Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Hadiah


Sakinah bersama sopir pribadinya menjemput Sekar dan Wizza di bandara.


Sekar memeluk dan mencium Sakinah yang memakai dress berwarna putih dengan corak rumbai berwarna cream di ujung rok dan tangan bajunya. Ia memakai hijab berwarna cream dengan cadar berwarna senada dengan hijab.


Setelah memeluk Sekar, Sakinah mencium tangan Wizza. Bagi Wizza hal seperti itu tidak lagi mengejutkan, dulu saat pertama kali ia menikahi Sekar ia sudah cukup culture syok, namun kini sepertinya Andrean yang mengalami itu karena Sekar tak terlalu sering mengajarkan tradisi Indonesia pada kedua putranya.


Sopir membukakan pintu mobil dan diiringi dua orang bodygourd yang juga masuk ke dalam mobil setelah Sekar, Sakinah dan Wizza masuk ke dalam mobil.


“Bagaimana keadaanmu dan anak-anak selama ini? Apa Andrean menyakitimu?” tanya Sekar menatap Sakinah lembut.


“Tidak, Ma. Andrean sangat baik padaku, anak-anak juga baik-baik saja, Ma.” jawab Sakinah.


Mereka sedikit berbincang hingga sampai di Mansion.


Para Maid menurunkan semua barang bawaan, hadiah untuk para maid dan cucu kesayangan Sekar, Trio Ar.


“Ini untukmu.” ucap Sekar memberikan banyak bingkisan setelah mereka duduk di atas sofa di ruang tengah.


“Yang ini masukkan ke kamar anak-anak.” tunjuk Sekar pada hadiah-hadiah yang banyak terkumpul di hadapannya.


“Lalu yang ini, bagi rata secara adil untuk kalian semua.” terangnya lagi pada Kepala Pelayan.


“Baik, Nyonya.”


____________


Dedrick hari ini mulai masuk kembali ke kantor setelah sembuh dari demam, Calista sudah memberungut sejak tadi.


Dedrick memiliki 4 orang bawahan penting, salah satunya Calista. Satu orang menjadi Asisten pribadinya, bernama Alex. Dua orang ia tugaskan dibagian kantor. Sedangkan Calista sering ia abaikan, tak ia berikan tugas.


“Aku ini juga Sekretarismu!” ucapnya kesal.


“Baiklah, aku salah. Aku telah mengganggu istrimu. Seharusnya kau tahu, aku seperti itu karena cemburu, aku sangat menyukaimu, tidak bisakah kau menyadarinya?”


Dedrick masih saja diam, Alex asisten pribadinya hanya diam berdiri di sampingnya, sesekali menatap Calista.


Satu-satunya wanita yang berani dan tebal muka pada Dedrick. Mungkin karena mereka sudah saling mengenal sejak kecil, hubungan keluarga dan rekan bisnis yang juga menyatukan mereka sejak dulu. Calista sejak dulu mengejar cinta Dedrick, ia tak peduli jika diabaikan. Ia bahkan bisa menghalau semua wanita yang mendekati Dedrick.


Andrean dan Calista dua manusia yang selalu menghalau wanita-wanita yang mendekati Dedrick. Sebenarnya Calista berkenalan dan berteman pertamakali dengan Andrean. Namun semenjak ia main ke Mansion, melihat Dedrick yang pendiam membaca buku ditaman belakang mansion, ia terkesima.


Ditambah dengan Andrean yang selalu mencari perhatian pada Dedrick, membuat Calista juga ikut-ikutan mencari perhatian.


“Aku berjanji akan mencintai putramu Arhen seperti anakku, aku tak mengapa jadi istri keduamu tetapi jangan paksa aku menyukai wanita itu.” Calista masih saja menceracau.


“Aku ingin menikah denganmu, aku tak ingin dijodohkan. Kau dengar tidak?!” serunya kesal.


Dedrick menoleh padanya, membuat Calista terdiam dan sedikit menciut.


“Nanti malam datanglah ke restoran milik Alex jam 8 malam,” ucap Dedrick. “sekarang pergilah, kerjakan pekerjaanmu!" pinta Dedrick sembari mengibaskan tangannya.


“Kau mengajakku kencan? Aahhh, akhirnya kau goyah juga balok kayu.”


“Yes, yes, akhirnya aku akan pergi kencan. Yes, yes, hore, hore!” seru Calista menari-nari sembari keluar dari ruangan Dedrick dan kembali ke meja kerjanya.


“Tuan Muda, sungguh Anda akan pergi kencan dengan Nona Calista?” tanya Alex, ia bersiap menulis agenda perjalanan Dedrick.


“Menurutmu?” tanya Dedrick dengan wajah tanpa expresi, membuat Alex menelan salivanya.


Alex, ia memang berteman dengan Andrean dan Dedrick, ia juga memiliki dua hari libur kerja dan telah memiliki usaha perhotelan dan restoran. Namun ia sedikit takut pada atasannya ini, Dedrick memang sulit diajak bercanda sejak dulu. Hingga Alex hanya berani bergurau pada Andrean saja.


“Apakah agenda makan malam itu ditulis atau tidak, Tuan?” tanyanya meragu.


‘Apakah Tuan Muda sungguh akan berkencan dengan Nona Calista? Atau ingin menjelaskan semuanya? Jika sebenarnya Tuan Dedrick belum punya anak dan masih single?’ gumam Alex kemudian.


Ya, hanya Alex seorang dikantor ini yang tau dan beberapa pengawal pribadi Dedrick yang mengetahui cerita sebenarnya.


_____________


“Paman, aku serahkan tugas ini padamu, atur saja.” Arsen berkata pada Barend.


Anak laki-laki itu masih memakai seragam sekolah, duduk di dalam mobil Barend yang sedang melaju hendak ke suatu tempat.


“Oh, ya, carikan juga model perempuan cantik dan anak-anak untuk model kalung kita. Saya percaya Paman pasti bisa melakukannya.” ucap Arsen lagi.


“Tenang saja, aku akan mencarikan model yang tak kalah terkenal dari model mereka, yang memiliki citra yang baik.”


Barend yang awalnya membantu Arsen karena hutang budi pada Jimi, kini bekerja serius melihat betapa hebat dan geniusnya Arsen yang ia kira anak Jimi.


Gerakan anak buah Barend bisa dihilangkah jejaknya oleh Arsen, membuat Barend berdecak kagum. Ia menjadi bersemangat bekerjasama dengan Arsen.


“Bagaimana dengan acara ulang tahun kamu yang ke 7? Apakah akan kita rayakan seperti agenda kemarin? Atau akan berganti ide?” tanya Barend.


“Seperti yang telah kita rencanakan Paman, belum ada perubahan, jika ada perubahan aku akan segera mengabari Paman.”


“Baiklah.”


Beberapa saat, mobil mereka pun berhenti di sebuah pabrik dengan nama yang tercetak besar, Ar3S dengan logo di atas huruf A ada diamon, sedangkan dibawah huruf R ada tanda bunga mekar.


Mereka disambut oleh Hans.


Tidak banyak karyawan yang tau siapa pemilik perusaah ini, sebagian mengira Barend, namun nama CEOnya adalah Arsen Ryker V.H.


Ya, Arsen sengaja tidak menuliskan Van Hallen dan sengaja memendekkannya dengan V. H. Sedangkan Wakil CEO, hampir semua karyawan tau, siapa lagi kalau bukan Hans.


Mereka sekarang tengah duduk di ruangan CEO.


“Aku telah mempercayakan semuanya pada Paman dan Kakak, aku menganggap ini semua sudah benar.”


Arsen membolak balik laporan, meliriknya hanya sekilas, Kakak bisa menandatanganinya. Menyodorkan berkas itu pada Hans.


“Aku serahkan semuanya pada Kakak dan Paman, minggu depan aku ada ujian di sekolah.” jelas Arsen.


“Baik, Tuan Muda.” jawab Hans.


________


Arhen dan Ardhen sedang membuka semua bingkisan, memilih beberapa yang mereka suka dan menyisihkan beberapa hadiah yang disukai Arsen menurut versi mereka.


“Kita masukkan ke dalam tas kita, besok kita akan memberikan pada Abang.” ucap Ardhen.


“Kau yakin Abang akan menerimanya?” tanya Arhen.


“Kita katakan saja kalau Mom yang memberikan.” jawab Ardhen.


“Aku tak yakin Abang akan percaya. Mana mungkin Mom akan membeli sesuatu seperti ini."


Dua anak laki-laki itu akhirnya sama-sama menggaruk kepala karna ragu. Kakak laki-lakinya itu sangat berbeda dari mereka.


...***...