur membuatkan teh hangat dan mengeluarkan roti yang tersimpan di dalam kulkas, yang tersisa setengah bungkus dari mereka makan kemarin malam, dia tata di atas piring dan nampan dengan rapi, lalu dihidangkan roti dan teh hangat itu.


“Silahkan di cicipi,” tutur Ramadhan ramah, matanya tak henti-hentinya menatap dua makhluk tampan di hadapannya. Ya, Lucas dan Arhen telah membuka jacket hoodie, topi dan masker mereka. Ke-dua pria tampan itu nampak kepanasan, terlihat dari pelipisnya menetes keringat hingga turun ke jambangnya yang rapi.


Lucas yang selalu siap sedia, membuka tas selempang yang ia sandang menghadap ke depan di atas perutnya, mengambil tisu mini dari dalam, menyodorkan pada Arhen.


Melihat kondisi itu, Ramadhan mencari kipas angin dari dalam kamar Aini, ia menghidupkan kipas itu di ruang tamu. “Maaf ya, kontrakannya panas.”


“Tidak apa-apa,” jawab Arhen tersenyum.


Tak ada yang mereka bicarakan selain basa basi, lalu diam, dan tak lama kemudian teman Ramadhan datang ke sana.


“Dhan! Ayo, berangkat!” Ia hanya bersorak di depan teras, tanpa masuk ke dalam seperti biasanya.


“Ya, tunggu sebentar!” Ramadhan juga membalasnya dengan berteriak.


Ia keluar menemui temannya dan berbincang cukup lama, Lucas memasang jacket, topi dan maskernya lagi, ia mendatangi dua pemuda yang tengah bicara itu.


“Ramadhan, jika kamu hendak pergi tak apa-apa, kami bisa menunggu di teras saja, atau di dalam mobil. Pergilah!” Lucas berkata dengan menepuk bahu Ramadhan kemudian masuk kembali ke dalam.


Arhen pun memakai kembali jacket, topi dan maskernya setelah Lucas berbicara dengannya, mereka berdua keluar dan duduk di teras. Ramadhan merasa tak enak hati, namun ia harus pergi bekerja dengan temannya, begitulah hari-hari mereka menyambung hidup, pulang sekolah ia akan membantu Aini mencari uang. Menjadi tukang angkut barang di pasar malam.


“Tidak apa-apa!” Arhen mengusap kepala Ramadhan lembut. “Kita akan bertemu kembali lagi kok!” Mata Ramadhan tampak berbinar setelah kepalanya di elus Arhen.


“Baiklah, aku pamit ya, Kak!” ucapnya tersenyum.


Ya, Ramadhan sering memergoki kakak perempuannya memandang foto Arhen, awalnya dia mengira kakaknya fans pada pemuda tampan itu, tetapi kemarin wanita itu menangis sesungukan. Aini bercerita padanya, jika Arhen adalah teman masa kecilnya, tetapi pria itu lupa saat mereka bertemu di hotel.


Aini tampak berkecil hati karena ia bertambah jelek dan hidup miskin, hingga wajar seorang superstar, orang ternama, dan kaya raya melupakan dia yang hanya di kenal saat kanak-kanak dulu. Akan tetapi, kini, Ramadhan senang, tampaknya artis papan atas itu masih mengenal kakak perempuannya.


“Mungkin saja, saat berjumpa Kak Aini, Kak Arhen sedang ada di depan para fans, tentu saja dia akan pura-pura tak kenal, agar para fans tidak mengganggu dan menjahati Kakak!” pikir Ramadhan sepanjang jalan.


Dia masih tersenyum bahagia, merasakan sentuhan lembut Arhen tadi di rambutnya.


“Eh, lu kenapa? Jangan bilang, lu suka sama mereka? Lu masih normal 'kan? Jangan bikin gue merinding, ya!” celetuk kawannya dengan wajah mengejek.


Ramadhan merangkul tengkuk kawannya, kemudian menjotos kepala kawannya. “Enak aja lu bilang gue gak normal! Ya normal lah gue! Itu tuh calon kakak ipar gue, tau!” Ramdhan berkata dengan menyombongkan diri.


“Ahahha! Halu lu! Gue tau, kakak lu jomblo, ck!” ejek kawannya dengan terkekeh-kekeh.


Ramadhan pun mengabaikan ejekan kawannya, mereka saling jitak sambil terkekeh. Pemuda yang menjadi kawan Ramadhan itu, hanya seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama seorang nenek yang sudah tua, dia tidak pernah bersekolah, hanya menjadi preman pasar. Ia bertemu dengan Ramadhan saat ia di hajar oleh preman, saat itu ia ditinggalkan dengan luka parah.


Ramadhan membawanya ke klinik terdekat, membayar biayanya dengan membongkar celengannya karena dia juga tidak memiliki uang. Oleh karena itu, ia menjadi dekat dengan Ramadhan, mengajak Ramadhan bekerja di pasar setelah pulang sekolah. Ia baik pada Ramadhan, walau terkadang mulutnya memang kasar dan tak sopan karena tidak memperoleh didikan yang baik.


Sang nenek yang sudah tua hanya sibuk berjualan siang sampai petang, petang sampai malam memasak dan menyiapkan dagangan, sedangkan dari tengah malam hingga subuh barulah nenek itu tidur, hingga pemuda itu terabaikan, tak terurus. Nenek itu hanya memasak subuh, meninggalkan makanan untuk cucunya.


“Ayo, kita lebih cepat! Nanti barang dagangan di serbu kelompok lain, kita jadi dapat jatah sedikit!” Pemuda itu menarik tangan Ramadhan.


Ramadhan berlari dengan berpegangan tangan dengan pemuda itu, tas yang ia sandang di belakang punggungnya, yang berisi buku pelajaran untuk esok hari ikut tergoyang-goyang saat ia berlari.


Sedangkan di teras kontrakan, Arhen dan Lucas tadinya masih melihat Ramadhan yang pergi bersama temannya, hingga punggungnya tak terlihat lagi.


“Kasihan sekali mereka, bekerja begitu keras. Apakah nanti wanita itu bisa memaafkan dan menerima pinangan ku, Lucas?” Arhen menatap Lucas dengan tatapan khawatir.


...----------------...


Terimakasih masih setia membaca cerita sederhana ku, love for you all, Arlove 💓🌹 Semoga Arlove terhibur, ambil baik cerita ini, buang buruknya😚☺️ Jangan lupa tinggalkan like dan komentar manisnya😍🤗