Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Duduk di Pantai


“Huh! Baiklah, aku akan mensponsori film terbarumu, kau puas!” ucap Arsen.


“Cuma mensponsori? Kau harus membantuku agar terus berada di ranking pertama, Bang!” Arhen mengerlingkan matanya.


“Cih, baiklah!” Arsen setuju.


“Ahahahaha! Kau memang Abangku terbaik,” Arhen memeluk Arsen hendak mengecup pipinya.


“Pergi! Najis!” Arsen mendorong tubuh Arhen. Arhen terkekeh mendengar ucapan kakak laki-laki nya itu.


“Kalau begitu, kemana kita harus pergi?” tanya Arhen.


Arsen tampak berpikir sejenak, lalu memutar bola matanya malas dan merebahkan tubuhnya di sandaran mobil. Membuat Arhen mendesah.


“Ah, sudahlah! Aku ajak Abang ke pantai saja!”


Arhen melajukan mobilnya ke pantai yang diikuti oleh mobil pengawal di belakang mereka. Tak lama sampailah mereka, Arhen dan Arsen sudah mengganti pakaiannya sebelum turun dari mobil dengan menggunakan jaket kulit, topi dan masker.


Mereka turun dari mobil melihat sekitar, memilih berjalan ke tempat yang sepi, agar tidak terganggu, sedangkan 4 orang pengawal yang terlihat sangat mencolok itu memilih duduk sedikit jauh.


“Abang, tunggu di sini sebentar!” seru Arhen, Arsen mengangguk, ia langsung menghenyakkan pantatnya di pasir, di tepi pantai.


Arhen datang kembali dengan jagung bakar di tangannya sebelah kanan, lalu minuman kaleng di sebelah kiri. “Nih, jagung bakar, Bang!” Arhen menyodorkan makanan dan minuman kaleng itu, Arsen langsung menerimanya dan memakan jagung bakar itu.


Mereka duduk diam memakan jagung bakar dan meminum minuman mereka, menatap lurus ke depan, apalagi buih putih itu menjadi objek utama Arsen memandang.


“Kau hanya mau menjadi artis, Hen?” tanya Arsen tiba-tiba.


“Ya, aku sangat menyukainya, Bang!” jawab Arhen tegas.


“Tak ada keinginan lain, mungkin membuka usaha untuk uang tambahanmu? Sampai kapan akan menjadi artis? Yang muda akan menjadi tua, yang tampan akan menjadi jelek, yang terkenal pada masanya juga akan redup. Tidak kah kamu memikirkan masa depan?” ujar Arsen, kemudian ia membuka tutup kaleng minuman bersodanya.


Sssrrt! Terdengar suara gas minuman itu saat Arsen membukanya, setelahnya ia langsung meneguknya.


“Aku punya Papa pertama dan Papa kedua kaya raya, punya Abang super kaya raya, punya adik juga kaya, uangku sekarang juga sudah banyak,” jawab Arhen santai, lalu menghabiskan jagung yang masih tersisa sedikit, sehingga hanya meninggalkan tunggulnya.


Pletak! Arsen menjitak kening Arhen.


“Sia-sia gen Papa ada diotakmu! Pintar sih, tapi gak pintar!” Arsen meneguk minumannya kembali. Arhen hanya nyengir mendengar ucapan Arsen.


“Kau seharusnya sudah mulai menabung untuk masa depan, kita gak tahu dengan masa depan, walaupun ada keluarga, tetapi uang sendiri bukannya lebih bangga menggunakannya? Bukankah waktu itu, kau mengatakan akan mengalahkanku? Membawa Mom keliling dunia? Dulu, bahkan waktu kita kecil, kau selalu pamer padaku dan Ardhen, saat kau mendapatkan banyak uang dari bayaran jadi model iklan.” Arsen menghembuskan nafasnya panjang, mulai meraba pasir yang ada di depannya, memainkan pasir dengan jari-jari tangannya.


“Itu 'kan dulu, saat masih kecil. Sekarang, aku sudah gak punya kepercayaan diri lagi. Abang punya perusahaan, Ardhen juga. Menjadi pengusaha itu sebenarnya yang kaya sesungguhnya, kalo jadi artis terlihat aja mewah, padahal gak sekaya pengusaha!” Arhen juga memainkan pasir, ia mendapatkan batu apung putih saat ia memainkan pasir-pasir itu.


“Terkadang aku merasa lelah, Bang! Jumpa dengan banyak orang munafik, penuh kepura-puraan, harus bersikap berbeda dengan karakter kita yang asli.” Arhen melempar batu apung yang tadi ia dapat dari pasir.


“Bukankah selama ini kau suka dengan dunia itu? Kau adalah genius akting terhebat. Aku percaya dengan bakatmu itu!” Arsen menepuk pundak Arhen. “Arhen, setiap sesuatu yang kita pilih, memang tidak akan selamanya berjalan mulus, kau juga tahu 'kan, sebelum perusahaan Ar3s berkembang seperti ini, aku mulai darimana? Dari perusahaan besi di Galangan yang sudah lama terbengkalai kubeli dari menjual game.”


“Perlahan aku mulai belajar dan memainkan investasi, itu tidak langsung berhasil, aku juga pernah gagal dan rugi, sebelum aku mahir untuk menghack, kamu juga tahu 'kan, berapa banyak Daddy Jimi membelikan ku laptop, komputer, hp dari yang baru hingga seken dan berbagai macam jenis? Bagaimana Mom dulu marah dan khawatir?”


“Aku mulai belajar dan mencari orang-orang pintar yang bisa dipercaya, hingga bisa bertemu dengan Kak Hans melalui Dad Jimi, aku bisa membuat perhiasan dari mencuri data Grandma Sekar, aku menghack akun Papa pertama dan Papa kedua, bahkan akun Kakek Irfan. Itu semua tidak mulus, itu semua butuh perjuangan. Apa kamu pikir, saat itu aku tak lelah dan jenuh? Aku jenuh dan lelah Arhen, tetapi kita masih hidup, masih memiliki keluarga yang akan diperjuangkan.”


“Uang memang bukan segalanya, tetapi kita hidup butuh uang, jadi tetaplah bersemangat!” tegas Arsen.


Arhen lama menatap Arsen.


“Heh! Kenapa kau menatapku seperti itu?” Arsen mengibaskan tangannya di depan wajah Arhen, membuat pemuda tampan berambut kuning keemasan itu tergelak.


“Bang, barusan apa kau tahu, apa yang aku pikirkan?” tanya Arhen.


“Mana aku tahu, 'kan otakmu ada di kepalamu, bukan dikepalaku, lagian aku bukan penyihir yang bisa mengetahui isi hati orang!” jawab Arsen sebal.


“Hahahaha! Aku sampai berpikir keras barusan, apa benar kau ini Abangku yang dingin bermulut pedas itu? Heh, sejak kapan Abangku itu banyak bicara seperti ini melebih 3 paragraf kalau dituliskan?” Arhen memainkan alis matanya, membuat Arsen mengerutkan keningnya jengkel.


“Semenjak kau pulang dari Inggris, kau banyak berubah Bang, kadang marah-marah gak jelas, kadang senyum sendiri, kadang banyak bicara, ada apa? Apa kau punya masalah?" Arhen meneguk habis minumannya sampai tandas setelah berkata seperti itu.


“Tidak ada!” jawab Arsen, wajahnya tiba-tiba memerah. Alisnya berkedut.


“Cih, kau berbohong Bang, kau kira aku tak tahu dirimu sejak kecil, bagaimana caramu berbohong?”


“Aku baik-baik saja, bukan masalah besar!”


“Baiklah, jika Abang bilang begitu,”


Tak terasa, mereka sudah menghabiskan waktu dua jam duduk ditepi pantai, hingga angin malam sudah terasa menusuk kulit.


“Ufft! Dingin ya, Bang! Ayo, kita balik ke mansion!” ajak Arhen meniup-niup tangannya, ia mulai merasa kedinginan, jacket yang ia gunakan terasa tak berfungsi menjadi penghangat tubuh.


“Ayo!”


Mereka pun kembali dengan diikuti pengawal yang tadi bahkan sudah terkantuk-kantuk memperhatikan mereka dari jauh.


Setelah masuk ke mansion, mereka berdua disambut pelukan hangat dari Sakinah dan delikan tajam dari Andrean, seolah berkata, ’Kemana kalian berdua menghilang, sehingga meninggalkan beban derita pada Papa sendirian?’