
Arsen berjalan paling utama, gerakan mereka sangat berbeda, karena biasanya Catwalk dimulai dari yang dewasa sejak tadi. Namun sekarang Arsen yang memulainya.
Ia berjalan sendirian dengan lampu sorot, jas hitamnya dengan bunga mawar merah disaku jasnya, jam tangan berlian dengan cincin permata Ruby. Topeng kacamata hitam berukiran emas ditepinya menambah kesan cool pada wajah anak laki-laki itu.
Hidungnya yang mancung, rahangnya yang sudah terbentuk tegas dan sempurna, bibirnya yang terlihat begitu menawan dan imut, rambutnya yang hitam lebat, sorot mata dibalik topeng itu terlihat sangat tajam bak elang yang siap memangsa.
Ia berjalan tegap dan santai, sangat terlihat berkelas, berwibawa dan dingin. Semua orang terpana dan terpukau, kemudian beberapa model pria dan wanita dewasa mulai keluar perlahan, memamerkan perhiasan, wajah mereka juga ditutupi dengan topeng dibagian mata.
Arsen hanya berdiri diam di tengah, semua orang berjalan dengan gaya, lalu menyusul model anak-anak laki-laki dan perempuan memakai perhiasan.
Perlahan semua mulai berjalan mundur ke depan, setengah jalan ke belakang, muncul seorang wanita yang terlihat sangat anggun dan seksi. Ia adalah model internasional yang sangat terkenal. Jesika Maibaw, walaupun ia memakai topeng dibagian mata, orang-orang bisa mengenal tatto pistol di paha kanannnya, lalu di bagian atas dada kirinya tatto bunga mekar.
Dileher Jesika Maibaw bertengger sebuah kalung yang sangat memukau, kalung dengan permata emerald yang sangat glamor. Ia berjalan melenggak-lenggok, berputar sendirian kemudian berjalan pergi kebelakang.
Setengah perjalanan ia hendak kebelakang, seorang gadis cilik nan cantik berjalan melenggak-lenggok ke depan, rambut panjangnya dikepang dua, ujungnya dikritingkan, bajunya sopan dan terlihat glamor.
Ia adalah artis cilik yang didatangkan dari Prancis bernama Emma Casta Meuqida. Ia memakai kalung utama untuk even jewerly.
Arsen membuka tangannya satu, lalu di sambut oleh Emma dengan tersenyum, mereka seolah berdansa, tetapi memamerkan kalung yang terlihat sederhana itu, permatanya yang berwarna biru laut itu seperti tetesan embun, rantainya terlihat sangat halus dan tipis namun sangat kuat.
Setelahnya, mereka saling melepaskan tangan, Emma berjalan perlahan ke belakang, lalu Arsen menaikkan satu tangan ke atas, hiduplah sebuah rekaman di layar besar dibelakangnya. Di sana diputar secara garis besarnya rancangan awal perhiasan utama, lalu sebuah kata bertuliskan tebal.
“Untukmu Ibuku tersayang, aku mencintaimu.” Setelah itu, Arsen langsung berjalan pergi ke belakang panggung.
Suara sorak sorai dan haru mulai tak terkendali. Tuan Arsen Ares aku mencintaimu! Ya, begitulah kebanyak teriakan mereka.
“Sungguh, aku ingin menjadi Ibunya.” Beberapa wanita tua mulai berkata seperti itu.
Semua orang-orang benar-benar terpukau, lain dari pada yang lain, bahkan Andrean pun juga sangat terpukau pada putra geniusnya itu.
“Sungguh sangat wajar Tuan Muda Arsen sukses dalam beberapa bulan ini, bahkan di dalam even ini, ia melakukannya dengan sangat sempurna.”
“Kedepannya harus baik-baik dan bergabung dengan perusahaan Ar3s ini. Aku yakin dia akan terus berkembang!”
Pujian demi pujian terus terdengar.
“Sungguh anak yang penuh ambisi,” gumam Andrean tersenyum tipis. “Tetapi, yang aku pegang tadi siapa? Anak yang duduk dengan istriku tadi siapa?” Andrean tersadar.
Ia lihat, tak ada anak cilik dibangku itu. “Oh, jadi dia menggunakan trik sebagai penonton, pas dia tampil, dia kembali duduk?! Benar-benar anak yang cerdik!” lanjut Andrean bergumam.
Namun sayangnya, tebakan Andrean salah! Arsen telah menyiapkan seorang anak kecil pengganti yang duduk di sana, agar orang-orang tak curiga. Soalnya Puloh dan beberapa lainnya mulai curiga. Hans dan Jimi terlihat cukup dekat dengan Andrean. Beberapakali akun anonymous mencoba meretas sistemnya, dengan lincah ia memasang mode virus dan merusak akun itu terlebih dahulu sehingga terblokir.
Arsen memperkuat kunci sistem akun perusahaan dan data-data pentingnya. Bahkan ia sudah menyimpan file yang sangat penting di tempat aman dan privat.
Kinah dan Billa tampak menghapus air mata mereka. Mereka benar-benar terharu. Ardhen juga memeluk Sakinah, Kinah membalas mengelus kepala putranya itu.
“Abang sungguh keren Mom, aku mencintai Abang!” ucap Ardhen, “Mencintai Kakak juga!” lanjutnya. “Mencintai Mom dan Miss juga.” tambahnya.
“Iya, Mom dan Miss juga mencintai Adik, semuanya mencintai Adik, Abang dan Kakak.”
Billa semakin terharu. Sungguh beruntung, Tuhan sudah membalas kesusahan dan kesedihan Kinah selama ini menjadi kegembiraan yang berlimpah. Mendapatkan cinta dari suami, anak-anak dan mertua barunya.
“Aku merasa iri!”
“Pokoknya aku iri!” Ia memeluk Sakinah.
“Heh, nanti make up-nya terhapus dan hilang, jangan menggeseknya seperti ini kalau mau memelukku.” Kinah mengingatkan Billa yang lupa dengan keadaannya yang menyamar jadi wanita tua.
“Kau bukan iri sahabatku, tetapi kau terlalu senang dan bangga!”
Kinah dan Billa malah sama-sama terkikik setelah itu. Billa adalah wanita yang baik, suaminya Jimi juga. Mereka telah menganggap Sakinah dan anak-anaknya keluarga yang sangat penting.
~~
Krek! Terdengar pintu kamar toilet terbuka.
Blam!
Bruk!
Brak!
Terdengar suara ribut di luar, anak kecil laki-laki itu melanjutkan buang air besarnya. Awalnya tadi ia hanya ingin buang air kecil, tetapi tiba-tiba dia merasa mules.
Setelah selesai, ia memakai celananya, merapikan pakaian dan bersiap pergi.
Ia buka pintu kamar toilet, hendak keluar.
“A-!” Belum selesai ia bicara, mulutnya sudah dibekap, lama ia dibekap, ia mencoba meronta, kepalanya sangat pusing dan tubuhnya terasa lemas. Ia tarik sesuatu dari jasnya, lalu hendak menekan tombol, tetapi tangannya sudah terkulai lemas, ia sudah pingsan.
“Cepat!” Dua pria berjas itu langsung menggendong tubuh Arsen palsu.
Pengawal yang mendampingi sudah tergeletak dilantai toilet karena disuntik bius tepat dilehernya. Paling tidak, orang itu akan tersadar 3 jam kemudian.
Dua orang itu berhasil membawa Arsen palsu keluar dari ruangan melalui tangga darurat, lalu melewati jalan belakang yang tak ada CCTV khusus jalan para karyawan, mereka telah menyogok penanggungjawab jalan belakang itu, sehingga mereka bisa melewatinya.
Mereka tiba diparkir, langsung menyerahkan Arsen palsu pada orang yang menyuruhnya.
“Kerja bagus! Ini untuk kalian!” Pria itu melemparkan dua amplok tebal yang berisi uang pada dua pria kekar yang memakai jas itu.
“Ingat, jangan sampai bocor!” ucapnya.
“Tenang saja Boss! Kami bisa dipercaya!” ucap mereka bangga.
“Bagus!”
“Kalau begitu, kami balik dulu Boss!”
Saat mereka berbalik, kepala mereka ditembak dengan kejam oleh bawahan pria yang menyuruhnya. Mereka tewas ditempat dengan menggenaskan.
“Hanya orang mati yang tak akan pernah membocorkan rahasia!” ucapnya tersenyum.
“Kalian urus mayatnya, berikan pada dia untuk ia otopsi atau jual beli organ! Uang itu untukmu!” ucapnya.
Pria yang menembak itu menelfon seseorang dan memasukkan mayat dua manusia itu ke dalam mobilnya, kemudian memungut kedua amplop milik mereka yang mati itu.