
Malam hari.
Mansion yang biasanya riang terdengar suara tawa Arhen dan Ardhen, sifat manja-manja mereka, kini terlihat berubah, diam tanpa sepatah katapun.
Monessa memilih duduk disamping Sekar sembari berbincang-bincang dalam bahasa Belanda.
“Ibu Mertua, makanan ini sangatlah enak.” puji Monessa.
‘Ibu Mertua?’ Arhen dan Ardhen menatap sekilas dengan ekor matanya.
‘Cih! Ibu Mertua!’ dengus Dedrick.
‘Ibu Mertua, ya?’ Sekar menatap ke arah Monessa, kemudian menyunggingkan sedikit senyum.
“Baguslah jika kau merasa enak, seharian tadi kita tidak makan, hanya berbelanja saja, padahal awalnya kamu ingin makan.” Sekar menyahuti.
“Ah, iya Ibu Mertua. Sejak hamil perasaanku berubah-rubah, seleraku mudah lapar dan tiba-tiba tidak berselera.”
“Oh, apa kamu juga begitu dulu, Kinah?” tanya Sekar dalam bahasa Indonesia.
“Mungkin karena saya hamil kembar, saya tidak merasakan banyak perubahan dalam perasaan dan selera makan, Ma.” jawab Kinah.
“Itu karena kami anak yang genius dan baik hati Grandma, mungkin saja anak Tante itu nanti tidak pintar dan lebih suka mengisi perutnya.” ucap Arhen terkekeh dalam bahasa Indonesia.
“Arhen, jangan bicara seperti itu, itu adalah perkataan yang tidak sopan!” tegur Sakinah.
“Maaf, Mom. Lagian Tante tidak akan mengerti juga.” Arhen tersenyum pada Monessa.
“Tante adalah wanita yang tidak punya malu dan pelakor 'kan?” ucap Arhen dalam bahasa Indonesia dengan senyuman manis pada Monessa.
“Arhen!” Kinah menatap Arhen tegas.
“Iya, 'kan Tante?” tanyanya dalam bahasa Belanda. Arhen masih tersenyum, membuat Monessa juga tersenyum.
“Pfft! Ahahahahaha!” Dedrick malah tertawa membuat Monessa juga semakin tersenyum lebar. Ia pikir semuanya sedang berbahagia karena ia hamil.
“Apanya yang iya, Arhen? Tante tidak mengerti.” Monessa bertanya pada Arhen dengan wajah penasaran.
“Ah, aku mengatakan nanti dirumah ini akan segera ada adik perempuan, Tante.”
“Semoga saja.” Monessa tersenyum.
Kinah menatap semuanya yang kembali berbicara dalam bahasa Belanda, termasuk Arhen. Sedangkan Ardhen dan Andrean saling tatap dalam diam.
**
Malam pun berganti pagi,
Pagi ini Andrean mengajak Monessa keluar, wanita itu bergelayut manja ditangan Andrean.
Andrean berusaha menepis, namun Monessa dengan tak tau malunya masih memegang lengan itu erat. Arhen dan Ardhen menatap tangan dan lengan itu dengan tatapan tajam.
“Papa.” panggil Arhen.
Dedrick dan Andrean sama-sama melihat, panggilan mereka berdua belum ada perbedaannya sejak dulu, yang membedakannya hanya panggilan papa pertama dan papa kedua.
Arhen berjalan melewati Andrean menuju ke arah Dedrick.
“Papa, jadi 'kan ngajak kami memancing?”
Dedrick memiringkan kepalanya bingung.
‘Kapan aku membuat janji?’ pikirnya.
“Iya, Pa. Mom ikut juga 'kan? Kakak dan Papa memancing, aku dan Mom akan menyiapkan bumbu dan memasaknya, pasti itu sangat menyenangkan.” sambung Ardhen.
Anak yang biasanya sering membela Andrean, ia yang paling lama menangis dan kecewa kemarin. Untuk pertama kalinya ia mengabaikan Andrean sejak semalam dan bersikap lebih manis pada Dedrick.
“Mom harus ikut, ya.” rengeknya lagi menggoyang tangan Sakinah.
“Ajak Grandma juga, ya.” jawab Sakinah.
Ia tak ingin ada sengketa dalam hati, berbeda pandangan saat melihatnya berjalan dengan pria lain, ia ingin menjaga kepercayaan suaminya, padahal suaminya hendak keluar bersama wanita lain yang sedang hamil.
Ia tersenyum mengusap kepala Ardhen, rasanya ia berada dalam posisi menjadi peran utama dalam film sinetron yang sering ia tonton di Indonesia, film ikan salto, air mata istri, jeritan hati istri. Dimana sang suami bersama wanita lain.
“Baiklah, kami akan mengajak Grandma, Mom. Ayo, Kakak, kita cari Grandma ditaman belakang!” ajak Ardhen pada Arhen.
“Ayo!” Mereka pun berlari ceria ke arah taman belakang.
Andrean melirik Sakinah dan Dedrick. “Aku akan keluar dulu dengan Monessa.” ucapnya, lalu beranjak pergi.
**
Setelah Andrean pergi, Sekar, Sakinah, Dedrick dan anak-anak pergi memancing ke taman laut.
“Grandma, apakah taman ini juga punya kita?” tanya Ardhen.
“Lihat, jelas-jelas terlihat di atas sana, Sea Golden Hallen.” tunjuk Arhen.
“Wah, keren sekali.”
“Papa, kenapa tidak mengajak kami dari kemarin-kemarinnya? Kalau ada tempat sekeren ini!”
“Maaf, Papa tak mengira kalau kalian menyukai suasana laut.” Dedrick berkata dengan tersenyum kecil.
Mereka semua tersenyum bahagia, Dedrick dan Arhen mendapatkan 4 ekor ikan yang cukup besar. Ardhen dan para koki Resto ditengah laut itu membakarnya. Sedangkan Sakinah dan Sekar berbincang-bincang menatap hamparan laut luas yang biru indah.
“Kita harus memotret moment ini, ayo kita selfie dulu!” ajak Arhen.
Arhen dan Ardhen sibuk berselfie, memotret pemandangan, berfoto bersama Dedrick, Sakinah dan Sekar.
“Grandma, fotoin kami sama Mom dan Papa.”
Arhen berdiri di depan Dedrick, Ardhen berdiri di depan Sakinah. Posisi berdiri Sakinah dan Dedrick sedikit renggang. Sakinah tidak ingin terlalu dekat berdiri dengan pria yang bukan suaminya.
Foto-foto itu dipilih dan dimasukkan Arhen ke dalam sosial medianya. Baru saja foto-foto itu dioploud, ia sudah memiliki banyak like dan komentar. Ya, Arhen memiliki banyak penggemar, apalagi setelah ia di Belanda, fansnya bertambah banyak.
Foto itu juga lewat diberanda sosial media Andrean. Pria yang tak pernah peduli dengan urusan media selama ini, bahkan ia dijuluki sang pemburu wanita karena terlalu sering gonta ganti wanita, sekarang ia malah sedang memelototi hp nya untuk pertamakalinya dengan lama.
“Apa kalian bahagia?” tanyanya menatap foto Arhen dan Ardhen.
“Apa kau lebih merasa nyaman dengan Kakak dari pada aku?” ucap Andrean menggeser-geser gambar di layar, beberapa foto keluarga besarnya, lalu terpampang foto Sakinah dan Dedrick bersama Arhen dan Ardhen, terlihat seperti potret keluarga kecil bahagia.
Nyut! Hatinya tercubit!
“Apa Tuan Muda memanggil saya? Maksud saya ingin berbincang dengan saya?” tanya David yang terburu-buru mendekat, ia tak mendengar jelas apa yang dikatakan Andrean tadi, padahal Tuan Mudanya itu hanya berbicara sendiri.
“Apa kau sudah selesai menyelidiki wanita itu? Sangat mustahil rasanya jika anak yang ada di dalam perutnya itu anakku. Selama ini aku selalu memakai pengaman, selalu sadar, kecuali saat bersama Kinah, aku memang mabuk, bahkan tak sadar telah menodainya.”
“Apakah mungkin wanita itu merusak alat pengamanku? Tetapi ... aku sudah waspada dan telah meminum obat sebelum bermain dengannya.”
“Dia sangat waspada dan telah merencanakannya serapi mungkin. Namun aku sudah menemukan buktinya Tuan Muda. Silahkan lihat ini.” sahut David.
David menyodorkan laptop dan memutarkan video.
Di dalam video terlihat jelas Monessa banyak memborong belanja yang sangat banyak, membuat Andrean berdecih melihat kelakuan wanita itu. Bagi Andrean jika uangnya diporoti tak masalah, tetapi ia tak suka jika mamanya yang diperlakukan seperti itu.
Selama berbelanja ada orang berjacket yang mengikuti mereka, kemudian mengikuti Monessa saat ke kamar mandi, ia diberikan amplop oleh Monessa.
“Ini data orang ini, Tuan Muda.” David menggeser kursor laptopnya setelah Andrean selesai menonton video tentang Monessa.
“Orang ini adalah seorang mantan Tentara yang dipecat karena kasus pelecehan tehadap anak dibawah umur.” jelas David.
Andrean melihat semua data pria itu secara keseluruhan, lalu tersenyum.
“Kerja bagus!” Ia tersenyum puas pada David.
...***...