
Arsen tengah kesal dan uring-uringan, marah-marah tak jelas pada Asisten pribadinya, Hans.
Hari ini, Roselia pergi bersama dengan teman-teman sekolahnya naik mobil bus dalam acara perpisahan. Satu hal yang membuat ia jengkel sekali adalah, Rayyan duduk di samping Roselia. Arsen tak bisa berkutik karena ia tak ada saham atau kekuatan apapun dalam acara ini, ia tak ada hubungan kuat di tempat Roselia bersekolah, sehingga tak bisa ikut campur atau ingin ikut pergi bersama Roselia.
“Awas saja kalau dia macam-macam, akan aku patahkan tangannya!” bergumam dalam hati.
Hans dan Arsen masih menatap murid-murid naik ke dalam bus. “Hati-hati Ros!” Masih terdengar jelas Hans berucap pada adiknya sambil melambaikan tangan.
“Tuan Muda, sebentar lagi ada rapat tentang perkembangan perhiasan terbaru peony amber di Lawsen, apakah kita akan segera berangkat ke kantor, ini sudah waktunya pergi!” Hans tiba-tiba berkata untuk mengingatkan dirinya, lalu mereka naik ke atas mobil, Xander Pim menuju kantor.
Setibanya di kantor, Arsen malah uring-uringan dan marah-marah.
“Ck, apa Kakak tak bisa menggantikan ku? Aku merasa tak enak badan, aku harus pergi dan beristirahat!”
Hans tampak berpikir sejenak, lalu menjawab. “Baiklah Tuan Muda, aku akan segera bersiap-siap.” Hans pun mulai mempelajari file tentang Peony amber itu.
“Kabari aku segera setelah hasil rapatnya!” Arsen langsung meraih jas dan hpnya, lalu langsung menelpon Xander Pim.
Ia masuk ke lift khusus hanya dirinya dan beberapa org penting yang bisa memakai, lalu memencet tombol ke parkir, sesampainya diparkir Xander Pim sudah berdiri tegak di samping mobil. Ia segera membukakan pintu belakang saat Arsen sampai.
“Antarkan aku ke pelabuhan lautan kebebasan!”
“Hah?” Xander Pim menjadi bingung, karena atasannya ini baru saja sampai ke kantor, ia pikir akan segera bertemu dengan investor atau klien di suatu tempat, tetapi apa barusan yang dia dengar?
“Ke pelabuhan lautan kebebasan!” ulang Arsen lagi memerintah.
“Baik, Tuan Muda.” Xander Pim pun melajukan mobilnya ke pelabuhan itu, kurang lebih menempuh 2 jam perjalanan.
Setelah sampai di sana, ia meminta di antarkan melalui helikopter, Barend sengaja membeli helikopter setelah Arsen pertama kali berkunjung ke sana saat itu. Pemuda tampan itu muntah-muntah saat naik Speedboat atau kapan kecil apapun karena terombang-ambing air laut.
Tak berapa lama, Arsen sampai di tepi pulau. Xander Pim mengikutinya dari belakang.
“Tuan Muda!” Monic terkejut, pasalnya, putranya Vindo baru beberapa hari ini ke kota pusat atas keinginan Arsen, tetapi tuan muda itu kini berapa di pulau yang mereka tinggali.
”Mana Paman, Tan?” Arsen membalasnya dengan bertanya.
“Sedang membuat jaring kepiting, mari Tuan Muda!” ajak Monic.
•••
“Siang Tuan Muda,” sapa Berend. Dia menghentikan aktivitasnya.
“Lanjutkan saja Paman! Aku kemari hanya ingin bermain, aku suntuk bekerja! Ingin berenang bersama anak-anak!”
“Oh, anak-anak pasti senang!”
“Hm?” Arsen memegang kerang yang di tumbuk oleh Berend. “Ini untuk apa Paman?” Arsen bertanya.
“Untuk membuat peluru ikan dan serbuk kerangka,” jawab Berend.
Walau sudah berenang berjam-jam sampai pucat, setelah ia berhenti berenang, ia kembali teringat dengan gadis berkacamata itu. ‘Menyebalkan!’ gerutunya dalam hati, isi kepalanya hanya Roselia.
Akhirnya, dia mengakhiri berenang dan kembali lagi ke kota, tetapi dia kini pergi ke alamat Roselia berlibur.
Sesampainya di sana, hari hendak menjelang malam, tenda-tenda kelompok sudah mulai terpasang. Arsen yang tak memiliki kesiapan apapun memilih tiduran di mobilnya, melihat kerumunan manusia yang sedang membakar api unggun. Empat bus besar terparkir di sekitar sana, beberapa tenda besar dan kecil juga terpasang di sana. Ada yang bergitar, bakar-bakar ikan dan jagung, sosis dan naget.
Arsen menatap semua kegiatan itu dari balik kaca mobil, timbul rasa iri dalam hatinya. Dulu, ia bersekolah di sekolah terbaik, sekolah anak-anak genius, sekolah khusus. Kumpul bersama seperti ini tak pernah ia rasakan, pertama karena jarang di adakan, kedua dia kurang bisa bergaul. Selama ini, dia selalu disukai, dipuji, dibutuhkan, ia memiliki banyak uang, hampir semua yang dia inginkan bisa dicapai.
Akan tetapi, kini ia sadari, ada beberapa momet yang ingin ia lakukan, ia ingin sekolah biasa seperti ini, ingin berjalan bersama Roselia. Seharusnya, jika dia tidak genius, dia pasti sudah bersama Roselia sekarang, itulah pikirannya.
“Aaakh! Ufft!” Roselia terpekik dan meniup tangannya.
“Kamu kenapa Ros, sini tangannya!” Rayyan langsung menguuluum jari tangan Roselia agar rasa panas dari api bisa dingin. Tidak tahu kenapa Rayyan melakukan pertolongan seperti itu. Pemandangan itu tentu saja membuat darah Arsen bergejolak naik ke ubun-ubun.
“Apa yang dilakukan bocah sialaaan itu!” umpat Arsen dibalik kaca mobilnya sebagai penonton.
“A-aku gak apa-apa Ray!” Roselia menarik jari tangannya dengan wajah merah merona. Akan tetapi, Rayyan memegangnya kuat dan masih menguuuluumnya.
“Aku sudah berjanji pada Kakakmu, juga pada atasan kakakmu, aku harus menjagamu, jika kamu kenapa-kenapa dengan tangan merah karena terbakar gimana?” sahut Rayyan setelah mengeluarkan jari tangan Ros dari dalam mulutnya.
“Sini ikut aku!” Rayyan menarik tangan Ros masuk ke dalam tenda kecil miliknya.
“Paman! Kemana Bocah sialan itu membawa Ros! Apa yang mau dia lakukan? Dia mengajak Ros berduaan masuk ke dalam tendanya! Ahahhh! Aku akan menghentikannya!” Arsen hendak turun.
“Tunggu, Tuan Muda. Jangan turun dan datang ke sana, nanti Nona Ros jadi merasa diikuti.”
“Aku tak peduli! Bagaimana kalau bocah tengik itu ... apa-apain Ros!” Arsen menatap tajam Xander Pim.
“Itu tidak mungkin, Tuan.”
Di dalam tenda, Rayyan langsung mengambil salep dan membalurnya di jari tangan Roselia. Setelah membalurnya, mereka berdua keluar dan kotak salep itu dipegang oleh Ros.
Arsen melega karena Ros tak lama di dalam dan mereka berdua cepat keluar, jika tidak, Arsen berniat menerjang tenda itu.
“Apa yang dipegang Ros itu?” Mata Arsen menelisik, Ros terlihat dari kejauhan memegang sesuatu.
“Apa yang diberikan pria sialan itu! Kenapa dia menatap pria itu terus menerus, dan kenapa saat bersamaku dia selalu merunduk! Aaaaaah!” Arsen memukul kursi mobil.
“Paman! Seberapa tampan pria itu? Apa aku jauh tinggalnya? Apa aku kurang tampan darinya?” Arsen bertanya pada Xander.
“Tuan Muda sangat tampan, hampir semua wanita yang bertemu dengan Anda, pasti akan jatuh hati, jadi mana mungkin pemuda itu lebih tampan dari Tuan!” jawab Xander.
“Nah, kau memang Paman yang pintar, benar-benar seleraku. Aku tampan dan kaya raya, jadi tak mungkin Ros menyukai pria seperti dirinya, pasti dia menyukaiku, hanya saja dia tak enak menunjukkannya padaku karena Kak Hans bawahanku!” Arsen berkata dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
Xander Pim tak menyahut, ia hanya bisa berharap semoga saja begitu, tetapi dilihat dari sudut pandangnya, Ros lebih dekat dan sering tersenyum pada Rayyan, sedangkan jika dengan Arsen, wajahnya berubah menjadi tegang, seperti pelayan pada majikan.