Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bahaya


“Lepaskan dia!' Barend dan para pengawalnya menodongkan pistol tepat dipelipis ke-empat pengawal Andrean.


Mereka pun akhirnya terpaksa melepaskan Hans karena pistol yang ditodongkan ke kepala mereka.


“Buang senjata kalian!” perintah Barend menatap mereka tajam.


Pengawal andrean duduk dilantai dengan tangan naik ke atas kepala belakang mereka, sedangkan Andrean masih berdiri diam dengan pistol menempel dikeningnya yang ditodongkan Barend.


“Dasar pecundang! Kau bahkan menyerang anak kecil? Tak kusangka keturunan Van Hallen sangat kejam!” sarkas Barend.


Andrean menatap tak kalah tajam dari Barend, lalu tersenyum sinis.


“Sepertinya ini bukan urusanmu!” Andrean menepis pistol Barend yang ditodong dikeningnya.


Barend masih bersikeras dan mengganti tangannya lagi menaikkan pistol ke arah kepala Andrean.


Arhen dan Ardhen ternganga, cemas dan takut. Mereka menggenggam erat tangan Arsen yang terlihat santai. “Abang!“ Tatap mereka seolah mengadu pada Kakak Tertua mereka.


“Paman!” Arsen mengode dengan matanya, sehingga Barend menurunkan senjatanya.


“Barang itu sudah dibawa?” lanjut Arsen bertanya.


“Sudah Tuan Muda.” Barend langsung mendekat pada Arsen, Hans juga memungut barang-barangnya yang tadi sempat berserakan, sedangkan empat pengawal Andrean masih duduk memegang kepala.


Arsen menatap pada Arhen, sebuah senyuman tercetak dibibirnya terlihat aneh. Arhen malah membalasnya lebih aneh lagi.


“Pa, apakah kau tahu kesalahanmu?” tanya Arhen.


Andrean diam, menatap Arhen cukup lama.


“Yang pertama kau tidak bisa menjaga Mom, yang kedua kau merusak pintu apartemen ini, menyodorkan senjata pada kami.” terang Arhen.


“Yang pertama akan kujawab, aku sudah berusaha menjaganya, tetapi ini diluar kendaliku. Aku tak mengira Granmamu akan seteledor itu meninggalkan dia dengan Clara dan satu orang sopir. Yang kedua, gelagat kalian terlihat aneh dan berbahaya, saat Papa meretas CCTV disekitar sini, laptop Papa langsung diserang.”


“Jadi, Papa sangat khawatir jika kalian kenapa-kenapa, bukan bermaksud menakuti kalian dengan senjata.” lanjut Andrean menjelaskan.


“Kami tidak bisa menerima alasan apapun, yang kami tahu, ini semua gara-gara Papa yang tidak bisa berubah, suka bermain perempuan dan menyakiti hati Mom, gara-gara Papa berhubungan dengan Monessa, Mom berada dalam bahaya dan diserang musuh. Kami tidak akan memaafkan Papa sampai Mom ditemukan dalam keadaan baik-baik saja!” Ardhen berkata tegas, dia yang selama ini lembut dan pendiam berubah menjadi garang jika itu mengenai ibunya, Sakinah.


Andrean tertunduk.


“Iya, Papa janji akan segera menemukan Ibu Kalian. Tolong beri Papa waktu, Papa sedang berusaha.”


Masih bergumam, tiba-tiba Arsen berdiri dari duduknya. “Mom sudah ditemukan!” Ia berseru lantang.


“Kalian sudah tau tugas kalian 'kan? Atur sesuai rencana!” Arsen menatap kedua adik laki-lakinya itu.


“Kak Hans, urus pintu yang rusak itu dan perusahaan. Ada Kakak Xander Pim dan dua orang lainnya bersama Kakak.”


“Paman sudah siap?” Arsen bertanya pada Barend.


“Tentu saja Tuan Muda. Ini adalah kegiatan yang kami suka. Sudah lama kami tidak melakukannya, inilah dunia kami yang sebenarnya.” jawab Barend tersenyum penuh semangat.


“Papa mau ikut denganku?” tanya Arsen pada Andrean berbisik.


Andrean menyinggungkan senyum kecil.


“Tentu.” jawabnya.


“Tuan Muda! Di-” Barend hendak protes, namun tangan Arsen ke atas, artinya menyuruh dia diam dan jangan khawatir.


Bagi Barend, kepergian Andrean bersama mereka adalah halangan. Yang ia tahu, Arsen menyukai Sakinah karena teman dekat Billa, mereka dekat sejak kecil. Ya, pria itu masih berpikir Arsen anak Jimi.


Ia juga mendapatkan gosip, jika Andrean memperkosa Sakinah teman dekat Billa, makanya mereka terpaksa menikah, lalu kedua anaknya tidak dekat dengan Andrean, jauh lebih dekat dengan Jimi dan Arsen.


**


Penutup mata Sakinah dibuka, cadarnya sudah dibuka dan diganti dengan lakban sejak dibius sore tadi. Tangannya diikat dengan borgol ke belakang kursi. Sedangkan kakinya diikat dengan tali.


Sakinah memberontak, menggeleng. Bawahan Pria itu tak peduli, ia membuka paksa hijab Sakinah yang dililit dengan peniti itu. Bahkan Sakinah mengaduh kesakitan karena ditarik paksa sedangkan penitinya tidak dibuka. Kejadian itu ia rekam dan kirim pada Andrean dan Dedrick.


Tentu saja rekaman itu juga masuk ke dalam laptop Arsen karena dia telah meretas itu sebelumnya.


Airmata Sakinah mengalir, ia sangat cemas dan takut. Tak henti-hentinya ia menyebut nama Allah, berdoa untuk keselamatan dan dijaga oleh Tuhan.


Rambut panjang hitam dan tebal Sakinah terurai setelah hijabnya dibuka paksa sehingga ikat rambutnya juga ikut terputus.


Semua mata terpana menatapnya. “Cantik.” Hampir semua orang yang berada disana bergumam melihatnya.


Pria itu berdiri, berjalan mendekat ke arah Sakinah.


“Pantas saja dua putra Van Hallen tergoda, kau sangat cantik rupanya. Bagaimana ... jika kau bersamaku saja, kujamin kau bahagia.” Pria itu menatap setiap inci wajah Sakinah.


Sakinah merunduk kebawah, ia terus berdo'a dalam hatinnya. Memohon pada yang Maha Perkasa agar menolongnya.


Pria itu meremas dagu Sakinah, menariknya keatas, hingga wajah Sakinah terdongak ke arahnya, namun mata Sakinah tetap kebawah, tak ingin saling berhadapan mata dengan pria itu.


“Sudah kau kirim video tadi? Apa sudah dapat balasan? Jika belum, aku ingin membuat video baru bersamanya.” ucapnya, matanya yang penuh syahwaat itu menatap tubuh Sakinah lapar.


“Tuan, sangat bahaya jika kau melakukan hal yang lebih. Lagi pula, perjanjian kita hanya untuk menggertak saja agar mereka sepakat, tidak untuk melakukan hal buruk padanya,” kata Pria berjacket yang waktu itu bersama Monessa.


“Cih! Apa yang kau tahu! Diam saja, ini bukan urusanmu!” hardiknya.


**


Ardhen tersenyum ramah dan manis pergi bersama Sekar menjenguk Monessa ke rumah sakit.


“Apa kabar Tante? Bagaimana dengan kondisinya, apa Tante sudah baikan?” tanya Ardhen.


“Sudah membaik, Arhen mana?”


“Arhen sedang melakukan jumpa pers!” jawab Sekar.


“Oh,” sahut Monessa. Lalu ia merubah mimik wajahnya murung dan terlihat sangat sedih. “Maaf, Ma, Ardhen, Tante tidak bisa menjaga Mom kalian. Waktu itu aku sudah mencoba melawan dan memberontak, tetapi hanya aku yang bisa terlepas dan ditolong, sedangkan Kinah dibawa mereka.” jelasnya mengiba.


“Oh, jangan khawatir Tante. Mom sudah bertemu kok, Mom sedang menemani Kakak jumpa pers sekarang.”


“Apa?!” Mata Monessa terbelakak sempurna.


“Iya, terimakasih kamu sudah khawatir, tetapi Sakinah sekarang sudah ditemukan, jadi jangan khawatir lagi. Nah, ayo makan ini dulu.” Sekar menyodorkan makanan yang mereka bawa.


“Hm, syukurlah. Aku turut senang, Ma.” jawab Monesa, tetapi di dalam hatinya ia menjadi semakin cemas dan khawatir.


‘Sialaaan! Apa mereka ketahuan? Atau wanita itu terlepas?’ gumam Monessa dalam hati.


Ardhen tersenyum melihat Monessa memakan makanan yang ia buat, bahkan wanita itu memakannya dengan lahap hingga habis.


Perlahan, penglihatan Monessa pun kabur, ia langsung rebah dan tertidur di ranjang dimana dia dirawat.


Ardhen menelpon seseorang.


Tubuh Monessa diangkat oleh beberapa orang dan dibawa kesuatu tempat.


“Paman, kau sudah bekerja keras.” Ardhen memuji seorang Dokter.


“Terimakasih Nath.” ucap Sekar.


“Ini adalah tugas saya Bibi. Saya sangat senang bisa membantu, semoga Kakak Ipar segera ditemukan. Sungguh wanita rubah yang tidak sadar diri, wanita itu.” ucapnya dengan terkekeh kecil sembari melihat tubuh Monessa didorong.


“Bekerjalah dengan semangat, kami pergi dulu.” Sekar menepuk pundak pria itu.


...***...