Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Memilih Cincin


“Dav, kamu sudah menemukan informasinya?” tanya Andrean.


David menyerahkan copian surat-surat tentang lahan dan tanah di Lauw Flores. “Ini, Tuan Muda.” jawabnya.


Andrean dan Arsen sama-sama melihat berkas itu, mereka berdua sama-sama menggelengkan kepala. Lalu, meletakkan tangan di dagu, berpikir. David tersenyum melihat keduanya, kebiasaan mereka saat berpikir terlihat sama persis, perbedaannya hanya dari segi wajah.


Wajah Andrean mirip dengan Ardhen, tetapi sikap anak laki-laki itu lebih dominan seperti Sakinah, sedangkan Arsen, sikap mirip Andrean tapi wajahnya campuran dari Andrean dan Sakinah.


“Apa pria tua ini ingin membuat aku miskin?” tanya Arsen kesal, menghempaskan berkas yang ia pegang. “Aku belum membawa Mom keliling dunia, belum membelikan Mom pesawat dan kapal, belum mengajak Mom mencicipi semua makanan.” Ia menatap tajam berkas itu.


“Aku bahkan belum mengalahkan kekayaan Papa!”


Andrean mengulum senyum, anak sulungnya yang percaya diri itu mengakui dirinya lebih kaya.


“Apa kamu mau bergabung dengan Papa?” tanya Andrean mengelus kepala Arsen.


“Huh! Tidak! Walaupun aku belum kaya raya, aku akan menjadi kaya raya segera. Sebentar lagi, Papa akan menjadi tua dan tak berdaya!”


“Ya ampuuunnn! Anak ini mulutnya!” sungut Andrean.


“Yang aku katakan itu benar 'kan, Paman?” tanya Arsen pada David. Pria itu langsung mengalihkan pandangan matanya dari Arsen, ia tak ingin menjadi orang ketiga dari pertengkaran dua ayah beranak itu.


“Ya, ya, kau menang! Lalu, kamu mau apa?” tanya Andrean mengacak rambut Arsen.


“Papa harus menemukan bukti-bukti jahat Jonathan secara langsung, ia selalu menghancurkan bukti saat kita menyelidikinya. Walaupun Puloh sudah mengakui itu perbuatan Jonathan. Kita tidak bisa menciduknya tanpa bukti nyata. Ia bahkan bisa mengelak dan mengalihkan kesalahan pada orang lain, seperti pada Puloh.” terang Arsen.


“Dia benar-benar ular berbisa, dia jinak di depan Paman Irfan, tetapi ia melilit perlahan. Setelah itu baru ia gigit dan memberikan racunnya.” balas Andrean.


“Kenapa Papa tidak memberitahu Kakek Irfan saja, kalau dia dimanfaatkan!” Arsen menatap Andrean.


“Apa menurutmu dia akan percaya kepada keluarga yang dia anggap musuh selamanya?”


“Hm.” gumam Arsen. “aku akan menolak tegas tawaran dia.” lanjutnya lagi.


“Dia orang pendendam.” sahut Andrean.


“Ya, setiap manusia selalu memiliki penyakit hati, seperti iri, dengki, dendam dan lainnya. Untuk apa takut dengan manusia seperti itu.”


“Baiklah, Papa mendukungmu.” Andrean memeluk Arsen dan mencium pipi putranya itu.


“Jangan menciumiku!”


Cup! Andrean malah kembali mencium putranya itu. “Kau mirip sekali seperti Ardhen, menyebalkan.” ucap Arsen yang dipeluk dan dicium Andrean.


“Karena dia putraku,” jawab Andrean terkekeh. “Lalu, dia juga adikmu.”


“Aku tahu itu, menyebalkan!”


Andrean tersenyum, dia mulai mengenal Arsen, menyebalkan yang dia ucapkan artinya, ‘Aku menyayangimu.’


~~


Calista dan Dedrick sedang mencoba gaun pengantin mereka, lalu memilih decoration outdoor berdua.


“Sayang, aku suka warna navy. Bagaimana?” tanya Calista. Dedrick hanya mengangguk setuju.


“Ah, gak asik jalan sama kamu. Masa kamu gak punya keinginan apapun?! Iya suka, aku suka! Hanya itu saja jawabannya! Menyebalkan!” Calista menyedekapkan tangannya.


Dulu, Calista akan senang setengah mati jika berjalan berdua dengan Dedrick, bahkan jika pria itu hanya diam dan bernafas saja, dia akan melihatnya dengan mata berbinar. Sejak hamil, Calista menjadi-jadi, setiap saat dia merasa kesal dan jengkel pada Dedrick.


“Sayang, aku menyukai semua yang kamu sukai. Aku tidak punya keinginan apapun selain menikah dan hidup bersamamu. Aku tak punya selera fashion tertentu, bukankah selama ini saat kita mendapatkan undangan kantor, selalu kamu yang memilihkan jasku?” terang Dedrick.


Ya, masih diingat oleh Calista, dulu semuanya tentang pria ini dia tahu, bahkan pakaian saja dia bisa memilihkan untuk Dedrick.


Mendengar itu, Dedrick langsung memeluk Calista erat. “Sayang, jangan bicara seperti itu. Maaf, jika selama itu aku kasar dan mengabaikanmu, aku mohon jangan menyesal mencintaiku, tetaplah cinta padaku.” rengeknya.


Calista tersentuh mendengarnya, pria dingin yang mengabaikan dirinya selama ini memohon padanya, bukankah itu adalah pencapaian yang sangat sempurna?


“Sayang, aku bisa gila jauh darimu, tetaplah mencintaiku.” Dedrick membenamkan wajahnya di ceruk leher Calista.


“Ok, lepaskan pelukannya, aku gerah!”


Dedrick pun melepaskan pelukan itu.


“Baiklah, aku sudah memilih warna decoration nya. Sekarang, ayo, kita pilih cincin!” ajak Calista.


“Kita ke toko Ar3s Jewerly, ya.” jawab Dedrick.


“Loh, ngapain?! Kita harus mendukung usaha Andrean, bukan saingan bisnisnya. Walaupun Andrean dan Arsen Ares itu saling kenal, tetap saja Arsen Ares itu bukan keluarga kita Van Halen!” protes Calista.


Dedrick mendekat, lalu berbisik. “Arsen Ares itu keponakanku, Arsen Ryker Van Hallen.”


“Apa?!” teriak Calista terkaget.


“Sayang, jangan berteriak begitu, nanti bayinya kenapa-kenapa, jika perutmu menegang.” Dedrick mengusap-usap perut Calista.


“Sayang, kau tidak bercanda? Anak kecil itu? Maksudku, dia...”


“Iya, Sayang. Ayo, kita ke sana.”


Calista dan Dedrick menuju ke toko Ar3s Jewerly, begitu pula Arsen dan Andrean juga baru sampai di sana, mereka langsung masuk ke ruangan kantornya.


Tak lama, Calista dan Dedrick datang.


“Papa kedua.” sapa Arsen, “Halo, Tante!” lanjut Arsen lagi menyapa dengan sedikit senyuman.


“Hai, Jagoan Kecil.” Dedrick mengelus kepala Arsen, lalu menggendongnya.


Arsen juga langsung memeluk dan bermanja di tubuh Dedrick, membuat Andrean cemburu. Putra pertamanya itu tak pernah bermanja seperti itu padanya.


“Hei, aku papamu!”


“Aku tahu!” jawab Arsen, masih bermanja dalam pelukan Dedrick yang mengulum senyum melihat Andrean cemberut.


“Papa kedua, ayo, akan aku tunjukkan cincinnya.”


“Kak, Han!” Arsen menatap Asisten pribadinya.


Hans langsung membuka ruangan rahasia yang berada di dalam toko itu dengan kode rahasia, lalu tampilan layar dengan model telapak tangan. Arsen menempelkan telapak tangannya, pintu berat dengan besi tebal terbuka.


Sinar laser berwarna merah langsung memindai kening Arsen, kemudian laser biru memindai kedua bola mata Arsen. Muncullah sebuah kotak kaca panjang, di dalamnya terdapat banyak perhiasan berkelas dunia.


“Wow!” Calista menatap takjub.


“Papa kedua, aku merekomendasikan dua cincin ini untukmu, tetapi semuanya terserah Tante Calista saja, dia mau pilih yang mana. Silahkan Tante.” ujar Arsen.


Dedrick menatap dua cincin dengan pasangannya itu, benar-benar indah. Satunya memiliki permata Griffon Eye's, sedangkan satunya lagi Sea Dark.


Calista menatap semua perhiasan mulai dari kalung, cincin, gelang, jam dan anting, semuanya berkilau. Apalagi dua cincin rekomendasi dari Arsen, warna navy kesukaannya.


“Andrean, apa benar dia anakmu dan dia itu adalah pemilik perusahaan Ar3s?” tanya Calista. Andrean mengangguk.


“Astaga! Sayang, aku sungguh sudah jatuh cinta padamu.” Calista langsung memeluk dan mencium Arsen, membuat dua pria dewasa disampingnya cemburu, apalagi melihat Arsen yang juga tersenyum lembut ke arah Calista.