
Tak berselang lama, kurang lebih dua jam bermain hp, Arhen kembali meraba tubuh Aini, membuat Aini yang setengah tidur membuka matanya lebar. Arhen lagi-lagi menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi, selayaknya sepasang pengantin baru yang sedang candu-candu nya, dia begitu buas, tak pernah merasa puas.
Arhen dan Aini pun kembali menyatukan tubuh mereka dengan sinar mentari yang sudah mulai tinggi, dengan cahaya terang benderang, Aini bisa melihat sosok pemuda yang dicintainya, melihat sepenuhnya, wajahnya, tubuhnya yang terlihat sangat sexsy. Tubuh itu kini tengah berkeringat di atas tubuhnya, kulitnya yang putih bersih terasa lembut bersentuhan dengan tubuhnya, mengaliri sensasi yang luar biasa. Ia tak ingin bangun dari keindahan ini.
Arhen pun tak kalah sama, dia memandangi wajah dan tubuh Aini, dia larut ke dalam perasaan dan pikiran yang bercampur aduk. Permainan yang semakin lihai, semakin tahan lama dan berpengalaman. Pengalaman ketiga yang membuat Arhen semakin ahli untuk mengatur sang benda pusaka agar tak cepat menyembur.
Sentuhan yang dia lakukan memberikan getaran hebat menembus ke dalam relung hati, dan yang membuat dia terus berpikir, permainan ketiga ini semakin mudah, benda pusakanya tak tersangkut seperti kejadian tadi malam, masuk dengan lebih mudah dan cepat.
Entah berapa lama dia menyatu dengan Aini, kini dia benar-benar merasa lelah dan tertidur.
***
Saat Arhen terbangun, Aini sudah terlihat bersih dan rapi. Dia tengah menonton televisi dengan saluran yang menayangkan film India.
Arhen perlahan bangun, meraih hp untuk melihat jam. Ia terkesiap karena sudah hampir jam 6 sore. Buru-buru ia mandi.
Setelah mandi, dia duduk di samping Aini, meraih pinggang kurus itu. Mencium ceruk leher istrinya. “Nur, apa kau tak ingin mengatakan sesuatu padaku?” Arhen berbisik di telinga Aini.
“Mengatakan apa?” tanya Aini.
“Apa saja!”
“Tidak ada,” jawab Aini.
“Kau yakin?” Arhen berharap Aini mengatakan sesuatu padanya.
“Tidak ada, memangnya aku harus mengatakan apa?” Aini menoleh pada Arhen yang kini telah mengangkat kepalanya dari ceruk leher Aini.
“Ooh!” Wajah Arhen tampak berubah, dia bangun dan berjalan ke arah kemari. Meraih jacket dan topi.
“Aku akan keluar, aku butuh hiburan!” Arhen langsung pergi sambil menutup mulutnya dengan masker tanpa memerdulikan apakah Aini mengizinkannya pergi atau tidak.
***
Andrean sarapan bersama pagi ini dengan yang lainnya, ada Sakinah, Ardhen, Arsen, Jamila dan Jay. Tak ada perbincangan apapun.
“Mom, kami pergi sekolah dulu,” Jamila dan Jay bersalaman dengan Sakinah setelah sarapan. Sakinah menerima salam itu, tetapi tak ada sepatah katapun sebagai pesan ia tinggalkan seperti pagi-pagi biasanya.
Jamila tampak semakin tertunduk.
“Pa, apa boleh pagi ini Nces sekolah diantar Papa aja, Nces gak mau diantar sopir.”
Andrean menatap putrinya. “Baiklah, Nces dan Jay akan Papa antar,” jawabnya tersenyum dan mengelus kepala Jamila yang tertutup hijab.
Ardhen dan Arsen pun juga pergi setelah menyalami punggung tangan Sakinah dan Andrean, mereka pergi ke perusahaan masing-masing.
“Pa,” panggil Jamila yang duduk di samping Andrean. Mereka kini telah duduk di dalam mobil menuju sekolah Jamila.
“Iya Sayang,” sahut Andrean lembut.
“Mom masih marah sama Nces. Apakah Papa mau tolong Nces, bilang maaf dan tanya Mom, gimana caranya biar Mom gak marah lagi sama Nces....” Jamila berkata lirih.
Andrean merasa tersentuh, tetapi bagaimana lagi. Istrinya, Sakinah, juga ratu yang cukup keras kepala, sih. “Mom tidak akan marah lagi, jika Nces tidak membuat masalah lagi, bisa sekolah yang baik, mendapatkan nilai bagus, begitu Mom cerita sama Papa,” terang Andrean.
“Benarkah Pa? Mom bilang begitu, asal Nces gak berantem lagi dan mendapatkan nilai bagus, Mom gak akan marah dan sayang Nces lagi?” Wajah Jamila tampak senang.
“Iya!” jawab Andrean.
Sebenarnya, Sakinah tidak marah pada putrinya, adapun awalnya dia kesal dan kecewa, tetapi lebih banyak bersedih atas dirinya sendiri yang tak bisa membuat Jamila menjadi lebih baik. Oleh karena itu, dia tak ingin memanjakan putrinya dan melarang yang lain agar tak memanjakan Jamila berlebihan lagi seperti sebelumnya.
Dengan terpaksa, dua kakak laki-lakinya menahan diri agar tak memanjakan, begitu pula dengan Andrean juga.
Jamila memeluk Andrean. “Katakan pada Mom, Pa, Nces janji!”
“Iya, Sayang!” Andrean mengelus wajah putrinya, kemudian mengangkat tubuh gadis kecil itu dalam pangkuannya dan mengecup pipinya penuh kasih sayang.
Jay yang duduk di tepi, di sebelah Jamila tadi hanya diam dan menatap kaca mobil. Terkadang terbesit rindu pada ibunya Billa dan Ayahnya Jimi, tapi lebih besar keinginannya hidup di Belanda, bersama idolanya.
Tiga kali sehari bahkan lebih, Shalsabilla dan Jimi menelfon via video padanya, sepasang manusia itu sangat merindukan buah hati semata wayangnya. Akan tetapi, putra satu-satunya itu lebih memilih tinggal dan sekolah di Belanda agar berdekatan dengan Arsen.